
"Ya. Dasar bodoh," Kevin berbiski pada dirinya sendiri.
"Butuh berapa lama baru aku sadar sih?" Lagi Kevin berbisik pada dirinya sendiri.
"Kamu tadi ngomong sesuatu?" tanya Alex.
"Gak ada." Kevin minum segelas lagi.
"Aku mau pulang saja." Kevin minum lagi kemudian berdiri.
"Sekarang?" tanya Alex.
"Kalau kamu masih mau tinggal, tinggal saja. Aku bisa pulang sendiri." Kevin merasa limbung dan hampir jatuh.
Alex singap dan menangkap Kevin.
"Bagaimana kamu bisa pulang sendiri kalau mabuk gini?"
"Cuma sedikit kok. Tadi aku gak minum banyam. Aku bisa pesan taksi online."
"Sedikit dari Hongkong? Kau menghabiskan empat bontol soju sendirian," seru Gerald.
"Kita bareng saja. Aku juga sudah mau pulang kok," seru Alex.
"Kalian serius udah mau pulang?" tanya Edward
. "Yup. Kalau Kevin pulang sendiri, aku bisa-bisa dimarahi sama Nenek dan Anna." Alex berdiri dari duduknya.
"Jangan pulang dulu dong. Ini baru jam berapa juga. Abis ini kita kan bisa main di tempat lain." Sera memberi kedipan genit.
"Aku mau pulang. Istriku udah nungguin di rumah," gumam Kevin.
"Duluan ya." Alex membantu Kevin berjalan.
"Bisa bawa mobil gak? Gak mau panggil sopir aja?" tanya Edward.
"Bisa. Aku tadi cuma minum segelas kok," jawab Alex.
"Kamu kenapa sih? Tumben sampai mabuk." Alex menyalakan mesin mobil.
Kevin duduk di kursi penumpang dan bersandar ke jendela mobil.
"Aku rasa yang kamu bilang itu benar deh," gumam Kevin.
"Soal apa?"
"Aku suka sama Anna."
Alex berusaha menahan tawa.
"Jangan bilang, dari tadi kamu melamun gara-gara mikirin itu? Sampai ketawa sendiri."
"Gak. Aku gak pikirin itu. Aku pikirin Anna," jawab Kevin.
"Bedanya apa?" Alex merasa Kevin terlihat lucu.
"Aku gak mikirin kata-katamu, tapi mikirin Anna. Istriku yang tercinta."
"Aku kan udah bilang sama kamu. Kamunya saja yang lemot," seru Alex.
"Ya mau gimana lagi? Aku kan dari lahir jomlo. Gak tau yang namanya cinta."
"Barunya jatuh cinta langsung baper," ejek Alex.
"Jadi sekarang kamu mau gimana?" tanya Alex.
"Mau ketemu Anna."
"Terus?"
"Liatin dia," jawab Kevin ngawur.
"Udah ngawur aja bicaranya," gumam Alex.
*****
Anna berbaring tengkurap ditopang kedua tangannya. Anna sibuk membaca komik online di ponselnya.
"Baru jam sebelas. Lama amat waktu berlalu," gumam Anna. Telpon di kamar Anna berdering keras, membuatnya terlonjak.
"Astaga bikin kaget saja. Siapa sih yang nelpon malam-malam gini." Anna berdiri dan meraih telpon yang tergantung dekat pintu.
"Halo," jawab Anna.
"Bu, maaf mengganggu saya dari pos security."
"Ia. Ada apa ya Pak?"
"Pak Alex dan Kevin baru tiba. Pak Alex minta saya telpon Ibu. Katanya disuruh jemput Pak Kevin di teras."
Anna langsung gemetar ketakutan dan berpikiran macam-macam
"Ya, Tuhan. Kevin kenapa. Jangan bilang dia kecelakaan?," batin Anna.
"Gak mungkin kalau kecelakaan pasti di bawa ke rumah sakit. Atau jangan-jangan Kevin berkelahi dengan Mike? Udah deh, sekarang yang penting aku ke teras dulu."
Anna berlari keluar ke teras secepat yang dia bisa. Anna tiba tepat saat Alex menghentikan mobil.
"Kevin kenapa?" Anna langsung membuka pintu penumpang.
"Mabuk," jawab Alex singkat. Anna menatap Alex yang masih sementara melepas sabuk pengaman.
"Serius? Gak ada yang lain?" tanya Anna.
"Serius." Alex keluar dari mobil dan bersdiri di sebelah Anna.
