
"Kalau gak salah sabtu depan ulang tahun Anna kan?" tiba-tiba Nenek bertanya.
Saat ini seluruh keluarga sedang makan malam.
"Nenek ingat?" tanya Anna.
"Ia dong. Masa ulang tahun cucu Nenek gak diingat. Emang Nenek Kevin."
"Kok saya?" protes Kevin.
"Memang kamu ingat?" Kevin hanya bisa diam.
"Rencananya Nenek mau bikin acara buat kamu."
"Hore pesta ulang tahun," Gita berseru riang.
"Gak perlu dibuatkan acara Nek. Makan bersama keluarga sajasudah lebih dari cukup buat Anna."
"Aduh, cucu Nenek yang satu ini bersahaja sekali sih."
"Oh, Nenek ada ide. Gimana kalau acaranya digabung saja sama acara arisan," lanjut Nenek.
"Arisan?"
"Ia. Jadi nanti acaranya di rumah saja. Angggota arisan juga gak banyak. Gak apa-apa dong."
"Kalau gitu terserah Nenek saja deh," Anna berujar sungkan.
"Artinya jadi kan pestanya?" tanya Gita.
"Jadi dong," jawab Nenek.
"Serius? Kamu dibikinin acara?" Julie bertanya antusias.
"Ia." Anna dan Julie sedang nongkrong di salah satu cabang B Cafe.
"Kamu bisa datang kan?" tanya Anna.
"Bisa dong. Apa sih yang gak buat kamu." Anna tertawa mendengarnya.
"Permisi Bu, ini pesanannya." Seorang pelayan datang membawakan pesanan.
"Cieh, yang sudah jadi ibu bos," sindir Julie.
"Biasa saja kali."
"Gimana kerjaan kamu?" tanya Julie.
"Sibuk. Banyak yang mau diurus."
"Ya, cabangnya kan banyak. Di Bali juga ada kan?"
"Jogja, Bandung, Surabaya."
"Wow."
"Kemarin aku habis dari jogja. Pergi pagi pulang malam."
"Gila. Capek banget tuh."
"Pulang aku langsung tidur. Mana si Kevin gangguin lagi, mataku jadi panda sekarang."
"Wajar lah. Namanya juga cowok, gak dikeloni sehari aja udah ribut. "
"Ih, apaan sih. Dia cuma minta aku hair dryer rambutnya."
"Serius?"
"Ia. Setiap hari. Belum kalau dia ngopi harus aku yang buat Makan pagi juga mau aku yang buat."
"Ternyata suamimu itu manja ya. So sweet banget sih."
"Apanya yang sweet. Itu namanya nambahin kerjaanku."
"Udah nikah benaran aja. Itu kontraknya dibatalin."
"Kita gak saling cinta. Aku cuma anggap dia teman."
"Teman seumur hidup."
"Malas deh aku ngomong sama kamu."
Kevin menarik nafas sambil menopang dagu.
"Kamu dari tadi kenapa? Itu berkas dari tadi belum ditanda tangan," tegur Alex.
"Lagi pusing."
"Pusing kenapa?"
"Kira-kira kado apa yang bagus buat Anna?" Alex tertegun pertanyaan Kevin.
"Jadi, itu kamu yang kamu pikirin dari tadi? Sampai kerjaan gak beres-beres," sindir Alex dengan senyum.
"Kata siapa gak beres? Ini juga lagi kerja."
"Jadi kamu mau beli kado apa?" tanya Alex.
"Nah, itu dia masalahnya. Aku gak tau. Cari kado untuk cewek itu susah banget,"
secepat kilat Kevin menjawab.
"Ia, juga sih. Waktu cariin kado buat Clarence kemarin Dinda yang beli."
"Apa minta saran Dinda aja?" tanya Kevin.
Tok.. tok... tok...
"Masuk." Dinda muncul dari balik pintu.
"Permisi Pak, kita sudah mendapat balasan proposal kerjasama dengan perusahaan Australia. Detailnya sudah saya print." Dinda meletakkan sebuah map di meja Kevin.
Dinda sudah hendak beranjak pergi ketika dipanggil.
"Dinda."
"Ya Pak. Masih ada yang bisa saya bantu?"
Dinda menatap Kevin yang canggung.
"Gimana ngomongnya ya."
"Mau kubantu?" tanya Alex.
"Gak perlu," jawab Kevin kesal.
"Saran?"
"Kira-kira kado apa ya yang disukai perempuan."
"Bunga," jawab Dinda cepat.
"Untuk ulang tahun, bukan untuk valentine. Valentine udah lewat lama."
"Ia Pak Kevin. Rata-rata perempuan suka kalau ada laki-laki memberikan bunga."
"Gak ada yang lain gitu? Masa cuma bunga?" Dinda berpikir sejenak sebelum berujar,
"Ah, kalau Mbak Anna sih sepertinya tidak terlalu pilih-pilih."
