The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
chap 24



Vanessa segera melepas genggaman tangannya dari rambut Anna. Anna juga melakukan hal yang sama. Vanessa berlari ke arah Nenek dan merangkul lengannya. Sementara Anna juga mulai merapikan rambutnya.


"Nek, masa itu si Anna godaiin Kak Kevin," Vanessa merajuk.


Anna kaget mendengar gaya bicara Vanessa.


"Masa Nek, Kak Kevin diajakin berduaan di kamar. Kamarnya dikunci lagi," Vanessa berbicara manja. Alex melihat Kevin,


"Ini masih pagi loh bro."


"Eh, itu otak jangan mesum ya" protes Kevin.


Vanessa masih lantut merajuk,


"Gimana coba itu. Masa pagi-pagi gini udah gituan."


"Eh, jangan fitnah dong." protes Anna.


Nenek melihat Vanessa dan Anna. Nenek melepas tangan Vanessa.


"Kevin coba kamu jelaskan," tanya Nenek.


"Saya cuma diskusi sama Anna di kamar. Gak lebih," jawab Kevin.


"Sepertinya Vanesaa duluan deh yang bikin keributan," bela Alex.


"Kok saya sih," protes Vanesaa.


"Kan kamu yang tiba-tiba gedorin kamar orang kayak orang kesurupan," Anna berbicara dengan kesal.


"Eh, kamu gak usah ikut campur ya." Vanesaa menunjuk Anna.


"Sudah cukup." Nenek mulai kesal.


"Vanesaa sekarang kamu keluar dari rumah ini," pinta Nenek.


"Loh, kok saya yang diusir Nek? Yang korban kan saya. Itu cewek miskin godaiin tunangan saya loh," protes Vanessa.


"Namanya Anna," seru Nenek.


"Ya, tapi kan saya tunangan Kevin Nek."


"Sejak kapan?" tanya Nenek.


Vanessa tercengang mendengar Nenek.


"Dari dulu kan...."


"Karena Nenek senang sama kamu dan sempat berharap kamu sama Kevin, tapi tidak berarti kamu sudah pasti jadi dengan Kevin," Nenek memotong Vanessa.


Vanessa ingin lagi bicara, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.


"Kamu pikir dengan sifat kamu yang seperti ini, kamu bisa jadi pasangan Kevin." Nenek menghela nafas.


"Anna dan Kevin akan segera menikah. Mereka mau ngapain itu urusan mereka, mending kamu menyerah aja."


"Loh kok bisa gitu. Nenek kan sudah janji," protes Vanessa.


"Nenek tidak pernah menjanjikan apapun. Karena tidak mau lagi memaksakan keinginan Nenek saja. Kamu juga tahu itu kan?" Mendengar itu ekspresi Alex menjadi sedikit gelap.


"Selagi Nenek masih bicara baik-baik, tolong pergi dari rumah ini." Vanessa menghentakkan kaki dengan kesal dan segera berlalu pergi. Nenek menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


"Makanya Nenek udah bilang jangan lama-lama," tegur Nenek.


Kevin dan Anna mengikuti Nenek ke ruang keluarga. Alex kembali ke kamar untuk menemani Gita.


"Tadi juga lagi diskusi kok Nek," protes Kevin.


"Jadi gimana hasil diskusinya?" tanya Nenek.


"Belum ada hasil," jawab Kevin.


"Gimana sih," protes Nenek.


"Ya, tadi kan ada pengganggu Nek."


"Kalian emang ngapain di kamar?" tanya Nenek kepo.


"Diskusi," seru Kevin dan Anna bersamaan.


"Gini aja deh. Biar kalian gak kelamaan, Nenek mau kalian menikah dalam tiga bulan ini."


"Tiga bulan Nek?" tanya Anna.


"Ia. Terus Nenek mau resepsinya di ballroom B Hotel Senayan. Yang ballroomnya paling besar. Harus mewah pestanya."


"Gak bisa yang sederhana saja Nek?" tanya Anna.


"Gak bisa," jawab Nenek jutek.


"Nek, ini menurut saya saja ya. Kalau untuk pesta sebesar itu, waktu tiga bulan kayaknya kurang deh," seru Kevin.


"Gak kok. Banyak orang kok bisa bantuin." Nenek tidak menerima penolakan.



"Kamu kapan mau lihat gaun?" tanya Julie melalui telpon.


"Besok," jawab Anna.


"Setiba-tiba itu?"


"Maunya Nenek kita nikah paling lambat tiga bulan depan."


"Secepat itu?" tanya Julie kaget.


"Ia."


"Emang ada bridal mau terima yang seterburu-buru itu?" tanya Julie.


"Istri sepupunya Kevin punya bridal dan WO, dia yang bakal bantuin kita."


"Tapi Na, sorry banget kalau besok aku gak bisa bantuin. Aku udah mau sampai Bandung."


