
Kevin terbangun keesokan harinya lebih cepat dari biasa. Kevin mengambil ponselnya dengan harapan mendapat kabar dari Anna.
"Loh, sejak kapan ada banyak SMS yang masuk?" batin Kevin. Kevin memperhatikan SMS itu sekilas.
"Semuanya dari bank. Ngapain aku dikirimi pesan sampai sebanyak ini?" Kevin memeriksa isi pesan yang masuk, satu per satu.
"Apa-apaan ini?" teriaknya. Mata Kevin membulat dengan sempurna melihat pesan berisi jumlah pemakain kartu.
"Perasaan aku gak pernah pakai kartuku." Kevin mencari dompetnya.
"Loh, semua kartu dan uang tunaiku gak ada."
Kevin kembali memeriksa pesan dari bank yang diterimanya.
"Semua transaksi dilakukan di Bandung. Masa Anna? Bukannya dia sudah punya kartu sendiri?"
Kevin berpikir sebentar.
"Oh, jadi Anna mau balas dendam dengan cara ini? Tidak seberapa sih, tapi tidak akan kubiarkan."
*****
"Ditolak?" tanya Anna bingung.
"Iya Bu. Mungkin ada kartu yang lain?" tanya si Kasir. Anna memberikan kartunya yang lain.
"Ini juga ditolak Bu." Anna mulai bingung.
"Bentar ya," seru Anna. Anna mengecek saldo tabungan pribadinya, tapi aplikasi banking yang digunakannya tidak berfungsi.
"Loh, ini kenapa lagi sih?" batin Anna. Dengan frustasi Anna menelpon Julie. Saat ini Anna sedang ada di salah satu toko pakaian mahal di sebuah mall.
"Li, bisa kamu cek saldoku sekarang ada berapa?"
"Kenapa gak cek lewat aplikasi saja?" tanya Julie.
"Gak bisa. Aku juga gak tau kenapa. Bantuin dong, aku lagi di depan meja kasir nih."
"Bentar ya."
Anna mendengar Julie meminta seseorang untuk mengecek komputer.
"Kok bisa gini?" Suara Julie terdengar kaget dari ponsel Anna.
"Kenapa Li?"
"Rekeningmu semuanya diblokir," jawab Julie.
"Kok bisa terblokir?"
"Gak tahu juga, aku juga bingung."
"Aduh, gimana nih Li. Aku bayar pakai apa nih?" Anna makin panik.
"Berapa sih tagihanmya? Aku isikan saldo ke dompet online kamu," saran Julie.
"Dua juta delapan ratus ribu," seru Anna.
"Kamu belanja apa lagi sih?" Julie kaget mendengar nominalnya.
"Tolong dong Li." Anna memelas.
"Ya udah tunggu. Tapi abis ini jangan belanja lagi ya. Danaku gak sebanyak punyamu."
"Oke," jawab Anna.
"Kamu cuma beli dasi dan ikat pinggang harga dua juta delapan ratus?" protes Julie.
"Ada pin dasi juga," jawab Anna nyengir.
Julie menjemput Anna untuk pergi makan siang bersama. Mereka singgah di cafe dekat kantor Julie.
"Kenapa dengan kartu infinite no limitmu?" tanya Julie.
"Ditolak semua. Aku sampai bingung juga."
"Punyamu juga?" tanya Julie.
"Punyaku, punya Kevin juga."
"Jangan-jangan Kevin blokir semua fasilitas kamu."
"Masa rekening pribadiku diblokir juga? Itu kan hasil keringatku sendiri" balas Anna.
"Kamu lupa? Suamimu itu komisaris di TC Bank. Lagian aku gak yakin isi rekeningmu hanya dari hasil keringat sendiri."
"Maksudnya?" tanya Anna.
"Aku sempat lihat mutasi rekeningmu. Semenjak kalian nikah, sepertinya gaji komisarisnya di setor ke rekeningmu."
"Masa sih?"
"Masa kamu gak pernah cek rekeningmu?" tanya Julie.
"Aku emang gak pernah cek. Kan rekening yang itu cuma buat nabung."
"Kamu gak mau tanya Kevin? Soal kartu yang gak bisa dipakai?" tanya Julie.
"Gak mau. Masa aku duluan yang ajak bicara? Kan yang salah dia."
"Jadi kamu mau hidup pakai apa? Tabungan pribadimu juga sudah diblokir semua kan?" Julie menyeruput jusnya.
"Kalau dia telpon, nanti aku tanya." jawab Anna asal.
"Katanya nomornya sudah diblokir," ejek Julie.
"Kalau Kevin atau Alex telpon kamu, tolong ditanyakan. Sementara ini aku pinjam kamu dulu," Anna menjawab dengan kesal.
"Aku gak mau pinjamin kamu. Apalagi buat belanja gak jelas gini," seru Julie cuek.
"Jangan gitu dong Li. Nanti aku makan apa?"
