
"Istriku tersayang lagi ada di mana?" tanya Kevin dari ponsel Anna.
"Aku lagi kunjungan cafe. Bentar lagi juga selesai. Meetingnya udah?"
Kevin berdecih dengan kesal.
"Mulai saja belum. Benar-benar jam karet," protes Kevin.
"Jangan marah-marah dong, nanti gantengnya hilang."
"Kalau begitu hibur aku," pinta Kevin.
"Gimana kalau jam makan siang aku jemput kamu? Sekalian aku ketemu sama teman-teman lamaku."
"Sebenarnya kamu mau ngajak aku makan, atau aku dijadiin alasan buat ketemu sama temanmu?"
"Ngajak suamiku tercinta makan, sambil ketemuan dengan teman lama," jawab Anna manja.
"Ya sudah lah, tapi gak gratis ya."
"Pelit amat sih jadi suami. Kamu mau apa?" tanya Anna.
"Mau kamu," jawab Kevin.
"Apaan sih," Anna tersipu malu.
"Aku serius. Hari ini aku mau minta jatah lebih," goda Kevin.
"Hush, nanti ada yang dengar."
"Cuma Alex kok yang dengar," balas Kevin.
"Sudah ah. Ken kerjanya cuma ngerjaiin aku."
"Aku tunggu ya jam makan siang. Meetingnya juga sudah mau mulai. Bye."
"Bye," balas Anna.
"Boleh tolong bungkusin kuenya," seru Anna pada kasir.
"Boleh Mbak mau yang mana?"
Setelah membayar kue yang dipilih dan menyelesaikan kerjanya, Anna segera berangkat ke kantor lamanya. Walaupun sekarang Anna atasan di B Cafe, dia selalu membayar apapun yang dipesannya.
Setelah mobil Anna terparkir dengan cantik, Anna langsung turun setelah dibukakan pintu oleh sang sopir. Hari ini mood Anna sedang bagus.
Kevin yang menjabat sebagai komisaris di TC Bank, sedang meeting dengan direksi. Dan disinilah Anna berada, kantornya yang lama. Tempat Kevin meeting.
Dari jauh Anna melihat pintu lift hendak menutup.
"Tunggu aku mau ikut." Anna berlari kecil menuju ke arah lift.
Orang yang berada di dalam lift kebetulan mendengar Anna, segera menahan pintu lift.
"Makasih," seru Anna.
Senyum Anna hilang melihat orang yang membantunya.
"Anna?" panggil Andi.
"Kenapa aku bisa lupa kalau ada orang ini di sini?" batin Anna. Anna hanya membalas sapaan Andi dengan senyum tipis.
"Ngapain di sini?" tanya Andi.
"Suamiku sedang meeting di sini," jawab Anna singkat.
"Oh," seru Andi.
Lift berhenti di lantai satu. Anna dan Andi melangkah bersamaan.
"Silahkan duluan." Andi membiarkan Anna duluan.
Andi mengekor dibelakang Anna.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Anna kesal.
"Aku ingin ke ruanganku. Bukannya kamu harusnya ke ruang meeting lantai lima?"
"Saya mau ketemu Sri dan Windi dulu." Anna kembali berjalan ke arah teller. Berhubung kedua temannya sedang melayani nasabah, Anna menunggu dengan sabar di sudut counter.
"Anna." Windi langsung berteriak begitu sudah tidak ada nasabah terlihat di antrian. Anna berjalan mendekati counternya.
"Jangan teriak-teriak, ini masih jam kerja tahu."
"Siap Bu Komisaris," ejek Windi.
"Apaan sih?" Sri datang menyapa Anna.
"Anna. Aduh makin cantik saja sih."
"Bisa aja. Nih, buat kalian semua ngemil." Anna menyerahkan kantongan yang dari tadi dipegangnya.
"Yah. Kiraiin kue mahal dari mana? Ternyata kue dari cafe pribadi," sindir Sri.
"Itu juga dibeli tahu. Lagian cafe itu punya suamiku."
"Kamu gimana sih. Harta suami itu harta istri juga," sahut Windi.
"Ngapain berdiri di luar counter? Masuk ke belakang saja," saran Sri.
"Gak usaj deh. Nanti aku dimarahi karena ajak kalian main pas jam kerja," jawab Anna.
"Emang ada yang berani marahin Bu Komisaris?" tanya Windi. Anna tertawa mendengarnya.
"Kalau gitu, kita pergi makan siang saja. Gimana? Udah mau jam makan siang juga," Sri memberi saran.
"Aku udah janji mau makan siang sama suamiku," jawab Anna.
"Makan siangnya dua kali saja. Kamu kan sanggup makan banyak," saran Windi.
"Kalau gitu aku tanya Kevin dulu ya."
"Astaga yang gituan saja harus ditanya. Suamimu posesif ya?" tanya Windi.
Anna mengirim chat untuk Kevin.
'Aku akan temani teman-temanku makan ya sayang. Kalau kamu udah selesai, aku akan temani kamu makan lagi. Nanti aku kasih hadiah deh.' Anna menambah emoticon kiss yang banyak.
