The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 15 Keinginan



"Kamu bilang apa tadi? Aku kayaknya salah dengar," tanya Kevin.


"Kamu gak salah dengar kok," jawab Anna.


" Aku bilang, kalau nenek masih meminta nikah. Aku bersedia," lanjut Anna.


"Kenapa tiba-tiba mau?"


"Pertama aku punya hutang lima ratus juta. Kedua setelah ngobrol dengan nenek kemarin, aku memutuskan ingin membahagiakan nenek walau hanya sebentar saja," jelas Anna.


"Itu salah satu keiinginku saat ini," sambung Ella.


Kevin menatap Anna.


"Kamu yakin?" tanya Kevin.


"Yakin banget. Tapi... "


"Tapi?"


"Sejujurnya aku memimpikan pernikahan yang penuh dengan cinta. Dan sekarang ini gak ada cinta diantara kita berdua. Jadi nanti kalau kita betulan nikah, aku minta waktu satu tahun." Anna berhenti sebentar.


"Jika dalam satu tahun itu tidak timbul perasaan apapun diantara kita, mari kita berpisah baik-baik." Anna menatap Kevin dengan mantap.


"Kamu gak masalah jadi janda?" tanya Kevin.


"Memangnya kalau janda kenapa?" Anna bertanya balik.


"Persepsi orang-orang tentang janda kan kurang baik. Orang lain bisa salah paham sama kamu," jelas Kevin.


"Itu nanti saja deh dipikirin, pasti nanti ada kok jalan keluarnya," jawab Anna optimis.


Kevin menatap Anna dan kemudian tersenyum tipis.


"Kamu tuh ya benar-benar diluar dugaan." Kevin masih tersenyum.


"Ok. Kalau nenek masih bertanya, ayo kita lakukan. Pernikahan kontrak selama setahun." yakin Anna



Senin pagi di meja makan keluarga Bramantara, Kevin sibuk dengan tabletnya.


"Tumben pagi-pagi sudah sibuk main gituan," sapa nenek.


"Namanya juga kerja nek."


"Ini pak bubur ayamnya." Pelayan menaruh semangkuk bubur ayam di depan Kevin.


"Makasih ya."


 "Wah, enak sekali wanginya." Alex dan Gita muncul di sebelah Kevin.


"Tumben sarapannya agak berat. Kemarin cuma makan roti sama kopi."


"Bosan" jawab Kevin.


"Harusnya Lex kamu harus bilang, tumben belakangan ini rajin sarapan," tanya nenek.


"Jangankan sarapan nek. Sekarang Kevin tidak pernah melewatkan jam makan," Alex menjawab nenek.


"Kalau lapar ya makan," sambung Kevin.


"Gita juga mau bubur."


"Minta sana di belakang," jawab Kevin.


"Lex, kita pernah ada beli saham perbankan gak sih?"


"Gak ingat sih, kenapa?"


"Gak kalau ada aku mau lihat perkembangannya," jawab Kevin


"Nanti aku tanyakan manager investasi kita deh."


"Gak usah lah. Eh, tapi suruh aja dia beli sahamnya TC Bank sedikit-sedikit deh. Beli atas nama perusahaan ya."


"Itu yang dari tadi sibuk liat di tablet?" tanya nenek.


"Ia, aku lagi baca-baca laporan keuangannya dan berita terkait," jawab Kevin.


"Itu bukannya tempat kerja Anna," tanya nenek lagi.


"Ia, tempat kerjanya Anna. Eh, Lex sekalian suruh beli atas nama pribadiku juga deh."


"Tumben kamu urusin gituan. Biasanya cuma terima laporan saja," seru Alex.


"Emang gak boleh?" tanya Kevin.


"Boleh- boleh saja sih," jawab Alex.


Nenek tertawa senang melihat Kevin.


"Gita udah selesai makan. Sekarang mau ke sekolah sama pak Ujang dan Bi Asih."


"Hati-hati jangan lari-lari ya," seru Alex.


"Bye Daddy, nenek dan om Kevin." Gita berlari keluar ditemani bi Asih.


"Nenek jadi ingat waktu kalian kecil, lucu banget."


"Waktu dewasa jadi ganteng kan," canda Alex.


"Jadi amit-amit."


"Nenek tuh pengen banget lihat kamu nikah Vin. Itu salah satu keinginan nenek."


"Siap." jawab Kevin singkat.


"Nek, gak usah diburu-buru. Kalau jodoh juga gak kemana," kata Alex.


"Nenek gak nyuruh Kevin buru-buru kok. Nenek cuma sekedar bilang saja. Gak apa-apa kan Vin?" tanya nenek.


"Gak ada masalah kok nek. Saya sudah coba ngomong ke Anna soal ini. Dan dia sudah setuju."


"Serius? Syukurlah," seru nenek riang.



