The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 22 Kehebohan



"Katanya sudah gak bisa ditarik lagi. Hari ini tabloidnya terbit lebih cepat tiga jam dari biasanya," seru Alex.


"Mereka ini tabloid bisnis atau majalah gosip sih?" protes Kevin.


"Artikel online mereka jauh lebih populer lagi." Alex melihat ponselnya.


"Sudah di komen lebih dari lima ratus ribu orang." ucapnya lagi


Pintu ruangan Kevin yang terbuka, membuatnya bisa mendengar Dinda yang dari tadi sibuk mengangkat telpon.


"Sepertinya, ini sudah masuk ke infotainment gosip deh." Alex memperlihatkan ponselnya.


"Ini sudah dilike lebih dari satu juta orang." ucapnya lagi


"Udah. Aku gak mau dengar lagi." Kevin memandang keluar ruangan.


"Itu pintu di tutup dong. Berisik banget," perintah Kevin.


Alex menutup pintu, sementara Kevin berjalan bolak-balik di dalam ruangan.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," seru Alex.


Dinda masuk dengan ekspresi khawatir.


"Maaf, Pak ini ada stasiun tv yang bersikeras bicara sama Pak Kevin."


"Bilang udah pulang," jawab Kevin ketus.


"Terus Pak, ada laporan dari security. Katanya di bawah banyak wartawan," seru Dinda pelan.


"Wartawan?" Kevin dan Alex segera menuju ke jendela dan melihat ke bawah.


Dari lantai sepuluh saja sudah terlihat banyak orang berkumpul di bawah. Kevin


langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Gimana aku bisa pulang?" seru Kevin.



"Halo, kenapa Li?" tanya Anna mengangkat ponsel.


"Kamu di mana?"


"Di kantor lha Li. Masih ada empat puluh lima menit juga sebelum pulang kantor. Emang kenapa?"


"Kamu benaran mau nikah sama Kevin?"


"Hah? Ngaco kamu. Belum ada pembicaraan ke situ. Kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu sih?"


"Coba kamu liat sosmed. Atau coba cari berita soal Kevin di internet."


"Bentar... Bentar..."


"Eh, gila katanya Kevin Bramantara mau nikah." Sri berteriak dari tempat duduknya. Anna berbalik kaget.


"Masa sih,?" Windi mendekat ke tempat Sri.


Anna dengan cepat ikutan nimbrung.


"OMG. Cowok ganteng, tajir terkeren se Indonesia udah mau kawin. Patah hati deh aku," seru lebay Windi.


"Gimana?" tanya Julie.


"Aku gak tau apa- apa. Serius," jawab Anna.


"Ya itu kenapa coba yang di berita?" tanya Julie.


"Aku gak tahu. Aku coba tanya Kevin deh."


"Ya udah, pokoknya kamu jangan pulang dulu. Aku lagi perjalanan ke Jakarta. Paling sejam lagi sampai."


"Hah?"


Anna segera pergi ke toilet untuk menelpon Kevin


"Ken. Itu yang di berita dan sosmed itu apaan? Sampai heboh gitu" tanya Anna begitu Kevin mengangkat telpon.


"Aduh kamu lagi, aku sendiri lagi pusing tau. Ini depan kantor banyak wartawan gak tau gimana caranya pulang."


"Kok, bisa?"


"Mana ku tahu," jawab Kevin.


"Eh, tapi di rumah gak bakal ada wartawan kan?"


"Di depan rumah gak ada. Depan kompleks banyak," jawab Kevin.


"Serius? Terus aku pulang gimana?" tanya Anna.


"Kamu mau pulang ya pulang aja. Gak ada juga yang kenal kamu."


"Iya, ya."


"Oh, kalau gitu aku ada ide bagus nih. Biar kamu bisa pulang." seru Anna.


#########


"Kamu mau aku ke mana?" tanya Julie.


"Sekarang kita ke kantor Kevin dulu jemput dia. Terus pulang ke rumah Kevin," jawab Anna.


"Aku datang dari Bandung ke sini Jakarta Utara. Terus kamu suruh aku ke Jakarta Pusat jemput Kevin, lalu lanjut lagi ke Jakarta Barat." Anna mengangguk.


"Ayolah Li, kamu gak usah pulang ke rumah dulu. Nginap aja di rumah Kevin dulu. Nanti biar gantian nyetir sama Kevin. Biar semuanya cepat diselesaikan."


