The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 6 Kencan



"Cieh, yang habis makan malam romantis. Masih mau lanjut chat romantis," goda Julie.


"Apaan sih. Gak ada romantis- romantisan. Hancur tau, gak liat nih pipi aku merah?" timpal Anna.


 Julie memperhatikan pipi kiri Anna.


"Eh, ia loh merah." Julie memegang pipi Anna.


 "Sedikit bengkak juga," lanjutnya.


 "Masa sih? Sampai bengkak?" Julie mangangguk menjawab pertanyaan Anna.


"Bentar aku ambil handuk buat kompres." Juli berinisiatif


Setelah membasahi handuk dengan air dingin, Anna mengompres pipinya dan segera kembali


ke ruang duduk kamar. Anna dengan antusiasnya menceritakan yang dialaminya ke Julie.


"Segitunya?"


"Ia, Li. Nih buktinya pipi bengkakku."


"Itu yang namanya Vanessa psikopat bukan sih?"


"Wajar sih aku bilang. Soalnya dari yang aku tangkap, si Vanessa ini selalu menganggap dirinya tunangan Ken."


"Ken? Kevin maksudnya?" tanya Julie.


"Ia lah sis. Emang siapa lagi. Kita kan lagi bicaraiin dia," jawab Anna.


"Astaga sekarang udah panggilan sayang." Ledek Julie


"Eh, kamu tuh ya udah mulai mirip Vanessa deh," protes Anna.


"Kok, marah. Kalau bukan panggilan sayang gak usah marah gitu kali."


"Malas deh ngomong sama kamu. Aku mau tidu saja."


 "Gak cuci muka dan sikat gigi dulu sis?"


 "Ini aku mau ke kamar mandi dulu sis," jawab Anna.


Waktu masih menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Anna dan Julie masih tertidur pulas di kamar.


Ponsel Anna berdering kencang. Anna dengan malas mengangkat telponnya.


"Halo," sapa malas Anna.


"Masih tidur?" Anna menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat layarnya.


"Ini masih jam enam pak Kevin."


"Pukul enam lewat tiga puluh menit. Saya saja sudah siap ke kantor."


 "Saya kan lagi cuti pak. Apaan sih ganggu aja." Ucap Anna sedikit kesal


"Jam dua siang nanti saya jemput. Bisa?" tanya Kevin


"Buat apa lagi?" Anna langsung bangun dan duduk bersila.


"Vanessa belum menyerah. Ini barusan saya mengusir dia." Jawab Kevin


 "Wah, itu anak benaran stalker ya."


"Jadi gimana? Bisa atau tidak?" Tanya Kevin lagi


 "Diusahakan ya. Aku mau jalan sama Julie."


"Kamu jalan saja sekarang, nanti jam dua saya jemput bisa kan?"


 "Iya deh. Tapi aku gak janji tepat waktu ya. Biasa cewek kalau sudah shopping sudah lupa waktu."


"Nanti saya telpon lagi untuk mengingatkan."


"Siap bos," jawab Anna.


Anna dengan enggan turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Anna membangunkan sahabatnya.


"Li, bangun." Anna memukul Julie keras.


Julie berbalik dengan malas, memandang Anna sebentar lalu tidur lagi.


"Kok tidur lagi. Bangun."


"Apaan sih," protes Julie.


"Bangun sis."


"Emang sudah jam berapa?"


"Jam tujuh."


"Lima menit lagi deh." Protes Julie dengan mata yang masih mengantuk


"Bentar siang aku ada janji ada janji dengan Kevin. Jadi siap-siap sekarang biar kita punya waktu buat jalan." Mendengar nama Kevin disebut, Julie langsung duduk.


"Kamu mau pergi kencan ya?" Tanya Julie


 "Entar aku ceritaiin, sekarang kamu mandi dulu deh." Jawab Anna


 "Ok."


Tepat pukul satu, Kevin menelpon Anna. Kevin harus menelpin dua kali baru diangkat Anna.


"Kok baru diangkat sih?" Tanya Kevin kesal


"Ya maaf pak bos. Tadi ga dengar." Jawab Anna


"Memangnya kamu di mana?"


"Parkiran."


"Maksud saya, kamu lagi ada di daerah mana teru mau ke mana?"


"Oh, lagi di Kuta. Habis makan di cafenya pak bos, sekarang mau ke B Hotel Traveler."


"Loh, ngapain balik lagi ke Traveler?"


"Aku udah terlanjur janji sama orang rental motor di sana."


"Kamu bisa bawa motor?"


"Aku gak bawa kendaraan sama sekali. Julie yang bawa."


"Kalau begitu kita ketemuan di sana saja. Saya ada urusan sebentar disana."


Julie baru saja menyelesaikan transaksi dengan pegawai rental motor di daerah parkiran, ketika dia melihat sosok yang dikenalnya dari jauh.


