
"Aduh, ini si Alex kok gak angkat telpon sih," batin Julie.
Julie merasa kewalahan menelpon sambil menggendong Gita yang sudah mulai tenang.
Bi Asih menyadari hal itu dan berusaha memberi bantuan.
"Gita sama Bi Asih dulu ya. Mommy mau telpon." Gita menggelengkan kepalanya.
"Udah gak apa-apa Bi."
Miss Lia masih menunggu Julie menelpon Alex. Peserta yang lain sudah sementara makan siang di restoran.
"Masih belum diangkat Bu?" Julie mengangguk sebagai jawaban. Miss LIa tidak mau\ membiarkan Gita pulang sebelum berbicara dengan Alex.
Julie duduk di bangku agar bisa lebih leluasa menelpon. Julie mencoba menelpon Anna.
"Gak diangkat juga," batin Julie.
Untungnya Julie juga menyimpan nomor kantor Anna.
"Siang Mbak, boleh sambungkan ke ruangan Pak Alex. Makasih," Julie berbicara dengan operator
"Maaf Bu, sepertinya Pak Alex sedang tidak di tempat." Mbak operator kembali menjawab beberapa saat kemudian.
"Kalo disambungkan ke Pak Kevin bisa?"
"Maaf bu, kalau bisa tahu ada urusan apa?"
"Saya ada hal penting yang mau disampaikan."
"Saya coba sambungkan ke sekretaris Pak Kevin yang lain saja ya."
"Boleh makasih."
"Dengan Dinda ada yang bisa dibantu."
"Maaf saya boleh tanya, Alex ada di ruangan Kevin?"
"Pak Alex benar ada di ruangan Pak Kevin. Ada yang bisa dibantu Bu?"
"Boleh saya disambungkan ke Alex. Bilang aja dari Julie, ada hal penting yang perlu saya sampaikan soal Gita."
"Saya coba sambungkan, mohon ditunggu." Ragu-ragu Dinda menekan nomor ekstension ruangan Kevin.
"Maaf Pak, ada yang namanya Julie mau bicara dengan Pak Alex. Dia minta disambungkan ke Bapak, katanya penting." Dinda menjelaskan begitu Kevin mengangkat telpon.
"Julie?" Kevin bertanya bingung.
"Kamu ada urusan apa dengan Julie?" tanya Kevin pada Alex. Alex mengangkat kedua bahu.
"Coba sambungkan," perintah Kevin.
"Kevin? Ini Julie."
"Ya, ada apa?"
"Alex ada di sana?"
"Kenapa gak telpon ke nomor pribadi?"
"Udah tadi, tapi gak diangkat."
Kevin memberikan telpon pada Alex. Dengan bingung Alex mengangkat telpon.
"Halo."
"Lex. Aku lagi sama Gita."
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya. Intinya sekarang ini dia mau ikut sama aku."
"Loh, bukannya dia lagi outing?"
"Dia gak mau main lagi, katanya mau ikut sama aku."
"Coba aku bicara sama Gita."
"Gita Daddy mau ngomong sama kamu." Gita yang masih memeluk erat Julie menggeleng.
"Gita ini Daddy loh mau ngomong."
"Gak mau," teriak Gita.
"Kamu dengar Gita ngomong apa?" Julie kembali bicara dengan Alex.
"Aduh, itu anak kenapa lagi. Tapi apa gak bakal ngerepotin?"
"Mau gimana lagi, ini anaknya gak mau lepas dari aku. Lagian ada Bi Asih juga kok."
"Kalau gitu maaf merepotkan, nanti malam biar aku jemput."
"Gak usah, aku mau balik ke Jakarta. Biar aku yang antar, daripada kamu bolak balik. Nanti juga sampai di rumah kemalaman, kasihan Gita."
"Makasih banget ya Julie."
"Santai aja. Tapi ini Miss-nya Gita mau ngomong." Julie memberikan telpon pada Miss Anna.
"Siang Pak Alex, saya Miss Lia wali kelas Gita."
"Oh, ia Miss maaf merepotkan."
"Gak apa-apa Pak, saya cuma mau infokan Gita mau pulang sama Mommynya."
"Gita mau pulang sama Mommynya. Saya pulangkan Gita lebih awal Pak ya," lanjut Miss Lia.
