The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 38 Cemburu



"Kamu semalam tidur di kamar Nenek?" Kevin bersandar di pintu dapur.


"Eh, Ken sudah bangun? Tumben lebih cepat dari biasanya." Anna sibuk memasak.


"Aku tanya kok gak dijawab?" tanya Kevin gusar.


"Emang kenapa kalau aku tidur di kamar Nenek?" Anna masih sibuk dengan masakannya.


"Gak apa-apa sih, tapi harusnya kamu kasih tahu aku dulu biar gak aku tungguin."


"Kamu nungguin aku balik?"


"Gak."


"Tadi bilang nungguin, sekarang bilang gak. Jadi yang benar yang mana?" tanya Anna.


'"Aku nungguin, tapi gak lama" jawab Kevin kesal.


"Kamu hari kayak anak-anak saja sih. Nih, kopi kamu sudah jadi." Anna berbalik menghadap Kevin dengan cangkir kopi di tangan.


"Makasih." Kevin mengambil cangkir dari tangan Anna.


"Aku mau mandi dulu ya. Meri itu tolong diperhatikan ya, kalau sudah mendidih matikan apinya." Anna melepas celemek.


"Kamu belum mandi?" tanya Kevin mengikuti Anna.


"Biasanya aku masak dulu. Kalau sudah setengah jadi gitu, baru aku pergi mandi. Anak-anak dapur yang terusin. Selesai mandi aku tinggal atur makanan buatmu."


"Oh, gitu. Pagi ini masak apa?"


"Rawon. Tapi gak pake perkedel kentang. Aku gak sempat bikinnya." Kevin mengangguk.


"Ngapain dengan Nenek semalam?" tanya Kevin lagi.


"Ngobrol."


"Ngobrol apa?"


"Ngobrolin kamu."


"Serius?"


Anna berhenti tiba-tiba, demikian juga dengan Kevin.


"Kamu mau ngikutin aku sampai mana? Meja makannya ada di situ." Anna menunjuk ke arah meja makan.


"Geer, siapa juga yang ngikutin kamu." Kevin berjalan ke meja makan, sambil menyeruput cappucinonya.


Sesuai ucapan Anna, setelah selesai mandi dia menyiapkan makanan Kevin paling pertama. Kadang-kadang Anna juga menyiapkan makanan Nenek dan Gita, seperti hari ini.


"Memang harus kamu yang siapin semua?" tanya Kevin.


"Memang kamu mau disiapin makanan sama siapa?" Anna bertanya balik.


"Kamu," jawab Kevin refleks.


"Itu kamu tahu jawabannya." Anna tersenyum mengejek.


"Nyebelin banget sih," gumam Kevin. Anna tersenyum semakin lebar.


"Pagi-pagi aku sudah jadi obat nyamuk," gumam Alex.


"Apaan sih." Kevin merasa kesal.


"Mau aku ambilin makanan?" tanya Anna.


"Eh, untuk apa? Ada pelayan yang bisa ambilin," protes Kevin kesal.


"Gita mau diambilin makanan."


"Gak boleh, suruh Bibi saja sana." Kevin masih kesal. Gita memanyunkan bibirnya.


"Ih, ini orang kenapa sih? Sama anak kecil aja gitu." Anna mendorong pelan pipi Kevin.


"Ya, kamu kan bukan pembantu."


"Kalau gitu mulai nanti siang kamu suruh Dinda atau pelayan yang bikinin kamu kopi." Anna duduk di samping Kevin.


"Loh gak bisa gitu dong," protes Kevin.


"Aku bukan pembantu."


"Tapi kan kamu istri aku. Wajar dong kamu melayani suamimu."


"Eh, ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" Nenek muncul di ruang makan.


"Biasa Nek ini si manja bikin ulah," jawab Anna.


"Siapa yang manja?" tanya Kevin.


"Bukan manja, tapi posesif." Alex ikutan bicara.


"Maksud kamu apaan sih?" Kevin menunjuk Alex dengan kesal.


"Jangan-jangan Om Kevin cemburu karena Tante Anna juga siapin makan buat Gita."


"Ini lagi anak kecil. Makan sana." Kevin terlihat makin kesal.


Anna memukul lengan Kevin.


"Jangan gitu sama anak kecil."


"Habisnya..."


"Udah," Nenek memotong Kevin.