"Makan angin," jawab Julie.
"Idih gitu aja ngambek. Kalau soal makan aku traktir deh."
Anna langsung tersenyum cerah.
"Nah, gitu dong baru sahabatku." Anna merangkul Julie.
"Aduh, kenapa sih setiap mau makan harus ketemu nih orang." Anna dan Julie menoleh ke arah datangnya suara. Vanessa berdiri disebelah meja mereka.
Anna dan Julie kompak menghela nafas bersamaan.
"Kalian mengina aku?" Vanessa tersinggung
. "Emang kami ngomong apa?" tanya Anna jutek.
Vanessa menatap Anna dengan penuh dendam.
"Ngapain di Bandung? Udah dibuang sama Kevin ya? Atau lagi selingkuh?" tuduh Vanessa.
"Kamu buta atau apa? Emang kamu lihat saya jalan sama cowok?" Anna membalas masih jutek.
"Terus itu yang di dalam kantong apaan?" Vanessa menunjuk kantong belanja Anna.
"Ngapain mau tau? Aku mau beli apa juga urusanku." Vanessa dengan tidak sabar merampas kantong belanjaan yang dimaksud.
"Eh, apaan sih?" Anna bangkit berdiri merebut kantongan belanjanya.
"Galak amat sih. Padahal aku cuma mau lihat barang apa yang bisa orang kampungan beli di toko mahal."
"Bukan urusan kamu ya," hardik Anna.
"Duh, galaknya. Bukan urusanku sih. Ya udah aku pergi dulu, pacar aku udah nunggu."
"Itu cewek sinting ya?" tanya Julie.
"Emang dia sinting," balas Anna.
"Kita balik aja deh. Males kalau lihat muka dia lagi," ajak Julie.
Vanessa menghampiri cowok yang sudah menunggu di cafe yang sama.
"Kok senang amat sih?" tanya cowok itu.
"Ada deh," jawab Vanessa.
*****
Kevin tidak henti-hentinya melihat ponsel. Dia masih berharap Anna memberi kabar duluan. Alex berdehem meminta perhatian Kevin.
"Hm. Kenapa?" tanya Kevin. Kevin melihat sekeliling ruang rapat. Sadar dirinya dari tadi melamun, Kevin memperbaiki duduknya.
Rapat kembali berlanjut. Tiba-tiba saja ponsel Kevin bergetar. Dengan cepat Kevin menyambarnya, saking cepatnya seiisi ruang rapat memperhatikannya.
Kevin menghela nafas panjang melihat chat Vanessa masuk.
"Perasaan aku sudah ganti nomor. Dari mana lagi dia tahu?" batin Kevin.
Pada awalnya Kevin ingin mengabaikannya, tapi chat kedua Vanessa bikin penasaran.
"Kevin?" panggil Alex.
"Rapatnya selesai sampai disini saja." Kevin keluar dari ruangan rapat. Ruang rapat jadi kacau, karena Kevin.
"Kevin." Alex langsung menyusul Kevin.
"Kevin." Alex akhirnya berhasil mengejar Kevin.
"Kamu kenapa sih tiba-tiba keluar ditengah meeting?" protes Alex.
"Coba kamu lihat ini." Kevin menunjukkan chat dari Vanessa.
"Dia jalan sama cowok katanya," seru Kevin geram.
"Astaga. Vanessa kamu percaya? Vin kamu tahu kan Vanessa orangnya kayak apa?" tanya Alex.
"Iya sih, tapi aku tetap kepikiran."
"Nih, lihat. Katanya Anna beli pakaian cowok di toko mahal. Jadi duitku dia belikan selingkuhannya hadiah."
Alex menjitak kepala Kevin.
"Kamu lebih percaya siapa? Vanessa atau Anna?"
"Anna. Vanessa itu mah ular," jawab Kevin.
"Nah, itu tau."
Ponsel Alex berdering nyaring.
"Julie telpon nih," seru Alex pada Kevin.
"Ya, Li ada apa?" tanya Alex manis. Kevin ikut menempelkan telinga pada ponsel Alex.
"Kartunya Anna diblokir semua? Sampe rekening pribadi?" Alex langsung berbalik menatap Kevin yang berusaha menghindari tatapannya.
"Aku gak tahu sih, tapi nanti aku coba tanya Kevin. Aku akan coba bujuk Kevin. Oke, bye." Alex mematikan sambungan telpon.
"Kamu ngapain sih?" tanya Alex.
"Aku gak mau dia pakai uangku buat majaiin cowok lain," jawab Kevin asal.
"Jadi kamu lebih percaya Vanessa?"
"Bukan gitu juga sih," jawab Kevin gugup.
"Kalau sampai Anna minta pisah, syukurin. Capek aku bantuin orang egois kayak kamu." Alex berlalu pergi meninggalkan Kevin.
next>>>
Jangan Lupa LIKE yaah...