"Oh, ia. Saya sudah diberitahu," Alex agak terbata.
"Ini Bu." Miss Lia mengembalikan ponsel Julie.
"Kalau gitu saya duluan Miss." Julie berdiri, masih menggendong Gita.
"Biar Bibi bantu bawaiin tasnya Bu."
"Makasih ya Bi." Julie mencoba menelpon Pak Didi.
"Saya bantu pegangin telponnya Bu." Bi Asih membantu Julie memegang ponselnya.
"Makasih banyak ya Bi."
"Pak Didi, bisa jemput saya di pintu gerbang farmhouse?"
"Kayaknya dia betulan Mommynya Gita. Atau paling gak calon. Dibandingkan dia, aku mah apa? Cuma rengginang," batin Miss Lia.
Bahkan saat naik mobil sekalipun, Gita belum mau melepaskan Julie. Julie jadi sedikit kesulitan
"Ibu sudah punya anak?" tanya Pak Didi.
"Bukan. Pak Didi fokus nyetir aja deh. Sekalian singgah di McD atau KFC terdekat."
"Gita kita makan dulu ya." Julie membujuk Gita begitu sampai di tempat makan. Bukannya menjawab, Gita malah mempererat pelukannya.
"Gita gak boleh gitu loh. Kalau gak makan nanti kamu sakit." Gita masih bergeming. Julie menarik nafas.
"Pak Didi tolong turun beliin saya makanan ya. Happy meal satu, panas dua yang pedas. Sekalian Bi Asih sama Pak Didi beli aja juga. Uangnya itu ambil di dompet. Saya tunggu di mobil aja sama Gita."
"Saya gak usah Bu. Saya udah banyak ngerepotin."
"Emangnya Bibi ngerepotin apa?"
"Sudah tugas Bibi menjaga Gita, tapi malah Bu Julie yang jaga."
"Namanya juga anak kecil Bi. Kalau udah lengket ya udah. Bibi ikut beli saja, biar nanti kuat jaga Gita."
"Makasih banyak Bu."
"Gita, mau sampai kapan sih Gita ngambek? Kalau keseringan ngambek nanti jelek loh."
"Biarin," jawab Gita.
"Kalau jelek nanti Tante Julie gak sayang lagi loh."
Gita langsung melepas pelukannya dan menatap Julie.
"Tante Julie gak sayang sama Gita?"
"Sayang, tapi kalau Gita ngambek terus jadi gak sayang."
Gita menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
"Gita tahu Gita salah manggil Tante Julie Mommy. Tapi Gita juga gak mau diejek terus."
"Kenapa gak tanya Daddy aja? Suruh Daddy cari Mommy baru." Gita menggelengkan kepala dengan lemas.
"Di rumah gak ada yang senang kalo Gita bicara soal Mommy. Gita gak mau dibenci, makanya Gita gak mau minta Mommy baru."
"Astaga anak sekecil ini sampai harus berpikir begini," batin Julie mengelus rambut Gita.
"Tante yakin, kalau Gita ngomong baik-baik Daddy pasti mau dengar," Julie memberi saran.
"Gita gak mau lihat Daddy sedih karena ngomongin beginian. Daddy, Nenek, Om Kevin, Tante Anna dan Bi Asih aja sudah cukup."
"Gita anak yang baik ya. Gita pasti sayang banget sama semua orang." Julie masih terus mengelus rambut Gita.
"Gita sayang semuanya. Tante Julie juga."
"Tapi kalau Tante Julie mau jadi Mommy Gita, Gita bakal senang. Soalnya Gita suka Tante Julie."
"Aduh, itu agak susah sih."
"Kenapa?" tanya Gita.
"Daddy kan belum tentu suka sama Tante."
"Daddy pasti suka, soalnya Tante cantik dan baik."
"Gimana kalau Gita coba tanya ke Daddy."
"Tanya apa?"
"Daddy mau gak sama Tante."
Gita kembali memeluk Julie.
"Gak mau. Gita gak mau tanya. Nanti Daddy sedih." Julie menarik nafas dan membelai rambut Gita.
"Maaf Bu, agak lama. Antriannya agak panjang." Bi Asih dan Pak Didi sudah kembali.
"Gak apa-apa kok Bi. Bibi juga beli kan?"
"Ia Bu, terima kasih banyak." Julie hanya tersenyum
next>>>