The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 29 Nasihat



"Enaknya punya cucu pintar masak. Bisa sering makan enak," puji Nenek.


"Biasa aja Nek. Ini juga cuma eksperimen. Gak ada kerjaan lain sih." jawab Anna


"Ngomong-ngomong soal kerjaan. Kevin berharap Anna boleh kerja di kantor. Gak apa-apa kan Nek?"


"Boleh dong. Kenapa gak boleh." Anna tersenyum canggung.


"Menurut Nenek bagusnya Anna di kasih apa?" tanya Kevin.


"Ada bagian apa yang kosong?"


"Sementara gak ada sih Nek. Makanya kita tanya Nenek," Alex menjawab.


"Kalau gak ada yang kosong, jangan dipaksaiin. Gak apa-apa kok."


"Menurutku ya kamu punya bakat loh Na. Sayang kalau gak dipakai," ucap Kevin santai.


"Bakat?" tanya Nenek.


"Belakangan ini Anna sering bantuin saya kerja. Hasilnya juga memuaskan, makanya Kevin merasa sayang kalau Anna di rumah aja."


Nenek berpikir sejenak.


"Gimana kalau Anna aja pegang bisnis cafe?" Semuanya melihat ke arah Nenek.


"Anna kan pintar masak. Jadi, Nenek pikir bagus juga kalau dia yang urusin cafe."


"Boleh juga ide Nenek. Kopi buatan Anna juga enak loh," puji Alex.


"Saya juga setuju. Gimana dengan Ella?" tanya Kevin.


"Emm, gimana ya. Kalau Anna terserah sih. Cuma Anna masih perlu banyak belajar, masih banyak kurangnya."


"Ya gak apa-apa. Kamu bisa sambil belajar juga." Nenek mendukung Anna.


"Mungkin untuk sementara kita perkenalan saja dulu. Nanti mau gimana bisa diatur." Kevin tersenyum ke arah Anna.


Anna mengangguk senang.


Anna menunggu Kevin selesai mandi.


"Ken."


"Ada apa?"


"Yakin aku boleh kerja ditempatmu?"


"Kan dari awal aku yang tawarin." Anna menarik nafas panjang.


"Gimana ngomongnya?." Kevin memperhatikan Anna.


"Aku merasa gak enak."


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Sepertinya dalam kontrak kita aku yang selalu diuntungkan. Bulan madu kamu yang bayar, aku dikasih mobil dan sekarang aku dikasih kerja."


"Terus?"


"Ya. Aku dapat banyak hal, sedangkan kamu dapat apa?"


"Dapat istri," goda Kevin.


"Ken aku serius nih."


"Aku juga serius." Kevin masih mengeringkan rambutnya.


"Sini duduk," pinta Anna.


"Buat apa?" Anna mengambil hair dryer.


"Biar kukeringkan rambutmu." Kevin langsung duduk di ujung ranjang.


"Kamu berbakat ya," sahut Kevin tiba-tiba.


"Apanya?"


"Berbakat jadi chef, barista, kerjaanku juga bisa diurus dan berbakat juga jadi penata rambut."


Anna tertawa. "Ngaco. Ini rambutnya cuma dikeringkan saja kali. Semua orang juga bisa."


"Gak semua orang bisa bantu aku kerja tapi."


"Ia lah."


"Jadi kenapa kamu merasa terbebani?"


"Ya karena itu tadi. Aku gak mau aji mumpung gitu."


" Aji mumpung gimana? Kamu itu pintar Na. Itu bukan aji mumpung. Aku pengen kamu kerja sama aku, karena aku tahu kamu bisa."


"Tapi tetap aja aku ngerasa gimana gitu. Udah rambutmu udah kering."


Kevin berbalik dan menatap Anna.


"Jadi sekarang kamu mau gimana?"


"Gak tau juga sih." Anna membereskan hair dryernya.


"Mungkin aku bisa melakukan hal lain."


"Maksudnya?" tanya Kevin.


"Apa kek gitu. Aku gak enak hanya terus-terusan mendapatkan keuntungan dari kamu." Kevin berpikir sebentar dan tersenyum nakal.


"Ada kok yang bisa kamu lakukan."


"Apa?" tanya Anna antusias.


"Menjelankan tugas seorang istri." Kevin tersenyum nakal.


"Jangan bercanda dong. Dikontraknya kan sudah jelas syaratnya." Anna mulai panik.


Kevin tertawa, kemudian mengacak-acak rambut Anna.


"Tidur sana."


"Ini kan baru jam setengah sembilan."


"Atau mau dikeloni?"


"Aku mau tidur duluan." Anna buru-buru menarik selimut.


"Aduh mau copot jantungku," batin Anna.


"Mana ngomongnya pakai wajah seganteng itu. Mana otot dadanya bagus lagi." Anna mengingat kejadian waktu bulan madu, kemudian menggelengkan kepala dengan keras.


"Berhenti berpikir yang aneh-aneh Annla," gumamnya.


"Ini lagi mau tidur." Kenyataannya Anna sama sekali belum mengantuk.


