The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 3 Perjanjian



Chap 3


"Akhirnya,


telah sekian lama bisa liburan lagi," seru Anna.


"Kita


nginap di mana nih?" tanya Julie.


"Ini


anak ya dari kemarin-kemarin juga sudah dikirim semua lewat chat." Jawab anna


"Kan


kamu yang urus semuanya, aku mana hafal semua." Seru Julie


"Beruntungnya


dirimu punya teman yang jago administrasi dan jago cari diskon." Bangga anna


"Rental


motornya juga sudah?" Tanya Julie


"Sudah


dong, Anna gitu" sombong anna


"Udah,


aku cari taksi dulu." Ucap Julie yang sudah merasa jengah


"Eh, Na


kamu pesan kamar di B Hotel? Berapa harganya?" bisik Julie


"Tenang


saja beiib, ini bukan B Hotel Lite Harganya lebih murah, dapat diskon dan


cashback lagi." seru anna


"Silahkan


bu, ini kunci kamarnya. Silahkan langsung naik ke lantai lima menggunakan lift


yang disebelah sana, nomor kamarnya lima nol lima." Ucap sopan resepsionis


hotel


Dua sahabat


ini segera menuju lift dan segera masuk saat pintu lift terbuka.


Sementara


pintu lift Anna dan Julie menutup, pintu lift di sebelah terbuka.


"Dari


hasil laporan tim audit, ditemukan ada sedikit fraud di bagian pengadaan


barang. Ada perbedaan antara nota dan barang. Selain itu ada beberapa barang


yang harganya. overprice." Alex keluar dari lift mengikuti Kevin sambil


memberi laporan.


“Masih ada


juga yang mark up harga,” balas Kevin


"Kak


Kevin….!" Seorang wanita berteriak dengan kencang begitu melihat Kevin.


“Bagaimana


dia bisa tahu saya ada di sini?” tanya Kevin dengan heran.


Alex


menjawab dengan mengangkat bahu saja, Wanita tadi berlari kecil menghampiri


Kevin.


"Untung


kak Kevin masih belum pergi. Kirain Vanessa telat, Hai kak Alex." ujar Vanessa


dan menyapa alex


"Hai."


Jawab alex


"Anda


tidak kuliah?" Kevin merasa kesal.


"Kan


tinggal skripsi, bisa dikerjakan dimana saja. Kita main yuk." Ajak Vanessa


"Main?


Vanessa memangnya anda masih anak-anak?" kelvin jengah


"Maksudnya


Vanessa mau ditemani jalan-jalan gitu." Vanessa berharap


"Pak,


sebentar lagi kita ada meeting dengan supplier" seru Alex.


"Anda


dengar kan? Saya sangat sibuk. Permisi." Kevin segera berlalu pergi


diikuti Alex.


"Apaan


sih, kak Alex Awas ya nanti aku laporin nenek" Vanessa kesal


"Gila


juga itu anak, sampai dinas keluar kota juga masih nempel. Kalau waktu dinas


kaluar negeri pernah juga?" Tanya alex


“Alex bisa


tidak anda tidak usah membahas anak manja itu. Kepala saya sakit dengarnya.” Seru


kesal kevin.


"Saya


saja sakit kepala liat dia, heran bagaimana nenek bisa tahan sama dia?" tanya


alex


"Pertanyaan


yang amat sangat bagus. Mungkin bisa anda coba tanyakan." Jawab kevin


"Maaf,


saya tidak mau berhadapan dengan nenek." Elak alex


#*#*#*#*#


Saat ini mereka


telah selesai bertemu dengan rekan bisnisnya.


"Terima


kasih banyak pak atas bantuannya selama ini. Kedepannya saya percayakan


pengadaan barang kami pada anda." Kevin menjabat tangan rekan bisnisnya


itu.


Segera


setelah partner bisnis mereka pergi meninggalkan restoran hotel, Alex langsung


memberi laporan pada Kevin.


"Bos."


Seru alex


"Kenapa?"


tanya kevin


"Arah


jam sembilan ada Vanessa."jawab alex.


Kemudian Kevin


berbalik sedikit dan langsung menghela nafas begitu melihat siluet Vanessa.


"Sejak


kapan dia berada di sana?" Tanya kevin dengan malas


"Sudah


dari tadi. Mungkin sudah lebih satu jam." Jawab alex


"Sebaiknya


kita segera pergi saja," seru Kevin.


