The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 37 Nostalgia



"Sering-sering main ke rumah ya," pinta Nenek.


"Ia Nek," jawab Cleo. Keluarga kecil Tante Sandra memutuskan pulang untuk berdiskusi setelah makan malam.


Cleo mendatangi Anna yang ikut mengantarnya ke depan pintu. "Makasih ya Na."


"Udah biasa aja. Nanti kita saling berkabar ya."


"Dah." Cleo melambai pada Anna.


"Udah Anna kamu mandi sana. Bau," sindir Kevin.


"Eh, enak saja. Aku gak bau kok." Anna mencium keteknya.


Nenek tersenyum melihat tingkah cucunya.


"Anna kalau sudah mandi singgah ke kamar Nenek ya."


"Ngapain Nek? Dari kemarin Anna ga istiraht loh," protes Kevin


"Gak apa-apa kok, tadi subuh kan sempat tidur sebentar. Nanti Anna ke kamar Nenek."


"Tuh, anaknya aja gak protes. Atau jangan-jangan kamu lagi mau ya?"


"Apaan sih Nek." Kevin segera pergi.


Tok... tok... tok...


"Masuk," seru Nenek. Anna nongol dari balik pintu.


"Anna datang."


"Sini duduk di samping Nenek." Anna duduk di ranjang sebelah Nenek.


"Lagi ngapain Nek?"


"Ini lagian liat album foto."


"Ada fotonya Kevin gak Nek?" Anna penasaran bagaimana rupa Kevin waktu masih kecil.


"Ada dong. Kamu mau lihat dari bayi?" tanya Nenek. Anna mengangguk dengan antusias sebagai jawaban.


"Nah, ini dia Kevin usia satu bulan." Nenek menunjuk foto seorang bayi imut.


"Astaga imut banget," seru Anna.


"Sudah pasti."


"Yang ini waktu umur satu tahun." Nenek terus menjelaskan.


"Dan yang ini mertua kamu. Papa dan mamanya Kevin." Nenek menunjuk sebuah foto.


"Kevin mirip mamanya ya," seru Anna menyentuh foto yang ditunjuk Nenek.


"Ia kan dia mirip mamanya," Nenek berkata sedih. Anna menatap Nenek.


"Emilia mamanya Kevin. Dia meninggal saat Kevin berumur empat tahun bersama dengan adik Kevin. Saat hamil tua tekanan darahnya naik drastis. Sayangnya kita semua terlambat menyadari itu. Ketika kita akhirnya sadar semua sudah terlambat."


Nenek berhenti sebentar memandangi foto yang lain.


"Sejak saat itu Kevin tidak mau lagi dipanggil Ken. Karena nama itu mengingatkannya pada Emilia." Nenek menatap Anna dengan penuh kasih sayang.


Anna cukup terkejut mendengarnya.


"Dulu Emilia juga menggunakan Ken sebagai panggilan untuk Kevin. Katanya nama Kevin terlalu panjang. Padahal hanya lima suku kata."


"Maaf Nek, Anna gak tahu."


"Kenapa kamu harus minta maaf? Kevin sendiri tidak ada masalah kan dengan panggilan itu?"


"Gak sih."


"Setahun setelah itu papa Kevin menikah lagi dengan mamanya Alex. Namaya Mitha" Nenek melanjutkan kisahnya sambil terus membalik album foto.


"Dulu Kevin tidak mau punya adik. Katanya kalau punya adik dia gak bakal disayang lagi. Makanya waktu tahu mamanya hamil dia sempat marah. Pada kenyataannya dia senang akan punya adik."


"Waktu Alex datang pun Kevin senang sekali. Nah, ini Alex waktu umur tiga tahun."


"Alex juga mirip mamanya," seru Anna.


"Ia, waktu itu keluarga kecil ini terlihat sangat bahagia. Mamanya Alex juga sayang


pada Kevin, seperti dia sayang pada Alex. Sayang kebahagian itu tidak bertahan lama."


"Ini foto terakhir mereka sebelum meninggal." Nenek menunjukkan foto sepasang pria dan wanita yang tertawa bahagia.


"Mereka kelihatan bahagia." Anna menyentuh foto yang diperlihatkan Nenek.


"Sangat bahagia."


Anna tidak perlu penjelasan lebih lanjut apa yang terjadi selanjutnya.


"Waktu itu Kevin berumur enam tahun dan Alex empat tahun. Setelah itu Nenek yang merawat mereka," lanjut Nenek.


Nenek berbalik menatap Anna yang sudah hampir menangis.


"Kok ekspresinya begitu?"


"Habisnya sedih."


"Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang Kevin sudah punya kamu. Nenek juga bersyukur ada kamu dalam keluarga ini. Kamu tahu kenapa?" Anna menggeleng.


"Karena kamu bisa bikin Kevin lupa akan kesedihanya waktu masih kecil. Dia udah gak masalah dipanggil Ken sama kamu. Dia sudah bisa makan rawon dengan tersenyum."


"Hubungan dengan rawon apa Nek." "Kevin sudah suka makan rawon dari umur dua tahun. Emilia juga sering masakin Kevin rawon. Dan rawon yang kamu buat tempo hari, rasanya mirip dengan masakan Emilia."


Sekarang Anna sudah benar-benar menangis.


"Kok malah jadi menangis?" tanya Nenek.


"Harusnya kamu senang dong karena Anna berhasil jadi malaikat di keluarga ini."


"Apaan sih Nek."


"Nenek serius. Buktinya selain Kevin, kamu udah bisa bikin Cleo lebih membuka diri. Nenek gak pernah liat Cleo tersenyum setulus tadi."


"Selain itu kamu juga bisa bikin Gita lebih ceria dari biasanya."


"Habis Gita lucu sih Nek. Siapapun yang lihat dia pasti langsung sayang," kata Anna.


"Andaikata Mamanya Gita seperti kamu. Mungkin Alex dan Gita bisa lebih bahagia."


"Maksud Nenek?" tanya Anna bingung.


"Alex menikah dengan wanita pilihan Nenek. Alex mungkin terlihat tengil dan selalu menganggap dirinya tidak pantas, tapi dia anak yang penurut. Jadilah dia menikah dengan anak dari partner bisnis Nenek Amel."


"Awalnya Amel tidak mau menikah dengan Alex. Entah bagaimana akhirnya dia setuju juga. Belakangan Nenek tahu, ternyata dia sudah punya pacar. Papanya mengancam Amel dan mengusir pacarnya dari Indonesia."


"Waktu itu mereka masih muda. Alex baru lulus kuliah. Dia dan Kevin memang cerdas, jadi mereka selesai lebih cepat. Sedangkan Amel tidak kuliah sama sekali."


"Setelah hampir dua tahun menikah dengan Alex, siapa sangka pacarnya itu kembali ke Indonesia sebagai orang yang cukup sukses. Waktu itu Amel sedang hamil, mereka selingkuh."


Nenek berhenti untuk mengambil nafas.


"Amel lebih memilih pergi bersama selingkuhannya setelah melahirkan Gita. Sampai sekarang pun Alex masih sakit


hati karena hal itu. Tapi demi Gita, dia berjuang untuk hidup dengan baik."


"Makanya Nenek sangat menyesal sudah memaksa mereka menikah. Nenek sudah berjanji tidak akan lagi melakukan keslahan yang sama, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu."


Nenek menatap Anna penuh arti.


"Waktu Nenek kenal Vanessa, gak tahu kenapa Nenek suka sama dia. Nenek berusahan membuat Kevin dan Vanessa jadi dekat. Walaupun Nenek tidak memaksa mereka untuk menikah, tapi Nenek memaksa mereka untuk


dekat."


"Vanessa dari awal memang suka Kevin, tapi tidak dengan Kevin. Nenek berpikir kalau mereka sering bersama, lama-lama Kevin bakal suka sama Vanessa. Tapi yang terjadi malah sebaliknya."


Nenek mengelus rambut Anna.


"Untungnya Kevin bertemu sama Anna, jadinya Nenek tidak perlu merasa terlalu bersalah."Nenek tersenyum bahagia.


"Kamu benar-benar sudah seperti malaikat ditengah-tengah keluarga yang berantakan ini. Kevin benar-benar beruntung punya kamu sebagai istrinya."


Anna memeluk Nenek dengan perasaan bersalah.


"Ya, Tuhan aku sudah berbuat dosa dengan membohongi Nenek," batin Anna.


"Sekarang keinginan Nenek tinggal satu." Nenek mengelus rambut Anna lagi.


"Apa itu?" tanya Anna.


"Nenek pengen banget punya cucu laki-laki." Nenek memandang Anna sambil tersenyum.


"Karena Alex sepertinya belum membuka hatinya untuk perempuan lain, Nenek berharap banyak padamu."


Anna merasa semakin bersalah mendengar omongan Nenek.


"Anna akan berusah sebaik mungkin, tapi Anna gak bisa janji apa-apa."


"Kok ngomongnya gitu?" tanya Nenek.


"Ya kan tergantung Tuhan mau kasih cowok atau cewek."


"Kamu gak salah sih." Anna berusaha tersenyum karena tidak ingin mengecewakan Nenek.


next>>>