
"Gimana kado ultahnya?" tanya Julie.
"Aku suka kadomu. Kebetulan aku juga lagi cari sepatu." Anna menyeruput ice green tea lattenya.
Anna dan Julie sedang duduk santai di salah satu cabang B Cafe dihari minggu yang panas, sehari setelah ultah Anna.
"Maksudku kado dari yang lain."
"Beban," jawab Anna singkat.
"Tapi itu kan barang branded semua."
"Justru karena itu jadi beban."
"Tapi untuk ukuran mereka sepertinya gak tuh."
"Aku kan beda dengan mereka Li. Barang kemahalan kayak begitu gak cocok denganku."
"Lebih ke gak doyan sih," jawab Anna.
"Tapi aku lihat kamu suka banget tuh dengan hadiah dari suamimu."
"Oh, jelas. Itu kan emang buku incaranku."
"Buku incaran atau karena hadiah suami?"
"Serius, kamu juga tahu kan aku penggemarnya Dan Brown."
"Tapi aku gak nyangka loh Na, si Kevin kepikiran kasih hadiah romantis gitu."
"Aku apalagi. Kotak hadiahnya saja udah selera aku banget. Aku jadi bingung dia dapat ide dari mana."
"Artinya semalam kamu servis Kevin habis-habisan dong."
"Apaan sih? Otakmu itu ya isinya aneh-aneh melulu."
"Eh, Na coba lihat itu yang baru masuk. Bukannya dia kemarin ada di acaramu?" Anna berbalik ke arah pintu masuk dan melihat Cleo di sana.
"Eh, ia itu sepupunya Kevin."
Cleo terlihat seperti sedang mencari seseorang. Cleo sempat melihat Anna yang duduk di pojokan,
sebelum dia bergabung dengan seorang pria.
"Ngapain Cleo ke sini?" bisik Anna.
"Kencan kali. Dia duduk sama cowok tuh."
"Kalau emang betulan kencan, mood Cleo gak akan sejelek itu."
"Dari mana kamu tahu moodnya jelek? Mukanya no ekspresi gitu," kata Julie.
"Feeling aja," jawab Anna.
Anna memperhatikan meja Cleo. Tiba-tiba cowok yang duduk di depan Cleo memukul meja dan berteriak.
"Apa maksud kamu?"
"Aduh ada apaan tuh?" tanya Julie.
"Kamu main-main ya sama saya?" Pria itu berteriak lagi.
"Aduh sepertinya aku harus ke sana deh Li." ucak Anna
"Hati-hati ya," seru Julie.
"Kamu jangan kurang ajar ya sama saya." Pria yang ditemani Cleo memukul meja. Pengunjung cafe mulai merasa tidak nyaman.
"Permisi," sapa Anna.
"Maaf Pak tolong jangan buat keributan di sini," lanjut Anna.
Cleo menatap Anna tanpa ekspresi.
"Kamu tidak usah ikut campur," teriak teman Cleo itu.
"Saya mohon maaf Pak, tapi anda sudah membuat pengunjung lain tidak nyaman."
Pria itu melihat sekeliling. Merasa jadi pusat perhatian, pria tadi segera menarik tangan Cleo.
"Lepas," protes Cleo.
"Kamu harus ikut dengan saya."
"Saya gak mau." Cleo berusaha memberontak.
"Pak, tolong lepaskan anak ini." Anna ikut menggenggam tangan Cleo.
"Kamu ngapain sih dari tadi ikut campur saja? Memangnya kamu siapa?"
"Saya manager cafe ini," jawab Anna tegas.
"Oh, kamu baru manager saja sok begitu. Sok ikut campur urusan orang."
"Anak ini sama sekali tidak mau ikut Bapak, seharusnya anda melepaskan dia."
"Oh, belagu ya. Saya kenal sama yang punya cafe. Mau saya laporkan sama yang punya cafe biar kamu dipecat." Pria itu masih berteriak.
