The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 82 Morning Sickness



"Selamat Bu, usia kandungannya sudah sebelas minggu lima hari." Anna sekarang terbaring di ranjang pasien dalam ruangan dokter obgyn. Dia sedang di USG oleh dokter


Sudah dua kali Anna mendengar pernyataan tentang kehamilannya dari dokter. Dia sama sekali tidak pernah menyangka. Bibirnya masih saja terbuka lebar.


"Artinya sudah hampir tiga bulan kan?" tanya Julie antusias. Dokter obygn tersebut mengangguk.


"Anna kok malah bengong sih?" tanya Julie.


"Aku... aku... Aku gak tahu harus ngomong apa."


"Kok malah nangis?" seru Julie lantang.


"Aku merasa senang," seru Anna terbata


"Gak apa-apa kok Mbak. Orang hamil memang seperti itu, moodnya sering berubah. Perubahan hormon yang jadi pemicunya."


"Sejauh ini bayinya cukup sehat. Apa ini kehamilan pertama?" tanya dokter. Anna mengangguk pelan.


"Usahakan makan sehat ya. Jangan makan makanan mentah atau setengah matang. Kurangi kafein juga, jangan terlalu capek ya. Aktifitas ranjangnya juga dikurangi."


"Ya?" seru kaget Anna.


"Bukan tidak boleh, tapi untuk menjaga ibunya agar tidak terlalu capek. Terutama di trisemester pertama." Anna mengangguk dengan wajah merah.


Anna duduk menunggu Julie yang pergi menebus vitamin untuknya. Dipandanginya foto USG bayi mungilnya dengan senyuman.


"Gak capek tersenyum terus? Nanti giginya kering loh," ejek Julie.


"Ini matanya bukan?" tanya Anna antusias.


"Mana aku tahu. Aku gak tahu liat gituan."


Senyum Anna tiba-tiba sirna dari wajahnya.


"Li tolong jangan beritahu orang lain dulu ya."


"Kamu gak mau kasih tahu Kevin?" tanya Julie.


"Untuk saat ini, belum."


"Tapi nanti kamu pasti kamu kasih tahu kan?"


"Hm. Mungkin bulan depan, atau sebelum melahirkan." Anna menjawab dengan tidak yakin.


"Kalau mau nunggu lahiran, itu kelamaan Na."


"Aku kan bilang sebelum lahiran," balas Anna. Julie menghela nafas.


"Bulan depan. Jangan terlalu lama, kasihan debay dan Kevin." Anna mengangguk setuju.


"Tapi kamu hamil enak ya. Gak kena morning sickness," seru Julie.


Baru juga kemarin malam Julie bicara soal morning sickness, pagi ini Anna mulai muntah-muntah.


Baru juga Julie mau melangkahkan kaki ke kamar mandi, Anna menariknya keluar dengan kasar.


"Aduh Anna kenapa sih?" protes Julie.


"Hoek..." Anna langsung memuntahkan isi perutnya. Julie medekati Anna dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Baru juga dibilangin kemarin malam, sekarang udah mulai." Julie masih menepuk-nepuk pelan punggung Anna.


"Makanya jangan diungkit-ungkit. Pamali," balas Anna.


Anna mengelus dadanya sebentar, kemudian mulai muntah lagi.


"Aku akan coba masak sayur ya. Belakangan kan kamu gak makan dengan benar." Anna mengangguk pelan.


"Jangan terlalu lama di toilet ya. Aku mau mandi, nanti telat kerja." Anna tidak menjawab Julie karena masih sibuk muntah.


"Masak apa?" tanya Anna setelah mandi pagi.


"Cuma sup jagung pakai bayam. Aku kan gak sejago kamu soal masak.


Anna duduk dengan lesu.


"Katanya bayam bagus buat bumil. Ada jus jeruk juga, tapi mungkin kamu harus beli susu khusus bumil."


Anna mengangguk pelan. Julie menata piring makanan di depan Anna. Dengan enggan Anna mulai menyuap makanannya.


"Masih mau ke cafe?" tanya Julie. Anna mengangguk sebagai jawaban.


"Yakin bisa?" tanya Julie.


"Kalau gak sanggup aku akan pulang." "Oke."


"Aku mungkin harus ke mall juga. Mau beli sepatu baru, rata-rata sepatuku ada heelsnya. Sekalian beli susu." seru Anna.


"Perlu ditemani?" tanya Julie.


"Gak usah deh. Aku bisa sendiri saja."


