The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 23



Kevin mondar-mandir di kamar Anna.


"Kita secepatnya harus menentukan tanggal."


"Ia tau. Tapi bisa gak sih berhenti mondar-mandir kayak setrika rusak gitu. Pusing aku liatnya," balas Anna.


"Bantu aku mikir dong," pinta Kevin.


"Apanya yang mau dipikir? Kan tinggal ditentukan tanggalnya," balas Anna.


"Banyak yang mau dipersiapkan kali."


"Adanya aku yang perlu bantuan mikir kalau soal persiapan. Cewek itu banyak rempongnya tau."


"Kamu yakin kan?" tanya Kevin.


"Apa?" Anna bertanya balik.


"Nikah lah."


"Kan aku udah bilang dari tempo hari."


"Siapa tau aja kan. Kamu bakal nyesal tepat setelah hari pernikahan, karena aku bukan cowok yang kamu suka."


"Teman juga bisa nikah kali," balas Annaa.


"Nikah emang itu sama teman kali. Teman seumur hidup," seru Julie.


"Benar juga sih." Anna mengangguk.


"Bisa gak sih kalian gak bahas itu di sini? Aku udah kayak obat nyamuk aja tau ga," protes Julie.


"Udah istirahat aja dulu deh. Besok baru dibahas lagi." Kevin membuka pintu kamar.


"Gitu kek dari tadi," ledek Julie.


"Bawel," balas Kevin.


#######


Di pagi hari.


"Tante." Gita berteriak sambil berlari ke arah meja makan.


Julie berbalik ke arah datangnya suara.


"Loh, bukan Tante Anna." Gita kaget.


"Halo anak cantik," sapa Julie.


"Tante siapa?"


"tante temannya Tante Anna. Namanya siapa?"


"Gita. Kalau Tante?"


"Nama Tante Julie."


"Tante lahir bulan Juli ya?"


"Kok tahu?"


"Karena nama Tante Julie."


"Aduh pintarnya." Julie mengelus kepala Gita.


Gita terus menatap Julie.


"Anak cantik, kok liatin Tante terus?"


"Gita bingung."


"Bingung kenapa?"


"Bingung karena Tante Anna cantik, Tante Julie juga cantik. Kalau dua-duanya dipanggil Tante Cantik kan membingungkan."


"Aduh lucunya." Julie memeluk Gita dengan gemas.


Anna muncul dari dapur.


"Eh, anak orang jangan dicekik," tegur Anna.


Anna meletakkan secangkir Cappucino di depan Kevin yang dari tadj sudah menunggu.


"Anak siapa sih? Kok imut gini," seru Julie.


"Anak Daddy."


"Daddy-nya siapa?"


"Alex Bramantara," jawab Gita.


"Anaknya Alex?" tanya Julie kepada Kevin karena Anna sudah menghilang ke dapur lagi.


"Iya," jawab Kevin singkat.


"Mommy nya mana?" tanya Julie.


"Gak ada," jawab Gita polos.


Julie hanya terdiam.


Pelayan membawakan Julie dan Gita sepiring french toast.


"Selamat pagi," sapa Alex.


"Daddy terlambat bangun."


"Gita yang kecepatan bangun." Alex memeluk Gita.


Anna keluar lagi dari dapur membawa dua piring french toast lagi. Satu untuknya satu untuk Kevin. Sementara punya Alex dibawakan pelayan.


"Na, aku perhatikan dari tadi kamu terus yang melayani Kevin," kata Julie.


"Karena cuma dia yang pilih-pilih makanan. Jadi biar gak tertukar."


"Siapa yang pilih-pilih," protes Kevin.


Anna menjulurkan lidah pada Kevin.


"Nenek mana?" tanya Alex.


"Katanya pergi jalan pagi," jawab Kevin.


"Paling kumpul sosialita lagi," balas Alex.


Setelah selesai sarapan, Julie berniat untuk pamit.


"Yah, Tante Julie sudah mau pulang? Padahal baru main sebentar." Gita berseru lemas dalam gendongan Kevin.


"Nanti Tante datang main lagi ya." Julie mencubit ringan pipi Gita.


"Yakin gak mau diantar?" tanya Alex kepada Julie.


"Gak usah lah. Pergi dulu ya. Bye Anna." Anna melambaikan tangan.


"Sekarang kayaknya kita perlu diskusi berdua," saran Kevin pada Anna.


"Ia nih. Makin cepat selesai makin bagus."


"Tante Anna main sama Gita yuk."


"Mainnya sama Daddy aja dulu. Tante Anna ada urusan sama Om Kevin," ajak Alex.


"Mau pacaran ya?" goda Gita.