"Na, itu bukan yang namanya Vanessa?" ucap Julie sambil menunjuk


"Eh, gila itu anak dari mana coba dia tahu Kevin ada di sini. Asli stalker ya." Ucap Anna tak percaya


Vanessa melihat Anna dan Julie di parkiran. Dia menatap tajam ke arah Anna seolah mau memakannya.


"Kenapa sih tiap hari harus liat cewek sialan itu? Bawa sial saja," batin Vanessa. Vanessa menghentakkan kakinya dan segera memasuki lobi hotel.


"Kak Kevin," teriak Vanessa.


Baru saja menginjakkan kaki ke lobi, Vanessa sudah melihat Kevin dan Alex.


"Ada masalah apa lagi?" Tanya Kevin malas


"Nenek suruh aku datang dan temanin kak Kevin makan siang."


"Saya sudah makan siang." Kevin hendak berlalu pergi.


Vanessa menahan Kevin,


"Gak bisa gitu dong kak, nanti aku dimarahin nenek."


Belum juga sempat membantah Vanessa, ponsel Kevin berdering.


"Nah, itu pasti nenek yang telpon." Vanessa tertawa dengan riang. Sesuai perkataan Vanessa memang nenek yang menelpon.


"Halo, ya nek ada apa?" jawab Kevin.


"Saya gak bisa menemani Vanessa makan siang. Pertama saya sudah makan siang. Kedua saya sekarang sudah ada janji dengan pacar saya. Ia nek, saya sekarang sudah punya pacar. Sekarang ini Kevin sudah terlambat, jadi Kevin tutup dulu telponnya." Vanessa melongo melihat reaksi Kevin saat menelpon.


Kevin tersenyum dan kemudian menelpon lagi.


"Anna, sekarang kamu lagi di mana? Parkiran? Kamu ngapain di parkiran luar? Nanti kamu kepanasan loh. Ya sudah, aku  ke sana sekarang." Ucapnya


Anna memandang ponselnya dengan wajah kebingunan.


"Nih, orang kesurupan kali ya?"


"Apaan Na?" tanya Julie.


"Gak tahu nih, si Kevin kayaknya habis kesurupan."


"Nah, itu orangnya datang." Ucap Julie menunjuk Kevin


"Halo ladies," sapa Alex.


Anna dan Julie tersenyum sebagai balasan.


"Sudah selesai urusannya? Tadi itu kamu kenapa sih? Kesurupan?" tanya Anna.


Alex menahan tawa mendengar pertanyaan Anna.


"Vanessa," jawab Kevin singkat.


"Oh, tuh dia masih ngeliatin kamu dari tadi."


"Untuk apa kalian sewa motor?" Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Lebih, nyaman kalau naik motor. Cuma berdua juga, repot kalau naik mobil," jawab Julie.


"Terus siapa yang bawa motor? Anna?" tanya Alex.


"Saya lah. Anna mah gak tau bawa kendaraan."


"Kenapa juga kalian tidak sewa motor yang lebih bagus sedikit dari ini?" protes Kevin.


"Lah, kenapa kamu protes. Nanti kan kita yang pakai bukan kamu. Memangnya kamu bisa bawa motor?" cela Anna.


"Gak tuh, sensitifa amat sih."Kevin dengan kesal melepas dasi dan jasnya.


"Ayo kita buktikan kalau begitu." Kevin melempar jasnya pada Alex.


"Maksudnya kita berdua pergi naik motor gitu?" Anna merasa sedikit kaget.


"Ya, mana kuncinya?" Kevin menggulung sedikit kemeja bajunya.


Julie langsung memberikan kunci motor kepada Kevin. Anna memandang Julie dan Alex meminta penjelasan. Julie malah melambaikan tangan seolang mengusir Anna.


"Ayo cepat naik." Kevin sudah mulai menyalakan mesin motor.


"Sekarang? Ini baru jam satu lewat loh." Tanya Anna


Kevin menyodorkan helm setelah dia sendiri memakai helm.


Dengan enggan Ella mengambil helm yang disodorkan Kevin.


"Aku pergi ya," seru Anna.


"Hati-hati di jalan ya," balas Alex.


Vanessa yang dari tadi memperhatikan Kevin, menghentakkan kakinya dengan marah.


Setelah Kevin dan Anna tidak terlihat lagi, Alex berpaling ke arah Julie.


"Julie mau saya antar balik ke hotel?"


"Kalau gak merepotkan." Jawab Julie


 Sedangkan di motor


"Ken, kita mau ke mana nih." Anna harus berteriak sedikit.


"Saya juga tidak tahu mau ke mana. Terserah kamu saja."


"Ken sudah makan siang?"


"Belum sih."


"Kalau gitu kamu makan siang aja dulu. Aku temani."


"Gak usah. Malas."


"Eh, gak boleh nanti kamu sakit maag. Gak enak tau kalau udah kena penyakit maag Kita singgah saja dulu di tempat yang dekat sini saja."


