The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 69 Amalia



"Masalahnya Pak, wanita tadi masih menunggu di depan sekolah. Sudah saya usir, tapi dia gak mau pergi. Dia mengaku sebagai ibunya Gita, tapi saya gak kenali. Saya cuma kenal sama Mommy Julie."


"Mommy siapa?" tanya Alex.


"Mommy Julie Pak."


"Oh. Ia betul," seru Alex terbata.


"Menurut saya ada baiknya kalau Gita segera dijemput Pak. Saya takut kalau wanita tadi berbuat yang macam-macam."


"Aduh gimana ya. Saya juga sedang ada meeting penting dan gak bisa jemput Gita," balas Alex.


"Apa Mommy gak bisa jemput juga?" tanya Miss Lia.


"Mommy ya." Alex melirik Julie.


"Kenapa?" tanya Julie tanpa bersuara.


Alex menjauhkan ponselnya.


"Aku bisa minta tolong Julie untuk jemput Gita gak?"


"Bisa sih. Aku lagi lowong kok," jawab Julie.


"Oke."


"Bisa Miss. Nanti Julie yang jemput Gita. Terima kasih banyak infonya." Alex mematikan sambungan telponnya.


"Ada apa?" tanya Julie.


"Ada orang tidak dikenal maksa mau jemput Gita. Sudah diusir, tapi tidak mau pergi."


"Astaga. Kalau begitu aku pergi sekarang," seru Julie.


"Nanti aku kirim lokasinya. Sekalian aku kirimkan nomor Miss Lia," sahut Alex.


"Oke." Julie segera berlalu pergi.


Begitu mendapat nomor ponsel Miss Lia, Julie langsung menelponnya.


"Miss Lia? Saya Julie, sepertinya hari ini saya yang akan menjemput Gita Iya ini saya lagi di jalan. Kalau tidak macet mungkin sekitar dua puluh lima menit."


Untungnya jalan yang dilalui Julie tidak macet, sehingga Julie sampai tepat waktu. Bahkan lebih cepat dari perkiraan.


Saat tiba di sekolah Gita, Julie melihat seorang wanita yang berdebat dengan security.


"Gak bisa Bu. Kami sudah telpon orang tua Gita, dan mereka yang akan jemput Gita."


"Tapi saya mamanya."


"Maaf Pak," Julie menegur Pak Security.


"Bisa dibantu Bu?"


"Saya mau jemput Gita." Pak security menatap Julie tajam.


"Bapak bisa konfirmasi dulu dengan Miss Lia. Tadi saya juga sudah menelpon beliau," saran Julie. Pak security tadi, langsung pergi ke pos untuk menelpon Miss Lia.


"Kamu siapanya Gita?" tanya wanita yang mengaku sebagai mama Gita. Julie menatapnya dengan seksama.


"Sepertinya kami seumuran," batin Julie.


"Bukankah saya yang harus bertanya?" Julie balik bertanya pada wanita tadi.


"Saya mamanya Gita," serunya frustasi.


"Hal apa yang bisa membuktikan itu? Setahu saya mama kandung Gita sudah lama pergi meninggalkan suami dan anak satu-satunya."


Perkataan Julie membuat wanita tadi menunduk dan tidak bisa berkata-kata. Julie memperhatikannya lagi.


"Gita memang lebih mirip Alex sih, tapi kalau diperhatikan baik-baik wanita ini sedikit mirip dengan Gita," kata Julie dalam hati.


"Mommy." Gita berlari sambil berteriak.


"Gita jangan lari-lari," Miss Lia menegur.


Wanita tadi tersenyum melihat Gita. Dia maju selangkah, berharap bisa memeluk Gita. Julie yang memperhatikan itu diam saja di tempat.


Gita berlari melewati wanita tadi. Julie yang sudah memprediksi itu, langsung berjongkok menyambut Gita.


"Gak boleh lari-lari kayak gitu Gita." Julie mengusap lembut kepala Gita.


"Soalnya Gita senang lihat Mommy Julie jemput."


"Maaf ya Mommy terlambat."


"Gak apa-apa kok." Wanita tadi memperhatikan interaksi Julie dan Gita dengan sedih.


Miss Lia datang menghampiri Julie.


"Maaf merepotkan ya Miss," seru Julie.


"Gak apa-apa kok Mom." Miss Lia melirik wanita yang masih berdiri tak jauh dari sana.


Julie melihat gelagat Miss Lia.


"Miss Lia ada waktu buat makan siang bersama?" tanya Julie.


"Saya ada waktu kok Mom."


"Gita mau makan ayam McD."


"Iya, kita ajak Miss makan juga ya." Gita mengangguk riang.


Julie menatap wanita itu, dan dengan mantap berjalan ke arahnya.


