The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 96 Kejutan



"Jadi sudah baikan sama Kevin?" goda Julie. Setelah selesai makan dan mandi, Anna menelpon Julie di kamar.


"Hm," gumam Anna manja.


"Katanya mau dikerjaiin selama sebulan. Ini baru juga seminggu udah nyerah," ejek Julie.


"Aku gak bisa kerjaiin Kevin selama itu."


"Kamu udah tinggalin dia selama berbulan-bulan, tambah sebulan saja gak bisa?"


"Justru karena udah ditinggal lama, makanya aku makin gak bisa. Aku kan juga sayang dia," seru manja Anna.


"Astaga baru sehari saja bersama, suaranya sudah semanja itu."


"Habisnya aku senang banget. Hari ini Kevin maniiiiiis banget," seru manja Anna.


Julie menghela nafas. "Iya deh, Kevin manis. Jadi sekarang kamu udah balik ke rumah Kevin?" tanya Julie.


"Iya dong. Aku gak mau jauh-jauh lagi dari Kevin."


"Jadi Kevin lagi ada di sebelahmu?"


"Gak. Dia lagi mandi."


"Gak sekalian mandi bersama," goda Julie.


"Daripada itu, aku punya berita yang lebih bagus."


"Berita apa?" tanya Julie. Anna menceritakan penemuan Clarence dan Cleo.


"Wow gila juga dia ya," seru Julie.


"Ya kan. Aku tahu sih, Kevin gak bakal nakal. Apalagi dalam waktu sesingkat itu."


Kevin yang dari tadi sudah selesai mandi, berdiri di belakang Anna. Kevin bersandar di dinding menguping pembicaraan Anna.


"Emang kalian bisa main berapa jam?" goda Julie.


"Pokoknya kalau Kevin main itu lama."


"Jadi kamu suka main lama daripada main berkali-kali?"


"Aku suka dua-duanya. Lama dan berkali-kali."


Julie menghela nafas. "Kamu kenapa menghela nafas mulu dari tadi?" tanya Anna penasaran.


"Ada yang pengen aku kasih tahu kamu," desah Julie frustasi.


"Apa?" tanya Anna.


Kevin yang tidak bisa lagi sabar menunggu menggigit pelan telinga Anna. "Ah. Ken," rajuk manja Anna.


"Ada Kevin di sana?" tanya Julie.


"Iya nih. Ken..." Kevin memeluk Anna dari belakang dan menciumi lehernya.


"Udah aku tutup saja ya. Selamat bersenang-senang," seru Julie.


"Ken jangan nakal dong," pinta Anna.


"Kan kamu duluan yang nakal." Kevin masih betah dileher Anna.


"Kapan?" tanya Anna.


"Tadi waktu kamu nelpon ngomongin apa sama Julie?"


"Kamu nguping?" Anna menoleh ke arah Kevin.


"Suara kamu besar gitu. Pasti kedengaran."


"Kevin suka nguping ah."


Tangan Kevin yang tadinya berada di perut Anna, mulai menjalar naik. "Kevin," Anna menegur.


"Gak boleh? Padahal dokter saja kasih izin." Anna sudah mulai merasa keenakan.


"Kapan terkahir ya?" batin Anna.


"Aku bakalan hati-hati kok," Kevin berbisik di telinga Anna. Anna hanya bisa mengangguk pasrah.


*****


Keesokan paginya Anna terbangun dalam pelukan Kevin. Kevin memeluknya dari belakang dan masih tertidur pulas.


Anna memulai rutinitasnya paginya seperti biasa. Anna pergi ke dapur untuk memasak dan pergi mandi.


"Kevin." Anna membangunkan Kevin yang tidak biasanya masih tertidur pulas.


"Ken, udah pagi sayang. Bangun dong."


Kevin berguling manja. "Mau mandi duluan?" tanya Anna pada Kevin setelah dia benar-benar sadar.


"Mandi sama-sama saja," ajak Kevin sambil tersenyum.


"Gak mau." "Kenapa?" "Karena pasti akan terjadi hal lain."


Anna beranjak dari sisi ranjang menuju kamar mandi.


"Aku gak percaya."


"Ayolah." Kevin masih membujuk.


"Kalau mandinya lebih dari lima belas menit, sebentar malam aku tidur sama Nenek."


Kevin segera menyusul Anna ke kamar mandi. Seperti yang Anna bisa duga, proses mandi pagi yang harusnya cepat berlangsung selama sejam.


"Kok tumben kalian lama sekali bangunnya?" Nenek bertanya ketika akhirnya Kevin dan Anna bergabung di meja makan.


"Pasti habis olahraga pagi," Alex menjawab dengan senyuman mengejek.


"Rajin amat olahraga pagi-pagi," sahut Gita.


"Hush. Anak kecil gak usah ikutan," seru Kevin.