"Cepat amat sih baliknya," protes Anna.


"Gini deh. Yang berikut-berikutnya aku pasti temanin dan aku pasti bantu kamu nyiapin semuanya. Aku bersedia pulang balik Jakarta-Bandung demi sahabatku."


"Makasih banget loh."


"Tapi kamu yakin dengan keputusanmu nikah?" tanya Julie.


"Ya udah, aku masih nyetir mobil. Nanti baru lanjut lagi."


"Ok"



"Selamat siang." sapa Elvira, Cleo mengekor di belakang Elvira.


"Bukannya kita nanti yang ke butik?" tanya Anna.


"Saya kebetulan ada urusan di sekitar sini, makanya sekalian saja. Nenek mana?"


"Lagi ke perkumpulan sosialita." Kevin dan Alex muncul entah dari mana.


"Gita, main di kamar dulu ya. Tante ada urusan sama Tante Elvira." Anna saat itu sedang menemani Gita di ruang keluarga.


"Gita gak boleh ikutan?"


"Gita sama Daddy saja ya. Kita jalan-jalan ke mall."


"Mau." Gita segera berlari memeluk Alex.


"Duluan ya." Alex pamit.


Cleo yang dari tadi sudah duduk, mulai memperhatikan Anna dengan seksama.


"Nah, calon manten kita mau gaun yang gimana?" tanya Elvira lembut.


Elvira mulai mengeluarkan alat ukurnya.


"Sekalian aku ukur ya," sambungnya.


"Di sini Kak?" tanya Anna


"Ia, di sini aja. Gak perlu buka baju kok," jawab Elvira.


"Jadi Anna mau gaun yang seperti apa?" Elvira mulai mengukur badan Anna.


Sementara itu Cleo mengambil pensil dan kertas.


"Yang bikin saya kelihatan langsing." jawab Anna.


"Sorry?" tanya Cleo.


"Yang bikin saya terlihat langsing," ulang Anna.


Kevin menahan tawa.


"Apaan sih," protes Anna memukul Kevin.


Cleo menaikkan alis dan mengangguk.


"Terus?" tanya Elvira masih sambil mengukur badan Anna.


"Saya mau yang sederhana saja sih. Sederhana tapi elegan."


"Yakin?" tanya Kevin.


"Yakin," jawab Anna.


"Saya juga gak suka yang terlalu bling-bling. Itu saja sih mungkin," lanjut Anna.


"Badan kamu bagus loh," puji Elvira sambil mencatat.


"Gendut gini dibilang bagus Kak?"tanya Anna.


"Vira aja. body Kamu emang montok, tapi gak gemuk. Perut kamu rata kok. Proporsional juga," lagi Elvira memuji Anna.


Anna memegang perutnya dengan malu.


"Kevin mau jas yang gimana?"


"Atur aja deh gimana bagusnya. Yang kayak biasa aja." Kevin memang sudah sering memesan jas di Elvira.


"Gimana kalau putih aja," saran Anna.


"Soalnya bosan lihat Kevin pakai jas warna gelap," lanjut Anna.


"Ide yang bagus," jawab Elvira.


Anna memperhatikan Cleo.


"Cleo yang akan bertanggung jawab untuk gaun kamu," Elvira menjelaskan.


"Oh, gitu."


Cleo berhenti menggambar dan menyerahkan kertasnya ke Anna.


"Itu design baju kamu." Elvira menjelaskan.


Anna mengambil kertas yang disodorkan Cleo.


"Gaunnya pakai kerah sabrina brukat, ada rumbainya sedikit nanti dipakaikan jewelry ringan situ. Intinya couture dress gitu. Bahan gaunnya satin pastinya. Akan kuusahakan agar terlihat lebih kecil lagi. Bawahnya ada payet sedikit atau mungkin disulam," Cleo menjelaskan.


"Ngerti?" sambung Cleo.


"Imajinasi saya kurang bagus, tapi aku percaya sama kamu."


Cleo hanya mengangguk tanpa ekspresi.


"Veilnya mungkin waterfall aja," kata Cleo lagi.


"Waterfall sepertinya bagus, tapi jangan terlalu panjang." Elvira menyetujui Cleo.


"Saya serahkan saja semuanya pada profesional," seru Anna.


"Kapan tanggal pastinya?" tanya Elvira.


"Dua belas agustus. Cuma tanggal segitu ballroomnya bisa dipakai secara maksimal," jawab Kevin.


"Sekarang dua puluh tiga mei. Dua bulan lebih, bisa kok," seru Elvira. Cleo mengangguk.


"Kalau gitu nanti kita kabarin kalau sudah jadi. Kita pulang duluan ya," Elvira pamit.


"Oh, ia untuk WO, nanti saya kirim manager saya ya." "Kevin mengangguk. Cleo melambaikan tangan.


next>