"Ken?"


"Kenapa lagi?" Kevin meengetik pada notebooknya.


"Boleh tanya lagi?"tanya Anna.


"Apa?" Anna keluar dari balik selimut.


"Nanti aku digaji berapa?"


Kevin menghentikan aktivitasnya dan berbalik menghadap ke Anna.


"Kamu lagi kepepet butuh uang banyak atau gimana?"


"Namanya juga kerja, pasti digaji kan."


"Kamu mau berpa sih?" Anna berpikir sebentar.


"Sekitar tujuh juta saja." Kevin menaikkan sebelah alisnya.


"Kebanyakan ya? Kalau gitu enam juta saja deh. Aku gak mau ya kalau dibawah itu, soalnya gaji terakhirku kurang lebih segitu."


"Cuma segitu?" tanya Kevin.


"Emang kamu pikir berapa? Sepuluh juta? Mana ada teller gajinya segitu."


"Anna. Kalau kamu mau jajan, kamu bisa pakai fasilitas yang aku kasih."


"Aku gak mau terus-terusan bergantung sama kamu. Takut keterusan."


"Memangnya kenapa kalau keterusan?"


"Nanti setelah setahun, aku kan sudah gak boleh bergantung sama kamu." Kevin terdiam, merasa sedikit kesal.


"Soal gaji nanti akan ku atur." Kevin kembali fokus pada notebooknya.


"Boleh ngomong lagi gak?" tanya Anna.


"Apa lagi?"


"Kamu gak berencana tambah sekretaris?" Kevin segera memutar duduknya menghadap Anna.


"Sekarang kamu mau jadi sekretarisku?"


"Gak." Anna berpikir dengan ekspresi bingung.


"Sebelumnya jangan marah ya. Aku cuma mau beri saran saja."


"Saran apa?" tanya Kevin.


"Sorry ya, bukannya sok tahu. Menurutku penempatan karyawan di kantormu agak kurang proporsional."


"Maksudnya?"


"Misalnya saja ya. Sekretaris kamu tiga orang. Sebagian besar Alex yang urus. Riri bagian filing, sisanya Dinda yang urus. Benar?" Kevin mengangguk.


"Menurut aku beban kerjanya terlalu besar kalau cuma bertiga saja."


"Kerja itu memang berat gak ada yang ringan," potong Kevin.


"Bukan itu maksud aku, belum selesai ngomong juga."


"Jadi gimana?" tanya Kevin.


"Pembagian tugasnya rata. Pembagian kerjanya terlalu minim. Jadi efisiensi kerjanya jadi berkurang. Harusnya masing-masing punya peran sendiri jadi, beban kerjanya gak harus numpuk di Alex."


"Terus?"


"Coba kamu tambah sekretaris dan melakukan pembagian kerja yang lebih terstruktur."


"Emang kalau gitu bisa lebih efisien?"


"Menurutku seperti itu. Setidaknya pekerjaan mereka ga tumpang tindih dan tertunda. Apalagi kalau ada yang cuti."


Kevin berpikir sebentar.


"Penjelasannya sih masuk akal," batin Kevin.


"Artinya aku harus rekrut orang baru dong?"


"Gak usah. Kamu ambil dari bagian lain aja. Ada kok bagian yang kebanyakan orang."


"Masa?"


"Itu loh. Bagian investasi. Berapa orang di sana?"


"Sepuluh mungkin," jawab Kevin.


"Nah, itu banyak amat. Mereka kerjanya cuma main saham kan?" Kevin mengangguk.


"Nah, kamu ambil satu dua orang dari sana juga pasti gak masalah."


Kevin berpikir dengan serius.


"Gimana kalau di trial dulu?" Kevin menatap Anna.


"Kamu bisa coba dulu didua bagian yang aku sebutkan tadi, kalau hasilnya bagus baru dievaluasi ulang dan diterapkan secara menyeluruh."


"Memangnya bagian apa saja yang perlu direstruktur?"


"Gak ingat sih. Waktu aku jalan-jalan ke kantor kamu, aku gak terlalu perhatikan. Masa kamu gak tau karyawan kamu ada berapa sih?"


"Aku gak terlalu perhatikan sih. Kan ada HRD."


"Tapi masa jumlah karyawan saja gak tahu. Jangan-jangan kesejahteraan karyawan di kantor kamu gak bagus ya?" goda Ella.


"Maaf, untuk urusan kesejahteraan aku bisa jamin."


"Iya bang aku percaya kok." Anna tersenyum.


"Eh, tapi yang tadi itu cuma pendapat aku aja ya. Keputusannya tetap ada di kamu."


Sebenarnya Kevin bukan tidak tahu yang dikatakan Anna. Kevin hanya tidak memperhatikan sekitarnya. Kevin masih ingin tahu seberapa berbakatnya Anna.


"Besok kamu ada waktu?" tanya Kevin


"Banyak."


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kantor?"


"Kita berdua?" Kevin mengangguk sebagai jawaban.


next>>>