"Yakin bisa sendiri?" Julie kembali bertanya saat menurunkan Anna di cafe.


"Selamat pagi," sapa Anna.


"Pagi Bu," staff cafe balik menyapa Anna.


Cafe yang Anna kelola akan dibuka pada jam sembilan pagi. Sekarang baru jam tujuh lewat empat puluh lima menit. Sudah ada staff yang datang untuk memanggang kue.


"Siapa yang masak?" Anna bertanya sambil menutup hidung, mulai merasa mual. "Bagas lagi bikin meat pie Bu."


Anna mendekat ke arah dapur. "Bagas, bahannya pakai apa sih? Kok bau banget," Anna berteriak dari pintu dapur.


Bagas berbalik menghadap Anna.


"Pagi Bu, saya lagi bikin isian meat pie. Bahannya yang biasa aja kok Bu. Daging, bawang bombay..."


"Gak apa-apa kamu lanjut saja," Anna memotong omongan Bagas, masih menutupi hidungnya. Ekspresi wajahnya semakin jelek saja. Anna bergegas pergi ke kamar mandi.


"Ibu sakit?" tanya staf yang bernama Jeje.


"Gak apa-apa kok Je. Kamu lanjut kerja saja." Anna masih melanjutkan muntahnya.


Setelah selesai, Anna langsung berdiam diri di ruangannya. Anna sempat minta dibuatkan omelet.


"Gak pakai bawang ya, banyakin sayurnya."


*****


Kevin melotot melihat makanan yang dipesan kliennya.


"Onion ring?" batin Kevin. Kevin menutup hidungnya, menyamarkan gerakannya dengan menopang dagu.


"Pak Kevin gak pesan makanan?" tanya klien Kevin.


"Saya cukup dengan dessert saja kok Pak Bara." Ekspresi Kevin makin terlihat jelek.


"Apa anda sakit?" tanya Pak Bara. Alex langsung melirik Kevin.


"Ada masalah?" tanya Alex. Kevin menggeleng, tapi ekspresinya makin tidak karuan.


"Maaf saya permisi sebentar." Kevin bangkit berdiri dengan terburu-buru.


"Kevin?" Alex memanggil.


"Sepertinya si Kevin sedang tidak enak badan," seru Pak Bara.


"Biar saya lihat Kevjn sebentar Pak ya." Alex menyusul Kevin yang sudah keluar dari restoran.


"Vin, kamu kenapa sih?" tanya Alex. Kevin tidak langsung menjawab. Kevin bernafas dengan pelan di luar restoran.


"Kita ini lagi ada meeting penting dengan klien loh Vin," Alex mengingatkan.


"Aku juga tahu Lex," Kevin mulai kesal.


"Aku hanya merasa sedikit mual," lanjut Kevin.


"Kamu sakit?" tanya Alex.


"Gak. Aku cuma merasa mual saja tadi. Lainnya gak ada masalah."


Alex mengamati Kevin dengan seksama.


"Sakit maag mungkin? Belakangan kan makanmu tidak teratur. Mau ke dokter saja?" balas Alex.


"Gak. Aku cuma mual waktu cium bau onion ring yang dipesan Pak Bara. Sekaranh udah mendingan."


Alex mengangkat sebelah alisnya.


"Kamu kelihatan kayak orang lagi ngidam saja," celetuk Alex.


"Emang kamu tahu apa soal ngidam," ejek Kevin.


"Aku kan pernah punya istri. Dan aku pernah urusin dia waktu lagi hamil," jawab Alex.


"Tapi istriku sedang tidak hamil Alex. Lagian yang ngidam itu yang hamil bukan suaminya dong."


"Gak selamanya juga kali."


Alex tiba-tiba tersadar.


"Astaga. Ngapain aku ungkit soal istri. Nanti Kevin uring-uringan lagi mikirin Anna," maki Alex dalam hati.


"Udah deh. Coba kamu urusi dulu itu Pak Bara. Aku gak tahan cium bau onion ringnya." Alex menghela nafas, tapi langsung masuk lagi.


Kevin menghela nafas panjang. Dia kembali memikirkan Anna.


"Maaf Pak, Kevin memang sepertinya kurang enak badan. Bagaimana kalau diskusi dengan saya saja dulu?" tanya Alex. Pak Bara menganggukkan kepala.


"Gak ada masalah, sama kamu atau Alex toh sama saja."


"Nanti Kevin balik lagi kalau sudah merasa enakan," balas Alex sambil tersenyum.


next>>>