Akhirnya mereka berdua singgah kerestoran Indonesia yang mereka lewati.


"Ken, mau makan apa?"


"Saya kan sudah bilang tidak mau makan. Kamu saja yang pesan."


"Gak boleh, makan minimal sehari tiga kali. Nanti kena penyakit maag kayak aku loh. Kalau udah gitu ribet. Tiap merasa lapar harus ngunyah."


"Kalau gitu kamu saja yang pilih."


"Saya pesan nasi goreng kampungnya satu, es teh manis dua, pisang goreng coklat keju satu."


"Abis ini mau ke mana?" tanya Anna.


"Kamu saja yang pilih tempat. Saya bakal antar kamu ke mana pun kamu mau dan traktir kamu


apa pun yang kamu mau."


"Mentang-mentang orang kaya." Ledek Anna


"Saya bukan mau sombong, tapi saya merasa bersalah soal kemarin."


"Aku kan udah bilang, kamu gak salah apa-apa."


"Tetap saja saya masih merasa perlu tanggung jawab." Anna terdiam sebentar.


"Ok, kalau begitu kita ke mall saja. Gimana?" usul Annn


 "Mau shopping?"


"Gak. Aku mau makan es krim yang mahal itu, mumpung ada yang traktir."


"Kamu masih mau makan lagi?"


"Kan cuma dessert. Ayo, kamu udah selesai kan?"


Saat di mall, Anna menyeret Kevin sesuka hatinya.


"Eh, Ken bentar singgah beli anting dulu dong." Anna menyuapi es krim ke mulutnya.


Setelah mencoba beberapa anting, Anna gak jadi beli.


"Kok, gak jadi di beli?" Tanya Kevin


"Ternyata imitasi. Aku gak bisa pakai yang imitasi alergi. Minimal harus perak asli." Jawab Anna


Ponsel Kevin berdering.


"Aku angkat dulu ya," serunya.


"Ada apa?"


"Bagian resepsionis melapor kalau Vanessa sudah check out barusan," jawab Alex.


"Lalu?"


"Kan, kamu yang tadi minta laporan."


"Pastikan saja dulu, Vanessa benaran pulang ke Jakarta atau gimana."


"Ok, terus kamu kapab jadinya mau balik Jakarta?"


"Pesawat terakhir."


"Yakin?"


"Ia, yakin," Kevin kesal.


"Kemarin kamu bilang mau balik sore ini, tadi pagi suruh aku cancel. Ya wajar dong aku tanya ulang."


"Pesawat terkhir malam ini."


"Ok."


Kevin mematikan ponsel dan mendapati Anna sedang memandangi etalase toko perhiasan. Kevin mendekat tanpa suara.


"Gak terlalu mahal," bisik Anna.


"Lihat apa?" tanya Kevin


"Astaga, ngagetin aja sih."


"Mau beli?"


"Gak cuma lihat saja." Anna lanjut berjalan lagi.


"Gak mau makan malam lebih awal?" tanya Kevin.


"Emang kenapa? Ini bahkan belum jam empat loh."


"Soalnya aku udah harus balik ke Jakarta malam ini."


"Oh, pesawat jam berapa?"


"Pesawat terakhir."


"Ok. Kalau gitu mending langsung pulang saja."


"Gak mau cari cemilan mungkin."


"Boleh," jawab Anna.


Akhirnya mereka kembali ke hotel sebelum jam enam.


"Makasih loh traktirannya hari ini." Ucap Anna


 "Aku juga makasih karena sudah bantuin."


 "Pesawat jam berapa?" Tanya Anna


 "Jam delapan tiga puluh." Jawab Kevin


"Artinya kamu sudah harus cepat pergi dong. Kan masih mau siap-siap. Aku gak perlu


diantar sampai kamar kok."


"Ya, tapi aku juga perlu naik lift untuk sampai ke kamarku."


Selama di dalam lift berdua saja, Kevin dan Anna sama sekali gak bicara.


"Aku duluan ya." Anna melangkah keluar dari lift.


"Tunggu." Kevin menahan Anna.


Kevin menahan pintu lift agar tidak tertutup dengan badannya.


"Ini, buat kamu hadiah karena sudah nolongin aku." Kevin menyerahkan bungkusan kecil.


"Kapan kamu belanja?" Tanya Anna


"Waktu kamu ke toilet," jawab Kevin.


"Makasih ya udah repot dibeliin kado."


"Aku yang terima kasih sama kamu Na."


"Kalau gitu duluan ya. Hati-hati di jalan." Anna melambai.


Begitu pintu lift menutup Anna memeriksa kado pemberian Kevin.


"Ini kan toko perhiasan yang aku liat di mall tadi. Masa sih?" Anna membuka bungkusan kadonya.


"Benaran anting yang tadi aku liat." Anna menatap pintu lift yang sudah tertutup sebentar dan berbalik pergi menuju kamar.


next...!


maaf bila ada salah salah kata...