"Maaf Kak Andre. Kalau kakak laporin ke Kevin, adanya Kakak yang kena masalah," Cleo bersuara.
"Aku yang kena masalah? Adanya ini manager bego yang kena masalah." Pria yang dipanggil Andre oleh Cleo,
mendorong kepala Anna dengan telunjuknya.
"Dia itu istri tersayangnya Kevin loh." Cleo tersenyum tipis.
Andre menatap Cleo dan Anna bergantian.
Andre dengan kasar melepas genggamannya pada Cleo.
" Akan kupastikan kesepakatannya batal," seru Andre pada Cleo.
Setelah itu dia pergi meninggalkan cafe.
"Cleo gak apa-apa?" tanya Anna.
"Terima kasih karena sudah ikut campur," ucap Cleo terdengar ketus.
"Sama-sama," jawab Anna.
"Tadi itu siapa?" tanya Anna.
"Orang yang dijodohkan sama aku demi bisnis."
"Dijodohkan?"
"Seperti itu lah, karena tidak semua orang kaya seberuntung Kevin." Anna merasa bingung.
"Karena saya sudah tidak ada urusan di sini, saya permisi."
"Cleo gak mau ngopi dulu?" Anna menahan Cleo.
"Saya sudah ada janji lain. Ah, aku lupa si brengsek itu pergi tanpa membayar tagihan."
"Oh, gak usah. Biar saya saja yang urus," seru Anna.
"Dia bersama saya tadi, jadi saya yang akan bayar." Cleo berjalan ke arah kasir.
"Cleo gak perlu, toh kamu juga sepertinya belum pesan apa-apa."
"Saya bersikeras untuk bertanggung jawab atas pesanan rekan saya."
Anna hanya memperhatikan Cleo pergi setelah melunasi pesanan
Andre.
"Sifat keras kepala bisa menurun juga ya?" bisik Anna.
"Kenapa dengan sepupumu?" tanya Julie.
"Sepupu Kevin."
"Sama aja kan. Sekarang kan kamu istrinya Kevin."
"Ya. Intinya hidup jadi orang kaya belum tentu bahagia."
"Jadi orang biasa juga gitu kok," balas Julie.
Hari senin besok, Anna harus pergi kunjungan ke cafe yang ada di Bandung. Jadi sekarang Anna sedang perjalanan menuju ke Bandung dengan Julie.
*****
"Aku baru udah sampai di Bandung. Baru selesai mandi." Anna melapor pada Kevin melalui telpon.
"Lalu?"
"Gak ada. Cuma mau telpon aja," jawab Anna.
"Anna yang seperti itu kan bisa lewat chat." Kevin memprotes Anna.
"Aku maunya telpon. Emang gak bisa? Ini juga hari libur kok, gak ada kerjaan." Kevin terdiam.
"Jangan bilang kamu lagi kerja?" tanya Anna.
"Habis gak ada kerjaan."
"Kan bisa main sama Gita atau temani Nenek cerita."
"Lain kali aja deh."
"Sifat keras kepala kamu itu turunan dari mana sih?"
"Nenek mungkin," jawab Kevin.
"Ngomong-ngomong aku jadi ingat. Tadi siang aku ketemu Cleo."
"Terus?"
"Dia berkelahi dengan cowok tadi."
"Lalu?"
"Kok ngomongnya gitu?"
"Memang aku ngomong apa?"
"Kamu tuh ngomongnya cuek banget gitu kayak gak peduli. Cleo itu sepupu kamu loh."
"Ya aku harus ngomong apa kalau gitu? Palingan juga lagi berantem sama pacarnya."
"Bukan pacar."
"Terus apa?"
"Katanya dijodohin," jawab Anna.
"Gak mungkin," balas Kevin.
"Kenapa kamu bisa bilang gak mungkin."
"Nenek gak suka dengan yang begituan."
"Tumben ada orang tua yang gak suka jodohin orang."
