The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 81 Hadiah



"Na, kamu gak mau bikin tema Valentine untuk cafrmu?" Julie memberi saran.


"Boleh juga sih, tapi mau bikin tema apa? Aku lagi gak ada ide," jawab Anna.


"Yang simpel aja. Dekorasi serba pink terus kasih diskon juga untuk pasangan," Julie memberi saran.


"Aku gak mau dekorasi serba pink."


"Warna pastel mungkin?"


"Aku maunya warna gelap," jawab Anna santai.


"Ini mau valentine atau halloween?" tanya Julie sarkas.


"Gak tahu lagi pengen aja."


"Yah, aku juga gak tahu kamu kesurupan apa? Aku lihat belakangan kamu emang suka pakai sesuatu yang warnanya navy." Anna tertawa cengengesan.


"Nanti aku minta tolong Mbak Farah aja deh."


"Mbak Farah siapa?" tanya Julie.


"Yang tempo hari design cafe ini," jawab Anna santai.


"Gak kemahalan nanti bayarnya?" tanya Julie.


"Gak juga sih," jawab Anna.


"Kamu udah kebiasaan ya jadi orang kaya?" tanya Julie.


"Maksudnya?" Anna bertanya balik.


"Maksudnya. Em, gaya hidup. Gaya hidupmu terlalu mewah. Masa dekor cafe aja mau panggil jasa design interior." Julie terlihat sedikit gugup.


"Gitu ya," sahut Anna.


"Aduh, aku tanya apaan sih? Hampir saja aku jawab kebiasaan pakai duitnya Kevin," maki Julie dalam hati.


"Li, menurutmu gimana kalau kita jualan coklat?"


"Kita?" tanya Julie.


"Maksudku jualan coklat di cafe. Coklat valentine gitu."


Julie menjentikkan jarinya.


"Itu ide yang bagus. Kamu bisa jualan bahkan sebelum tanggal empat belas." Anna mengangguk riamg.


"Kalau begitu aku harus mulai bikin dari sekarang," seru Anna antusias.


"Kamu mau bikin sendiri?" tanya Julie.


"Aku udah lama mau coba bikin coklat, tapi momennya gak ada. Ini mumpung mau jualan." Julie mengangguk.


"Kamu bisa temani aku beli bahan-bahannya?" tanya Anna.


"Sekarang?" Anna mengangguk sebagai jawaban.


"Oke."


Anna sengaja berbelanja di tempat yang banyak menjual barang impor.


"Bukannya kalau pakai bahan impor harganya mahal?" tanya Julie.


"Gak semua juga kali harus pakai bahan impor. Kalau customer ngerasa coklatnya mahal, ya gak usah dibeli." Anna terkesan cuek.


Memang cafe yang Anna kelola, terbilang cukup sukses untuk cafe baru. Menurut Anna, itu karena dia sendiri yang mengajari barista dan patissiernya. Narsis banget kan?


"Terus ngapain kamu juga beli buah?" tanya Julie.


"Aku mau bikin coklat yang isinya buah. Rasa kopi juga mungkin bagus."


"Bukannya kamu suka matcha dan taro?" tanya Julie.


"Tapi kamu kan suka tropical fruit. Bubuk matcha dan taro banyak kok di cafe," jawab Anna.


"Terus ini apaan?" Julie mengangkat cetakan kue.


"Itu cetakan kue Julie."


"Aku tahu ini cetakan kue, tapi ini bentuk apa?"


"Anak bayi," jawab Anna.


"Anak bayi? Ngapain pakai cetakan anak bayi? Emang ada yang mau bikin hampers lahiran?"


"Lagi pengen saja," jawab Anna santai.


"Belakangan ini kamu benar-benar aneh banget deh," tegur Julie.


"Aneh gimana?" tanya Anna.


"Udah sebulan kamu makan menu yang sama."


"Sekarang kan aku udah makan rawon juga," balas Anna.


"Iya. Fish and chip, spaghetti aglio olio sama rawon. Cuma tiga itu dituker-tuker tiap hari. Belum lagi kebiasaan baru kamu yang maunya pakai Navy terus. Sekarang cetakan kue bayi?"


Anna menatap Julie bingung.


"Ada yang salah dengan itu?" tanya Anna.


"Kamu kayak orang ngidam tahu gak." Anna menertawakan Julie.


"Asal aja kalau ngomong," seru Anna.


"Tunggu dulu. Perasaan belakangan ini aku gak pernah lihat kamu beli pembalut."


Anna terdiam mendengar pernyataan Julie.


"Anna, kapan kamu terakhir datang bulan?" Anna masih terdiam, tak bisa menjawab.


"Aku... Aku lupa kapan terakhir," jawab Anna terbata


. "Kurasa kamu harus cek," Julie memberi saran.


"Cek apa?"


"Cek kehamilan Anna," jawab Julie gemas.


