
"Anna belum selesai?" Kevin bertanya dengan tidak sabar.
"Ia sabar." Anna berjalan keluar dari closet.
Anna mengenakan dress satu tali selutut, denganbelahan rendah berwarna putih dan aksen biru tua. Kevin memakai kemeja bitu tua dan celana jeans.
Kevin melotot melihat dandanan Anna.
"Kamu yakin mau pakai itu?" tanya Kevin.
"Emang kenapa? Terlalu sederhana ya?" Anna balas bertanya.
"Gak terlalu terbuka?"
"Masa sih?" Anna melihat gaunnya.
"Kayaknya biasa aja," gumam Anna.
"Gak ada syal atau cardigan gitu?" Kevin masih belum mau mengalah. Anna menghembuskan nafas.
"Tunggu aku cari, tapi jangan suruh buru-buru ya."
Anna akhirnya menemukan syal hitam transparan miliknya. "Udah kan?" tanya Anna pada Kevin.
"Coba berbalik," seru Kevin. Anna membalikkan badannya.
"Belakangnya tertutup kok," seru Anna.
Kevin mengalungkan tangannya ke leher Anna. Anna merasa bingung. Senyum terbit di Anna setelah melihat kalung yang tergantung di lehernya.
"Ini buat aku?" tanya Anna.
"Kamu selalu kelihatan polos, jadi akukasih." Anna tersenyum bahagia.
"Makasih," gumam Anna.
"Yuk, tinggal kita loh.Alex dan Nenek sudah duluan." Kevin menggandeng tangan Anna dengan natural.
Kakek Kevin, Putra Laksono menikah masuk ke keluarga Bramantara. Dengan kata lain anak-anaknya tidak akan mengambil nama belakangnya, melainkan menggunakan nama Bramantara milik Nenek Ratih.
Keluarga Laksono juga terbilang orang kaya, tapi masih tidak bisa menyaingi Bramantara. Bahkan belum bisa menyaingi Kevin.
Kevin dan Anna turun dari mobil. Anna menggandeng lengan Kevin dengan gugup.
"Kenapa gugup?" tanya Kevin.
"Karena aku akan ketemu lebih banyak orang hari ini. Gimana salah satu dari mereka gak suka sama aku?"
"Pikiranmu kejauhan. Emang siapa mereka bisa gangguin istriku? Merek gak ada apa-apanya buatku." Kevin menenangkan Anna. Anna membalas Kevin dengan senyum manis.
"Coba lihat siapa ini yang datang," seru Kakek Rama riang. Kevin memberikan pelukan hangat.
"Ini istri kamu kan? Siapa lagi namanya?" "Anna Kek."
"Ya benar Anna." Kakek Rama juga memberikan pelukan pada Anna.
"Gimana?" tanya Kakek Rama.
"Apanya yang gimana Kek?" Kevin bertanya balik.
"Kapan mau punya anak?" Kevin dan Anna tertegun mendengarnya.
"Lagi diusahakan Kek." Kevin berusaha tersenyum.
"Kamu gak suka ditinggalin sendiri di kamar kan?" tanya Rama pada Anna.
"Gak kok Kek. Mana bisa Kevin ninggalin aku, apalagi anaknya manja."
"Manja? Kevin manja? Gak salah" Rama bertanya.
"Gak Kek. Manja banget malah." "Kevin menyiku Anna.
Rama tertawa dengan keras.
"Saya suka sama istri kamu."
"Lagi ngobrol apaan? Sepertinya seru." Ratih muncul entah dari mana.
"Sepertinya si Kevin ini sudah mulai jinak," jawab Rama.
"Gak usah di bilang. Cuma Anna yang bisa jinakin dia."
"Nek," protes Kevin. Rama tertawa lagi.
"Jam berapa ini kenapa baru datang." Nenek Ratih mengeluarkan jam saku yang diberikan Anna.
"Anna kelamaan dandan," jawab Kevin.
Rama melihat jam Ratih tepat sebelum dimasukkan lagi ke dalam tas.
"Aku kira jam itu sudah hilang," tanya Rama.
"Jam?" tanya Ratih bingung.
"Oh. Ini?" Ratih mengeluar kan lagi jamnya. Rama mengangguk.
"Ini bukan jam Mas Putra. Ini Anna yang kasih."
Rama membulatkan matanya.
"Selain bisa jinakin Kevin, kamu juga pintar ambil hati orang tua ya." Rama sedikit mengacak rambut Anna.
"Yah, Kakek rambut Anna kan jadi berantakan." Anna berusaha memperbaiki rambutnya.
"Coba balik sini." Kevin membantu Anna memperbaiki rambutnya.
"Sabar ya Kek," seru Anna.
"Coba kamu ngobrol sama sepupu yang lain," saran Ratih pada Anna. Kevin dan Anna pamit untuk berkeliling.
"Aku masih penasaran kenapa dulu kamu beliin Nenek jam," gumam Kevin.
"Gak tahu juga sih. Mungkin itu yang namanya jodoh kali ya."
Kevin mencebik mendengar Anna.
Kevin mulai memperkenalkan Anna pada keluarga yang lain. Kevin sudah memperkenalkan Anna pada sebagian orang waktu resepsi pernikahannya.