"Yah pokoknya gitu deh. Cleo itu udah dewasa, kamu gak perlu terlalu ikut campur. Aku yakin dia bisa urus dirinya sendiri," Kevin memberi nasehat.
"Selamat pagi," sama Anna.
Anna masuk ke salah satu cabang B Cafe Bandung.
"Bisa dibantu Mbak? Kita belum buka." Seorang pria manis datang menghampiri Anna.
"Saya tahu." Anna menghampiri counter dan melihat-lihat.
"Kalau begitu, Mbak bisa kembali setelah cafe buka." Anna terlihat bingung.
"Manager tokonya mana?" tanya Anna.
"Saya sendiri Mbak."
"Kamu gak dapat pemberitahuan?" tanya Anna.
"Maksudnya?" Anna tertawa.
"Perkenalkan saya Anna, saya dari kantor pusat. Dan setahun saya sudah ada pemberitahuan saya akan datang ke sini."
"Boleh saya minta tanda pengenal pegawai anda?" Pria manis tadi merasa curiga. Anna tertawa dan mencari tanda pengenal yang dimaksud. Setelah menemukannya, Anna langsung memberikannya pada pria tadi.
"Sudah percaya?"
"Maaf Bu. Saya gak tau kalau ternyata Ibu atasan saya."
"Kok bisa gak tau?" Anna tertawa.
"Saya gak pernah ke kantor pusat, jadi gak pernah lihat Ibu. Lagian saya juga gak nyangka atasan saya lebih muda dari saya. Cantik lagi."
Anna tertawa.
"Jangan-jangan kamu juga gak pernah lihat Kevin atau Alex?"
"Saya memang kurang gaul."
"Bisa gawat kalau kamu sampai gak kenal Kevin."
"Perkenalkan Bu saya Adrian, manager toko di sini."
"Anna gak pakai Ibu."
"Kalau begitu panggil saya Rian saja." Anna mengangguk.
"Boleh kita mulai briefing paginya?" tanya Anna.
Pada umumnya B Cafe mulai buka dari jam sembilan pagi. Anna berniat memantau cafe yang dikunjunginya sampai jam sebelas.
Tepat sebelum Anna berniat keluar dari cafe, Cleo beserta teman-temannya datang.
"Cleo?" sapa Anna ketika Cleo mencapai counter.
"Ngapain di Bandung? Gak kerja?" tanya Anna.
"Siapa?" tanya salah seorang temannya.
"Kenalan," jawab Cleo datar.
Anna menatap tiga orang teman Cleo yang semuanya lelaki dengan tatapan curiga.
"Mau pesan apa? Hari ini aku yang traktir," seru Anna ramah.
"Gak perlu," jawab Cleo.
"Loh, kenapa? Kalau ada yang traktir diterima dong," sela teman Cleo.
Anna memaksakan senyum.
Satu per satu teman Cleo memesan minuman.
"Cleo mau apa? Latte?" tanya Anna sambil menginput pesanan.
"Americano," jawab Cleo.
"Tumben," balas Anna.
"Cleo selalu minum americano kok. Cuma kenalan saja sok tahu," teman Cleo yang lain menyahut. Anna hanya memasang senyum terpaksa.
"Duduk saja dulu ya. Kalau minumannya sudah jadi, nanti dipanggil." Anna masih sibuk dengan mesin kasir.
Anna terus memperhatikan Cleo. Cleo terlihat mesra dengan salah satu temannya itu.
"Kenalannya?" Rian bertanya.
"Sepupu," jawab Anna.
Ponsel Anna berdering dengan nama Julie tertera di sana.
"Saya duluan ya," Anna pamit.
"Ia, Li ini baru mau jalan." Anna berhenti di depan pintu dan melihat ke arah Cleo.
"Ia, Li tenang saja. Gak jauh kok dari kantormu." Anna akhirnya berlalu pergi.
next>>>>
Ramaikan guysss...!