
"Kalau aku tanya gimana kamu bisa hamil di luar nikah, apa kamu mau jawab?" Anna mencoba bicara dengan hati-hati.
"Kalau kamu gak mau jawab juga gak masalah. Aku gak mau maksa," tambah Anna cepat.
"Gak ada masalah kok. Aku akan cerita."
"Serius?" tanya Anna.
"Kamu kan teman aku Na. Dan aku tahu kamu orang yang baik." Anna tersipu malu.
"Aku harus mulai dari mana ya?" Clarence berpikir sejenak.
"Bentar dulu deh Ren. Aku mau minta dibawakan makanan dulu ya. Lapar."
Anna beranjak dari tempatnya, segera menelpon ke kasir.
"Jeje boleh antarkan dua potong quiche dan new york cheesecake? Masing-masing dua, sekarang ya."
"Ren makan quiche dan cheesecake kan?"
"Aku gak pemilih kok," jawab Clarence.
"Gak takut gendut?"
"Aku tipe orang yang makan banyak tidak gendut."
"Bahagianya."
"Bumil sendiri? Yakin cuma makan itu?"
"Sementara ini itu cukup kok," jawab Anna singkat.
"Sampai mana kita tadi?" tanya Clarence.
"Kamu belum mulai," balas Anna.
Terdengar ketokan di pintu, Jeje masuk membawa pesananan Anna.
"Saya juga bawa tambahan air mineral Bu."
"Makasih ya Je."
"Kalau gak salah Anna pernah ketemu Edward dan Gerald kan?" tanya Clarence setelah Jeje keluar.
"Yang geng kalian itu kan?" Anna mulai makan quiche.
"Yup. Thats right. Aku, Kevin, Alex, Edward, Gerald dan ada seorang lagi. Namanya Leroy, kita panggil Roy." Clarence juga mulai mengunyah.
"Bukannya kamu dan Alex lebih muda ya?"
"Aku setahun lebih muda, tapi aku cepat masuk sekolah. Alex juga cepat masuk sekolah, jadinya dia satu angkatan di bawah kami."
"Kami semua ikut kelas akselerasi loh," lanjut Clarence. Anna membulatkan mata tidak percaya.
"Kita selalu jalan berenam kan, aku satu-satunya cewek. Suatu hari si Roy ini bilang pengen gituan sama aku."
"Dia langsung ngomong ke kamu?" tanya Anna kaget.
"Yes, dia langsung bilang 'kamu mau tidur sama aku'"
"Wow, to the poin banget," seru Anna.
"Soalnya dia itu sudah termasuk hyper. Lebih parah Roy daripada Mike," lanjut Clarence.
"Masa?" tanya Anna.
"Tiada hari tanpa gituan." Anna membulatkan matanya.
"Kita semua sih tahu Roy kayak gimana, tapi itu hidupnya dia. Kita gak berhak atur kan. Kita paling cuma nasehati."
"Terus? Waktu diajak kamu langsung mau?" tanya Anna lagi.
"Yes. Namanya anak muda labil, pengen coba rasanya gimana. Jadi aku kasihlah dia my first time."
"Awalnya sih gak ada masalah. Tapi makin kesini dia gak mau pakai pengaman lagi. Maunya mentah. Aku gak mau, tapi tahu dia ngapain?"
Anna menggeleng.
"Dia jebak aku. Aku diajak ke club, di sana sudah ada dua teman dia juga. Aku dibikin mabuk terus digilir."
Anna menutup mulut dengan sebelah tangan.
"Itu tindakan kriminal," seru Anna. Clarence mengangguk.
"Makanya waktu yang lain tahu, mereka marah banget. Gerald hajar Roy habis-habisan. Edward bikin Roy keluar dari sekolah. Bramantara bikin keluarganya bangkrut."
"Terus orang tua Ren?" tanya Anna.
"Orang tuaku gak tahu, mereka terlalu sibuk kerja. Aku lebih banyak dirawat sama Nenek Ratih. Mereka baru tahu setelah aku dinyatakan hamil."
"Waktu kami cari Roy, dia sudah hilang. Lalu aku mutusin buat besarin Nico sendiri. Orang tuaku gak setuju, tapi Nenek Ratih bersedia membantu. Nenek orang yang baik kan?" tanya Clarence.
"Hm. Baik banget," jawab Anna.
"Setelah Nico lahir, orang tuaku mulai menerima kehadirannya. Sampai sekarang mama yang bantu aku awasi Nico dan aku jadi model. The end."
"Aku sebenarnya masih bingung, bagaimana caramu menyembunyikan Nico?" tanya Anna.
"Aku selalu berhati-hati. Aku bahkan membeli beberapa apartemen untuk kamuflase."
Anna mengangguk paham.
