
"Gimana? Sepertinya sudah pas." Cleo memastikan gaun Anna sudah sesuai.
"Sepertinya sih sudah pas. Ini fitting terakhir kan?" tanya Anna. Cleo hanya mengangguk.
Cleo memperhatikan Anna dari atas sampai bawah.
"Makasih ya untuk baju cantik ini," seru Anna.
"Gak masalah," jawab Cleo
Setelah selesai fitting baju Anna duduk sebentar di ruang tunggu.
"Ini ada teh chamomile." Elvira memberikan Anna secangkir teh.
"Makasih." Anna menghela nafas.
"Kevin terlambat ya?" Anna mengangguk sambil minum teh.
"Sorry telat." Kevin melangkah masuk ke ruang tunggu dan duduk di samping Anna.
"Sibuk ya?" tanya Elvira.
"Pastinya. Capek juga urus nikahan."
"Jangan mengeluh, itu Anna lebih capek. Dia sampai kurusan loh," tegur Elvira.
"Masa sih?"
"Dasar manusia batu," ledek Anna.
"Bentar ya aku ambilin bajunya." Elvira berlalu pergi.
"Kamu udah selesai?" tanya Kevin pada Anna.
"Udah."
"Gimana gaunnya?"
"Bagus banget. Aku gak nyangka jadinya sebagus itu," ucap Anna bersemangat.
"Aku gak liat dong." protes Kevin.
"Nanti juga pasti kamu lihat," balas Anna.
"Kevin ini baju kamu, coba dulu." Elvira datang.
Kevin melonggarkan dasinya dan mengambil baju dari tangan Elvira. Kevin masuk ke kamar ganti karena harus mencoba celana juga.
"Wow." Anna tersenyum saat Kevin keluar
dengan jas dan celana putihnya
. "Gimana?" tanya Kevin.
"Tambah ganteng." jawab Anna.
Cleo yang entah muncul dari mana, memeriksa ukuran jas dan celana Kevin.
"Sempurna."
"Nanti sehari sebelum harinya akan aku antar ke hotel," seru Elvira.
Kevin yang sudah berganti baju lagi hanya mengangguk.
Sesampainya di rumah Kevin dan Anna langsung membuang diri di sofa ruang keluarga.
"Tinggal seminggu lagi ya. Besok kamu ngapain?" tanya Kevin.
"Antar undangan."
"Sendiri?"
"Di bantu Julie."
"Kamu gimana?" tanya Anna.
"Ngantor lah. Undangannya sekretarusku yang urus."
"Enak amat."
"Capek juga kali. Makin banyak yang ketemu langsung sama aku buat ucapin selamat."
Mereka berdua menghela nafas panjang.
"Omong- omong aku bakalan undang ibu tiri aku. Gak apa-apa kan?" tanya Anna.
"Terserah. Asal mereka gak bikin ribut."
"Mudah-mudahan."
"Kamu undang berapa orang?" tanya Kevin?
"Paling sekitar lima belas atau dua puluhan orang."
"Dikit banget."
"Ya emang cuma gitu saja," jawab Anna
"Kamar kamu sudah selesai renovasinya?" tanya Anna.
"Katanya sudah tadi siang. Tapi pasti masih bau." Terdiam sebentar Kevin lanjut lagi,
"Nenek suruh pasang sound proof."
"Buat apa?"
"Katanya supaya gak berisik."
"Siapa yang berisik?" tanya Anna polos.
"Tau deh." Kevin beranjak dari sofa.
"Aku capek mau tidur."
"Aku juga," seru Anna.
Keesokan harinya Julie mengantarkan undangan. Undangan untuk ibu dan saudra tirinya dititipkan ke Erin. Erin menyambut pernikahan Anna dengan bahagia.
"Selamat ya Na."
Selanjutnya Anna pergi ke kantor lamanya.
"Jadi ini yang kamu urus sampai harus resign," protes Windi.
Anna hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Nanti sempatin waktu datang ya," seru Anna.
Anna melihat sekeliling mencari Andi.
"Tuh, orangnya di sana." Julie yang melihat Andi duluan memberitahu Anna.
Anna segera menghampiri Andi.
"Boleh minta waktu sebentar," sapa Anna.
"Anna. Ngapain di sini?" Andi tersenyum.
"Cuma mau kasih ini." Anna menyodorkan undangan. Senyum di wajah Andi menghilang saat menerimanya.
"Itu undangan pernikahanku. Kalau sempat datanglah." Andi hanya menatap kosong undangan yang digenggamnya.
Anna segera pergi setelah menyampaikan maksudnya.
"Eh, gila." Sri berteriak histeris. Anna nikahnya sama Kevin Bramantara," lanju Sri.