"Gitu aja ribut banget sih. Nanti Nenek mau lihat kalau kamu sudah punya anak. Masih bisa gak kelakuan kamu manja begini."


"Kok Kevin lagi?"


"Ya, emang kamu duluan yang mulai," jawab Anna.


Kevin menatap Anna kesal. Anna menaikkan bahu dengan ekspresi nakal.


Belakangan ini Kevin menyopiri Anna pulang pergi kantor. Alex juga bawa mobil sendiri. Saat ada urusan kantor baru pakai sopir.


Untuk urusan kantor Kevin jalan sama Alex dan Anna jalan sendiri. Masing-masing


memakai mobil dinas sendiri di kantor. Mobil pribadi diparkir cantik di parkiran khusus.


Tok...tok... tok...


"Masuk," sahut Anna.


"Ada yang bisa dibantu?" Anna sibuk dengan berkas di depannya.


"Maaf Mbak, kalau sibuk saya kembali lain waktu saja."


Anna mengangkat kepala dan kaget melihat tamunya.


"Rian? Kok ada di sini?" Rian tersenyum ramah.


"Saya cuma mau datang melapor."


"Melapor apa?" tanya Anna.


"Mulai minggu depan saya pindah ke cabang Grand Indonesia." Anna awalnya merasa bingung, namun akhirnya tersadar.


"Oh, ternyata kamu yang kena perollingan."


"Betul Mbak, tapi ngomong-ngomong gimana keadaan sepupu Mbak Anna?"


"Cleo maksudnya? Baik kok, dia baik-baik aja. Makasih banyak ya sudah bantuin tempo hari."


"Gak apa-apa kok Mbak. Saya juga gak bantu banyak."


Mereka berdua terdiam cukup lama.


"Ada lagi yang mau dilaporin?" tanya Anna.


"Gak. Gak ada Mbak. Cuma..."


"Cuma?"


"Keadaan Mbak Anna gimana? Baik?" Anna tertawa.


"Baik, terima kasih. Tapi kok tiba-tiba manggilnya pakai Mbak sih?"


"Saya dengar orang-orang di sini panggil Mbak. Gak boleh ya?"


"Gak ada masalah sih, terserah kamu saja."


"Omong-omong Mbak Anna sudah makan siang?"


"Itu artinya Mbak Anna belum makan siang kan?" Anna menggeleng.


"Kalau begitu mau makan siang bersama?" tanya Rian canggung.


"Kamu ngajak saya makan siang?" Rian mengangguk canggung.


"Emmm... Gimana ya."


"Kalau gak bisa gak apa-apa kok." Anna masih berpikir.


Brak...


Kevin mmembuka pintu ruangan Anna dengan kasar.


"Pokoknya aku gak mau berurusan lagi sama mereka. Bilangin aku lagi keluar," seru Kevin pada Alex.


"Vin gak bisa gitu dong. Aku juga capek urusin mereka."


"Ken apa-apaan sih ini? Bisa jangan tiba-tiba dobrak pintu kayak gitu?" Anna memprotes.


Kevin membanting dirinya di atas sofa. Anna langsung menghampiri.


"Kalau kamu juga udah gak mau urus, udah batalin saja kontraknya. Sia-sia juga kita kerjasama dengan orang seperti mereka."


"Fine. Ini yang terkhir ya berikutnya aku gak mau lagi." Alex berjalan keluar tanpa menutup pintu.


"Bisa jelasin ada apa lagi kali ini?" Kevin melonggarkan dasinya dan mengacak rambutnya dengan kesal.


"Mahesa Pratama."


"Lagi?"


"Makanya aku sakit kepala. Bikinin aku sesuatu dong. Apa kek gitu yang bisa bikin hilang sakit kepala."


"Kebetulan banget. Teh lavender yang aku beli online baru sampai. Aku juga tadi sempat suruh ob beli strawberry."


"Sekalian makan siang juga ya."


"Permisi."


"Oh, astaga Rian. Sorry aku lupa kamu masih di sini," seru Anna.


"Siapa?" tanya Kevin.


"Ini Rian, manager toko baru di GI. Dia juga kemarin sempat bantuin Cleo." Kevin mengangguk.


"Rian, ini Kevin Bramantara big boss di sini."


Rian terlihat sedikit kaget.


"Selamat siang Pak," serunya.