"Masalahnya


pak, dia baru saja berdiri dari kursinya dan mendatangi meja kita." Sela alex


"Kalau


begitu mari kita segera lari." Usul kevin


"Kak


Kevin." Vanessa dengan manja menggandeng tangan Kevin.


Sebelum kevin


dan alex melarikan diri.


"Kak


Kevin sudah selesai kan. Ayo kita pergi shopping."  Ajak Vanessa


"Maaf


saya masih ada janji setelah ini." elak kevin


"Emang


kak Kevin masih ada jadwal apa?" Vanessa bertanya pada Alex.


"Emmmm.....


Habis ini.... " Alex menyalakan I-pad nya.


"Gak


ada sih. Nanti jam tiga baru ada." Jelas alex


"Artinya


sudah bisa temani aku kan." Tanya vanessa


Kevin menghela


nafas panjang dengan kesal.


"Bagaimana


caranya menghindari Vanessa?" batin Kevin.


Vanessa


menarik lengan Kevin dengan antusias. Sebelum Kevin beranjak dari tempatnya,


dia melihat orang yang mungkin bisa jadi penyelamatnya masuk ke restoran.


"Dia


kan... ahh good idea" batin Kevin.


Kevin segera


melepas tangan Vanessa.


"Saya


tadi sudah bilang ada janji dengan orang lain." Seru kevin


"Tapi,


kak Alex bilang sudah gak ada jadwal lain lagi."Tanya Vanessa


Kevin tidak


menjawab dan berlalu pergi menghampiri orang yang tadi dilihatnya.


"Anna…?"


sapa Kevin.


Yang


dipanggil langsung berbalik dan menjawab.


"Yaa..." jawab annn


Sebelum kevin


bertemu anna…


"Li,


makan siang dulu ya sebelum jalan. Aku udah lapar nih." Ujar anna memegang


perutnya


"Mau


makan di mana?" Tanya Julie


"Yang


dekat saja deh. Di restoran mana?" Tanya anna lagi


"Yang


dekat saja deh. Di restoran yang di bawah aja." Usul Julie


“Kalau gitu


ayo," ajak anna.


Begitu


sampai di restoran, pelayan restoran langsung melayani Anna dan Julie.


"Untuk


berapa orang bu?" tanya pelayan.


"Berdua


saja" jawab anna.


"Mari


saya antar ke meja. Mau yang smoking atau no


smoking?"


Tanya pelayan


"No


smoking." jawab Anna lagi.


Baru saja


melangkah, ada seseorang yang memanggil Anna.


"Anna..,?"


sapa kevin


"Ya."


Anna menoleh ke arah datangnya suara.


"Siapa?"


Julie menyikut lengan Anna.


Anna menjawab


dengan gelengan kepala.


"Kak


Kevin?" suara Vanessa memanggil.


Kevin


menghela nafas sebelum akhirnya memegang bahu Anna dengan kedua tangannya.


"Saya


ada janji dengan dia." Tegas kevin


Anna


menganga mendengar perkataan Kevin. Kevin langsung menarik lengan Anna dan


pergi meninggalkan restoran.


"Eh,


ini apaan sih main tarik-tarik saja? Kamu siapa sih?" Anna memprotes.


Kevin tidak


menggubris Anna dan terus berjalan.


"Eh,


mas berhenti gak…. Tangan saya sakit tahu. Saya teriak nih…!" Protes Anna


Kevin


akhirnya berhenti juga, menghela nafas dan melepas tangan Anna.


"Saya


minta maaf, saya sudah tidak sopan memaksa dan menarik anda." Ucap kevin


"Anna mendengus kesal


"Wah,


anda luar biasa banget ya. Saya tidak kenal anda loh," lanjutnya.


Kevin


berusaha menjelaskan, tapi saking bingungnya dia jadi tidak tahu mau bicara


ара.


"Kak


Kevin," Vanessa berteriak dari jauh.


Mendengar


itu Kevin jadi panik.


"Saya


minta maaf, tapi kita harus pergi dari sini." Ucap Kevin sambil menarik


lengan Anna


"Eh,


apa-apaan nih. Saya mau dibawa kemana lagi. Saya teriak loh ini." Protes Anna


dengan mengancam.


Kevin


berhenti tiba-tiba dan berbalik ke arah Anna.


