The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 28 Pulang



"Harus melapor ke bea cukai?" tanya Anna pada petugas bandara.


"Ia, Bu. Soalnya barang yang Ibu bawa pulang sangat banyak jadi, harus dilapor untuk mengurangi tindakan perdagangan ilegal."


"Tapi itu kan cuma buat pemakain sendiri. Sama buat oleh-oleh," protes Anna.


"Tetap harus dilapor Bu."


"Makanya belanja itu kira-kira dong. Masa sampai satu koper ukuran besar," ujar Kevin.


"Siapa ya yang bilang aku boleh beli apa saja, sebanyak apa pun?" Anna membalas Kevin.


"Gak tahu," seru Kevin pura-pura bego.


"Bantuin atau apa gitu? Bukan pura-pura bego," protes Anna.


Kevin mencoba berdiskusi dengan bagian bea cukai. Awalnya diskusi tidak berjalan dengan lancar, kemudian datang seorang petugas senior yang mengenali Kevin.


"Pak Kevin, ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas senior.


"Istri saya diminta melapor, karena barang belanjaan yang dibawa Korea kebanyakan. Apa gak bisa dibantu?"


Petugas senior ini melihat koper Anna yang sedang di bongkar temannya. Segera petugas senior tadi menghampiri rekannya dan memarahi mereka.


"Tapi Pak nanti kalau barangnya dipakai untuk perdagangan ilegal bagaimana?" tanya petugas yang lebih muda.


"Kamu bego ya? Mana mungkin istri seorang Kevin Bramantara berdagang ilegal. Mereka bahkan bisa beli ini bandara, ngapain berdagang ilegal." Petugas yang lebih muda hanya mengangguk saja. Koper Anna juga segera dibereskan dan dikembalikan.


"Maaf sekali Pak perjalanan anda jadi terganggu."


"Makasih bantuannya." Anna tersenyum.


Setelah Kevin dan Annapergi, petugas yang senior menarik nafas lega.


"Lain kali jangan sampai mempersulit keluarga Bramantara, biar hidup kalian gak susah."


"Emang Bramantara itu siapa?" tanya petugas yang lebih muda.


"Kamu tahu B Hotel kan? Dia itu pemiliknya."



"Nenek," teriak Anna begitu sampai rumah.


"Anna cucu Nenek sudah pulang. Bagaimana liburannya?" Nenek memeluk Kevin, kemudian Anna.


"Seru pakai banget Nek."


"Tante Anna." Gita berlarian turun dari tangga.


"Gita jangan lari-lari nak nanti jatuh," Nenek berucap khawatir.


Gita langsung memeluk Anna.


"Eh, bocah. Om gak disapa?" tanya Kevin.


"Selamat datang kembali Om Kevin. Oleh-oleh Gita mana?"


"Yah, malah tanya oleh-oleh."


"Kalau gitu, Gita bantuin Tante bongkar barang ya," saran Anna.


"Ok."


 berjalan ke arah kamarnya yang lama.


"Eh, Anna mau ke mana? Kamar kamu kan bukan di sana lagi," tegur Nenek.


"Lupa Nek," jawab Anna sambil tersenyum.


"Maklum Nek sudah tua," ejek Kevin.


"Awas kamu ya."


"Alex mana Nek?"


"Belum pulang dari kantor." Kevin mengangguk dan mengikuti Ann ke kamar.


Barang-barang Kevin dan Anna sudah ada di dalam kamar dibawakan oleh pelayan. Begitu masuk kamar Gita dan Anna langsung membongkar koper yang isinya oleh-oleh.


"Aku mandi duluan ya," seru Kevin.


"Ok," jawab Anna.


Setelah membongkar barang, Anna segera mandi. Kevin langsung kembali pada dokumen kantor. Setelah makan malam, Anna langsung pergi tidur. Kehidupan kembali berjalan. Kevin dan Alex pergi ke kantor, Gita pergi sekolah dan Nenek ke perkumpulan sosialita. Hanya Anna yang tidak punya kegiatan.


"Kevin berangkat ya Nek."


"Saya juga," sambung Alex.


"Gita juga."


"Kevin," panggil Nenek.


"Ya."


"Tidak lupa sesuatu?" tanya Nenek.


Kevin melihat Nenek bingung. Nenek mengangguk ke arah Anna.


"Ah." Kevin mendekati Anna dan mengecup puncak kepalanya.


Sekarang hal itu menjadi rutinitas baru Kevin, setelah mendapat teguran Nenek.


