
Entah apa yanh terjadi dengan Kevin. Sejak kejadian ciuman tempo hari, Kevin jadi lebih sering memikirkan Anna.
"Hah." Kevin menghela nafas.
"Ada yang salah Pak?" Alex juga menatapnya bingung.
Kevin tersadar, sekarang dia sedang meeting, dan baru saja menghela nafas di depan mikrofon yang menyala.
"Gak ada apa-apa. Lanjutkan saja penjelasannya," perintah Kevin pada pembawa materi saat ini.
Kevin berusaha kembali fokus pada meetingnya, tapi tidak berhasil. Wajah Anna selalu muncuk di depan matanya. Alex menatap Kevin dengan bingung.
"Kamu kenapa sih belakangan ini? Udah berapa hari loh kamu sering bengong. Makin hari makin parah pula."
Alex langsung mencecar telinga Kevin begitu sudah di ruangan dirut.
"Gak tau. Sepertinya kurang tidur."
"Emang seganas apa kamu di ranjang?" Alex tersenyum mengejek.
"Maksudnya?" tanya Kevin.
"Gak usah pura-pura bego deh," seru Alex.
"Serius. Ini otakku lagi ngeblank," balas Kevin.
"Emang suami istri ngapain malam-malam sampai gak bisa tidur?"
"Wah, sakit nih. Gak ada apa-apa. Kamu juga tahu kan kontraknya gimana?" Kevin mulai kesal.
"Eh, suaranya dipelanin dikit kek kalau bicara soal itu. Dinding juga bertelinga tau."
"Makanya jangan mancing."
"Tapi pertanyaanku serius. Kamu seganas apa sih? Atau Anna yang lebih ganas?"
"Ini anak benar-benar ya," protes Kevin.
"Aku kan cuma bertanya Vin? Kenapa nyolot?"
"Gak ada yang gituan. Orang Anna lagi datang bulan juga," jawab Kevin kesal.
"Oh, lagi tanggal merah? Bengong karena gak dapat jatah toh," ejek Alex.
"Sakit banget sih kamu Lex. Dari awal gak ada gituan." Kevin mulai marah.
"Serius Vin? Kok kamu bisa tahan? Hebat banget."
"Maksudnya?" Kevin balik bertanya.
"Mana ada cowok yang bisa tahan nafsunya, kalau tidur disebelah cewek yang dia suka. Mana ceweknya cantik lagi," kata Alex.
"Anna emang cantik sih. Tapi tunggu dulu, tadi kamu bilang apa?" tanya Kevin.
"Mana ada cowok yang bisa tahan nafsunya, kalau tidur disebelah cewek yang dia suka," Alex mengulang perkataannya.
"Aku? Suka sama Anna?" tanya Kevin. Alex menjawab dengan anggukan.
"Wah, ngaco. Kamu sakit Lex? Gak mau ke dokter?"
"Makasih bro, tapi aku sehat. Justru kamu yang perlu ke dokter."
"Aku?" Kevin menatap Alex dengan bingung.
"Ia, dokter cinta." Alex tertawa keras.
"Eh, ini anak berani-beraninya. Mau dipecat ya?" ancam Kevin. Alex tertawa sangat keras.
"Ngaku aja kenapa sih?" Alex masih berusaha menahan tawa.
"Ngaku kepalamu. Pada kenyataannya aku emang gak suka dia."
"Ini kamu gak mau ngaku atau gak sadar sih?" tanya Alex serius.
"Maksudnya?"
"Gak dengar gosip yang beredar di kantor?" tanya Alex. "Gosip apaan?" Kevin balas bertanya.
"Pak Bos Kevin dan istrinya mesra amat sih. Gak nyangka Pak Bos bisa semanja itu sama istrinya." Alex sambil merekspreis lucu.
"Manja? Romantis?"
"Sejak kapan aku gitu?" tanya Kevin kesal.
"Sejak Anna kerja di sini mungkin," jawab Alex serius.
"Gila. Bakalku pecat semua karyawan yang suka gosip." Kevin terlihat sangat kesal.
"Sekalian aja tutup nih kantor, berhubung 99 persen karyawan pasti bergosip."
Kevin menghela nafas.
"Daripada pusing, aku mau pergi santai dulu." Kevin beranjak dari kursinya.
"Ngakunya gak suka, tapi terus-terusan cari Anna di ruangannya. Dasar gak peka,"gumam Alex. Begitu sampai di lantai delapan, Kevin bergegas menuju ruangan Anna sambil bersiul pelan.
