
"Anna mana sih? Lama banget," protes Kevin.
"Namanya juga perempuan Vin." Alex membela Anna.
"Sorry aku agak lama."
"Lama banget tau. Nanti kita bisa telat." Kevin kembali protes.
"Namanya juga cewek," balas Anna.
Pesta ulang tahun Clarence dilangsungkan di B Hotel dengan mewah. Anna menjadi gugup begitu sampai di hotel. Ditambah banyak selebritis yang hadir
"Santai aja," seru Alex.
"Aduh, aku gak yakin." Kevin menarik nafas, kemudian menyodorkan lengannya.
"Ada aku kan yang temani, santai saja."
Anna menggandeng tangan Kevin dengan senyuman.
"Kevin." Yang empunya pesta datang menyambut.
Clarence mencium pipi kiri dan kanan Kevin dengan mesra dan melakukan hal yang sama pada Alex.
Anna kaget dan langsung menjadi kesal melihat Kevin diperlakukan dengan mesra.
"Astaga. Apa dia tidak lihat ada Nyonya Kevin di sini?" batin Anna.
"Selamat ulang tahun," seru Kevin.
"Ini hadiah dari saya dan Kevin." Alex memberikan kantongan denga logo brand terkenal.
"Thank you."
Clarence meminta seseorang membawa pergi hadiah yang
diterimanya.
"Dan ini, siapa?" Clarence akhirnya menatap Anna.
"Perkenalkan ini istri saya, Anna."
"Oh, jadi ini Nyonya Kevin Bramantara yang diisukan itu? Kamu kenal saya kan?"
"Katanya Anna ini fans kamu," seru Kevin.
"Tadinya. Saya rasa sekarang sudah tidak." Sela Anna
Clarence sedikit bingung dengan pernyataan itu.
"Anna, maksudnya apa?" tanya Kevin.
"Ya maksudnya seperti itu." Tatapan Anna terhadap Clarence jelas menunjukkan kekesalan.
Tiba-tiba saja Clarence tertawa kencang. Anna merasa kaget,
bahkan hampir seisi ruangan menatap Clarence.
"Astaga, istrimu ini lucu sekali ya Kevin."
"Maaf," seru Kevin.
"Gak ada yang perlu dimaafkan sayang." Clarence memegangi lengan Kevin.
"Sayang?" batin Anna makin kesal.
Tatapan mata Anna tertuju pada tangan Clarence dan menjadi makin kesal.
Clarence tertawa memperhatikan gerak-gerik Anna.
"Anna kan? Perkenalkan Clarence." Clarence mengulurkan tangan.
Anna meraih uluran tangan Clarence.
"Anna Bramantara."
Clarence tersenyum lebar.
"Aku suka kamu." Clarence menyentil hidung Anna.
"Silahkan menikmati pestanya."
"Dia kenapa sih," batin Anna.
"Vin aku ke sebelah sana ya. Mau sapa teman," kata Alex. Kevin mengagguk sebagai jawaban.
"Jadi kamu kenapa?" tanya Kevin setelah Alex pergi.
"Apanya yang kenapa?" Anna bertanya balik.
"Tadi sore kamu bilang fans berat sama Clarence. Sekarang gak lagi?"
"Ya. Aku tiba-tiba illfeel sama dia."
"Ada-ada saja."
Satu persatu kolega Kevin berdatangan menyapanya. Anna rasanya
ingin pergi menyendiri di sudut ruangan. Tapi Anna tidak bisa meninggalkan
tugasnya sebagai Nyonya Kevin.
Anna sebenarnya merasa minder. Semua orang terlihat begitu
glamour, dengan barang branded menempel di badan mereka.
"Hah... " Anna menarik nafas lega ketika akhirnya dia dan Kevin tinggal berdua saja.
"Secapek apa kamu sampai menghela nafas seperti itu?" tanya Kevin.
"Jiwaku yang super capek," jawab Anna.
"Maksudnya?" tanya Kevin.
"Kamu gak minder dengan aku?" tanya Anna.
Kevin hanya memberikan tatapan bingung.
"Maksudnya, semua orang di sini cakep-cakep semua. Barangnya branded, perhiasannya diamond asli. Nah, aku?"
"Memangnya kamu kenapa?"
Anna tertawa.
"Kamu gak lihat penampilanku biasa saja? Malah mungkin kelihatan seperti gembel dimata orang lain. Yang mahal cuma anting yang kamu belikan waktu di Bali. Kamu saja dari atas sampai bawah branded. Pasti kamu juga jadi minder kalau berdiri di sampingku."
Kevin melihat anting yang dimaksud.
"Sama sekali tidak," jawab Kevin.
Anna melihat Kevin dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Wah, lihat siapa ini?" Suara Vanessa yang sangat menyebalkan terdengar
. "Pengantin baru," lanjut Vanessa.
"Kenapa juga aku gak bisa menikmati acara ini dengan tenang," bisik Anna.
Kevin yang mendengar itu mengajaknya berpindah tempat.
"Cari makanan di sebelah sana yuk."
"Kita ngobrol dulu dong."
"Kamu mau apalagi sih?" tanya Kevin.
Vanessa mendekati Kevin.
Vanessa menggandeng tangan Kevin dengan erat. Segera Kevin
melepas gandengan Kevin dengan kasar dan meletakkan tangannya di pinggang Anna.