"Saya tidak pernah bilang kadonya untuk Anna." Alex berusaha menahan tawa.
"Mbak Anna sebentar lagi ultah kan? Lagian perpuan mana lagi yang bisa bikin Bapak bingung cari kado."
"Kamu pikir saya tidak pernah cari kado untuk perempuan?"
"Biasanya kan Pak Kevin meminta saya yang belikan kado," jawab Dinda polos.
Alex mengeluarkan suara karena sudah hampir tak bisa menahan
tawa. Kevin melihat Alex dengan tatapan tajam
"Sorry," serunya sambil tersenyum.
"Sudah kamu boleh pergi" Kevin memerintah Dinda.
"Saya boleh kasih saran gak Pak?"
"Apa?" jawab Kevin kesal.
"Menurut saya, Mbak Anna akan lebih senang mendapatkan sesuatu yang bisa sering digunakannya. Kalau Pak Kevin tahu apa yang disukai Mbak Anna, atau barang yang sedang diinginkannya itu akan sangat membantu."
"Kalau saya tahu ngapain saya tanya kamu."
"Masa Pak Kevin gak tahu apa yang istrinya suka."
"Udah kamu keluar sekarang."
"Baik Pak."
Sepulang kantor Kevin selalu membiarkan Anna mandi duluan.
Sekarang Kevin ada waktu untuk memeriksa barang-barang Anna.
Kevin memasuki ruangan closet yang sekarang digunakannya berdua dengan Anna. Kevin menelusuri lemari milik Anna.
"Anna suka anting," batin Kevin melihat berjejer anting.
"Tasnya juga lumayan banyak, tapi sepertinya hanya dua atau tiga saja yang sering dipakai."
"Jamnya cuma ada tiga. Bajunya rata-rata berwarna pastel. Hmm... Artinya Anna suka warna pastel dan anting. Tapi apa kira-kira yang harus kubeli?" Kevin berpikir sambil memegang dagu.
"Anna juga suka drama Korea. Apa aku undang artis Korea saja? Tapi waktunya terlalu mepet, mana ada yang mau." Kevin masih bingung.
"Ngapain kamu melamun di sini?" Anna masuk dengan masih menggunakan jubah mandi dan rambut dibungkus handuk.
"Oh, gak cuma berpikir mungkin lemariku sudah harus dibersihkan." Anna mengangkat sebelah alis.
"Maksudnya, baju yang sudah tidak dipakai. Kamu sendiri ngapain?"
Anna berjalan ke arah lemarinya.
"Aku lupa ambil baju." Kevin mengangguk.
"Kamu mau dibelikan kado apa?" Kevin tiba-tiba bertanya.
"Jadi itu yang dari tadi kamu pikirin?"
"Kata siapa? Aku lagi berpikir baju mana yang tidak kupakai lagi."
Anna hanya tertawa sambil mencari baju yang mau dipakai.
"Apa aja yang dikasih akan aku terima. Asal tidak berlebihan."
"Berlebihan gimana?"
"Yah, pokoknya tidak berlebihan. Pikir aja sendiri."
Anna meletakkan tangannya di pegangan laci.
"Ken gak mau keluar?"
"Kenapa memangnya?"
"Saya mau ganti baju."
Wajah Kevin pelan-pelan jadi merah.
"Kenapa juga ganti baju di sini? Kamar mandi dong," Kevin berbicara gugup.
"Aku mau pakaian dalamku dalam laci. Mau lihat?"
"Ngapain juga?" Kevin segera keluar dari ruangan dengan wajah yang bertambah merah.
"Apaan sih dia, masa mandi gak bawa pakaian dalam."
"Eh, tunggu artinya tadi Anna cuma pakai jubah mandi aja? Gak ada apa-apa lagi di dalamnya?"
"Kenapa lagi ini orang berdiri di tengah jalan. Minggir dong aku mau ke kamar mandi," protes Anna.
Kevin segera pindah.
"Stop Kevin, jangan mikir yang aneh-aneh," batin Kevin setelah Anna masuk kamar mandi.
Kevin mengambil buku yang ada di meja sebelah tempat tidur.
"Ini buku apaan sih?" Kevin melihat nama Anna tertera di dalamnya.
"Mau baca?" tanya Anna keluar dari kamar mandi.
"Kamu suka baca?" Anna mengangguk.
"Ini bukannya novel remaja?"
"Aku baca buku apapun yang mau kubaca. Ini aku lagi incar nbuku barunya Dan Brown. Dia ada buat buku anak-anak."
"Bukannya dia nulis thriller?"
"Ia, tapi kali ini dia nulis buku anak-anak." Kevin mengangguk senang.
next>>>
yuk ramaikan guyssss.....!