The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 65 Berbaikan



Sekarang tersisa Kevin dan Anna di dalam rumah. Mereka terdiam, tak tahu harus mulai dari mana.


"Emmm..." seru Kevin dan Anna bersamaan.


"Kamu aja dulu," seru mereka bersamaan. Mereka kembali terdiam sesaat.


"Ladies first," seru canggung Kevin.


"Mau minum teh?" tanya Anna.


"Boleh. Kebetulan aku juga bawa macaroon untuk kamu," jawab Kevin.


"Bentar ya." Anna berlalu ke arah dapur.


Tidak lama kemudian Anna datang membawa teh.


"Maaf Julie gak minum kopi, jadi tidak ada kopi." Kevin mengagguk pelan.


Suasana mereka sangat canggung. Kevin menyeruput tehnya dengan canggung, sambil berpikir harus ngomong apa.


"Em... Ada apa ke sini?" tanya Anna. Tadinya Anna ingin langsung marah-marah, tapi entah kenapa dia malah jadi grogi.


"Nenek suruh aku jemput kamu," jawab Kevin jujur. Mendengar itu jantung Anna yang tadinya berdetak tak karuan langsung tenang.


"Oh. Artinya kalau Nenek gak suruh, kamu juga gak bakal jemput aku?" Anna menatap Kevin dengan dingin.


"Gak gitu juga sih." Kevin sedari tadi tidak menatap Anna, melirik Anna dari sudut matanya. Anna sama sekali tidak menutupi kejengkelannya.


"Aku salah apa lagi?" batin Kevin.


"Aku bawaiin macaroon," seru Kevin.


"Aku gak suka makanan manis," seru Anna jutek.


"Kata Alex yang ini gak terlalu manis," balas Kevin.


Anna jadi meradang mendengar Kevin.


"Kalau bukan karena Nenek dan Alex, dia pasti gak bakal datangkan" batin Anna.


"Mending kamu pulang saja," Anna berkata kasar.


"Aku datang mau minta maaf Na. Mau jemput kamu pulang."


"Kalau bukan Nenek yang minta, pasti kamu gak bakal datang kan?" Kevin ingin membantah, tapi tidak bisa. Kenyataannya memang seperti itu.


Kevin ingin Anna kembali, tapi egonya tidak membiarkan Kevin untuk melangkah duluan.


"Kalau bukan Alex, kamu juga gak bakal beli macaroon juga kan?" sambung Anna.


Anna berdiri hendak meninggalkan Kevin. Refleks Kevin menahan tangan Anna.


"Aku minta maaf Na."


"Minta maaf untuk apa?" tanya Anna. Kevin terdiam sesaat.


"Maaf untuk segalanya," jawab Kevin.


"Segalanya yang mana?" Anna menarik tangannya yang masih dipenggang Kevin.


"Aduh, ini cewek kok ribet amat," batin Kevin.


"Ya, pokoknya maafin segala kesalahan aku."


"Kamu pasti asal minta maaf saja kan? Kamu sama sekali gak tahu yang mana salahmu," balas Anna.


Kevin menghela nafas panjang.


"Aku..." Kevin terdiam sesaat.


"Maaf waktu itu aku mabuk dan maksa kamu."


Mau tidak mau Anna jadi mengingat kejadian malam itu. Wajahnya seketika berubah jadi merah.


Anna membuang muka mencoba menyembunyikan ekspresinya. Kevin tersenyum melihat gelagat istrinya, memandangnya dengan sangat lembut.


"Aku tarik permintaan maaf barusan," seru Kevin. Anna berbalik menatap Kevin dengan ekspresi heran.


"Sebagai gantinya, aku akan minta maaf untuk hal lain." Ekspresi Anna makin heran saja.


Kevin meraih tangan Anna dan menggenggamnya.


"Aku minta maaf karena tidak langsung menjemputmu. Aku minta maaf karena memblokir semua kartumu." Kevin berhenti sebentar dan mengambil nafas.


"Aku memang melanggar kontrak, tapi aku gak akan minta maaf untuk itu."


"Maksudnya?" tanya Anna.


Kevin menarik nafas panjang.


"Aku tidak akan minta maaf, karena aku cinta sama kamu." Mata Anna membulat sempurna mendengar pernyataan Kevin.


"Aku salah dengar?" tanya Anna. Kevin menggeleng.


"Aku cinta sama kamu," seru Kevin lembut.


"Bohong," ucap Anna refleks.


"Kenapa aku harus bohong?" tanya Kevin.


"Biar aku pulang sama kamu."


"Aku bisa langsung gendong kamu masuk ke mobil." Kevin tersenyum mengejek.


"Kamu kan suka cowok," seru Anna asal. Kevin tertawa.