Kevin yang memasang nada notifikasi sendiri pada Anna, langsung melihat ponselnya. Sebelah bibirnya terangkat melihat pesan Anna.
'Aku mau minta hadiah yang banyak.' Kevin segera membalas Anna.
'Noted.' Anna membalas dengan singkat dan cepat.
"Mau makan di mana?" tanya Anna pada kedua temannya.
"Pak Bos, kita istirahat duluan ya." Windi langsung saja minta ijin pada Andi.
"Ini belum jam makan siang. Dan jangan teriak-teriak di sini." Andi mendekati rekan kerjanya itu.
"Kita cuma lebih cepat dua puluh menit kok. Lagian Bu Komisaris yang ajakin," sahut Sri.
"Ya sudah, tapi ingat jam istirahat kalian cuma sejam. Jangan ketempat yang jauh."
"Pelit," ejek Windi.
"Kita jadi gak bisa makan enak deh. Makan KFC aja deh Na, pas depan kantor." Bibir Sri sudah maju sekian senti
"Udah kalian beres-beres saja dulu. Aku mau sekalian ajak Julie," saran Anna.
"Oh, iya ya. Julie lagi ada seminar semingguan ini."
Julie datang tepat pada saat Sri dan Windi selesai beres-beres. Mereka segera menyeberang ke depan, tanpa membuang waktu.
"Kok Pak Bos juga ada di sini?" Windi langsung protes melihat Andi sudah ngantri beli makanan.
"Ini kan tempat umum. Suka-suka saya mau makan di mana. Kalau mau duluan silahkan saja." Andi memberi tempat untuk para wanita ini.
"Dia masih saja belum bisa move on," bisik Julie.
"Udah biarkan saja.
Ketika sampai di kasir, Andi juga ikutan pesan makanan.
"Bu Komisaris gak mau sekalian traktir aku?" tanyanya.
"Ih. Pak Bos tahu malu dong. Yang ditraktir kan cuma kita-kita," protes Sri.
"Sekalian aja kan gak apa-apa. Lagian Bu Komisaris kan yang berpenghasilan paling besar. Atau gak pernah dikasih uang bulanan ya?"
"Kevin emang gak kasih uang bulanan," jawab Anna santai.
"Masa sih?" tanya Sri. Anna mengangguk.
"Tapi, gaji komisarisnya langsung masuk rekeningku." Anna menatap Andi dengan sombong.
"Jadi gak ada masalah kok kalau aku traktir kalian semua," sambung Anna.
"Dengan senang hati Bu Komisaris," sahut Windi.
"Gaji komisari pastinya tidak bisa dibandingkan dengan gajiku, tapi siapa tahu masih ada celah lain. Aku yakin pernikahannya cuma sandiwara," batin Andi.
Ponsel Anna bergetar nyaring.
"Ya Ken. Sudah selesai? Aku ada di KFC. Mau makan apa? Biar sekalian kupesankan. Alex gimana? Oke." Anna tersenyum dengan manis.
"Kevin udah selesai?" tanya Julie.
"Belum, tapi katanya istirahat dulu."
"Pak Komis mau ke sini juga?" tanya Sri. Anna mengangguk sebagai jawaban.
"Good. Aku bisa lihat pemandangan bagus," sahut Windi.
"Pemandangan bagus apa? Dia sudah ada yang punya loh," protes Anna.
"Sudah siap memesan Bu?" tanya Mbak Kasir gak sabar.
"Aku mau pesan signature box plus fun fries bbq," Andi langsung memesan.
"Apaan sih Pak Bos, main nyelonong saja. Saya super besar satu," sambung Windi.
Mbak yang jadi kasir cukup kewalahan mengatasi grup rempong ini. Syukurnya saat makanan sudah keluar, Kevin dan Alex juga sudah datang.
"Bisa dibantu?" Kevin menghampir Anna yang baru mau mengangkat nampan.
"Bisa banget. Ini angkatin dong."Andi yang tadinya ingin menolong, langsung mundur.
Baru juga Kevin mau bergerak, ada tiga orang anak SMA datang menghampirinya.
"Kak, boleh minta nomor telpon?" seru salah satu anak sok imut.
"Maaf saya sudah punya istri," Kevin merangkul Anna dengan mesra. Andi menatap mereka dengan kesal.
"Kan cuma minta nomor telpon saja. Gak apa-apa dong?"
Anna mendengkus dengan kesal.
"Saya tidak berminat 'membeli' jasa kalian," jawab Kevin tegas.
Anak yang bertanya tadi belum mau mengalah. Kali ini mereka bertanya pada Alex.
"Kalau kakak yang ini?"
"Cuma yang satu ini yang belum sold out," seru Julie menunjuk Andi.
"Kok aku sih?"
"Emang kenyataan," jawab Windi.
"Maaf ya adek-adek, kita sama sekali gak butuh 'jasa' kalian." Alex juga menolak dengan tegas.
next>>>
Hari ini dua chap dulu ya guys... soalnya chap 68 - 70 file nya kehapus