The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 20 Gosip 2



"Ikut ke kantor?" tanya Anna.


"Buat apa Nek?" tanya Kevin.


Alex menatap Nenek bingung.


"Ya untuk menghabiskan waktu saja. Dari pada nganggur, mending jalan- jalan saja. Ia kan?" seru Nenek.


"Nanti Anna mengganggu lagi." seru Anna


"Ya kamu kan gak perlu ikutin mereka berdua terus," balas Nenek.


Nenek menatap Kevin dan Anna bergantian.


"Kevin kan bisa suruh salah satu sekretarisnya ajak Anna jalan-jalan di kantor. Ia kan Vin?" tanya Nenek.


Kevin bingung menjawab. Baru saja Kevin mau buka mulut, Nenek bicara lagi.


"Ok, kalau begitu sudah ditentukan. Anna bakal ikut."


"Nanti yang anterin Gita siapa dong?" Gita bertanya polos.


"Nanti Gita bisa ikut mobil Daddy. Nanti Daddy turunin di sekolah," saran Nenek.


"Mau," teriak Gita senang.


Kevin melotot ke arah Nenek.


"Kenapa? Gak boleh?" tanya Nenek galak.


"Ia. Boleh kok. Boleh banget. Ia kan Daddy?" Kevin melotot ke arah Alex.


Alex hanya mengangguk sambil tersenyum pahit.



Sesampainya di sekolah Alex menggendong Gita turun dari mobil.


"Gita jangan nakal ya," seru Alex mengelus kepala Gita.


"Dadah Daddy." Gita mencium pipi Alex.


"Dadah om Kevin, Tante." Gita berlari masuk.


Alex terseyum pada guru yang menjaga di dekat pintu masuk dan kembali ke mobil.


"Hah..." Kevin, Anna dan Alex menghela nafas bersamaan.


"Aduh, kenapa juga kamu gak nolak Nenek," Kevin bertanya pada Anna.


"Lah, kamu sendiri gimana? Emang kamu bisa nolak Nenek?" protes Anna.


Kevin tidak bisa menjawab.


"Bisa gak?" tanya Anna lagi.


"Ok. Aku juga gak bisa nolak Nenek," jawab Kevin.


"Jadi sekarang gimana?" tanya Alex.


"Ya ke kantor lah." Kevin dan Anna bicara berbarengan dengan kesal.



Sesampainya merka di kantor.


Mata semua karyawan yang ada di pintu depan, tertuju pada Anna yang turun dari mobil Kevin.


"Untung masih sempat ganti baju tadi," batin Anna mengikuti Kevin.


Begitu masuk ke lobi kantor, semakin banyak mata yang memperhatikan Anna. Hal ini membuat Anna canggung. Tidak lama setelah Kevin, Anna dan Alex masuk ke lift. para karvawan mulai sibuk dengan


grup chat masing-masing.


"Eh, guys hot news. Pak Kevin bawa cewek ke kantor."


"Serius."


"Serius. Aku juga sempat liat tuh cewek turun dari mobil Pak Kevin."


"Oh my God."


"Karyawan baru kali."


"Mana karyawan baru diantar sama bos?"


"Vanessa dieliminasi dong?"


"Jangan-jangan sebelas dua belas lagi sama Vanessa."


"Dari tampangnya sih, sepertinya cuma setahun dua tahun dari Vanessa."


Percakapan di chat grup karyawan semakin tidak terbendung lagi. Dinda juga sibuk dengan chatnya. Dinda segera berhenti begitu melihat Kevin dari jauh.


"Selamat pagi pak," sapa Dinda. Dinda melirik Anna dengan penasaran.


Anna mengikuti Kevin ke ruangannya, sementara Alex pergi ke mejanya. Dinda masih mengikuti Anna dengan matanya. Alex membawa beberapa berkas dan mendapati Dinda berusaha mengintip ke ruangan Kevin.


"Ehmm..." Alex berdehem keras.


"Eh, Pak Alex." Dinda salah tingkah.


"Bikin kopi sana," perintah Alex.


"Baik Pak." Dinda berlalu pergi.