"Rasanya aku sudah buktikan kalau itu gak benar."


"Aku... aku... " Anna tergagap ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya. Kevin menatapnya lembut.


Jantung Anna berdegup kencang tak karuan. Matanya terus menatap Kevin dengan tatapan tak percaya.


"Aku sepertinya jadi makin jatuh cinta sama kamu," jawab Anna.


Kevin tersenyum. Dengan pelan Kevin memeluk dan mengecup bibir Anna. Pelan Kevin mulai ******* bibir Anna dengan lembut.


Anna menghentikan Kevin, ketika tangannya mulai menjelajah.


"Kenapa?" tanya Kevin dengan nafas terengah.


"Nanti Julie pulang."


Kevin merogoh sakunya mengambil ponsel, dan langsung menelpon Alex.


"Pesankan Julie kamar hotel, jangan biarkan dia pulang hari ini."


Sebelum Alex sempat menjawab, Kevin sudah mematikan sambungan telponnya. Anna menatap Kevin tidak percaya.


"Masalahnya sudah selesai." Kevin berniat mengecup Anna lagi, tapi langsung ditahan.


"Tunggu," seru Anna dengan gugup.


"Apa lagi?" tanya Kevin.


"Pintunya belum dikunci."


"Memangnya kenapa?" tanya Kevin.


"Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?" Anna benar-benar gugup.


Kevin pergi mengunci pintu depan.


"Kamu kenapa Anna," batinnya Anna.


"Sekarang kamu tidak akan menghindar lagi kan?" Kevin sudah berdiri di depan Anna.


"Aku gak menghindar kok."


"Terus?"


"Aku cuma gugup," Anna terbata.


"Kenapa harus gugup? Kan sudah pernah." Kevin tersenyum nakal.


"Tetap saja," seru Anna malu.


"Gak perlu gugup, aku akan memperlakukanmu dengan lembut." Kata-kata Kevin seperti menghipnotis Anna. Anna mengangguk pelan.


Kevin kembali memagut bibir Anna. Makin lama makin bergairah. Dengan tidak sabar Kevin mengangkat Anna menuju kamar.


*****


"Aku ditendang dari rumahku, hanya karena kalian berdua mau bersenang-senang disana?" seru kesal Julie.


Sekarang ini Kevin, Anna, Alex dan Julie sedang duduk di restoran B Hotel tempat Julie menginap.


"Kalian gak meninggalkan jejak aneh di rumahku kan?" tanya Julie lagi.


"Maksudnya apa?" Kevin bertanya dengan jutek. Anna langsung memukul suaminya itu.


"Maaf ya Li. Kami gak bermaksud seperti itu."


"Untuk apa minta maaf? Dia kan sudah dapat tempat untuk tidur yang lebih nyaman dan mewah. Dapat makan siang gratis sampai baju baru." seru Kevin tanpa filter.


Anna mencubit pinggang suaminya itu.


"Auw. Sakit tahu," protes Kevin.


"Maaf ya Li. Anak ini emang kurang ajar."


"Gak masalah sih, emang itu semua kenyataan. Lagian semalam tidurku menyenangkan," balas Julie.


"Uhuk." Alex yang duduk disebelah Julie hampir saja tersedak minumannya.


"Tapi ngapain harus beli baju segala? Pakai baju gituan gak panas emang?" tanya Anna.


Julie sekarang mengenakan kaos turtleneck lengan panjang.


"Aku kan gak mungkin pakai baju yang sama selama dua empat jam. Lagian ini bahannya dingin kok."


Alex dari tadi tidak memberi komentar apapun. Namun bagaimana pun juga, ekspresi Alex terlihat sangat senang. Mood Julie juga sepertinya bagus, hal ini malah membuat Anna curiga. Anna menatap Julie dan Alex bergantian.


"Jadi, kita langsung balik ke Jakarta?" tanya Alex.


"Pastinya. Besok kita kan kerja," jawab Kevin.


"Aku ikut dong. Senin besok aku ada ujian BSMR" sahut Julie.


"Ngapain ikut-ikutan?" tanya Kevin.


"Gara-gara siapa ya aku harus nginap di luar?" balas Julie.


"Udah biarin aja kali Julie ikut," seru Anna.


"Tapi, sayang..." Anna langsung memotong omongan Kevin dengan pelototan matanya.


"Sejak kapan pakain sayang-sayang sih?" gumam Alex.


"Aku juga berniat semobil dengan kalian. Aku akan bawa mobil sendiri," seru Julie.


"Bagaimana kalau ikut mobilku saja? Mereka bisa pakai mobil Anna," saran Alex.


Julie mengangguk sebagai jawaban.


"Koperku udah dibawkan kan?" tanya Julie pada Anna.


"Sudah dong."


next>>>