The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 11 Berkunjung



"Kamu bilang apa?" Anna berbicara melalui ponselnya di pantry kantor saat jam istirahat.


"Nenek mau mengundang kamu ke rumah sabtu ini," jawab Kevin.


"Again?"


"Ya."


"Aduh, Ken sumpah aku capek tahu gini terus."


"Mau bagaimana lagi? Nenek gak mau kalah. Dia bahkan terus-terusan minta nomor telpon kamu. Dari pada nenek yang meneror kamu, mending aku yang ngomong sama kamu."


Anna menghela nafas dan berpikir sebentar.


"Sebelum aku jawab kamu, aku mau bertanya."


"Silahkan," jawab Kevin.


"Kapan semua ini bakal berakhir?"


"Dalam dua atau tiga bulan. Aku bakal bilang sama nenek kalau kita putus."


"Dengan alasan?"


"Emmm.... Tidak cocok mungkin."


"Lebih masuk akal kalau aku bilang kamu terlalu sibuk kerja kali," usul Anna.


"Ya sudah itu saja yang dijadikan alasan."


"Sabtu ini kan?" Anna menghela nafas.


"Iya."


"Ok, detailnya mau gimana chat aja ya.Jam istirahatku sudah habis."


"Ok. Selamat bekerja kembali."


Anna menatap layar ponselnya dan menghela nafas sekali lagi.


"Lagi bertengkar ya sama pacarnya?" Andi bersuara dari belakang Anna.


Dengan kesal Anna segera keluar dari pantry. Andi mengejar Anna.


"Berantem karena apa?" tanya Andi lagi.


Anna berhenti.


"Mau kamu apa sih?" kesal Anna.


"Kok marah. Bagus dong kalau ada yang khawatirin kamu."


"Memangnya kamu siapa?"


"Mantan?" jawab Andi salah tingkah.


"Betul anda cuma mantan gak penting, jadi urusan saya gak ada hubungannya dengan anda." Anna berlalu pergi.


########


Hari sabtu yang ditunggu telah tiba.


"Aku kan udah bilang gak usah dijemput." Kevin baru saja tiba di rumah Anna.


"Nenek yang suruh."


Anna memperhatikan Kevin dari ujung kaki sampai kepala.


"Aku baru pertama kali liat kamu pakai baju yang santai gini. Ganteng juga," puji Anna.


"Yuk, kita berangkat." Kevin salah tingkah.


"Semoga hari ini juga aman-aman saja." batin Anna.


Selama perjalanan Kevin dan Anna kebanyakan diam saja.


"Ya, Tuhanku," seru Kevin.


"Kenapa?"


"Mobil merah yang parkir di sana punya Vanessa."


"Kita sudah sampai? Ngapain dia di rumahmu?" tanya Anna


"Mana ku tahu."


Saat mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah, sudah ada dua mobil lain yang terparkir di sana. Kevin mulai merasa curiga, karena dia mengenali mobil-mobil itu. Baru juga turun dari mobil suara cempreng Vanessa sudah terdengar.


Terlihat nenek Ratih mengantar Vanessa keluar.


"Terima kasih loh sudah repot-repot buatin nenek kue."


"Gak masalah kok nek. Sekalian belajar jadi istri yang baik," jawab Vanessa.


"Pas banget juga lagi acara keluarga, sekalian bisa dimakan rame- rame," sambung nenek.


"Vanessa pulang dulu ya nek, semoga sekeluarga suka kuenya."


"Kak Kevin." Vanessa berteriak begitu melihat Kevin, tapi langsung cemberut begitu melihat Anna.


"Eh, Anna sudah datang." Nenek dengan riang menyambut Anna.


]


"Selamat siang nek, maaf saya menganggu sebentar," sapa Anna.


"Kok, mengganggu kan nenek yang mengundang." Mendengar itu Vanessa jadi kesal.


"Nek, itu mobilnya siapa?" tanya Kevin sok bego.


"Ya keluarga om dan tante kamu lah, memang siapa lagi?"


"Nenek mengundang semua orang?"


"Ia, memang nenek gak bilang sama kamu?"


Mendengar ada pertemuan keluarga, Anna menatap Kevin tajam.


"Yuk, Anna mari kita masuk," ajak nenek.


"Nenek bukannya ada acara keluarga?" seru Vanessa terburu-buru.


"Oh, Vanessa masih di sini?" tanya nenek.


"Ia nek," jawab Vanessa lirih.


"Saya boleh ikut gak nek? Acara keluarganya," lanjutnya.


"Acara keluarga sih, tapi kalau kamu maksa ya silahkan saja." Nenek berlalu pergi diikuti Kevin dan Ann.


"Nah, ini tamu yang ditunggu sudah datang." Nenek dengan riang memasuki ruang keluarga.


Di sana sudah duduk semua keluarga Bramantara, termasuk Alex dan Gita. Semuanya memandang Anna dengan penasaran.


"Ini Anna, pacarnya Kevin," kata nenek memperkenalakan.


"Halo, saya Anna." sapa Anna dengan senyum canggungnya


Nenek kemudian memperkenalkan Anna kepada semua keluarga satu persatu.


Keluarga Bramantara tidak besar. Nenek Ratih hanya punya dua orang anak. Anak pertama almarhum ayah Kevin, yang kedua tante Kevin yang bernama Sandra. Tante Sandra dan suaminya om Lukman, juga punya dua orang anak.


