
"Mobil saya kenapa?" tanya Anna pada Pak Ujang.
"Ada paku menancap di ban mobilnya Bu, jadi tadi sudah saya bawa ke bengkel."
"Emang ada bengkel yang buka sepagi ini?" tanya Anna.
"Bengkel langganan kita selalu terima kok Bu. Mau dibawa jam berapa pun," jawab Pak Ujang.
"Biasanya juga kan kamu diantar Kevin." Nenek keluar dari rumah dengan pakaian rapi.
"Tapi, Anna ada janji Nek," katanya sedikit terbata.
"Kevin pasti bisa antar. Udah ya Nenek juga ada janji." Pak Ujang segera membukakan pintu Mobil untuk Nenek Ratih.
"Lex, aku ikut kamu aja ya," pinta Anna.
"Maaf aku mau antar Gita ke sekolah. Habis itu aku ada janji, jadi kamu sama Kevin aja ya."
"Aku ikut kamu aja deh," pinta Anna.
"Maaf gak bisa. Ayo Gita Daddy antar," ajak Alex.
"Hore dianterin Daddy."
Anna berdiri diam ditempat.
"Mau ikut atau tidak?" tanya Kevin. Anna berbalik melihat Kevin.
"Kevin kok santai aja sih. Masa cuma aku saja yang deg-degan." batin Anna.
"Ayo. Nanti telat loh. Mau tunggu taxi online juga pasti lama," seru Kevin.
Dengan enggan Anna naik ke mobil Kevin.
"Sabuk pengaman," seru Kevin mengingatkan Anna.
"Apa?" Anna tidak mendengar Kevin.
"Eh, ngapain" protes Anna. Kevin menjangkau sabuk pengaman Anna dan memasangkannya. Anna menahan nafasnya.
Kevin mulai menginjak pedal gas. Mereka berdua berkendara dalam diam.
"Masa cuma aku saja yang salah tingkah setelah kejadian kemarin. Apa perlu aku tanya saja ya? Tapi masa cewek yang duluan bertanya sih," batin Anna.
"Gimana cara ngomongnya ya?" batin Kevin.
Jari-jari Kevin mengetuk kemudi mobil.
"Ah, bodoh amat buka pembicaraan aja dulu," batin Kevin.
"Na."
"Ken." Kevin dan Anna berbicara bersamaan.
"Kamu duluan aja deh," kata Anna.
"Gak, Anna aja yang duluan. Ladies first," jawab Kevin.
Anna bimbang sesaat.
"Aduh gimana ya ngomongnya?"
"Gak apa-apa ngomong aja," seru Kevin.
"Itu, soal yang kemarin."
"Kemarin?" tanya Kevin. "Ia yang kemarin malam di meja makan."
"Ah, itu. Aku juga mau bicarakan itu sih."
"Kalau begitu biar aku ngomong," pinta Anna.
"Silahkan."
"Itu hal yang bisa saja terjadi antara cowok dan cewek kan."
"Maksudnya?" tanya Kevin.
"Yah maksudnya, karena itu hal yang lumrah terjadi antara dua manusia yang saling berdekatan. Mari kita anggap tidak ada yang terjadi."
"Oh, gak bisa gitu dong," protes Kevin.
"Kenapa?" tanya Anna.
"Itu kan yang pertama buatku." Anna kaget mendengar pernyataan Kevin.
"Serius?" tanyanya.
"Serius," jawab Kevin.
"Bohong," balas Anna.
"Ngapain juga bohong?"
"Gak mungkin seorang Kevin Bramantara gak pernah ciuman."
"Dengar gosip dari mana?" tanya Kevin.
Anna memandang Kevin dengan tatapan tak percaya.
"Serius. Aku ini jomlo dari lahir."
"Aku gak percaya," Anna bersikukuh.
"Kenapa kamu gak percaya?"
"Secara kamu tuh ganteng, pintar, kaya. Masa gak ada seorang cewek pun yang mau sama kamu."
"Makasih," seru Kevin.
"Kok makasih?" tanya Anna.
"Karena kamu udah muji aku ganteng dan pintar," jawab Kevin.
"Idih narsis banget."
"Aku serius gak pernah pacaran," kata Kevin.
"Ia deh, aku percaya."
"Aku serius," balas Kevin.
"Aku juga serius."
"Jadi sekarang mau gimana?" tanya Anna.
"Soal itu. Katanya kamu gak mau lupaiin begitu saja."
"Aku gak tahu ya kalau kamu. Tapi, aku merasa sesuatu yang pertama itu tidak boleh dilupakan."
"Itu juga yang pertama buatku tahu," gumam Anna.
"Masa sih? Sama mantanmu itu gak pernah?" Anna menggeleng.
"Waktu sama Andi, cuma nempel bibir saja."
