The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 13 Ibu Tiri



Setelah bicara panjang lebar dengan nenek Ratih, Anna jadi lega.


"Sekarang saatnya bicara dengan Kevin," batin Anna.


Anna kemudian mengirimkan chat singkat untuk Kevin.


"Kalau ada waktu mari bertemu hari sabtu ini. Ada yang mau aku bicarakan." Begitulah isi chat Anna yang baru saja dibaca Kevin.


"Padahal aku mau ajak ketemuan besok," batin Kevin.


Kevin membalas chat Anna.


"Ok, detail janjiannya nanti aku chat lagi."


Satu masalah selesai, datang lagi masalah lain. Keesokan harinya, Anna lagi-lagi dipanggil pak Jono karena ada tamu.


"Ini kan masih jam kerja, siapa sih? Kalau Kevin atau nenek gak mungkin cari aku jam kerja gini. Kalau Julie pasti dia langsung samperin aku," batin Anna.


"Siapa pak?"


"Beliau cuma bilang keluarganya ibu Anna." Anna langsung merasa was-was.


"Masa sih," batin Anna.


"Orangnya menunggu di lobi," sambung pak Jono.


Anna mengangguk.


"Ibu," sapa Anna.


Kecurigaan Anna jadi kenyataan. Ibu tiri Anna, Rosa dan Sasha datang ke kantor Anna.


"Kenapa kalian bisa tahu aku kerja di sini?"


"Jaman sekarang mah gampang kali nyariin orang," seru ketus Sasha.


"Kalau Kevin yang ngomong sih aku percaya," batin Anna.


"Minta uang," seru santai Rosa.


Anna ingin protes tapi, keadaan tidak mendukung. Anna sedang di kantor dan masih jam kerja, dia tidak mau bikin keributan.


"Saya pergi ambil kartu atm dulu." Anna segera berlalu pergi.


Anna segera memberikan uang pada ibu tirinya. Rosa menghitung nominalnya.


"Cuma satu juta?"


"Saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Lagipula anda kan bukan siapa-siapa saya." ketus Anna


"Jadi waktu saya besarin kamu gak pakai duit memangnya?" Sasha mengangguk setuju.


Karena tidak mau ada keributan di tempat kerja Anna mengalah. Anna memberikan uang satu juta lagi.


"nah gitu dong"


Anna segera kembali ke mejanya.


Rosa dan Sasha masih cengar-cengir di lobi sambil berbagi uang.


"Selamat siang," sapa Andi.


Rosa dan Sasha berbalik bersamaan.


"Siapa sih?" seru Sasha jutek.


"Saya Andi, saya supervisornya Anna. Saya lihat tadi anda berdua sempat bicara dengan Anna. Kalau boleh tahu ada hubungan apa ya?"


"Keluarga" jawab Sasha.


"Keluarga pacarnya Anna?" tanya Andi lagi.


"Memang Anna punya pacar? Saya ibunya Anna, kamu bisa cerita sama saya."


"Seingat saya Anna yatim piatu," balas Andi.


"Saya ibu tirinya. Yang penting kan sama-sama ibu." ketus Rossa


"Oh."


"Jadi siapa pacarnya Anna?" tanya Sasha kepo.


"Saya sebenarnya cuma pernah ketemu sekali, jadi saya kurang tahu. Tapi sepertinya orang kaya," jawab Andi.


"Orang kaya?" seru Rosa.


"Kemarin bahkan saya lihat Ella bertemu keluarga pacarnya itu. Mobilnya mewah." Sasha dan Rosa jadi makin sumringah.


"Kamu tau gak sih Anna sekarang tinggal di mana?" tanya Rosa.


"Loh, ibu gak tau Anna tinggal di mana?"


"Waktu kuliah dia kabur dari rumah. Ini saja kita bisa tahu Anna kerja di sini cuma kebetulan," jawab Sasha.


"Oh, gitu. Saya kasih tahu alamatnya ya."


"Sabtu nanti kita samperin Anna. Biar kita suruh dia porotin pacarnya," bisik Rosa. Sasha mengangguk senang.


"Na, aku benar-benar minta maaf banget. Aku tadi pagi kecelplosan sama ibu dan Sasha, kalau kita satu perusahaan." Erin menelpon Anna di kantor


. "Ya, mau gimana lagi. Orangnya sudah datang tadi ambil uang," jawab Anna sambil memutar kabel telpon.


"Ibu dan Sasha ke sana minta uang? Kamu kasih berapa?"


"Dua juta," jawab Anna.


"Banyak banget sih. Aku transferin kamu balik deh. Nomor rekening kamu berapa?"


"Udah lah gak usah. Aku tahu kamu juga pasti susah. Mereka masih boros banget kan?"


