The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 100 Kalah



"Bi. Bi Rini," Vanessa berteriak kencang. Karena tidak menerima jawaban. Vanessa turun dari ranjang dan mencari asisten rumah tangganya.


"Bi Rini," teriak Vanessa lagi.


"Ke mana sih orang tua ini?" gumam Vanessa kesal.


"Ada apa Non?" Bi Rini berlari mendekat.


"Sarapan saya mana?"


"Mau dibawakan ke kamar?"


"Gak usah. Saya sudah di bawah juga."


"Papa mana?" tanya Vanessa sambil duduk di depan counter dapur.


"Dari kemarin belum pulang Non."


"Tumben," gumam Vanessa.


Terdengar suara pintu depan terbuka dengan kasar. "Vanessa." Suara menggelegar Mahesa terdengar.


"Bi Rini," teriak Mahesa.


Bi Rini segera menghentikan segala kerjaannya, pergi menyapa tuannya. "Ada apa tuan?"


"Papa kenapa sih teriak-teriak gitu," gumam Vanessa malas. Walaupun tahu dirinya dicari, Vanessa tetap bergeming.


"Mana Vanessa?" tanya Mahesa marah.


"Ada di dapur Pak." Mahesa segera menghampiri anaknya di dapur dengan emosi membuncah.


"Vanessa." Mahesa menarik lengan Vanessa.


"Papa kenapa sih? Kok kasar gini?" tanya Vanessa kesal.


"Kalau kamu gak bohong sama papa, papa gak mungkin kayak gini."


"Maksud Papa apa sih?"


"Sampai kapan kamu mau bohong sama papa?"


"Maksud Papa apa? Aku pernah bohong apa?" Vanessa balik berteriak.


"Anak yang kamu kandung bukan anak Kevin kan?"


"Papa dengar hoax dari mana?"


"Hoax? Kamu masih juga bohongin papa?"


"Masalahnya memang Vanessa gak bohong. Itu kenyataan."


Dengan geram Mahesa memperdengarkan rekaman suara Vanessa. Vanessa sangat terkejut mendengar rekaman itu.


"Papa lebih percaya rekaman ini dari aku? Rekaman ini cuma editan Pa," Vanessa masih berusaha mengelak.


"Papa sudah suruh orang mengecek keaslian rekaman ini Vanessa. Mereka sudah membuktikan ini bukan editan. Kamu masih mau bohong?"


Vanessa sudah tidak bisa membantah lagi. "Bersiaplah kita akan ke rumah Mike sekarang juga. Dia harus tanggung jawab."


Vanessa membulatkan mata tidak percaya. "Aku gak mau. Aku cuma mau sama Kevin."


"Berhentilah berhalusinasi Vanessa. Kevin itu tidak suka padamu. Bersikap baiklah kalau tidak mau jadi gembel."


"Sekarang Papa ngancam aku?" tanya Vanessa sinis.


"Ini bukan ancaman," bentak Mahesa.


"Kevin akan membatalkan semua perjanjian kerjasama. Tidak dia sudah membatalkannya," lanjut Vanessa.


Mahesa memegang pundak Vanessa. "Setidaknya kalau kamu menikahi Mike Laksono, kehidupan kita tidak akan terlalu buruk."


Mahesa menjeda kata-katanya. "Jadilah anak yang baik Vanessa dan pergilah bersiap-siap."


Kali ini Vanessa menuruti perintah ayahnya, tapi tentu saja dengan hati yang panas. Vanessa membanting pintu dengan keras.


"Sialan. Bagaimana bisa sampai ketahuan gini?" gumam Vanessa. "Aku harus melakukan sesuatu, tapi apa?" Vanessa lanjut bergumam.


Vanessa berjalan bolak balik di dalam kamarnya, berusaha untuk berpikir. "Aku gak mau jadi gembel. Apapun akan kulakukan untuk itu."


"Ya. Mari nikahi saja Mike, setelah setahun aku bisa menceraikannya. Biar kutelpon dia."


"Halo Mike?" Vanessa langsung menyapa.


"Ada apa mencariku? Mau tidur bersama lagi? Aku penasaran bagaimana rasanya ibu hamil."


"Berhentilah berpikiran kotor. Mereka sudah tahu rencana kita," seru Vanessa.


"Rencana yang mana?" tanya Mike.


"Mereka sudah tahu kalau ini bukan anak Kevin. Bahkan papa juga sudah tahu kalau ini anakmu."


"Sorry, anak siapa?" tanya Mike.


Mike tertawa terbahak-bahak. "Apa yang kamu tertawakan?" tanya Vanessa geram.


"Apa kamu yakin itu anakku?" tanya Mike.