"Selamat siang Pak," sapa Kiki cuek. Kiki tahu Kevin tidak akan mendengar sapaannya, tapi demi menjaga kesopanan Kiki tetap menyapa bosnya.
Kevin membuka pintu ruangan Anna tanpa mengetuk, tapi ruangannya kosong. Dengamoon n dahi berkerut, Kevin berbalik pada Kiki.
"Mbak Anna tadi bilang, kalau Pak Kevin datang disuruh menunggu saja di dalam." Kiki langsung menjawab tanpa ditanya.
"Ke mana?"
"Eh, Kevin sudah datang."
Kevin langsung tersenyum melihat Anna.
"Makasih," jawab Kevin mengambil nampan dati tangan Anna. Nampan itu memang berisi minuman Kevin dan Anna.
"Lain kali suruh OB saja yang bawaiin. Masa istriku di kantor bawa-bawa ginian," protes Kevin. Anna menutup pintu ruangannya.
"Aku malas kalau harus keluar lagi panggil OB," jawab Anna.
"Memangnya gak ada OB yang standby di pantry?"
"Emang kamu pikir OB kamu gak ada kerjaan, sampai nongkrong di pantry terus."
"Apa aku rekrut OB baru saja ya? Khusus untuk nongkrong di pantry," seru Kevin serius.
Anna menggeleng dan duduk di sebelah Kevin.
"Gak usah segitunya juga kali." Kevin menyesap hot cappucinonya dengan santai.
Anna memperhatikan setiap gerakan Kevin dengan seksama.
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Gak, aku cuma merasa kamu itu lucu."
"Lucu bagaimana?"
"Kamu cuma mau minum kopi buatanku."
"Karena enak," jawab Kevin santai.
"Itu saja?" tanya Anna.
Kevin menganggukkan kepala. Anna tersenyum tipis.
"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Anna.
"Cuma mau minum kopi," jawab Kevin.
"Kamu benar-benar aneh deh," seru Anna lesu.
"Kok tiba-tiba lesu?" tanya Kevin.
"Masih efek datang bulan mungkin?"
"Masih belum selesai? Bukannya udah lima hari?" tanya Kevin.
"Udah selesai sih, tapi moodku belum kembali."
"Aku udah bilang belum, kalau besok Kakek Rama bikin acara keluarga?"
"Kakek Rama yang mana?" tanya Anna.
"Itu loh saudaranya Kakekku."
"Saudaranya Kakek Putra?" Anna berusaha mengingat. Mereka berdua sedang membicarakan almarhum suami Nenek Ratih.
"Oh,ia aku ingat sekarang. Yang mukanya mirip Kolonel Sanders kan?" seru Anna. Kevin tertawa mendengarnya.
"Kok ketawa? Emang mirip kok," protes Anna.
"Ia, emang mirip sih. Cuma aku baru sadar." Anna memajukan bibirnya.
"Gitu aja marah," goda Kevin.
"Gak marah kok, cuma kesal." Kevin berusaha menahan tawa.
"Pokoknya, beliau ngajakin kumpul keluarga."
"Aku harus ikut?" tanya Anna.
"Pasti lah. Kamu kan sudah jadi bagian keluarga."
"Aku harus pakai baju apa?" tanya Anna.
"Apa aja yang kamu pakai cantik."
"Apaan sih," seru Anna malu.
"Serius," balas Kevin.
Anna tersenyum senang. Dia terus mempehatikan setiap gerakan Kevin.
"Gimana nih? Jantungku terus berdebar," batin Anna.
Belakangan ini Anna tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kevin. Setiap ada Kevin, jantungnya pasti berdebar kencang.
Keinginan Anna untuk selalu memanjakan Kevin juga menjadi lebih besar. Kevin juga tidak pernah menolak perlakuan spesial Anna.
Seperti sekarang ini, Kevin merebahkan kepalanya di pangkuan Anna. Belakangan Kevin cukup sering ke ruangan Anna, hanya untuk sekedar berbaring.
Anna juga dengan senang hati mengelus kepala Kevin. Bahkan kadang sampai Kevin tertidur.
Jantung Anna kini berdetak lebih kencang.
"Semoga gak kedengaran sama Kevin," batin Anna. "Ya Tuhan, ada apa denganku? Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada laki-laki ini."
next>>>