Waktu itu mereka tidak punya banyak waktu untuk berbincang, tapi kali ini mereka banyak. Sebagian besar cukup suka dengan Anna, tapi ada sebagian yang tidak. Seperti mereka yang sedang menemani Anna bicara sekarang ini.
"Aku pikir Kevin bakal cari yang selevel. Gak nyangka ternyata miskin," Renata mencibir Anna. Gaby dan Mike yang ada disebelah Renata terkekeh.
Kevin sekarang ini meninggalkan Anna sendirian untuk pergi ke toilet.
"Beraninya pas aku sendirian aja. Pengecut," batin Anna.
"Saya memang miskin, tapi toh Kevin mau sama saya. Mungkin karena saya cantik kali ya," Anna gak mau kalah.
"Mungkin karena kamu pake pelet kali," sindir Gaby.
"Kamu masih percaya gituan di zaman modern ini? Ternyata kamu masih kolot ya."
Gaby merasa sangat kesal.
"Masih mending Vanessa kali daripada cewek gak tahu diri ini," gumam Gaby. Anna tidak memperdulikan Gaby.
Yang membuat Anna resah adalah tatapan Mike. Mike seperti melihat Anna dengan penuh nafsu
Anna sebenarnya sudah mau pergi menyusuk Kevin, tapi dia bisa nyasar di rumah besar itu. Rumah Kakek Rama memang tidak sebesar rumah Kevin, tapi tetap cukup besar dan bisa bikin nyasar.
"Bisa-bisanya aku gak bawa ponsel segala. Kan bisa telpon Kevin tanya posisi," batin Anna kesal.
"Biar aku tebak," seru Mike sok akrab. "
Pasti kamu gak pernah puas dengan Kevin kan?" lanjut Mike.
"Maksud kamu?" tanya Anna.
"Puas di ranjang tentunya." Mike tersenyum penuh makna. Anna mendengus dengan kesal.
"Anda hak apa untuk menilai? Yang merasakan kan saya."
"Ah, pasti belum pernah dengar gosip tentang Kevin." Gaby ikutan nimbrung.
"Suami kamu itu pernah digosipin penyuka sesama jenis," sahut Renata.
"Saya pernah baca itu di artikel online. Itu hanya gosip tak berdasar," jawab Anna.
"Mana kita tahu dia betulan tidur sama kamu atau tidak," Renata kembali bersuara.
"Jangankan ML, french kiss aja mungkin gak. Dia kelamaan dekat sama Alex sih. Untung Alex normal," sahut Mike.
"Anda jangan bicara tidak sopan gitu," seru Anna kesal.
"Lah, emang kenyataan. Dari dulu dia gak pernah dekat-dekat cewek kan," Gaby berceloteh.
"Kevin dekat dengan Clarence," jawab Anna.
"Nah, itu cewek seksi dan liar kayak Clarence aja dibiarkan. Gimana gak dibilangin sakit. Kalau aku pasti udah
kugarap si Clarence," balas Mike mesum.
Anna benar-benar kesal dengan orang-orang ini. Baru ingin memberi pembelaan, Kevin sudah datang menghampiri.
Kevin sebenarnya sudah kembali dari tadi. Bahkan Kevin mendengar hampir semua omongan saudara jauhnya itu.
Melihat Anna membelany Kevin merasa senang. Tapi Kevin tahu dia tidak bisa membiarkan Anna menghadapi saudaranya sendirian. Terutama Mike.
Kevin tahu reputasi Mike tidak begitu bagus. Kalau mau, Mike akan menarik perempuan mana pun untuk jadi teman tidurnya. Termasuk keluarga sendiri.
"Anna." Kevin menghampiri Anna dan langsung merangkul pinggang ramping istrinya.
"Gak kesepian kutinggal sendiri kan?" Kevin tiba-tiba gombal.
Awalnya Anna tidak mengerti, tapi segera mengikuti permainan Kevin.
"Gak kesepian sih, tapi kangen." Anna bersandar ke dada bidang Kevin.
"Romantis amat," sindir Mike.
"Kalau gak seperti itu namanya bukan pasangan dong," cibir Gaby.
"Maaf ya, tapi mau gimana lagi. Istriku ngangenin," sahut Kevin santai. Renata dan Gaby saudaranya kaget mendegar Kevin. Mereka gak menyangka seorang Kevin bisa bicara seperti itu.
Hanya Mike yang tidak bersuara. Dia masih menatap Anna dengan sangat intens.
"Sexy amat sih istrinya Kevin. Jadi pengen," batin Mike.
Anna sadar betul dengan tatapan Mike. Anna merasa kesal karena ditatap dengan sorot mata tak senonoh.
"Ini orang sialan amat sih? Mesum banget," batin Anna.
Anna bergerak tidak tenang dalam pelukan Kevin. Setelah memperhatikan sejenak, Kevin menyadari hal yang membuat Anna risih.
Entah iblis apa yang merasukinya, Kevin tiba-tiba mendaratkan bibirnya pada bibir Anna. Mengulumnya pelan, bahkan berusaha bermain lidah.
next>>>