"Ia sih. Tapi tetap saja, biar gimanapun kami ini bukan tanggung jawab kamu."


"Ya udah. Tapi lain kali pasti aku ganti."


"Udah dulu ya, di sini banyak nasabah. Bye." Anna mengakhiri panggilan.



"Ia sabar," Anna berteriak.


Bell rumah Anna dari tadi berdering tidak sabar.


"Kamu kenapa sih gak sabaran amat," Anna berteriak keras.


Ketika Anna melihat bukan Kevin yang berdiri di depan pagar, ekspresinya mengeras. Annla tidak langsung membuka pintu pagar.


"Eh, pagarnya dibukaiin dong. Aku kepanasan nih," teriak Sasha.


Dengan enggan Anna keluar dan membuka pintu pagar. Sasha dan Rosa segera berlari ke teras untuk berteduh.


"Panas banget sih, lama lagi dibukaiin pintu. Lama-lama kulitku bisa rusak," protes Sasha.


"Dari mana kalian tahu alamat saya?" ketus Anna


"Kamu gak perlu tahu," jawab Rosa.


"Rumah kamu bagus ya, gak kayak rumah kita. Pacar kamu yang kasih?" tanya Sasha.


"Pacar? Ini rumah teman saya. Saya bantuin dia jaga rumahnya yang kosong."


"Ya, pacar kan juga teman," jawab Rosa.


"Maksud ibu apa sih?"


"Katanya pacar kamu orang kaya," Sasha yang menjawab.


"Dapat berita dari mana?"


"Ada deh," jawab Sasha.


"Saya punya pacar atau gak itu bukan urusan kalian."


"Oh, itu urusan kami dong. Saya kan ibu tiri kamu, saya perlu tahu dong."


"Siapa tau bisa gitu dikasih uang jajan," sambung Rosa.


"Uang jajan? Maksudnya saya disuruh porotin orang," Anna mulai kesal.


"Anak pintar," seru Sasha.


"Saya akan menganggap saya gak pernah dengar ini. Sekarang saya minta kalian pulang." Ucap Anna kesal


"Sekarang kamu ngusir saya?" tanya Rosa.


"Ia, saya ngusir ibu dan Sasha."


Emosi mulai menguasai Rosa.


"Dasar anak gak tau diri. Kamu pikir saya pakai apa buat besarin kamu?" teriaknya.


"Uang warisan papa. Ibu sama sekali gak mengeluarkan uang sedikit pun. Semuanya itu dari uang warisan papa." Suara Anna mulai meninggi.


"Memangnya saya gak pakai tenaga buat urusin kamu?" Rosa marah.


"Sejak papa meninggal, saya mengurusi diri saya sendiri. Sejak SMA saya juga sudah


membiayai diri saya sendiri. Bahkan harus membiayai kalian, jadi pembantu kalian. Kapan ibu mengeluarkan tenaga dan uang," teriak Anna.


"Oh, sekarang kamu main hitung-hitungan ya," balas Rosa.


"Ibu saja sampai sekarang selalu hitung-hitungan. Kenapa saya gak boleh?" kesal Anna


"Gini ya cara kamu memperlakukan ibu kamu?"


"Ibu itu bukan siapa-siapa saya."


"Oh, mulai kurang ajar ya kamu. Mau minta dihajar ya." Rosa menggulung lengan bajunya.


"Anna." panggil Kevin.


"Aduh, kenapa juga ini orang harus muncul sekarang," batin Anna.


"Ada apa?" tanya Kevin.


"Gak ada apa-apa kok. Kita langsung pergi saja ya," jawab Anna.


"Eh, tunggu. Ibu kan belum selesai." Rosa memandang Kevin dari atas sampai bawah.


"Mom, lihat tuh sepatunya merk mahal. Tanda centang. Kalau dilihat dari gayanya pasti asli," bisik Sasha.


"Kamu siapa?" tanya Rosa.


"Saya yang harusnya bertanya anda berdua siapa? Kenapa bikin ribut di depan rumah orang?" tanya Kevin


"Situ ada hak apa tanya-tanya. Saya ini ibunya Anna."


"Oh, ibu tirinya Anna," Kevin berbicara santai.


Rosa sedikit kaget dengan gaya bicara Kevin.


"Memangnya kenapa? Ibu tiri kan juga ibu."


"Menurut saya itu dua hal berbeda ya. Lagipula ada urusan apa dengan Anna?" balas Kevin.


"Situ siapa sih? Saya ini kan ibu tirinya Anna, masih ada hubungan. Kamu gak ada hak tanya-tanya saya kayak gitu."


"Saya punya hak untuk itu, karena saya tunangannya Anna," jawab Kevin tegas.


next>