"Ih, anak kecil. Tahu apa soal pacaran," balas anna.


Gita hanya tertawa riang.


"Ke kamar aku aja ya," ajak Kevin.


"Eh, jangan berduaan dalam kamar. Hati-hati ada setan loh," goda Alex.


"Ini bapak sama anak sama saja," protes Anna.


"Kenyataan tahu," teriak Alex.


Anna masuk ke kamar Kevin dan langsung duduk di ranjang.


"Eh, Ken itu pintu kamarnya mungkin perlu di kunci deh."


"Hah?" Kevin kaget.


"Eh, jangan mesum ya. Biar gak ada orang yang asal masuk. Kita kan mau bicara hal yang rahasia."


"Situ kalk yang mesum. Lagian gak ada yang berani asal masuk ke kamarku."


"Kalau Nenek atau Vanessa?" tanya Anna


Akhirnya Kevin mengunci pintu setelah berpikir sebentar.


"Ok, jadi kita mau mulai dari mana?" tanya Anna sambil memeluk bantal Kevin.


Kevin duduk di salah satu dari dua sofa tunggal dekat jendela.


"Mungkin di mulai dari kontrak," jawab Kevin.


"Kontrak?"


"Rencananya kita kan nikah kontrak selama setahun. Setelah itu baru dipikirkan kelanjutannya kan?" tanya Kevin.


Anna mengangguk.


"Kalau yang namanya kontrak, pasti dan syarat ketentuan berlaku dong. Syarat dari kamu apa?" tanya Kevin lagi.


Anna berpikir sejenak.


"Hal yang paling pertama kita harus mengatur skinship. Ngerti yang dimaksud skinship kan?" tanya Anna.


"Emang kamu pikir aku bego atau apa?"


"Ok. Jadi intinya aku gak mau ada... Emm..." Anna bingung.


Kevin menunggu.


"Aku gak mau ada, kamu tahu hubungan badan gitu," seru Anna malu.


"Apa?" teriak Anna.


"Habis nikah kita pasti tinggal di sini. Gak mungkin kan kita pisah kamar, atau taruh dua ranjang di kamar ini. Nanti Nenek bilang apa?"


"Masuk akal sih. Tapi ini ranjangnya bisa ganti yang lebih besar gak? Terlalu sempit," saran Anna.


"Gak percaya amat sih sama aku," protes Kevin.


"Ya kamu kan juga cowok."


"Ya udah nanti aku ganti. Kamu ada syarat apalagi?"


"Aku pengen tetap kerja," jawab Anna.


"Gampang. Mau tetap kerja di tempat kamu? Atau mau kerja di perusahaan aku? Atau gimana?" tanya Kevin


"Soal itu aku masih bingung sih."


"Kok bingung?"


Anna menghela nafas.


"Kamu tau kan Ken aku sempat ada masalah di kantor. Aku gak perlu cerita detailnya gimana ya. Tapi, gara-gara masalah itu BM (branch manager) aku selalu gangguin aku terus."


"Gangguin gimana?" tanya Kevin.


"Ada deh," jawab Anna.


"Cerita saja kenapa sih?" Anna hanya terdiam bingung mau cerita atau tidak.


"Kita kan bakal nikah," Kevin mulai bicara.


"Jadi menurut aku kita harus cerita hal-hal penting. Siapa tau ke depannya kita bisa saling bantu. Itu syarat aku jadi, sekarang kamu cerita," lanjut Kevin


Anna berpikir sebentar dan akhirnya mulai bercerita,


"Aku cerita garis besarnya saja ya." Kevin mengangguk tanda setuju.


"Ada yang salah paham dengan aku. BM aku berpihak ke nasabah aku, terus ya aku langsung di hukum gitu. Padahal itu bukan masalah kerjaan tapi masalah pribadi. Gitu saja sih," cerita Anna singkat.


"Yang waktu kamu diskors itu?" tanya Kevin.


"Aku juga dapat surat teguran, terus.... " Perkataan Anna terputus.


"Ga jadi deh," lanjut Anna.


"Kok gak jadi? Ini penting loh, inikan tentang karir kamu."


Anna akhirnya bercerita dengan ragu,


"Ceritanya Pak Bayu BM aku kan agak mesum gitu."


"Jadi selain skors dia godaiin kamu?" Kevin langsung bertanya.


"Kurang lebih? Artinya lebih dari itu? Dia ngapain?" tanya Kevin.


"Eemmmm... Dia pegang-pegang."


"Pegang?" Kevin mulai geram.


"Bagian mana yang dipegang?" Anna mengangkat tangannya.


"Tangan? Itu aja?" Kevin melipat tangannya di dada.