Saat Dinda di pantry kantor, Riri datang.


"Dinda, kamu udah liat cewek yang datang sama Pak Kevin?"


"Cuma dikit," jawab Dinda.


"Gimana sih, padahal tempat duduknya pas di depan ruangan Pak Kevin."


"Bacot, ini juga harusnya kan kamu yang bikin kopi," protes Dinda.


"Ya udah sini, aku yang buat," balas Riri.


"Eh, gak perlu. Aku masih mau lihat cewek yang tadi."


"Tapi kok yang kamu bikin kopi hitam?" tanya Riri.


"Cappucino lagi habis," jawab Dinda.


"Masa sih? Kok kamu gak beli?" tanya Riri.


"Kalau cuma sekali Pak Kevin gak akan marah," seru Dinda percaya diri.


"Aku gak tanggung ya," seru Riri


Dinda masuk ke ruangan dan melihat Anna duduk di sofa. Dinda menyajikan kopi untuk Anna terlebih dahulu, kemudian beralih ke Kevin.


"Makasih," Kevin menoleh sebentar.


"Loh, kok bukan cappucino?" tanya Kevin melihat kopinya.


"Cappucino instannya habis Pak," jawab Dinda.


"Kenapa gak di stok sebelum habis? Masa saya juga harus periksa stok pantry," seru Kevin marah.


"Maaf pak," jawab Dinda.


"Cuman masalah kayak gitu kok marah sih?" protes Ella.


"Kalau tidak disiplin dalam hal kecil, nanti kerjaan penting lain juga jadi tidak disiplin."


"Ya tapi kan gak perlu pakai urat Ken. Itu kan cuma kopi tinggal diminum aja," balas Anna.


"Aku gak minum kopi pahit Anna," balas Kevin.


"Astaga pemilih banget sih. Kalau gak bisa bikin gak usah protes," seru Anna.


"Guys, bisa jangan berantem di sini?" tanya Alex tapi dicuekin.


"Bikin kopi doang masa gak bisa? Emang kamu bisa?" tantang Kevin


"Emangnya yang kemarin dan tadi pagi bikinin kamu kopi siapa?" tanya Anna


Kevin terdiam sebentar.


"Ya udah kalau gitu bikinin lagi," seru Kevin.


"yaudah aku bikinin," balas Anna.


Dinda dari tadi hanya berdiri dengan bingung.


"Mbak, bisa arahin saya ke pantry gak?" tanya Anna ke Dinda.


"Oh, ia. Bisa Bu. Mari saya antar," jawab Dinda.


"Alex juga mau kopi?" tanya Anna sebelum keluar.


Alex menatap Kevin dan kemudian menjawab,


"Americano."


"Hot or ice?" tanya Anna.


"Ice," jawab Alex.


"Less ice," sambung Kevin.


"Siapa juga yang tanya kamu." Anna menghilang di balik pintu.


"Bisa gak usah berantem di kantor?" tanya Alex.


Kevin hanya diam dan segera kembali ke berkasnya.


Dinda masuk duluan ke pantry, di sana masih ada Riri.


"Gimana? Kamu sudah liat orangnya?" tanya Riri antusias.


"Dinda menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Kamu kenapa?" tanya Riri.


Anna tampak dari balik pundak Dinda.


"Ada apa?" tanya Anna.


"Oh, gak ada apa-apa Bu. Mari masuk ini pantrynya."


Dinda memberi kode pada Riri yang langsung mengerti.


"Selamat pagi Bu," sapa Riri.


"Kok dari tadi panggil Ibu sih. Panggil Anna saja, toh sepertinya kita seumuran."


"Mana boleh kami tidak sopan pada tamu Pak Kevin," jawab Dinda.


Riri mengangguk.


"Kalau gitu panggil Mbak saja gimana?" saran Anna.


Riri dan Dinda saling melirik dan menjawab bersamaan,


"Baik Mbak."


"Saya belum tahu nama kalian loh?" tanya Anna.


"Saya Dinda dan ini Riri Mbak. Kami berdua sekretarisnya Pak Kevin."


"Perkenalkan Riri," sapanya.