"Kenapa sih Gita selalu dibilangin anak kecil?"


"Ya karena emang gitu," goda Kevin.


Alex tertawa sebelum menyuap makanan yang sudah tinggal seperempat dari piringnya. Disaat bersamaan ponsel Alex yang ada di atas meja berdenting. Alex mengambil ponselnya untuk membaca chat yang masuk.


Alex langsung tersedak melihat isi chat yang baru masuk itu. "Uhukk..." Alex terbatuk-batuk.


"Aduh Alex. Makanya jangan main ponsel saat makan," protes Nenek. Alex segera mengambil gelas berisi air putih dan menghabiskan isinya.


"Kamu kenapa Lex? Kok kayak abis lihat hantu gitu?" tanya Anna. "Aku harus menelpon sebentar."


Alex bergegas keluar ke arah kolam renang. Sekali lagi Alex melihat gambar yang baru saja diterimanya. Gambar sebuah testpack dengan dua garis.


Alex segera menelpon nomor yang mengiriminya gambar. "Sudah lihat yang kukirim?" tanya wanita di telpon.


"Kalau belum kulihat aku tidak mungkin menelponmu. Bagaimana bisa?" tanya Alex.


"Kenapa kamu malah bertanya padaku?" "Maksudku kenapa tiba-tiba kamu bisa periksa."


"Aku sudah telat haid lima hari."


"Apakah akurat?" tanya Alex.


"Aku sudah tes berkali-kali dari semalam. Bahkan aku sudah coba berbagai merk. Hasilnya sama."


Alex menghela nafas. "Akan kubicarakan dengan Nenek secepat mungkin. Tidak aku akan bicara hari ini. Sekarang."


"Apa kamu bisa ke sini sabtu besok? Aku akan menjemputmu. Kalau bisa sekalian cuti saja, biar hari senin kita sama-sama ke dokter." Alex lanjut berbicara.


"Bisa."


"Oke akan kukabari lagi nanti." Alex mematikan sambungan telponnya dan segera kembali ke ruang makan.


Saat Alex kembali, Nenek baru saja selesai makan. Alex duduk dengan cemas, bahkan tidak terlalu menggubris Gita yang pamit pergi sekolah.


"Aku harus mulai dari mana?" batinnya. Dengan gusar Alex mengetuk meja dengan jari-jarinya, sambil terus melirik Nenek yang masih menikmati jusnya.


"Ada yang mau kamu bicarakan Lex?" Nenek menyadari tatapan Alex.


"Hm. Ya," seru Alex ragu-ragu.


Nenek menunggu, namun Alex tidak kunjung mulai. Alex tidak tahu harus bilang apa. "Alex? Mau ngomong apa?" Nenek mulai tidak sabar.


"Em. Sebenarnya." Alex berhenti untuk mengambil nafas. "Dalam waktu dekat ini... Aku ingin memperkenalkan Nenek... Dengan seseorang." Alex bicara terbata-bata.


"Pacarmu?" tanya Nenek. "Em. Ya... Pacar. Tidak, maksudku... Calon istri," Alex masih terbata. "Calon istri?" tanya Nenek senang.


"Kenapa mau ngomong gitu saja susah banget sih?" ejek Anna. Alex hanya memasang senyum terpaksa.


"Kapan mau dibawa?" tanya Nenek lagi. "Besok... mungkin? Atau minggu," Alex belum bisa bicara lancar.


"Kamu kenapa sih Lex? Perasaan di depan klien besar saja bicaramu lancar banget. Sekarang cuma bilang mau bawa cewek saja terbat-bata gitu?" Kali ini Kevin yang menegur.


"Masa sih?" tanya Alex. "Iya. Kamu ngomong seolah-olah kayak ada yang salah gitu," seru Anna.


"Tunggu." Kevin berpikir sebentar.


"Lex kamu gak hamilin anak orang kan?" tanya Kevin hati-hati.


"Ah, gak mungkin. Kamu pikir Alex kamu," tegur Nenek.


"Aku setuju," balas Anna.


"Emang kalian pikir aku apaan?" protes Kevin.


Alex yang mendengar semua itu mematung seketika. Kevin yang menangkap gelagat Alex langsung bersuara.


"Kamu benaran hamilin anak orang?"


Alex membuka mulut hendak bicara, tapi tak ada yang keluar dari mulutnnya. Tangannya yang sudah siap menggunakan isyarat, juga terdiam melayang di udara.


Melihat Alex yang mematung, Anna menjatuhkan sendoknya ke atas piring. "Serius?" Nenek juga ikut memelototi Alex.


Alex semakin tidak berkutik. Setelah beberapa detik, Alex menghembuskan nafas. "Ya," jawabnya pelan.


dikit lagi mau tamat ya>>>


next>>