Anak pertama Ben baru menikah beberapa bulan lalu, sepintas dilihat sifatnya cuek. Kemudian istrinya Ben. Elvira. Terlihat sekali Elvira adalah sosialita sejati, selain itu senyumnya terlihat baik. Terakhir, Cleo adik perempuan Ben. Tidak pernah ada yang tahu jalan pikiran Cleo, bahkan orang tuanya sekalipun. Tidak ketinggalan ada Alex dan Gita.


"Tante cantik," sapa Gita.


"Halo Gita," balas Anna.


"Daddy turunin Gita. Gita mau digendong sama tante cantik."


"Gak boleh, nanti tante cantiknya capek." ucap Alex


Gita merengek.


"Gak pa-pa kok. Sini tante gendong," kata Anna.


"Gita gak mau sama kak Vanessa saja?" Vanessa berusaha cari perhatian.


"Gak mau tante Vanessa galak. Gita mau sama tante yang cantik" sela Gita


Vanessa hanya bisa tersenyum pahit.


Acara utama hari ini adalah makan siang. Saat makan siang pun Gita terus menempel dengan Anna.


"Namanya Anna ya?" tante Sandra membuka pembicaraan.


"Ia tante," jawab Anna sambil menyuapi Gita.


"Gimana ketemunya?" lanjut tante Sandra.


"Emmm..." seru Kevin.


"Ketemunya di Bandung tante, pas lagi liburan sama teman," jawab Anna.


"Masa cuma gitu aja sih. Cerita yang lebih detail dong," pinta nenek.


"Gak ada yang spesial kok nek. Kita kebetulan saja bertemu, ia kan Na?" jawab Kevin.


"Ia. Kebutulan saja saya lagi ada sedikit masalah, terus ketemu Ken dan ditolongin sama dia."


"Ken?" tanya tante Sandra.


"Itu nama panggilan sayangnya Anna untuk Kevin. Betul kan?" nenek membantu.


"Iya, betul nek." jawab Anna malu malu.


Tante Sandra sekeluarga menatap serius kepada Anna.


"Sok drama korea banget sih, kebetulan ketemu," tiba-tiba Vanessa nyeletuk.


"Ya memang begitu kejadiannya, Alex bisa jadi saksi. Karyawan restoran saya bisa jadi saksi,atau mau sekalian saya perlihatkan CCTV restorannya?" seru Kevin.


Anna langsung mencubit Kevin. Om, Lukman hanya bisa mengangkat sebelah matanya.


Tidak mau kalah, Vanessa kembali mencoba sesuatu.


"Gita lengket banget ya sama Anna, keliatannya juga cocok sama Alex. Artinya udah bisa ya jadi mamanya Gita." Alex meletakkan sendok garpunya dengan agak keras.


Ben tertawa mengejek dan tante Sandra menggelengkan kepala. Suasana di meja makan jadi tegang, Vanessa pun jadi bingung dan salah tingkah.


"Tante Anna cocok kok sama om Kevin. Tante Anna cantik om Kevin ganteng. Cocok kan? Ah, tapi daddy juga ganteng kok," Gita mencairkan suasana.


Anna tersenyum dan mengusap kepala Gita, sementara Vanessa jadi kesal.


"Gita mau makan kue yang di sana." Gita menunjuk kue yang di bawa Vanessa.


Pelayan memotong kue dan menyajikannya sebagai desert.


"Kuenya enakkan? Vanessa sendiri yang buat loh." Sama sekali tidak ada yang menggubris Vanessa.


Setelah makan satu sendok kue Vanessa, Anna merasa aneh. Anna mencoba sekali lagi dan memasang mimik bingung. Nenek yang menyadari itu bertanya.


"Anna kenapa? Ada yang aneh dengan kuenya?"


"Oh, gak. Cuma gimana ya, rasanya agak...."


"Familier," Cleo menyambung Anna.


Cleo yang dari tadi tanpa ekspresi tersenyum tipis.


"Kurang lebih seperti itu," lanjut Anna.


"Bukan kurang lebih, tapi memang sama," sambung Cleo.


"Maksudnya?" tanya Vanessa.


"Rasa, tekstur bahkan kotaknya persis sama dengan home bakery yang lagi terkenal di sosial media. Bedannya kotak kamu bawa label bakerynya gak ada," jawab Cleo.


"Memang sih, rasanya mirip sekali dengan kue yang biasa kamu beli itu" sambung om Lukman.


Vanessa terlihat panik.


"Sialan kok mereka berdua bisa tau? Padahal aku sudah berusaha milih bakery murahan dengan harapan mereka gak bakal pernah belanja di tempat kayak gitu," batin Vanessa.


"Emm, aku baru ingat kalau aku ada janji penting. Vanessa permisi dulu ya."


"Akhirnya penganggu pergi juga", seru Ben.


"Hush," tegur Elvira.


Suasana sudah sedikit lebih santai dibandingkan tadi.


"Nah, sekarang nenek mau tanya hal yang paling penting ke Kevin dan Anna." Kevin dan Ella menjadi lebih fokus.


"Kapan kalian mau menikah?" Wajah Kevin dan Anna menjadi tegang.