The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 74 Rencana Vanessa



"Itu tadi siapa yang kamu samperin?" tanya Sera.


"Pelakor," jawab Vanessa singkat.


"Sejak kapan kamu punya laki?" tanya Mona.


"Kak Kevin itu kan tunanganku. Perempuan sialan itu yang merebutnya dariku," seru Vanessa marah.


"Masih halu saja kamu," tegur Nicky.


"Maksudnya?" tanya Sera.


"Dia ini gak pernah tunangan, baru mau dijodohkan. Cowoknya menolak dijodohkan karena sudah punya pacar."


"Nik kamu itu sepupu aku bukan sih? Kok malah aku yang dibilangin?" protes Vanessa kesal.


"Aku cuma mau nyadarin kamu sebelum kamu jadi gila," jawab Nicky.


"Yah si Vanessa emang agak-agak gila sih," ejek Mona.


"Kalian teman aku bukan sih?" tanya Vanessa marah.


"Van itu cuma bercanda aja kali. Masa gak bisa dibedakan yang bercanda dan bukan?" Sera buru-buru meralat.


"Pokoknya apapun caranya, aku harus bisa sigkirin perempuan itu. Kevin harus balik sama aku," seru Vanessa posesif.


"Coba kamu lihat di pojok. Mereka semesra itu, kamu mau apa lagi? Adanya kamu yang dicap pelakor," Nicky menasehati.


Vanessa berbalik ke belakang dan menyaksikan kemesraan itu. Vanessa memukul meja dengan marah.


"Aku mau pulang saja."


"Eh, Van mau ke mana?" Sera ikut berdiri.


"Nicky sih nyolot," protes Mona. Nicky hanya mengedikkan kedua bahunya.


"Pergi saja temani dia. Aku masih mau di sini," seru Nicky. Secepat kilat Mona pergi mengikuti Vanessa dan Sera.


"Padahal aku berharap kamu berubah Van. Aku bertahan di sisimu karena mau kamu berubah," gumam Nicky.


Vanessa pergi meninggalkan teman-temannya begitu saja. Dia memacu mobilnya, pulang ke rumah.


"Di mana papa?" Vanessa langsung mencari ayahnya begitu sampai di rumah.


"Bapak sedang di ruang kerja Non," jawab Bibi pengurus rumah.


Vanessa segera pergi mencari ayahnya di ruang kerja. Dengan kasar Vanessa membanting pintu dengan kasar, membuat ayahnya yang sedang menelpon kaget.


"Papa," teriak Vanessa kencang. Walau masih dalam keadaan kaget, Mahesa mampu mengendalikan nada bicaranya. Dia mengangkat tangannya meminta Vanessa menunggu.


Vanessa melipat tangannya dengan kesal, menunggu ayahnya selesai menelpon.


"Papa ngapain aja sih? Kok gak mendesak Kevin?" Vanessa langsung berteriak begitu Mahesa selesai menelpon.


"Vanessa di mana sopan santunmu? Kamu tidak ketuk pintu, sekarang berteriak pada Papa?"


"Kalau papa becus mengurusi Kevin, Vanessa gak akan begini."


"Kevin lagi. Berhentilah mengejarnya Nesa. Dia tidak menyukaimu. Dia bahkan mengancam akan membatalkan kontrak kalau papa masih mendesaknya."


"Batalkan saja kontraknya. Mereka juga pasti kewalahan kalau kontrak itu batal." Vanessa seolah tidak peduli dengan bisnis ayahnya.


"Apa kamu sudah gila? Perusahaan kita sedang tidak bagus. Kalau kontraknya batal kita yang akan rugi Nesa. Apa kamu mau hidup menggembel?"


Vanessa terdiam, dia tentu tidak mau jadi gembel.


"Berhentilah bersikap kekanakan. Selama ini papa terlalu memanjakanmu, mulai sekarang kamu harus belajar mengurus perusahaan."


"Vanessa gak mau." Vanessa keluar dari ruangan kerja.


"Vanessa," Mahesa memanggil putri semata wayangnya.


Dengan amarah membuncah, Vanessa membanting pintu kamarnya.


"Sialan," teriak Vanessa. Dia membanting di atas ranjangnya.


Vanessa tidak bisa berpikir tenang sekarang.


"Sepertinya hari ini aku perlu alkohol," gumam Vanessa.


"Baiklah ayo pergi ke club."


Setelah bersiap-siap cukup lama, Vanessa memacu mobilnya menuju club yang biasa di datanginya. Dia tiba tepat pada saat club baru buka.


