The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 90 Akhirnya Bertemu



"Kok diam amat sih hari ini?" tanya Clarence pada Kevin. Kevin hanya diam saja.


"Marah ya?" Kevin menggelengkan kepala.


"Oh, atau karena aku duduk di belakang? Kamu jadi ngerasa kayak sopir?" Kevin kembali menggeleng.


"Kamu kenapa sih? Tiba-tiba jadi bisu?"


"Lagi males saja," jawab Kevin.


"Entar kalau udah ketemu Anna pasti senang," gumam lirih Clarence.


"Hm." Kevin berbalik ke arah Clarence.


"Gak ada apa-apa. Fokus nyetir saja," seru Clarence cepat.


Begitu Clarence bisa melihat gedung apartemennya, dia langsung memberitahu Cleo. 'Sudah dekat.'


'Masih di groceries, sedikit lagi.' Cleo memberi jawaban singkat dan cepat.


Clarence menelpon Anna. "Posisinya di mana?" tanya Clarence.


"Masih di groceries kenapa?"


"Gak apa-apa kamu lanjut saja."


"Jangan lupa singgah di rumah loh ya. Mama nungguin," Clarence berbohong.


"Ya," jawab Kevin singkat.


'Sudah di parkiran, tungguin lift.' Clarence memberi tahu Cleo. 'Lagi di kasir.' Cleo membalas dengan cepat.


Begitu sampai di lantai apartemennya berada, Clarence mulai tegang. "Aduh lama amat," batinnya.


"Mama Mei ada di tempat Nico?" tanya Kevin.


"Ya, begitu lah." Clarence mulai menempelkan kartu untuk membuka pintunya.


Begitu pintu terbuka, Clarence mendengar suara Nico memanggilnya. "Mama."


"Akhirnya," batin Clarence.


Clarence berbalik ke arah suara Nico, begitu pula dengan Kevin. Mata Kevin membesar begitu melihat Anna. Mereka bertatapan sekian detik.


"Anna?" panggil Kevin tak percaya. Dengan cepat Anna berbalik.


"Anna." Kevin mengejar Anna. Tapi apartemen yang ditinggali Anna selama ini terlalu dekat.


Dengan terburu-buru Anna menempel kartu kunci dan masuk ke dalam, tepat saat Kevin hampir menggapainya. "Anna." Kevin menggedor pintu.


"Anna please, buka pintunya." Kevin mulai berteriak, sambil terus menggedor pintu.


"Anna."


Kevin berbalik ke arah Clarence. "Ren berapa pin nya?" Kevin masih berteriak keras.


"Pin?" Clarence menjadi bingung.


Dengan kesal, Kevin mencoba menebak pin.


"Ulang tahun Nico?" gumam Kevin. Clarence yang mendengarnya menggeleng.


"Tahunnya," jawab Clarence.


Dengan cepat Kevin menekan tahun kelahiran Nico. Mendengar ada yang menekan pin pada pintu, Anna segera berlari ke kamar. Mengunci diri dari dalam.


"Anna?" Kevin masih histeris. Kevin sempat melihat Anna menutup pintu kamar. Segera dihampirinya kamar itu dan memutar gagangnya.


Kevin menendang pintu mendapati pintunya terkunci. "Kevin jangan kasar begitu," Clarence menegur.


"Kenapa kamu gak kasih tahu aku?" Kevin terlihat sangat marah.


"Karena Anna gak mau kamu tahu," jawab Clarence tenang.


"Dia itu lagi hamil Ren. Kamu gak mikirin hal itu? Kamu gak mikir betapa susahnya Anna sendirian?"


"Kalau kamu tahu Anna lagi hamil, seharusnya kamu gak teriak-teriak kayak gini. Bayinya bisa kaget, Anna juga bisa jadi stress."


Kevin langsung terdiam mendengar pernyataan Clarence.


"Mending kamu pulang dulu, tenangin diri kamu. Biar aku bicara sama Anna."


Kevin menghembuskan nafas pelan, kemudian mengangguk. Setelah Kevin pergi, Clarence mengetuk pintu kamar Anna.


"Anna, bisa buka pintunya? Kevin sudah pergi." Pelan-pelan pintu kamar terbuka dan Anna keluar.


"Maaf ya Na. Kevin datang jenguk mama. Kupikir kamu masih di groceries, jadi aku biarin dia naik."


Anna tersenyum simpul. "Gak apa-apa kok Ren."


"Yakin kamu gak apa-apa? Baby kaget gak?" Clarence mengelus perut Anna.


"Gak kok."


"Sekali lagi maaf ya. Besok-besok aku akan pastikan kalau ini gak terjadi lagi." Anna mengangguk sebagai jawaban.


Clarence bergegas kembali ke unit apartemen Nico. "Bagaimana?" tanya Cleo.