"Astaga bikin kaget saja. Aku kira ada apa," protes Anna.
"Sengaja biar aku gak ribet lagi harus telpon kamu. Kalau ketok pintu juga pasti gak bakal terdengar."
"Besok aku akan minta dipasangi bel di depan kamar." Anna terlihat agak kesal. Anna menanggapi Anna dengan tersenyum konyol.
"Ken. Ken. Hei, bangun dong." Anna menepuk ringan pipi Kevin.
"Hm." Kevin mulai terbangun.
"Anna. Sayangku." Kevin langsung menarik Anna, merangkulnya erat.
"Ken. Lepas dulu dong. Kamu keluar dulu dari mobil."
Bukannya keluar dari mobil, Kevin malah mengecup bibir Anna.
"Ken. Udah dong." Anna berusaha melepaskan diri.
"Sini biar kubantu." Alex melepaskan tangan Kevin dari badan Anna, kemudian membantu Kevin keluar dari mobil. Anna juga ikut membantu Alex membopong Kevin.
"Ken, berhenti." Kevin masih berusaha menghujani Anna dengan ciuman. Alex hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan saudaranya.
Setelah membantu Alex membaringkan Kevin, Anna mengucapkan terima kasih.
"Hati-hati jangan sampai di makan." Alex mengedipkan mata pada Anna.
"Apa sih maksudnya si Alex," Anna bergumam polos. Anna menutup pintu dan mendekati Kevin.
"Anak ini kenapa sih?" Anna melepas sepatu dan kaos kaki Kevin. Saat hendak melepas dasi, Kevin mulai bertingkah lagi.
Kevin menghenggam tangan Anna, metapanya dengan hangat.
"Biar aku lepas dasi dan jasmu dulu. Sudah itu kamu bisa tidur lagi."
Kevin membiarkan Anna melepas dasinya.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Anna.
"Karena kamu cantik banget." "Apaan sih? Gombal banget."
Kevin bangun untuk duduk. Dia membelai rambut Anna dengan lembut.
"Kamu kenapa sih? Tiba-tiba manja gini." Anna melepas jas Kevin.
Dengan lembut Kevin mengecup kening Anna agak lama. Anna membiarkannya. Kecupan itu kemudian turun ke mata Anna. Anna cukup kaget dengan hal ini.
Kevin menatap Anna dengan sangat lembut, kemudian mengecup ringan bibir Anna. Dari kecupan ringan, beralih ke ******* lembut.
Kevin mulai memainkan lidahnya, menelusuri setiap sudut bibir Anna. Anna membuka mulutnya sedikit, membiarkan lidah Kevin menari di dalam.
Makin lama permainan Kevin makin intens. Tangan Kevin juga mulai gerayangan ke mana-mana.
Anna yang awalnya terbawa suasana mulai menyadari gelagat Kevin. Anna memegang tangan Kevin untuk menghentikannya, sementara tangan yang lain berusaha mendorong Kevin.
Usaha Anna sia-sia. Dia tidak bisa melawan tenaga Kevin yang lebih besar.
"Kevin stop," seru Anna dengan nafas memburu. Kevin akhirnya melepaskan tautan bibirnya untuk mengambil nafas.
"Tidak mau." Kevin kembali ******* bibir Anna dan membaringkannya ke ranjang. Kali ini Anna mendorong Kevin sekuat tenaga.
"Kevin berhenti. Ini melanggar kontrak," Anna mulai histeris. Kevin tidak mendengarkan Anna dan mulai melepas kemejanya.
"Kevin berhenti. Please." Anna berusaha bangun, tapi Kevin sudah kembali menindihnya.
Kevin kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Anna. ********** dengan sangat bergairah. Bibir basah itu mulai menelusuri leher Anna dan meninggalkan jejak.
Tangan Kevin mulai sibuk melepas piyama yang dikenakan Anna. Anna masih berusahamemberontak, tapi sama sekali tidak berdaya.
Lama kelamaan Anna mulai pasrah dengan yang dilakukan Kevin. Kevin menelusuri tubuh Anna dengan bibirnya dan meninggalkan banyak jejak, terutama di leher dan dada
Tangan Kevin mulai aktif menjelajahi bagian bawah tubuh Anna. Anna yang awalnya pasrah mulai menikmati setiap sentuhan Kevin. Bibirnya pun mulai mengeluarkan suara yang terdengar seksi, membuat Kevin semakin bergairah.
next>>>