Belum terlalu banyak orang saat Vanessa datang. Vanessa memesan segelas minuman. Setelah menandaskannya, Vanessa turun ke lantai dansa.


"Vanessa?" Panggil sebuah suara setelah cukup lama Vanessa berada di lantai dansa. Vanessa berbalik ke arah datangnya suara.


"Mike Laksono" teriak Vanessa.


"Lama gak ketemu, kamu makin seksi saja." Tanpa basa-basi Vanessa dengan sengaja menggoda Mike.


"Ke mana?"


"Ke atas ranjang mungkin." Mike tersenyum tidak sabar.


Tiba-tiba saja Vanessa mendapat ide. Vanessa membalas senyuman Mike dengan tatapan menggoda.


Dengan cepat Vanessa menarik tangan Mike menjauhi lantai dansa. Mike mengikuti Vanessa tanpa banyak tanya.


Vanessa meminta ruangan VIP pada salah seorang pelayan. "Aku tidak tahu kalau kau ingin melakukannya di sini," seru Mike.


"Ayo kita buat kesepakatan." Vanessa menatap Mike dengan mantap.


"Deal seperti apa?" tanya Mike.


Pelayang bar datang dan memberitahu ruangan VIP yang diminta telah siap.


"Kita bicarakan di dalam saja."


Vanessa berjalan mengikuti pelayan bar. Mike mengekor di belakangnya.


"Jadi apa yang kamu mau cantik?" tanya Mike begitu pintu ruangan VIP tertutup.


"Bantu aku mendapatkan Kevin."


Mike menaikkan sebelah alisnya.


"Apa untungnya untukku?" Mike duduk di sofa panjang.


"Kamu bisa tidur denganku hari ini," jawab Vanessa santai.


"Dengar nona. Aku bisa meniduri perempuan mana pun yang ku mau. Penawaranmu tidak ada artinya buatku."


"Aku belum pernah melakukannya dengan siapa pun loh," balas Vanessa dengan suara menggoda. Mike terdiam mendengarnya.


"Gak mungkin," ejek Mike.


"Aku serius. Aku sudah lama tergila-gila dengan sepupumu itu dan berharap dia jadi yang pertama."


"Aku perlu bukti sayang." Mike meraih pinggang Vanessa yang dari tadi berdiri di depannya.


"Dengarkan saja dulu perkataanku, setelah itu kamu bisa mengeceknya sendiri. Dan jika kata-kataku terbukti, mari bekerjasama."


"Biar kudengar dulu apa maumu." Mike menjauhkan tangannya dari tubuh Vanessa. Vanessa mengambil tempat di sebelah Mike.


"Aku ingin menghadiri pesta tahun baru yang diadakan sepupumu setiap tahunnya," kata Vanessa.


"Lalu?"


"Bantu aku memberikan afrodisiak untuk Kevin, menggiringnya ke kamar. Selebihnya kurasa kamu bisa tebak."


"Itu saja?" tanya Mike.


"Tentu saja kamu akan menggiring istrinya untuk menyaksikan semua itu. Yah, aku sih tidak peduli apa yang akan kamu lakukan dengan istrinya." Sebelah sudut bibir Mike terangkat naik.


"Kamu sangat tahu seleraku Vanessa. Aku memang sempat mengincar Anna, tapi Kevin terlalu proritektif."


"Yah itu kalau kamu tidak kebertan dengan barang bekas."


"Tidak ada masalah dengan itu. Kalau kamu tidak bohong, kamu akan jadi barang ori pertama yang akan kucoba." Mike tersenyum penuh gairah.


Membayangkannya saja sudah cukup menggairahkan bagi Mike.


"Jadi apa kita sudah deal?" tanya Vanessa. Mike tidak langsung menjawab Vanessa.


"Bayarannya tidak cukup," seru Mike.


"Apalagi yang kamu mau? Kamu mau aku carikan wanita tersegel lainnya?" protes Vanessa.


"Kurasa itu pasti sulit, kecuali yang masih anak-anak."


"Aku tidak akan memberimu anak-anak," seru Vanessa.


"Aku juga tidak mau anak-anak ingusan."


"Lalu apa maumu?" tanya Vanessa.


"Mentah." Vanessa menaikkan kedua alisnya.


"Ayo kita lakukan tanpa pengaman. Aku yakin kamu juga akan lebih suka seperti itu," lanjut Mike.


"Bukannya yang pertama pasti sakit?" tanya Vanessa.


"Tidak jika kau berhadapan dengan profesional."


"Oke. Ayo kita lakukan," balas Vanessa. Mike tersenyum penuh kemenangan. Segera Mike mencecap bibir Vanessa.


next>>>