"Maaf


tapi anggap saja anda sedang melunasi hutang anda." Ujar Kevin


"Hutang


apaan? Saya bahkan tidak kenal anda.” Bingung anna


"Saya


tidak tahu anda pura-pura lupa atau memang lupa. Tapi biar saya ingatkan. Anda


ingat pernah mabuk dan bertengkar dengan mantan anda, di restoran B Hotel


Bandung." Jelas kevin


"Kapan


saya.... "Anna terdiam teringat sesuatu.


"Kamu


laki-laki yang tempo hari difoto?" tebak Anna


"Bagus


kalau anda ingat. Asal tahu anda belum bayar biaya hotelnya. Jadi sekarang bantu


saya dan saya akan menganggap hutang anda lunas." seru kevin.


anna hanya bisa berkedip-kedip kebingungan.


"Kak


Kevin." Vanessa menarik lengan Kevin.


"Apa-apaan


sih ini kak? Ini siapa?" Vanessa gusar.


Sementara


Alex dan Julie baru saja tiba.


"Maaf


saya tidak memperkenalkan karena menurut saya tidak perlu. Tapi kalau anda mau


kenal, mari saya kenalkan." Kevin ragu-ragu menempatkan tanggannya di pundak


Anna dan menciu um keningnya dengan cepat.


"Ini


Anna, calon istri saya." Semua orang menganga mendengar pernyataan Kevin.


"Ini


apaan sih? Jangan seenaknya ci um saya ya mas….!" bisik Anna tegas.


"Anda


diam saja dan tolong bekerja sama lah. Ingat hutang." Anna hanya memutar


bola matanya dengan malas mendengar Kevin.


"Calon


istri?" teriak Vanessa.


"Gak


salah? Dari mana kak Kevin kenal perempuan murahan seperti ini?" emosi Vanessa


mengebu gebu


"Maaf?


Anda siapa sih? Seenaknya saja menghina saya?” Tanya anna


“sayang ini


siapa sih?" lanjut tanya anna ke kevin


"Sayang?


haah sayaaang…?" Vanessa makin histeris.


Alex dan


Julie makin menganga. Bahkan Kevin pun agak terkejut mendengar panggilan Anna.


"Dia


bisa dibilang teman?" jawab Kevin.


"Kak,


aku ini tunangan kakak." bantah Vanessa dengan mata memerah


"Saya


tidak pernah merasa melamar anda, bagaimana bisa tunangan?” tantang kevin ke Vanessa


“Ayo kita


pergi saja sayang, aku yakin kamu belum makan kan?" Kevin merangkul pundak


Anna dengan santai dan berlalu pergi.


Anna menoleh


ke belakang dan langsung melihat Julie yang melongo. Anna langsung memberi


isyarat akan menelpon Julie nanti.


Kevin menuntun


Anna ke parkiran.


"Mari


kita berbicara di tempat yang lebih nyaman. Masuklah." Kevin meminta Anna


masuk ke mobil.


Anna melipat


tangannya di dada dengan kesal. Dia menatap Kevin sesaat dan masuk ke dalam


mobil Kevin.


Kevin


mencari cafe terdekat dari hotel. Dan di sinilah mereka duduk berdua dalam


diam. Setelah pelayan membawa pesanan mereka, Ella membuka suara.


"Bisa


tolong dijelasin?" Anna meminta penjelasan


"Bagaimana


kalau dimulai dari anda? Bukankah anda juga berhutang penjelasan pada


saya?" ujar kevin dengan santai


Anna tertawa


mengejek dan mulai berbicara.


"Ok,


saat itu jujur saya gak terlalu ingat karena mabuk. Seperti yang anda katakan


tadi, saya berselisih paham dengan mantan saya. Kebetulan saya bertemu anda,


dan sepertinya anda membantu saya." Jelas anna


"Itu


saja yang saya ingat. Oh, omong-omong nama saya Anna. Gianna Wijaya."


sambungnya.


"Baik,


biar saya perjelas kalau begitu." Ucap kevin


"Sebentar,"


potong Anna.


"Saya


boleh pesan makanan berat dulu? Saya perlu makan. Kalau tidak maag saya bisa


kambuh." Lanjutnya lagi.


Dengan malas


Kevin menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Biar


saya perjelas. Anda pada waktu itu memperkenalkan saya pada mantan anda sebagai


pacar baru anda. Setelah itu tiba- tiba pingsan. Saya tidak kenal anda, tidak


tahu rumah anda dan anda saat itu terlihat sendirian. Jadi hal yang bisa saya


lakukan adalah menyewakan anda kamar hotel." Penjelasan Kevin


"Itu saja?"


tanya Anna hati-hati.


