The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 80 Memori



Kevin segera berlari keluar dari ruangan.


"Kevin," teriak Alex. Dengan penasaran Alex meraih amplop coklat dan terkejut melihat isinya.


"Surat cerai?" gumam Alex lirih. Alex segera mengejar Kevin.


"Kamu yakin? Udah mau balik ke Bandung?" tanya Julie. Anna mengangguk pelan, tanpa melepas pandangannya pada gedung kantor Kevin.


"Ayo kita balik ke Bandung." Anna berbalik melihat Julie dengan ekspresi tenang.


Tepat saat Julie mulai menjalankan mobilnya, Kevin keluar dari gedung kantornya. Kevin mencari keberadaan Anna ke mana-mana.


Anna yang menatap lurus ke jalanan tidak melihat Kevin. Julie yang fokus pada jalanan juga tidak melihat Kevin.


"Kevin." Alex menyusul Kevin ke bawah. Kevin masih kalang kabut, mencari Anna yang diyakininya tadi datang.


"Kevin, ayo masuk." Alex menarik lengan Kevin.


"Aku mau cari Anna. Aku yakin dia masih ada disekitar sini."


"Kevin kurirnya sudah pergi dari tadi. Kalaupun Anna tadi juga datang, dia pasti sudah jauh." Dengan ekspresi sedih Kevin harus mengakui Alex benar.


Kevin memasuki ruangannya dengan tatapan nanar.


"Aku pengen sendirian," kata Kevin pada Alex yang mengikutinya.


"Jangan biarkan orang masuk ke ruangan Kevin, siapapun itu." Alex memberi perintah pada Dinda.


"Baik Pak."


Kevin duduk di mejanya dengan lesu. Matanya menatap paket makanan yang ada di hadapannya.


Pelan-pelan Kevin membuka tutup mika yang menutupi kotak makan itu. Kevin melihat rawon yang dibungkus plastik mika kecil.


Kevin mengambil sendok plastik yang dibungkus bersama dengan makanan, menyuap sesendok rawon.


"Enak," seru Kevin. Matanya mulai berkaca-kaca.


*****


Dua minggu telah berlalu sejak ulang tahun Kevin. Hari ini Anna akhirnya punya usaha baru. Gedung yang diberikan Nenek sudah berubah jadi cafe dengan desain yang cantik.


"Selamat atas pembukaan cafenya." Julie memeluk Anna dengan erat.


"Makasih sudah bantuiin selama ini," balas Anna.


"Hari ini lumayan ramai ya," seru Julie.


"Namanya juga opening, orang-orang masih penasaran. Duduk aja dulu aku buatin kopi," seru Anna.


"Gak usah. Justru sepertinya aku harus bantuiin kamu," saran Julie.


"Yakin?" tanya Anna.


"Kalau cuma catat pesanan masih bisa dong."


Julie akhirnya membantu Anna. Karena grand opening hari ini ramai, Anna ikut membantu buat kopi.


"Bu tambah pesanan cappucinonya satu." Salah satu pelayan memberi tahu Anna.


"Oke."


Tiba-tiba tangan Anna berhenti bergerak. Dia jadi teringat dengan Kevin. Anna jadi melamun memikirkan Kevin.


"Bu? Cappucino yang tadi sudah?" tanya seorang pelayan. Anna tersadar dari lamunannya dan tersenyum tipis.


"Sebentar lagi."


Setelah cafe tutup Anna pulang bersama Julie. Sepanjang jalan, Anna melamun menatap keluar jendela mobil.


Saat melihat B Hotel, Anna jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Kevin. Begitu absurd dan tidak terduga.


Kemudian mereka melewati salah satu cabang B Cafe. Anna kembali teringat momen yang dihabiskannya bersama Kevin.


Mengingat Kevin yang selalu memesan makanan yang sama dengannya. Kadang-kadang bahkan memintanya membuat cappucino, dengan meminjam bar kopi cafe.