"Apa maksudmu Mike?"


"Mana kutahu kamu sudah tidur dengan siapa saja?"


"Apa kamu gila? Kamu satu-satunya pria yang pernah tidur denganku."


"Bagaimana kamu membuktikannya sayang?"


"Bukti katamu?"


"Kemarin kamu menuduh Kevin menghamilimu, sekarang kamu menuduhku. Besok kamu ingin menuduh siapa lagi?"


"Kalau kamu ingin bukti ayo kita tes DNA," Vanessa menantang.


"Maaf, tapi aku sama sekali tidak mau."


"Apa maksud kata-katamu itu? Kamu ingin lari dari tanggung jawab?"


"Walaupun hasil tes DNA mengatakan itu anakku, aku tidak akan pernah menikah dengamu."


"Oh ya. Kita lihat saja apa pendapat orangtuamu tentang hal ini."


"Bertanyalah pada mereka, aku tidak peduli."


"Apa?" Vanessa terkejut dengan respon Mike.


"Sudah dulu ya sayang. Aku ada janji dengan perempuan lain."


"Halo. Mike?" Mike sudah memutuskan sambungan telponnya.


Vanessa membanting ponselnya di atas ranjang. "Sialan."


Terdengar ketukan di pintu kamar Vanessa. "Non. Tuan besar sudah menunggu di bawah."


"Sebentar lagi aku turun," teriak Vanessa.


"Tidak apa-apa Vanessa. Orangtua Mike tidak akan tega membiarkan cucu mereka." Vanessa pergi dengan kepercayaan diri penuh.


"Maaf Mahesa, putraku Mike tidak akan menikah dengan putrimu." Anthony menatap sinis pada Mahesa.


Vanessa terhenyak mendengar pernyataan ayah Mike itu. "Tapi Anton, Vanessa sedang hamil anak Mike."


"Kemarin Vanessa menuduh Kevin sebagai ayah anak yang dikandungnya, sekarang dia menuduh anakku. Besok kamu ingin menuduh siapa lagi?"


Kata-kata pedas itu terlontar dari Meri, ibu kandung Mike. "Ibu dan anak sama saja," batin Vanessa dengan kesal.


"Kami bersedia melakukan tes DNA jika diperlukan," Mahesa masih berusaha. Anton mendengkus dengan kasar.


"Kami akan memberikan uang bulanan untuk bayi itu, tapi jangan pernah mengharapkan pernikahan."


"Apa maksud dari kata-katamu itu Anton?"


"Mike akan segera menikah dengan anak dari orang terkaya di Indonesia. Kami tentu tidak akan menyianyiakan kesempatan ini hanya untuk membantumu."


"Tidak bisakah kamu melihat anakk..."


"Cukup Pa." Vanessa memotong kalimat Mahesa.


"Aku tidak mau jadi pengemis di sini."


Vanessa berdiri dan beranjak pergi setelah melontarkan kalimat itu. "Vanessa." Mahesa mengejar anak semata wayangnya itu.


"Vanessa. Kita bisa coba bicarakan lagi. Jangan pergi seperti ini." Mahesa berhasil mengejar Vanessa.


Vanessa melepaskan genggaman tangan papanya. "Apa Papa mau merendahkan diri pada semua orang?"


"Menurutmu karena siapa papa melakukan semua ini? Ini demi kamu Vanessa. Karena kesalahan yang kamu buat."


Vanessa tersenyum kecut. "Benar ini semua karena kesalahan yang kubuat. Maka biarkan aku menyelesaikan ini sendiri."


Vanessa melangkah pergi menjauhi rumah Mike. "Vanessa. Jangan pergi. Papa minta maaf, ayo kita cari jalan keluar lain."


"Sebaiknya Papa tidak mengikutiku. Aku akan berbuat hal nekat kalau Papa terus mengikutiku," Vanessa membentak.


Kali ini Mahesa membiarkan putrinya. Vanessa menahan taksi kosong yang kebetulan lewat.


Setelah berkeliling selama satu jam. Vanessa minta berhenti dilingkungan yang tidak dikenalinya.


Vanessa berjalan tak tentu arah, merenungi nasibnya. "Memangnya aku salah apa? Kenapa semua orang menolakku seperti ini?" gumamnya pelan.


Vanessa tidak memperhatikan arah jalannya. Dia menyebrang jalan tanpa memperhatikan sekitarnya.


Tin... tin...


Suara klakson mengembalikan Vanessa ke dunia nyata. Vanessa berbalik ke arah datangnya suara, tapi sudah terlambat. Vanessa sudah tidak bisa menghindari motor yang melaju kencang.


next>>>