"Oke. Nanti saja ya. Setelah urusan percoklatan selesai." Anna berjalan melalui Julie.


"Iya Julie aku ngerti. Walaupun belum jelas, mulai sekarang aku akan lebih menjaga diri."


"Gak mau beli test pack?" teriak Julie pada Anna yang sudah jalan duluan.


*****


"Bisa gak, kita gak berhenti tiap kali kamu lihat toko pakaian yang majang dasi warna pastel?" Alex memprotes kelakuan Kevin.


"Emang masalah buat kamu?" Kevin memasng dasi yang baru dibelinya.


"Kevin kita masih ada meeting di kantor. Waktunya sudah mepet. Dan kamu masih sempat singgah beli dasi?"


"Suruh mereka nunggu sebentar kan bisa," seru Kevin santai. "


Kamu kenapa belakangan ini aneh banget?" tanya Alex.


"Aneh gimana?" Kevin keluar dari toko setelah membayar.


"Dimanapun kamu berada, kalau kamu lihat dasi warna pastel dipajang pasti langsung kamu beli. Langsung dipakai pula. Sejak kapan kamu suka warna pastel?"


Alex mengikuti Kevin masuk ke dalam mobil.


"Sejak beberapa waktu yang lalu."


"Lalu karena mentang-mentang hari ini valentine, kamu pilih warna pink?" tanya Alex.


"Emang hari ini tanggal empat belas februari?" tanya Kevin bingung.


"Bukan tanggal tiga puluh februari," jawab Alex ketus.


"Gitu saja marah."


Meeting yang disebut-sebut Alex untungnya selesai lebih awal.


"Masih ada jadwal apalagi?" tanya Kevin.


"Gak ada lagi. Kamu bisa pulang."


"Serius?" Kevin berbalik melihat Alex.


"Serius." Alex jalan mendahului Kevin dan menghampiri Dinda.


"Gak ada lagi yang harus ditandatangani Kevin kan?" tanya Alex.


"Gak ada Pak, tapi ada paket untuk Pak Alex dan Pak Kevin."


"Kamu belanja dasi online Vin?" Alex menoleh ke arah Kevin.


"Mana mungkin," jawab Kevin. Kevin dan Alex menerima masing-masing satu box kecil.


"Habis dari kulkas?" tanya Kevin. Kotak yang mereka pegang memang terasa dingin.


"Waktu paketnya datang memang sudah seperti itu Pak," jawab Dinda.


"Pengirimnya dari K.E Cafe. Di mana ini?" seru Alex bingung.


"Saya sudah cari tahu di internet. Itu cafe yang baru buka di Bandung, lumayan terkenal."


Kevin berjalan masuk ke ruangannya diikuti Alex. Mereka berdua duduk berhadapan di sofa. Dengan penasaran Kevin membuka kotaknya.


"Coklat?"


"Kamu punya secret admire?" ejek Alex.


"Kamu juga dong," balas Alex. Alex membuka kotaknya.


"Coklat," serunya.


Alex melihat kotak Kevin dengan seksama.


"Bentuk apa itu?"


"Bayi," jawab Kevin singkat.


"Kenapa absurd begitu?" Sudut bibir Kevin naik sebelah.


Tanpa ragu Kevin langsung memakan sepotong coklat. Setelah beberapa kali mengunyah, Kevin tiba-tiba tertawa.


"Kenapa? Ada sianidanya?" tanya Alex. Kevin menggeleng.


"Enak," gumamnya lirih. Kevin tahu siapa yang mengiriminya coklat.


*****


"Terima kasih sudah mengunjungi K.E Cafe." Anna tersenyum sambil menyerahkan bungkusan kopi pada customer.


"Anna, belum mau pulang?" Julie yang pulang kantor lebih cepat, datang menjemput Anna.


"Bentar ya, aku beres-beres dulu."


"Aku udah daftarin kamu ke dokter obygn di rumah sakit sebelah ya," seru Julie lantang.


"Astaga niat banget sih."


"Kalau gak seperti ini, kamu pasti gak mau ke dokter."


"Bisa kita ke dokter umum dulu gak?" tanya Anna.


"Kenapa?"


"Asam lambungku naik. Aku lagi gak ada stok obat maag." "Oke."


Setelah melalui beberapa pemeriksaan.


"Sepertinya asam lambung Ibu mengalami kenaikan akibat dari kehamilan," seru dokter umum.


Julie tersenyum lebar mendengar ucapan dokter.


"Maaf?" tanya Anna masih bingung.


"Hasil pemeriksaan urin Ibu menyatakan anda positif hamil."


Anna masih tidak percaya, bibir dan matanya membulat sempurna.


"Tuh kan. Harusnya kamu percaya omonganku." Julie menepuk ringan lengan Anna.


next>>>


Ramaikan yuuuk>>>>