"Saya belum perkenalkan istri saya kan? Kenalin ini Anna." Kevin menekankan kata istri. Anna yang mengerti maksud Kevin langsung mengulurkan tangan.
"Anna Bramantara."
Vanessa terlihat kesal mendengar Anna.
"Istri Kak Kevin biasa aja ya. Kelihatan kampungan malah. Baju diskon ya?" Vanessa mengacuhkan uluran tangan Anna.
Anna yang juga terlihat kesal mendengar Vanessa, segera menarik tangannya. Orang-orang disekitar juga sudah mulai memperhatikan mereka.
"Itu kan menurut kamu saja," balas Kevin.
"Sorry?" tanya Vanessa.
"Istriku mau pakai apa pun, mau branded atau bukan dia selalu terlihat cantik." Kevin tersenyum manis.
Anna menatap Kevin dengan ekspresi kaget. Kevin mempererat pelukannya. Vanessa menjadi makin kesal. Clarence yang dari tadi memperhatikan sangat menikmati pertunjukan itu.
"Tapi kok kalian terlihat seperti fake couple gitu. Seperti dibuat-buat. Ia gak sih?" Vanessa mengedarkan pandangan mencari persetujuan.
"Ken bukan orang yang seperti itu," jawab Anna balas merangkul Kevin.
"Yah, walaupun kalau kita berdua saja dia manja sih," lanjut Anna.
"Ken?" tanya Vanessa tidak percaya.
"Oh, aku lupa bilang. Ken itu nama panggilan sayang." Anna bersandar pada Kevin.
"Adanya kamu yang sok manja. Itu kan cara kamu menggoda Kak Kevin."
"Memangnya kalau aku cuma mau minum cappucino buatan kamu. Setiap hari aku mau keringin rambut aku, itu dibilang manja?" tanya Kevin pada Anna.
"Ia. Manja."
Clarence tertawa mendengarnya.
Vanessa kaget, tetapi itu membuatnya makin marah.
"Dasar perempuan gatal," teriak Vanessa.
"Stop." Clarence akhirnya berhenti menjadi penonton saja.
"Ini ada apa ya? Kok teriak-teriak di acara saya."
"Saya cuma.... " Kata-kata Vanessa dipotong Clarence,
"Sebentar kamu siapa ya? Saya gak merasa ngundang kamu."
Vanessa menjadi malu mendengar itu. Tamu pesta juga mulai
bisik-bisik.
"Saya kesini menggantikan sepupu saya. Laura," seru Vanessa.
"Oh, sepupunya Laura. Sepupu dari pihak papa atau mama Laura?" tanya Clarence. "Papa Laura bersaudara dengan papa saya," jawab Vanessa.
"Mahesa atau Rendra Pratama?" "Mahesa Pratama."
"Saya tau Laura gak suka saya,tapi saya gak nyangka Laura mengirim anak nakal ke acara saya."
Vanessa segera memberikan kado yang ditipkan Laura.
"Ini dari Laura."
Clarence menatap Vanessa dari atas sampai bawah sebelum
mengambil kadonya.
"Bajunya bagus. Mahal sepertinya," seru Clarence.
"Oh, ia dong. Saya gak suka pakai baju murahan. Baru loh." Vanessa merasa bangga.
"Setahu saya perusahaan Pak Mahesa sedang kurang bagus. Masih sanggup beli baju mahal?" Clarence berbicara dengan santai.
Wajah Vanessa memerah. Para tamu pesta mulai menertawakan Vanessa. Segera Vanessa melangkah pergi dengan malu.
"Makasih ya," seru Anna segan.
"No problem. Saya juga menikmati pertunjukannya kok." Clarence memberikan kado yang masih
dipegangnya pada pelayan.
"Pertunjukan?" tanya Kevin bingung.
"Ada deh. Tapi kamu benaran kayak gitu?" Clarence bertanya balik.
"Maksudnya?" Kevin merasa bingung.
"Rambutnya dikeringin sama istri. Harus minum cappucino buatan istri." Clarence tertawa mengejek.
Anna juga tertawa melihat Kevin salah tingkah.
"Maaf ya. Soal yang tadi," seru Anna pada Clarence.
"Soal apa?"
"Soal saya gak lagi ngefans sama kak Clarence."
Clarence menaikkan alisnya dan tertawa.
"Itu hak kamu loh mau ngefans sama siapa."
"Ia juga sih, tapi tetap saja saya merasa gak enak sama kak Clarence."
"Ren. Panggil Ren saja," saran Clarence.
"Gak perlu merasa gak enak, soalnya aku terlanjur suka sama kamu." Clarence menyentuh ringan hidung Anna.
"Silahkan menikmati pestanya kembali," seru Clarence berjalan menjauh.
"Kapan-kapan kita nongkrong bareng ya Na," sambung Clarence.
"Dia gak suka sesama jenis kan?" tanya Anna memegang hidungnya.
"Gak lah. Dia dari dulu emang gitu," jawab Kevin.
"Dari dulu?" tanya Anna.
"Clarence itu teman main aku dan Alex dari kecil."
"Oh, gitu." Anna memegang dadanya dengan ekspresi tidak nyaman.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Hmm. Gak apa-apa. Kita boleh pulang aja gak?"
"Kalau gitu kita cari Alex dulu." Anna mengangguk.
next>>>>>>