"Ya udah aku tinggal sebentar ya. Ken ngobrol saja dulu sama Rian." Anna menepuk ringan bahu Kevin.


"Kiki bisa tolong pesankan makanan di kantin."


"Mau pesan apa Mbak?"


"Emmm... Dua porsi fish and chip ekstra kentang."


"Sosis juga," teriak Kevin dari dalam.


"Ekstra sosis juga," seru Anna pada Kiki.


"Sekalian pintunya ditutup ya Ki." Anna berlalu pergi.


"Gak mau duduk?" tanya Kevin pada Rian.


"Gak apa-apa kok Pak."


"Makasih ya, sudah tolongin sepupu saya."


"Yang namanya Cleo sepupu Bapak juga?" Kevin mengangguk.


Rian merasa bimbang untuk sesaat, namun tetap memberanikan diri untuk bicara.


"Maaf Pak, saya tahu Pak Kevin bos di sini dan masih keluarga dengan Mbak Anna. Tapi bukan berarti Pak Kevin bisa memberi perintah seenaknya."


"Maksudnya?" tanya Kevin bingung.


"Maksudnya ya seperti itu. Saya permisi mau bantu Mbak Anna." Rian segera berlalu pergi.


"Kenapa sih itu anak?" gumam Kevin.


Rian mencari Anna di pantry lantai delapan.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?"


"Rian masih disini?"


"Soalnya saya lihat Mbak Anna mungkin butuh bantuan."


"Bantuan apa? Sudah hampir selesai." Anna menuangkan teh panas ke dalam dua gelas yang sudah diisi dengan es batu, strawberry yang dihancurkan dan mint.


"Kerjaan seperti ini kan bisa suruh OB atau sekretaris, kenapa harus Mbak yang bikin?"


"Udah biasa kok," jawab Anna sambil membereskan meja.


"Udah biasa? Pak Kevin memang bos dan keluarga Mbak, tapi ini keterlaluan. Mbak Anna bukan pembantu."


"Kamu kenapa sih? Aneh banget."


"Biar saya bantu bawa." Rian mengambil alih nampan yang ada di tangan Anna.


"Makasih," gumam Anna dengan tatapan heran.


Anna membuka pintu ruanganny dan segera masuk diikuti Rian.


"Ini orang kenapa ngekorin Anna sih?" Kevin menatap Rian tajam.


Ketika Anna ingin menyajikan minuman pada Kevin, Rian menahan tangan Anna.


"Biar saya Mbak." Anna merasa heran, tapi membiarkannya.


"Ngapain sih ini orang main pegang-pegang saja," batin Kevin.


"Silahkan Pak," sahut Rian.


"Silahkan Bu duduk di sini." Rian menunjuk sofa di depan Kevin.


Kevin menatap Rian semakin tajam.


"Makasih, tapi saya di sini saja." Anna duduk di sebelah Kevin.


Terdengar ketokan di pintu. Kiki muncul dengan makanan yang dipesan. Sekali lagi Rian membantu menyajikan makanan, padahal Anna sudah bilang tidak perlu.


Rian bahkan secara langsung memberikan Anna garpu dan pisaunya. Anna hanya menatap dengan heran.


"Ini modus baru pendekatan? Dia modus di depan suaminya Anna?" batin Kevin.


Dengan sengaja Kevin meletakkan tangannya di bahu Anna.


Rian menganga melihat aksi Kevin. "Sudah kuduga dia mengincar Anna," batin Kevin kesal.


Dengan sengaja Kevin menurunkan tangannya ke pinggang Anna dan duduk lebih dekat.


Rian memasang ekspresi terkejut.


"Pak Kevin mau mesum ya? Tapi kok Anna gak bereaksi?" Anna menatap Kevin dan Rian bergantian.


"Rian masih ada perlu lagi?" tanya Anna.


"Apa? Oh, gak ada lagi."


"Kalau begitu kamu boleh keluar," seru Anna tersenyum.


"Tapi..."


Kevin menyandarkan dagunya ke bahu Anna.


"Kamu kenapa lagi manja," guman Anna.


"Lapar." Kevin memeluk pinggang ramping Anna.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Rian akhirnya menyerah, karena Anna terlihat tidak mempermasalahkan kelakuan Kevin.


"Makasih ya bantuannya," seru Anna.


"Sama-sama." Rian segera keluar dari ruangan Anna.


next>>>