Tanpa disadarinya, pelupuk mata Anna sudah basah. Dirinya masih sangat mencintai Kevin.


"Anna?" panggil Julie. Anna segera menyeka air matanya.


"Hm," jawabnya singkat.


"Kamu kenapa?"


"Cuma ngantuk saja kok Li." Anna tersenyum manis.


Anna tidak mau lagi menyusahkan sahabatnya, dengan tangisannya. Julie sudah banyak membantu Anna.


Bahkan Julie rela mengeluarkan uang pribadi untuk pindah ke apartemen, demi kenyamanan Anna. Padahal dari kantor sudah memberikan rumah dinas untuknya.


"Aku tidak boleh menyusahkan Julie lebih jauh lagi," batin Anna.


*****


Alex menghela nafas panjang.


"Kevin," panggil Alex.


"Hm," jawab Kevin singkat. Kevin tersadar dari lamunannya.


Kevin belakangan sering melamun. Bahkan saat meeting seperti sekarang ini.


"Bagaimana proposalnya Pak?" tanya moderator rapat.


Kevin membaca ulang proposal ditangannya.


"Bagus. Kita bisa lanjutkan dengan proposal ini," seru Kevin pelan.


"Kalau begitu meetingnya sampai di sini saja," Alex mengambil alih. Para staff mulai pergi meninggalkan ruang meeting. Kevin dan Alex keluar paling terakhir.


Mereka berdua naik lift bersama beberapa pegawai. Salah satu pegawai memencet tombol delapan pada lift. Lantai yang dulunya ditempati Anna.


Kevin terus-terusan menatap angka delapan pada tombol lift. Saat pintu lift terbuka di lantai delapan, Kevin mulai melihat bayangan Anna.


Bayangan dirinya yang selalu mengantar Anna sampai ke depan kantornya. Bayangan Kevin yang selalu datang berkunjung ke ruangan Anna.


Alex yang sedari tadi memperhatikan Kevin, hanya bisa menghela nafas panjang. Dia membiarkan saudaranya larut dalam dunianya sendiri.


Sesampainya di ruangannya, Kevin meminta untuk tidak di ganggu. Hal ini sudah sering terjadi, Dinda juga sudah mulai terbiasa dengan hobi baru bosnya.


Kevin menghempaskan diri di sofa. Kevin memandangi jam tangan yang belakangan selalu dipakainya. Meraba pin yang terjepit di dasinya. Semua itu hadiah dari Anna.


Kevin membayangkan Anna. Membayangkan dirinya yang selalu terlelap di pangkuan Anna jika lelah bekerja. Membayangkan setiap pagi dan malam yang mereka habiskan bersama.


Kevin rindu cappucino buatan Anna. Rindu bermanja-manja pada Anna. Rindu sentuhan tangan Anna. Rindu pada kecupan hangat Anna.


Kevin pindah, duduk di balik meja kerjanya dan membuka laci paling bawah. Amplop coklat yang dikirim Anna masih tersimpan rapi.


Kevin mengeluarkan surat yang ada di dalamnya. Surat cerai itu sudah ditandantangani Anna.


"Haruskah?" gumam lirih Kevin. Manik matanya beranjak dari surat cerai, ke dua bingkai foto yang ada di atas mejanya.


Dua bingkai foto yang sengaja di letakkan Anna di sana.


"Supaya pernikahan kita terlihat lebih alami dan romantis." Itu kata-kata yang dikatakan Anna saat itu.


Satu berisi foto pernikahan Kevin dan Anna. Kevin tertawa mengingat pernikahan dadakan mereka.


Bingkai foto yang satu, berisi foto bulan madu mereka mengenakan hanbok. Kevin kembali teringat, hari-hari yang dilaluinya berdua dengan Anna di Korea.


"Apa yang harus kulakukan untuk membawamu kembali? Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu."


Tanpa disadarinya, mata Kevin mulai berkaca-kaca.


"Aku kangen banget sama kamu Na."


next>>>