"Bahu," jawab Anna.


Kevin memasang ekspresi geram sekaligus terkejut.


"Ada lagi?" Anna menggeleng.


"Cari gara-gara dia ya," bisik Kevin.


"Resign aja dari tempat kamu yang sekarang," saran Kevin.


"Loh, kamu kan bilang aku masih boleh kerja."


"Kerja di tempat lain aja."


"Eh, kamu pikir jaman sekarang gampang cari kerja?" balas Anna.


"Kamu kan bisa kerja ditempatku," saran Kevin


"Emang kamu bisa kasih gaji lebih tinggi?"


"Bisa lah. Kamu mau minta berapa? Bonus, THR, cut. Aku kasih semua."


"Gajinya tiap tahun naik gak?" tanya Anna.


"Ia lah, emang kamu pikir kantorku kantor apaan?" protes Kevin.


"Ok deh kalau begitu."


"Syarat dari kamu apa?" Anna mencairkan suasana.


Kevin membebaskan tangannya dan mulai bicara,


"Kita mungkin perlu sering tampil depan umum sebagai suami istri."


"Gak masalah sih," jawab Anna.


"Andaikata setelah setahun kita pisah. Ini misalnya ya," kata Kevin.


Anna mengangguk.


"Gono-gininya gimana?" tanya Kevin.


"Oh, aku gak perlu gituan."


"Kok gak perlu," protes Kevin.


"Ya, bagiku emang gak perlu."


"Harus ada alasannya dong." protes Kevin lagi.


"Ya karena aku masuk keluarga ini gak bawa apa-apa. Keluar juga begitu."


"Gak masuk akal banget alasannya. Nanti kamu hidup pake apa?"


"Katanya kamu mau aku kasih kerja," protes Anna.


Kevin terdiam sebentar.


"Ya pokoknya gak bisa begitu," seru Kevin.


"Ya udah kamu atur aja kalau gitu," Anna menyerah.


"OK." Kevin tersenyum menang.


"Jangan banyak-banyak," seru Anna.


"Ini kontraknya gak mau ditulis gitu? Ditanda tangan?" tanya Anna.


"Kamu gak percaya sama aku?" tanya Kevin.


"Bukan. Tapi, biasanya pebisnis gitu. Lebih percaya kontrak tertulia dari pada lisan."


"Ya udah tulis saja," lanjut Kevin.


Anna mengangguk.


Tiba-tiba pintu kamar Kevin di gedor dengan keras.


"Kak Kevin," teriak Vanessa menggedor pintu.


"Kak Kevin kok di kunci sih? Buka dong." lanjutnya.


Alex yang sedang bermain dengan Gita, segera keluar kamar akibat keributan Vanessa.


"Tuh, kan untung dikunci," seru Anna.


Dengan ekspresi kesa Kevin membuka pintu.


"Kak Kevin, kok pintunya dikunci?" protes Vanessa.


"Kamu mau apa?" tanya Kevin.


"Apa maksud Kak Kevin? Apa maksud semua yang ditulis di inter..." Vanessa berhenti begitu melihat Anna.


"Ngapain ini cewek ada di sini?" Vanessa mendekat dan langsung menarik Anna.


"Eh, apa-apaan sih tarik-tarik," protes Anna.


Kevin memisahkan Anna dan Vanessa. Alex tiba di kamar Kevin dengan bingung.


"Vanessa kamu apa-apaan sih?" protes Kevin.


"Kenapa Kak Kevin bisa berduaan di kamar dengan ini cewek miskin." Vanessa menunjuk Anna dengan marah.


Alex berusaha menahan Vanessa.


"Memangnya apa urusan kamu?" Kevin merasa kesal.


"Ya ada urusannya dong. Saya kan tunangan Kak Kevin," Vanessa berteriak.


"Tunangan? Pacaran aja gak pernah apalagi dilamar, kenapa bisa jadi tunangan." Kevin ikutan berteriak.


"Kak Kevin kok gitu sih?"


"Ya memang kenyataan seperti itu. Kamu itu bukan siapa-siapa saya." Suara Kevin meninggi.


"Kevin udah." Anna menarik lengan Kevin, mencoba untuk menenangkannya.


"Eh, ngapain pegang-pegang Kak Kevin? Lepas" teriak Vanessa marah.


Tiba-tiba saja Vanessa menarik rambut Anna.


"Dasar pelakor," teriak Vanessa.


"Eh apaan nih. Lepas," Anna ikutan berteriak.


Tidak mau kalah Anna juga menjambak rambut Vanessa. Kevin dan Alex berusaha memisahkan mereka berdua.


"Ada apa ini?" Nenek muncul dengan suara menggelegar.


next>