"Ah,


anda juga memaksa saya untuk befoto bersama dengan anda. Bahkan anda mengambil


ponsel yang sedang saya pakai dan mengirim fotonya menggunakan bluetooth."


Seru kevin lagi


"Itu


saja kan?" Tanya Anna dengan hati-hati lagi


"Maksud


anda apa?" tanya Kevin.


"Ya,


gak bermaksud apa-apa." bohong Anna


"Tunggu


apa anda berpikir saya melakukan hal tidak senonoh pada anda?" tuduh kevin


"Anda


kan lelaki." Anna tersenyum.


"Saya


tidak serendah itu." Kesal kevin


"Ok."


Singkat anna


"Lalu


cewek yang tadi itu. Tunangan?" Tanya anna


"Nenek


saya berusaha menjodohkan saya dengan dia." Jawab kevin


"Berusaha.


Artinya belum dijodohkan?" jelas anna


Kevin mengangguk


kecil dan menjawab anna,


"Saya


tidak suka dengan anak kecil manja seperti dia. Jadi saya hanya melakukan apa


yang pernah anda lakukan pada saya." jelas kevin


"ouuwhhh…Ok."


Singkat ana


Pembicaraan


mereka terhenti pada saat pelayan datang membawakan makanan anna. Disaat yang


bersamaan ponsel milik Kevin dan Anna berdering.


Anna


berusaha menjelaskan ke Julie sesingkat mungkin dan minta dijemput dua puluh


menit lagi. Sementara Kevin sibuk menghela nafas sambil meminta Alex mengecek


jadwal kosongnya.


"Saya


bisa minta tolong lagi?" ucap Kevin yang sudah menyudahi pembicaraan


dengan Alex.


"Tergantung."


Jawab anna yang juga sudah selesai dengan telponnya


"Vanessa anak yang pantang menyerah, dia tidak akan percaya begitu saja tentang apa yang


saya katakan tadi." Ucap kevin


"Maksudnya tidak percaya saya calon istri anda kan?" Tanya Anna, dan Keving


mengangguk dan melanjutkan,


"Apa anda bisa berpura- pura menjadi calon istri saya selama Vanessa berada di


Bali?"


"Sorry?"


anna tidak paham


"Saya rasa kita sudah impas?" lanjut anna lagi


"Untuk saling mengakui, ya kita sudah impas. Tapi untuk biaya hotel, saya rasa


belum." Jelas kevin


"Wah anda perhitungan juga ya." Kesal anna


"Saya adalah bussinessman." Terang kevin


Anna tidak bisa berkata apa-apa mendengarnya


"Hanya selama Vanessa di Bali." Lanjut kevin


"Berapa lama dia di Bali?" Tanya anna


"Saya juga tidak tahu." Jawab kevin


"Kalau begitu saya tidak bisa bantu." tolak ana dengan santai


"Kenapa?" Tanya kevin


Anna menyeruput spaghetti yang dipesannya dan menjawab setelah menelan.


"Saya ke Bali buat liburan. Bukan untuk membantu anda. Rugi dong saya. Saya ke Bali


tapi gak bisa liburan karena harus bantu anda." Jawab anna santai


"Saya juga sibuk, saya juga tidak akan sepanjang waktu bersama anda." Jawab kevin tak mau kalah


"Saya pebisnis pak…. saya gak mau rugi." Protes anna lagi


"Bagaimana kalau saya membiarkan dan kawan liburan anda menginap di B Hotel Lite," tawar Kevin.


Anna mulai agak tergiur sedikit.


"Suite room. Gratis. Termasuk sarapan pagi dan tiket pesawat untuk pulang nanti. Bagaimana?" Lanjut kevin


"Deal." Anna mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Kevin.


"Saya bisa minta nomor telpon anda?" Kevin menyodorkan ponselnya pada Anna


Dengan lincah Anna mengetikkan nomor telponnya di ponsel Kevin.


"Chat saja supaya saya bisa simpan nomor anda," seru Anna


"Sudah. Saya akan menelpon anda sebentar untuk mengkonfirmasi jadwal kencan kita selanjutnya." Anna hanya mengangguk sambil terus makan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, sekretaris saya sudah datang menjemput." Pamit kevin


"Eh, tunggu dulu. Anda kan belum memperkenalkan diri tadi," protes Anna.


"Kevin Bramantara," jawabnya berlalu pergi.


Lanjuuuuttttt……!