"Masa sih?" Windi setengah berteriak tidak percaya.
Mendengar hal itu Andi hanya tersenyum pahit.
########
Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba.
Anna sudah selesai di dandani dan sedang duduk menunggu. Anna didandani dengan sangat natural tanpa menggunakan veil. Anna hanya menggunajan tiara dan aksesoris sederhana. Julie menemani Annadi ruang tunggu. Annaa menarik nafas dalam-dalam.
"Tegang ya?" tanya Julie.
"Banget."
Pintu ruang tunggu terbuka dan muncul Rosa dan kedua anaknya. Erin segera berlari dan memberikan pelukan untuk Anna.
"Selamat ya Na."
"Makasih."
"Kalau tahu kamu nikahnya sama Kevin Bramantata, aku bakal minta uang satu milyar." Rosa mulai cari gara-gara.
"Ibu gak lupa kan dengan surat pernyataan yang ibu tanda tangan?" Rosa terdiam.
"Ibu bisa dipenjara kalau gangguin aku lagi."
"Baru gini aja sudah sombong. Kita keluar aja deh bu," pinta Sasha.
Mereka bertiga segera keluar.
"Astaga mereka itu selalu saja," keluh Julie.
"Aduh aku lebih tegang sekarang dari pada waktu tinggal sama mereka," curhat Anaa.
"Tenang sis. Coba tarik nafas yang panjang."
Pintu ruang tunggu terbuka lagi. Kali ini Kevin yang datang.
"Sudah siap belu..." kata-kata Kevin berhenti.
Kevin menelan ludah dan menatap Anna tanpa berkedip sedikit pun. Annaa tersenyum melihat Kevin dan bertanya,
"Gimana?"
"Cantik," ucap Kevin refleks.
Senyum Anna semakin lebar.
"Bro buruan. Waktunya mepet nih," Alex berteriak dari balik pintu.
"Wow. Cantik banget sis," puji Alex memberikan jempol.
"Thanks."
"Ayo kita keluar sekarang." Kevin mengulurkan tangannya.
Anna tanpa ragu langsung menggenggam tangan Kevin.
Karena tidak Anna tidak memiliki keluarga lagi, Kevin sendiri yang mengantarnya masuk ballroom. Anna berjalan dengan senyuman di wajahnya. Sementara Kevin sekali-sekali memandang Anna dan tersenyum tipis.
Annaterlihat sesuai dengan keinginanya. Sederhana dan elegan.
"Ya, Tuhan. Anna cantik banget," bisik Sri pada Windi.
Andi sekalipun tidak berkedip saat melihat Anna. Nenek Ratih terlihat begitu bahagia melihat cucunya. Begitu pula dengan anggota keluarga lain.
Sesuai permintaan Nenek, pestanya digelar dengan mewah. Banyak selebritis, orang-orang ternama dan wartawan yang hadir. Bahkan Vanessa pun hadir dengan wajah yang kesal. Vanessa bahkan punya pikiran untuk mengacau, tapi dia sudah diancam oleh orang tuanya.
Acara berjalan dengan cukup lancar. Setelah dinyatakan sah sebagai suami istri dan bertukar cincin, beberapa teman mempelai mulai ribut. Mereka meminta adegan ciuman.
"Cium... cium... cium..."
Anna menjadi salah tingkah mendengarnya, sementara Kevin hanya tertawa saja. Kevin memandang Anna. Paham maksudnya Anna menggelengkan kepala.
"Gak apa-apa." Anna membaca gerakan mulut Kevin.
"No," balas Anna.
Kevin tidak menggubris Anna. Kevin meletakkan tanggannya di kedua pipi Anna.
"Kevin no," Anna berusaha protes.
Kevin tidak mendengarnya dan langsung mencium Anna. Anna sangat kaget dengan tindakan Kevin.
"Kyaaaa..." teriak histeris Sri.
Vanessa yang masih bertahan, menghentakkan kakinya dengan marah dan meninggalkan ballroom. Gita menutup matanya dengan kedua tangan. Andi juga segera meninggalkan ballroom
Begitu Kevin menjauh, Anna memukul Kevin.
"Dasar nakal," seru Anna.
Kevin tersenyum dan berbisik,
"Dasar kepedean. Ngarep ya?" Anna kembali memukul Kevin sambil berucap
," Apaan sih." Rupanya Kevin tidak benar-benar mencium Anna di bibir, melainkan di bawah bibir saja.
Setelah resepsi pernikahan, diadakan konfrensi pers. Namun karena Kevin selalu menjawab singkat padat dan jelas, konfrensi pers berlangsung singkat. Demikianlah acara hari itu berakhir dengan baik.
next>>>>>>