Baru beberapa langkah Kevin berhenti dan merogoh kantongnya.


"Anna," panggil Kevin.


"Ya." Kevin melempar sesuatu ke arah Anna.


Anna menangkapnya dengan baik.


"Buat kamu," seru Kevin berlalu pergi.


Anna membuka mulut lebar-lebar melihat kunci mobil di tangannya.


"Ini serius?" teriak Anna.


"Serius ," Kevin balas berteriak.


Nenek tersenyum. Annabergegas keluar dan melihat mobil sedan mewah berwarna biru langit.


"Kamu dibeliin mobil mahal ini?" tanya Julie.


Anna mengangguk senang.


"Boleh aku coba bawa?" tanya Julie.


"Jadi gimana bulan madunya?" tanya Julie.


"Amazing," jawab Anna.


"Apanya yang amazing? Jalan-jalannya atau olahraga malamnya?"


"Apaan sih. Kok olahraga malam," protes Julie


"Kenapa? Kan sudah sah suami istri."


"Gak ada yang gituan."


"Kasihan amat si Kevin."


"Cuma kontrak."


"Sekarang kamu ngapain?" tanya Julie.


"Jadi ibu rumah tangga yang baik."


"Bukannya mau kerja di kantor Kevin?"


"Sementara aku bantu-bantu dia dikit. Tapi belum kerja benaran," jawab Anna.


"Kenapa kamu gak tanya?"


"Gak enak aku. Soalnya Kevin udah keluarin banyak uang untuk aku. Aku gak enak kalau harus minta dia cariin aku kerja juga."


"Masuk akal juga sih. Tapi masa kamu mau nganggur terus."


"Nah, itu dia. Kalau aku bilang mau lamar kerja tempat lain, Nenek pasti suruh aku kerja di kantor."


"Sama aja ya kalau gitu," kata Julie.


"Makanya aku juga bingung."


"Udah gak usah terlalu dipikirin dulu, nanti stress loh. Omong-omong oleh-olehku mana?" tanya Julie.


*****


"Belakangan ini berkas yang dibuat Dinda jadi lebih rapi. Kamu rapihin ulang?" tanya Alex.


"Bukan aku. Anna yang rapikan," jawab Kevin.


"Anna? Serius?"


"Kamu ingat proposal yang barusan kita kirim ke Australia?" tanya Kevin.


Alex mengangguk.


"Itu juga Anna yang bikin."


"Serius?"


"Ya."


"Sebenarnya aku mau ajak Anna kerja di sini," kata Kevin.


"Harus. Sayang banget bakatnya kalau tidak dipakai."


"Masalahnya Lex, aku bingung mau menempatkan dia dibagian mana. Bakat sebagus Anna harus dapat posisi yang bagus. Belum lagi statusnya sebagai istri aku. Sementara gak ada tempat kosong."


"Mungkin kita harus bicarakan ini sama Nenek," saran Alex.


"Rencananya malam ini aku bicara sama Nenek. Makanya aku mau pulang cepat, supaya bisa makan malam di rumah."



"Kevin.... " Anna berteriak begitu melihat Kevin.


"Apaan sih teriak-teriak?"


"Dalam rangka apa kasih mobil?"


"Hadiah karena sudah bantuin aku."


"I love you to the moon and back." Kevin menggeleng.


"Hari ini mau makan apa? Biar aku masakin."


"Emang masih sempat masak?"


"Kalau gitu buat besok," jawab Anna.


"Hari ini memangnya masak apa?" Kevin berjalan ke arah ruang makan diikuti Alex.


"Kata Nenek kamu suka rawon. Jadi aku masak rawon."


"Kamu bisa masak yang susah gitu?" tanya Alex.


"Bisa lah, jaman sekarang apa sih yang gak bisa? Kan ada bumbu instan."


"Itu namanya curang." Kevin duduk di meja makan.


"Yang penting kan usahanya." Nenek membela Anna.


Anna mengambilkan nasi dan semangkuk rawon untuk Kevin. Sementara Gita sudah mulai makan.


"Rawonnya aku kasih telur. Terus aku juga ada bikin perkedel kentang." Kevin menyendok rawonnya dengan penasaran.


"Gimana?" tanya Anna.


Wajah Kevin berubah menjadi sedih.


"Enak," seru Alex.


Kevin berbalik ke arah Alex.


"Enak. Banget." Kevin berusaha tertawa.


Anna sebenarnya menangkap perubahan wajah Kevin, tapi dia memilih diam.


next>>>>>