"Mom," tegur Miss Lia. Julie tidak menggubrisnya.


"Mau makan siang bareng?" tanya Julie pada wanita tadi. Ajakan Julie langsung disambut dengan anggukan kepala.


Saat ini Julie tengah duduk dengan wanita yang mengaku bernama Amelia Kiandra itu. Julie meminta Miss Anna menemani Gita.


"Yakin. Kalau dia memang mama kandungnya Gita, banyak hal mau saya tanyakan."


Kembali ke masa sekarang, Julie masih menatap wanita yang duduk di hadapannya.


"Amelia kan?" tanya Julie.


"Panggil saja Amel."


"Umur berapa?" tanya Julie.


"Minggu lalu tepat dua puluh empat tahun."


"Sorry?" tanya Julie kaget.


"Dua puluh empat."


"Gita sudah empat tahun. Amel baru ulang tahun ke dua empat. Artinya dia sudah punya anak di umur sembilan belas tahun? Pantas labil," Julie membatin dalam hati.


"Kenapa kamu tiba-tiba datang jemput Gita?" Julie bertanya tanpa basa-basi.


"Saya hanya ingin melihat anak saya. Apa tidak boleh?"


"Apa bukti kalau kamu mama kandungnya Gita?"


"Saya masih punya foto pernikahan dengan Alex."


"Bukti apapun yang kamu punya, tidak akan ada yang percaya. Adanya kamu dianggap penculik anak. Apalagi di sekolah Gita tidak ada yang mengenalmu." Julie menyerang tanpa ampun.


Amel menundukkan kepala. Dia terlihat sudah hampir menangis. Julie merasa iba pada Amel, tapi disatu sisi dia juga kesal.


"Saya tidak tahu alasanmu meninggalkan Gita, tapi saya gak bisa melarang kamu untuk ketemu Gita. Kalau kamu memang mama kandungnya."


Amel mengangkat kepalanya menatap Julie.


"Apa kamu istrinya Alex?" tanya Amel hati-hati.


Julie tidak langsung menjawab.


"Bukan."


"Tapi kamu terlihat akrab dengan Gita. Pacar mungkin?" balas Amel.


"Teman dekat," jawab Julie singkat.


Ponsel Julie berdering, menampilkan nama Alex.


"Saya mau angkat telpon, tapi tolong jangan dekati Gita." Julie berjalan menjauh.


"Bagaimana Gita?" tanya Alex.


"Aku lagi makan siang dengan Gita dan Miss Lia," jawab Julie.


"Makasih ya Li udah bantuin." Julie tidak menjawab.


"Emm. Lex."


"Ada apa?"


"Kenal yang namanya Amelia Kiandra?" tanya Julie.


Mendengar nama itu senyum lega Alex hilang dari wajahnya. Julie tidak bisa melihat ekspresi Alex, tapi dari diamnya Julie sudah bisa menerka.


"Dia yang mau jemput Gita tadi," kata Julie tanpa ditanya. Alex masih terdiam.


"Dia mama kandungnya Gita kan?" tanya Julie.


"Li, aku bisa jelasin." Alex tergagap.


"Apa yang mau kamu jelasin? Aku toh gak ada hubungan apa-apa sama kamu. Aku gak akan salah paham."


"Li please."


"Aku akan antar Gita pulang sekarang." Julie mematikan sambungan telpon dan kembali ke mejanya.


"Saya rasa perbincangan kita sampai di sini saja. Gita juga sudah selesai makan. Dia butuh istirahat," seru Julie tegas. Amel mengangguk pasrah.


"Kalau kamu memang berniat bertemu Gita, datanglah ke rumah. Supaya orang juga tidak salah paham padamu," saran Julie.


"Saya mengerti. Maaf sudah membuat keributan," balas Amel.


"Minta maaflah pada Miss Lia." Julie bangkit berdiri dan memanggil Gita.


"Gita ayo pulang."


Gita dengan patuh berdiri dan langsung menggandeng tangan Julie. Miss Lia juga langsung berdiri.


Amel datang mendekat.


"Saya minta maaf sudah bikin keributam di sekolah." Miss Lia hanya tersenyum saja.


"Miss Lia biar saya yang antar pulang."


"Gak usah Mom, rumah saya dekat kok."


"Gak apa-apa mumpung saya lagi lowong."


"Kalau begitu terima kasih."


"Maaf ya, saya gak bisa antar Amel pulang."


"Gak apa-apa kok. Saya bisa pulang sendiri," jawab Amel cepat.


Julie menghembuskan nafas.


"Kalau mau bertemu harusnya dari dulu, bukan baru sekarang muncul tiba-tiba." Julie menatap Amel sebentar dan segera berlalu pergi.


next>>>