"Awas ya, besok kamu harus traktir aku di restoran mahal." Julie akhirnya setuju.


Setibanya dikantor Kevin.


"Ken kamu di mana sih? Lama banget turunnya," Anna mengomel di telpon.


"Ia, ini aku sudah di parkiran. Mobilnya yang mana?" Julie mematikan lalu menyalakan lagi lampu depan mobil sebanyak dua kali.


"Itu kali Vin yang lampunya kedap-kedip."


"Lama sekali sih?" tanya Anna.


Kevin dan Alex naik ke mobil Anna.


" Bawel banget," protes Kevin.


"Eh, Li yakin gak mau tukaran nyetir?" tanya Anna.


"Gak usah, ini kaca depannya gak terlalu gelap. Nanti bisa ketahuan, mending sembunyi aja di belakang." Sewaktu keluar dari kantor dan masuk kompleks, Kevin dan Alex harus menunduk untuk menghindari wartawan.


"Udah nginap aja gak apa-apa kok," Anna menarik Julie.


"Gak ah. Gak enak sama yang punya rumah." Anna dan Julie tarik- tarikan di depan pintu rumah.


"Udah nginap aja udah mau jam sebelas juga," saran Alex.


"Tuh, yang punya rumah udah bolehin."


"Ya udah," jawab Julie.


Anna tersenyum riang.


"Ia jeng betul. Gak kok, anaknya baik banget. Saya udah dikenalin sama Kevin. Yang penting anaknya baik yang lain gak masalah." Suara nenek terdengar menelpon dengan riang saat Kevin,


Anna, Alex dan Julie masuk.


"Eh, jeng udah dulu ya. Ini Kevin baru pulang." Nenek segera menyambut cucu-cucunya pulang.


"Eh, anak-anak sudah pulang. Ini siapa?" tanya Nenek ke Julie.


"Kenalin Nek ini Julie, sahabat Anna. Dia juga pemilik rumah yang Anna tinggalin. Dia nganterin kita pulang."


"Julie."


"Oh, ini anaknya. Makasih udah bantuin cucu Nenek."


"Gak apa-apa kok Nek."


"Kamu bermalam aja dulu hari ini, udah malam. Kamu bisa tidur di kamarnya Anna," saran Nenek


"Makasih Nek, maaf merepotkan."


"Anna sama Kevin bisa bicara sama Nenek sebentar?" tanya Nenek.


"Biar Anna antar Julie ke kamar dulu ya," ijin Anna.


"Udah pergi sana," Julie mengusir Anna ketika sudah sampai di kamar.


Anna bergabung dengan Nenek dan Kevin di ruang keluarga.


"Mumpung heboh begini. Nenek mau membicarakan soal pernikahan kalian. Gimana? Rencananya kapan?" tanya nenek,


Kevin saling berpandangan dengan Anna.


"Kita sih sebenarnya belum diskusi soal itu," jawab Kevin.


"Kamu belum ada rencana? Ini sudah heboh di mana-mana karena statement kamu loh. Kalau kita gak kasih klarifikasi wartawan bakal terus berkerumun." Anna hanya diam saja.


"Jadi sekarang kalian mau gimana?" tanya Nenek.


"Kita harus segera menentukan tanggal, karena udah tersebar luas. Semua kolega kita sudah bertanya sama Nenek." Tidak mendapat jawaban dari Kevin,


Nenek beralih ke Anna.


"Menurut Anna gimana?"


"Emmm... Gimana yah Nek. Anna sih terserah aja." Anna menantap Kevin minta bantuan.


"Gini aja deh Nek. Biar Kevin sama Anna diskusi dulu. Kita akan tentukan tanggal secepatnya." usul Kevin dan Anna hanya mengangguk saja.


"Kapan kalian kalian akan kasih tahu Nenek hasilnya?"


"Secepatnya," jawab Kevin.


"Secepatnya kapan?"


"Besok deh Nek. Sabtu besok," jawab Anna.


Kali ini Kevin yang melotot kepada Anna.


"Paling lambat minggu malam," sambung Anna.


"OK." Nenek beranjak dari sofa.


"Jangan terlalu lama mikirnya. Kamu udah hampir tiga puluh tahun jangan lama-lama."


"Udah, kalian berdua istirahat. Sudah malam," lanjut Nenek.


Kevin dan Anna tersenyum pahit.


next>