"Kacau. Aku tidak kepikiran Anna bakal segitunya."


Cleo tadi mengajak Nico untuk kembali masuk ke rumah lebih dulu. Untungnya Mama Mei tidak dengar apa-apa tadi.


"Jadi gimana sekarang?" tanya Cleo.


"Ini kan idemu, kenapa kamu bertanya padaku?" Mereka terdiam sesaat.


"Perasaanku gak enak lagi. Mudah-mudahan gak ada apa-apa," kata Clarence dalam hati.


"Kenapa bumil?"


"Aku kangen," seru Anna manja.


"Siapa suruh lari ke Jakarta."


"Karena aku juga kangen Jakarta," balas Anna.


"Kangen Jakarta atau kangen orang yang nungguin kamu di Jakarta?" ejek Julie. Anna terdiam dengan ekspresi sedih yang tak bisa dilihat Julie.


"Dia tambah kurus," gumam Anna pelan.


"Siapa yang kurus?" Julie bisa mendengar gumaman Anna.


"Kevin," jawab Anna pelan.


"Kamu sudah ketemu Kevin?" "


Hm. Tadi gak sengaja ketemu di tempat Clarence."


"Yah, sebenarnya bukan gak sengaja sih," sambung Anna.


"Maksudnya?"


"Sepertinya Cleo dan Clarence membuat rencana untuk mempertemukanku dan Kevin hari ini. Dibuat supaya terlihat tidak sengaja ketemu gitu."


"Sok tahu," ejek Julie.


"Bukan sok tahu Li, tapi itu murni naluri perempuan."


"Jadi gimana setelah ketemu Kevin?" tanya Julie.


"Aku kabur," jawab Anna santai.


"Jadi kalian gak ngobrol sama sekali?"


"Gak."


"Emang Kevin gak berhasil nangkap kamu?" tanya Julie lagi.


"Unit apartemen yang kutinggali cuma berjarak lima langkah, gimana bisa ketangkap."


"Astaga Na. Sampai kapan kamu mau gituiin Kevin? Katanya kamu masih cinta."


"Banget," balas Anna.


"Lalu kenapa?"


"Gak tahu juga. Bawaan orok kali," seru Anna.


"Jangan jadikan anakmu sebagai alasan dong. Ngomong-ngomong udah tahu jenis kelaminnya gak?"


"Belum. Kata dokternya bayinya masih malu-malu."


"Apaan sih, janin juga bisa punya malu ya?" "Iya dong."


*****


Kevin pulang ke rumah dengan perasaan kacau balau. Dia sudah melihat Annanya, tapi belum bisa bicara dengan istrinya itu.


Ponsel Kevin berdering begitu dia sudah di kamar. Dengan enggan Kevin mengangkat telponnya.


"Ada apalagi sih Ren?"


"Aku mau minta maaf, aku gak menyangka Anna bakal kabur kayak gitu."


Kevin berusaha mencerna omongan Clarence. "Tunggu. Kamu sengaja suruh aku jemput kamu di bandara dan maksa aku untuk ketemu Mama Mei, itu semua untuk ketemu Anna?"


"Yes thats right. Aku merencanakannya berdua dengan Cleo. Sorry harus dengan cara ini. Soalnya Anna gak mau kamu tahu soal dia."


Kevin memijat pangkal hidungnya. "Gak apa-apa. Justru aku yang minta maaf sudah bikin keributan. Anna gimana?"


"Dia memilih istirahat di kamarnya. Aku sudah memastikan dia baik-baik saja."


"Makasih," sahut Kevin tulus.


"Kevin, aku dan Cleo cuma bisa bantu sampai sini. Selebihnya kamu harus berusaha sendiri."


"Ya. Aku ngerti, mulai besok aku mungkin akan berkunjung ke sana."


"Itu kalau Anna tidak lari lagi."


"Ya. Kali aku pastikan akan mengekorinya ke mana pun."


"Sounds good. Bersemangatlah dan semoga sukses."


Belum juga sambungan telpon terputus, Nenek Ratih sudah menerjang masuk kamar Kevin yang tidak terkunci.


"Kevin. Masalah apalagi yang kamu buat," teriak Nenek.


"Maksud Nenek apa sih?"


"Kamu ngapain sama Clarence?"


"Ini aku lagi telponan."


"Kamu sudah gila ya?" Nenek masih berteriak.


"Nenek ini kenapa sih? Tiba-tiba berteriak seperti orang kesurupan."


"Coba kamu baca ini." Nenek menyerahkan ponselnya pada Kevin.


Di sana terlihat Nenek sedang membaca berita infoteiment. Berita tentang skandal percintaan antata Clarence dan Kevin Bramantara. "Ini apa-apaan sih?" protes Kevin


next>>>