"Jadi gimana? Mau gak bantuiin aku?" tanya Clarence.
"Gimana ya?" Anna merasa bingung.
"Kerjaanmu gampang kok. Hanya mengawasi si Mbak."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kamu butuh istirahat dari kerjaan cafemu dan kamu temanku," jawab Clarence.
"Anakmu itu sudah sepuluh tahun. Mana bisa disamakan dengan anak bayi."
"Baru mau sepuluh tahun Anna. Nico belum ulang tahun."
"Aku mau, tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Clarence.
"Jangan beritahu keadaan dan keberadaanku pada siapa pun. Selain keluarga intimu."
"Boleh tanya kenapa?" tanya Clarence lagi.
"Aku masih belum siap Ren. Aku belum siap menghadapi Kevin atau Vanessa secara langsung."
"Aku bisa membantumu menjambak rambut Vanessa sampai botak," saran Clarence. Anna tertawa mendengarnya.
"Jadi kapan kamu mau balik ke Jakarta?"
"Terserah sih," jawab Anna.
"Besok gimana?"
"Boleh, aku cuma awasi sampai mama kamu sembuh kan?" "Yup. Mungkin sekitar dua bulan?"
"Gak masalah, yang penting cuma mengawasi."
"Eh, tapi sebentar aku harus ke dokter kandungan. Aku gak yakin besok bisa atau gak. Perlengkapanku lumayan banyak soalnya."
"Aku bisa bantu kamu beres-beres kok. Hari ini kan gak ada jadwal," Clarence memberi saran.
"Yakin?" tanya Anna.
"Selama yang punya rumah gak masalah."
"Nanti aku coba tanya Julie deh," balas Anna.
"Kamu ke dokter jam berapa?" tanya Clarence. Anna melirik jam pada ponselnya.
"Janjinya sejam lagi sih."
"Aku temani ya. Mau lihat debay."
"Gak masalah sih. Kalau gitu aku telpon Julie dulun ya. Biar dia gak usah jemput aku."
"Kok bisa ketemu Clarence?" tanya Julie.
"Tadi kan aku sudah bilang, dia mampir ke cafe."
"Ya udah, terserah kamu saja."
"Besok aku juga bakal ikut Clarence ke Jakarta."
"Ngapain?" tanya Julie.
"Nanti aku cerita deh."
Anna menyesal membiarkan Clarence ikut dengannya. Mereka jadi pusat perhatian di sana. Beberapa perawat bahkan singgah bertanya apa yang dilakukannya di poli kandungan.
"Saya mengantar saudara saya. Suaminya terlalu sibuk," Clarence menjawab dengan sangat natural.
Bahkan dokter yang menangani Anna saja terpana.
"Saya tidak nyangka Mbak Anna bersaudara dengan super star."
"Saya sepupu jauhnya Anna. Bagaimana kabar debay yang di dalam?"
*****
"Anak?" jerit Julie.
"Aduh Li, jangan berteriak gitu dong." Anna menutup telinga dengan kedua tangan.
"Kayak kunti tau," protes Clarence.
Clarence membantu Anna untuk merapikan barang bawaannya. Julie juga mengajaknya untuk menginap.
"Anak angkat maksudnya?" tanya Julie.
"Anak kandung," jawab Clarence santai.
"Kok bisa?" Clarence kembali menceritakan kisahnya pada Julie.
"Hidupmu ternyata gak semulus wajahmu," seru Julie kemudian.
"Gak ada hidup yang semulus wajahku lah," seru Clarence narsis.
"Tapi ini artinya Anna sendiri di rumah kamu?" tanya Julie.
"Gak lah. Emang Nico kamu anggap apa?" prites Clarence
"Maksudnya selain Nico dan pengasuhnya. Aku soalny khawatir sama Anna."
"Tenang saja. Papaku tetanggaan kok. Setelah keluar rumah sakit mama juga bakal lebih banyak di apartemenku."
"Sorry sebelumnya ya, tapi papa kamu gak genit kan?" tanya Julie pada Clarence.
"Julie kenapa pertanyaannya gitu sih?" protes Anna.
"Om-om sekarang memang banyak yang genit sih, tapi aku jamin papaku gak gitu. Kalau dia sampai genit ke Anna, aku dan teman-temanku yang duluan habisi dia."
"Good. Jangan bawa-bawa cowok juga ke rumah. Entar dia apa-apain Anna," balas Julie.
"Tenang sayang, aku jarang kok tidur sama laki-laki. Apalagi kalau di rumah."
"Emang sampai sekarang kamu masih cari teman tidur?" tanya Anna.
"Gak juga sih. Kalau ada ya disyukuri, kalau gak juga gak masalah. Terakhir aku main sama Gerald sih."
next>>>