"Ada agenda apa hari ini?" Kevin memghempaskan diri ke kursi kerjanya.


"Pagi ini kita ada meeting dengan bagian pemasaran, makan siang nanti ada janji dengan model kita Clarence, setelah itu kita harus meninjau lokasi cafe baru dan meeting singkat di sana. Kemudian..."


Tok... tok... tok...


"Masuk," seru Kevin.


"Pak, ini saya membawa materi meetingnya. Dan ini berkas yang harus bapak tanda tangani." Dinda salah satu dari beberapa sekretaris Kevin, tidak melepas tatapannya dari Kevin. Bahkan setelah Kevin selesai menanda tangani dokumen dan menyerahkannya kembali, Dinda tidak bergeming.


Alex yang dari tadi memperhatikan akhirnya mulai kesal.


"Ehm... "


"Oh, maaf pak." Dinda mengambil dokumennya dan berbalik.


Sebelum keluar ruangan, Dinda sempat mengedipkan mata pada Alex. Alex sedikit terkejut melihatnya.


 "Dia kenapa sih, ngeri banget." Alex merinding.


"Dia itu kan anak baru yang kamu rekrut sendiri," seru Kevin.


"Ya, gak gitu juga kali." Alex kemudian teringat sesuatu.


"Anna benaran mau nikah sama kamu?"


"Yup." Kevin membaca bahan meeting.


"Kok tiba-tiba dia mau? Dia jatuh cinta kamu?"


"Dia punya alasannya sendiri." Kevin memandang Alex.


"Dia menawarkan kawin kontrak setahun."


"Serius?" Alex kaget.


"Serius." Alex mengedipkan matanya masih tidak percaya.


"Tapi bagus juga sih kalau akhirnya kamu nilah."


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Setidaknya cewek yang masuk ke ruanganmu tidak kayak ikan kehabisan nafas." Kevin tertawa.


"Kalau kamu nikah kamu dong jadi target selanjutnya."


"Aku kan sudah punya anak, mereka gak akan segila itu."


Kevin dan Alex, adalah dua pria paling populer di perusahaan yang dipimpin Kevin. Muda, tampan dan kaya. Mereka berdua selalu jadi gosip yang ter-hot di perusahaan.


"Eh, aku perhatikan belakangan ini pak Kevin auranya jadi makin bagus."


"Apaan sih, emang kamu bisa baca aura?"


"Maksudku itu belakangan dia jadi lebih ramah, bicaranya juga lebih santai. Gak sekaku dulu lagi."


"Eh, ia betul juga sih. Kok bisa ya? Pak Kevin kayaknya juga lebih sering terlihat di kantin. Betul gak sih?"


"Ia betul. Belakangan ini dia sedikit berubah."


"Eh, aku pernah dengar gosip loh. Katanya Pak Kevin itu sekarang punya pacar loh."


"Masa sih?"


"Konon katanya bu Ratih sering banget membicarakan pacarnya pak Kevin. Katanya sepupu aku pernah dengar sendiri."


"Masa sih?"


"Yah, sayang banget padahal aku pengen coba jadi pacarnya."


"Semua orang juga ingin jadi pacarnya pak Kevin lagi."


"Tenang sayang selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan."


"Pak Alex juga pacar idaman kok."


"Kalau pak Alex sih duda anak satu."


"Aku sih gak masalah ya sama duda anak satu."


"Ia, apa sih masalahnya dengan duda anak satu?"


"Ya, gak ada masalahnya. Cuma kan gak semua orang mau sama duda yang ada anak."


Seperti itulah gosip yang beredar hari ini.


"Tapi, yang digosipin pacaran sama pak Kevin itu Vanessa bukan sih?"


"Dengar ya, Vanessa itu bukan pacarnya pak bos. Pak Kevin gak mau sama dia. Dia nya saka yang kepedean ngejar-ngejar pak Kevin." Gosip masih berlanjut.


"Benar tuh. Apalagi anaknya sombong banget. Kayak dia sudah jadi nyonya Bramantara saja. Padahal anak ingusan."


Ting...


Ada pesan masuk di chat group rahasia khusus karyawan kantor.


"Siaga satu. Vanessa lampir terlihat memasuki lobi." Seperti itu isi chatnya.


"Aduh," keluh beberapa orang.


Semua orang sibuk menyembunyikan barang pecah belah dan dokumen penting.


"Aduh, cepat sembunyi dokumen ini. Kalau moodnya jelek bisa hancur berkas kita."


"Selamat pagi semuanya," sapa Vanessa begitu terlihat di dekat ruangan Kevin


"Selamat pagi bu," sapa karyawan satu per satu sambil membungkuk.


"Masih anak ingusan sudah sombong mau dipanggil ibu. Inginnya menendang anak ini keluar, biar kami bisa kerja dengan tenang," batin sebagian besar karyawan.


next>