"Mau sekalian saya bikinin kopi?"


"Gak usah Bu. Eh, Mbak." Riri keceplosan.


"Gak apa-apa kan sekalian," balas Anna.


Riri dan Dinda saling melirik lagi. Anna menunggu jawaban.


"Kalau begitu saya kopi biasa aja Mbak," jawab Riri.


"Saya gak terlalu suka minum kopi mbak," jawab Dinda.


"Kalau begitu ice americano untuk Mbak Riri. Terus untuk Mbak Dinda mau coba latte macchiato? Itu bagus buat yang baru mau minum kopi." kata Anna


"Boleh deh Mbak," jawab Dinda ragu-ragu.


"Ok, kalau begitu boleh sekalian bantuin saya? Saya gak tau lokasi penyimpanan di pantry ini," kata Anna.


"Boleh, Mbak butuh apa?"


"Biji kopi yang agak kasar, susu, es batu. Eh, ada dua french press di sini," seru Anna.


"Wah, ada sirup caramel juga. Lengkap ya di sini." Anna kagum.


Setelah semua peralatan terkumpul, Anna mulai bekerja. Dengan teliti Anna membuat kopi layaknya barista profesional. Dinda dan Riri bahkan kagum melihatnya.


Setelah selesai Anna kembali keruangan Kevin.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk." jawab Kevin


Dinda membantu Anna membawa nampan.


"Pesananya sudah siap," seru Anna.


Alex yang tadi sempat keluar, masuk mengikuti Anna. Sementara Dinda langsung keluar begitu selesai menata kopi di atas meja. Kevin segera mencicipi kopi buatan Anna.


"Enak kan?" tanya Anna sambil minum kopinya sendiri.


"Kamu belajar bikin kopi dari mana?" tanya Kevin.


"Waktu kuliah aku pernah kerja sambilan di cafe," jawab Anna.


"Enak. Rasanya mirip yang di cafe," puji Alex.


Anna tersenyum bangga.


"Na, kamu mau jalan-jalan keliling kantor?" tanya Kevin.


"Emangnya apa yang bisa dilihat? Semua kantor kan sama saja."


"Terserah kamu sih. Tapi dari pada kamu gak ada kerjaan."


"Kalau gitu boleh deh," jawab Anna.


Kevin menekan telpon yang langsung tersambung ke meja Riri.


"Dengan Riri ada yang bisa dibantu?"


"Riri kamu masuk ke ruangan saya."


"Baik pak." Tidak lama kemudian Riri masuk.


"Saya minta tolong kamu antar Anna keliling kantor."


"Baik Pak, mari saya antar."


"Makan siang nanti jadwalku kosong kan?" tanya Kevin.


"Kosong kok," jawab Alex.


"Pesan tempat makan dong. Kita makan di luar aja."


"Ok."


Saat Riri dan Anna keluar ruangan, mereka mampir di meja Dinda.


"Saya antar Mbak Anna keliling kantor dulu ya," lapor Riri.


Ketika Alex keluar dari ruangan, dia juga singgah ke meja Dinda.


"Tolong pesankan Pak Kevin tempat untuk makan siang berdua. Lokasinya kamu atur aja, tapi jangan terlalu jauh."


Bukannya langsung mengerjakan perintah Alex. Dinda langsung menyebar gosip di grup chat karyawan.


"Perhatian, Mbak Anna akan keliling kantor."


"Siapa tuh Mbak Anna?"


"Itu cewek yang dibawa sama Bos."


"Dia juga tadi bikinin bos kopi di pantry."


"Eh, serius dia yang bikinin?"


"Kalau gak percaya tanya saja Riri."


"Sebaik itu orangnya?"


"Ia, tadi waktu aku dimarahin Pak Kevin dia bantuin aku."


"Baik banget tuh. Pantas sih kalau Pak Kevin suka dia."


"Pak Kevin bahkan suruh aku pesan tempat buat makan siang berdua."


"Masa sih, Pak Kevin yang jarang makan itu?"


"Wah, hebat."


Demkianlah gosip semakin tersebar luas dikantor.


next>