"Nah, itu kan juga ciuman."
"Beda lah, kemari itu kan kamu main lidah." Suara Anna semakin mengecil karena malu.
Kevin tertawa.
"Eh, malah ketawa lagi."
"Habis kamu lucu." Anna mengerucutkan bibirnya.
Mobil Kevin sudah memasuki area parkiran kantor.
"Harusnya sekarang aku sudah bisa nuntut kamu," kata Anna.
"Mau nuntut apaan?" Kevin mengarahkan mobilnya ke tempat parkir khusus.
"Kamu kan udah melanggar kontrak."
"Apanya yang dilanggar. Syarat kamu itu kan tidak berhubungan itim. Itu cuma ciuman." Kevin memarkir mobilnya.
"Aduh, ia deh aku kalah. Cuma gitu juga, biasa aja kali." Kevin mencondongkan tubuhnya ke arah Anna.
"Kalau menurut kamu itu hal biasa, boleh dong aku minta lagi."
Anna memutar bola matanya dan segera keluar dari mobil. Kevin mengikuti Anna.
"Kok malah kabur sih?" teriak Kevin.
"Otakmu itu memang mesum ya," sindir Anna.
"Kok mesum sih? Katanya itu cuman hal biasa. Toh tidak melanggar kontrak juga." Anna dan Kevin masuk ke dalam lift.
"Memangsyaratnya cuma itu, tapi kalau yang mengarah ke situ pun aku gak mau," bisik Anna.
"Gak bisa gitu dong. Perjanjiannya kan sudah ada," Kevin balas berbisik.
Lift naik menuju ke lantai satu. Ada beberapa karyawan yang ikut naik lift.
"Pagi Pak, Mbak." Beberapa orang menyapa Kevin dan Anna.
Di kantor Kevin penggunaan lift tidak dibedakan antara bos dan karyawan.
Para karyawan memperhatikan mereka diam-diam.
"Harusnya aku menulis syarat yang lebih jelas," Anna masih berbisik.
"Artinya kalau 'pemanasan' aja bisa dong," Kevin balas berbisik.
"Maksudnya?" tanya Anna. Kevin berbisik dengan suara lebih kecil teoat di telinga Anna.
Wajah Anna memerah dan dia langsung memukul Kevin dengan keras.
"Auw, sakit Na."
"Dasar mesum," bisik Anna.
Kevin berusaha menahan tawa. Melihat itu Anna malah memukulnya lagi.
"Udah diam. Gak lucu tau," bisik Anna.
"Aduh, kenapa harus satu lift dengan dua orang ini sih?"
"Jiwa jomloku meronta-ronta melihat mereka."
"Kenapa liftnya bergerak dengan lambat gini sih." Batin karyawan yang satu lift dengan Kevin dan Anna.
"Ngapain kamu ikut turun di lantai delapan? Kantormukan lantai sepuluh," protes Anna.
"Aku kan masih mau minta jatah," ledek Kevin.
"Sakit." Anna berjalan menuju ruangannya.
"Cuma bercanda kali. Hari ini aku belum minum cappucino butanmu," seru Kevin agak keras.
Anna berhenti di depan ruangannya. Kiki sudah berdiri hendak memberi sambutan.
"Selamat pagi Pak Kevin, Mbak Anna."
"Gara-gara siapa coba aku bangun telat?"
"Gara-gara siapa?" tanya Kevin.
"Kamu lah. Pakai tanya lagi." Anna meraih pegangan pintu ruangannya.
"Kok aku sih?" protes Kevin.
"Emang semalam kamu gak ingat ngapain? Aku gak bisa tidur gara-gara itu tau." Anna melangkah masuk ke dalam
ruangannya.
"Aku juga gak bisa tidur kok kemarin. Jadi kita impas kan?" Kevin ikut masuk ke dalam ruangan Anna.
Kiki yang dari tadi masih berdiri sambil tersenyum sama sekali tidak digubris.
"Nasib jomlo," seru Kiki agak keras.
"Mereka pamer kemesraan lagi ya?" Nina muncul dari ruangan di balik meja Kiki.
"Bukan hanya sekedar pamer. Mereka malah membicarakan kegiatan mereka kemarin malam Katanya mereka sampai telat bangun gara-gara gak bisa tidur," protes Kiki.
"Mereka sebenarnya sadar gak sih kelakuan mereka di depan umum seperti apa?" tanya Nina.
"Sadar tidak sadar mereka udah bikin jomlo ini baper setengah mati."
"Baper amat sih. Makanya cari suami sana," seru Nina.
"Boro-boro carri suami, cari pacar aja susahnya minta ampun."
"Udah jangan berisik, kerja aja sana," protes Nina.
next>>>
hari ini empat Chap dulu ya... lagi fokus ke aplikasi sebelah...