
"Kamu gak kecapekan Na? Yakin mau langsung jengukin mamaku?" tanya Clarence.
"Tadi aku kan sudah sempat istirahat."
Anna sekarang ini sudah ada di salah satu apartemen Clarence. Seperti yang dibilang sebelumnya, Clarence membeli beberapa apartemen di satu lantai yang sama.
Masing-masing untuk dirinya, Nico, orangtuanya dan dua apartemen kosong. Tiga apartemen yang berpenghuni, diberi pintu penghubung di bagian dalam rumah. Hal ini untuk memudahkan mereka berpindah ke apartemen yang lain tanpa ketahuan.
"Kamu yakin? Dari Bandung ke Jakarta saja sudah bikin capek loh. Kamu baru istirahat sebentar udah mau ikut aku pergi," Clarence menasehati.
"Tadi aku sudah tidur sejaman, sekarang udah gak capek lagi. Kalau lapar sih iya," balas Anna.
"Dasar bumil," ejek Clarence.
"Kita singgah buat makan dulu kalau gitu," ajak Clarence.
"Aku mau makan rice bowl rawon," seru Anna.
Clarence mengernyitkan dahi.
"Emang ada yang kayak gituan?" tanyanya. Anna mengangguk sebagai jawaban.
"Aku heran gimana kamu bisa makan dalam mobil kayak gitu?" Clarence menatap Anna.
"Makanya aku pesan rice bowl kan. Biar bisa makan di mobil, gak buang-buang waktu."
Clarence menggeleng sambil tertawa. Begitu mereka sampai di parkiran rumah sakit, Anna langsung membereskan makanannya.
"Makan saja dulu. Gak usah buru-buru."
"Aku gak bisa habisin. Lagian kalau kebanyakan makandaging takut darah tinggi."
"Cuma rice bowl gak bisa habis?" tanya Clarence tidak percaya.
"Semenjak tahu hamil, aku gak bisa makan banyak lagi."
"Oh, bawaan hamil toh. Gak lama lagi pasti nafsu makanmu juga bertambah." Clarence memakai masker dan keluar dari mobil.
Clarence langsung menuju ke ruangan VIP tempat ibunya di rawat. Langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Ren, kamu itu kebiasaan ya. Masuk gak ketuk pintu dulu." Wanita yang duduk diatas ranjang menegur Clarence.
"Gimana Ma? Jadwal operasinya sudah fix?" Clarence mengecup pipi mamanya, kemudian beralih pada sang papa.
"Iya besok dioperasi," jawab Mama.
Mata mama beralih pada Anna. "Kamu bawa teman?"
"Ini Anna, istrinya Kevin." Clarence memperkenalkan Anna.
"Oh, astaga mama kok bisa lupa sama istrinya Kevin. Maiko, panggil saja Mama Mei." Anna meraih uluran tangan Mama Mei sambil tersenyum.
"Nah, itu papanya Clarence. Panggil papa Juna saja," lanjut Mei. Anna melemparkan senyum manis pada Juna, yang tidak terlalu ditanggapi.
"Sudah berapa bulan?" tanya Mei mengelus perut Anna.
"Jalan lima Tante," jawab Anna.
"Kok Tante? Keluarga Kevin keluarga kami juga, jadi panggil mama Mei." Anna mengangguk.
"Nanti Anna bakal bantu buat awasi Nico," sahut Clarence dari sofa.
"Kok kamu ajak istri orang sih. Nanti Kevin keberatan," protes Mei.
"Gak kok Ma. Gak ada yang akan keberatan," balas Anna.
"Yakin? Kamu kan lagi hamil, pasti Kevin merasa gak senang kamu harus bolak balik apartemen rumah kan?"
"Gak kok. Saya tinggal di apartemen kosong punya Ren." Mei memandang Anna dengan bingung.
"Saya dengar-dengar Kevin lagi ada masalah dengan istrinya," seru Juna.
"Papa tahu dari mana?" tanya Clarence.
"Gosip cepat beredar di kalangan pebisnis."
Anna tersenyum samar. "Kalian bertengkar?" tanya Mei. Mei menggenggam tangan Anna dengan hangat. Anna tidak langsung menjawab.
"Sebenarnya saya sudah minta pisah." Anna baru mengenal orang-orang di depannya, tapi dia sudah merasa nyaman. Anna tidak keberatan membagi masalahnya, seperti Clarence menceritakan masa lalunya.
"Seriously? Kemarin kamu gak bilang apa-apa," Clarence mulai histeris. Anna hanya mengagguk dalam diam.
"Setiap pasangan pasti ada masalahnya sendiri. Kamu gak usah khawatir, semua pasti ada jalan keluarnya." Mei mengelus punggung Anna dengan lembut.
"Kamu serius mau pisah dari Kevin?" tanya Clarence saat mereka sudah di mobil.
"Aku sudah kirim surat cerai, tapi belum ada respon."
"Itu artinya Kevin mau baikan sama kamu. Aku yakin dia itu cinta sama kamu."
"Aku juga gak tahu Ren." Anna menunduk lesu.
"Kalau menurut aku, kamu harus pertimbangkan lagi. Apalagi kamu hamil. Masa kamu tega membiarkan anakmu tumbuh tanpa ayah?"
"Sekarang kita pulang saja dulu, jam segini biasanya Nico sudah pulang. Biar kamu kenalan dulu sama dia." Anna mengangguk.
Anna diajak masuk ke rumah yang Clarence tempati terlebih dulu. Dari sana mereka menyeberang ke apartemen yang ditinggali Nico, menggunakan pintu penghubung.
"Nico my baby," teriak Clarence.
"Aku bukan anak bayi lagi ma," Nico protes seraya mendekati mamanya. Clarence memeluk Nico dengan gemas.
"Anak mama makin hari makin ganteng saja." Nico membalas pelukan Clarence dengan hangat. Dari balik punggung Clarence, Nico melihat Anna.
"Mama bawa teman?"
"Oh, iya." Clarence melepas pelukannya pada Nico.
"Ini tante Anna, istrinya om Kevin. Nanti selama mama dan nenek gak bisa jagaiin kamu, tante Anna yang gantiin."
"Halo Nico kan?" seru Anna.
"Selamat siang Tante. Terima kasih sudah mau bantu jagaiin Nico."
Anna terkejut melihat reaksi Nico. "Anakku dewasa banget kan," seru Clarence.
"Hm. Gak seperti mamanya."
"Maksudmu?" protes Clarence.
Keesokan harinya, Anna mulai mengawasi Nico. "Nico mau sarapan apa?" Anna menyapa Nico yang baru bangun.
"Tante Anna pagi banget bangunnya." Nico datang mendekati Anna.
"Tante bikin apa?"
"Nasi goreng. Mau? Atau mau yang lain?"
"Aku makan yang Tante buat saja."
"Ya udah, kamu mandi dulu ya." Nico berlalu meninggalkan Anna.
Setelah selesai masak, Anna menyebrang ke apartemen Clarence. "Ren. Udah bangun?" Anna berteriak.
Anna berjalan ke arah kamar Clarence. Anna mengetuk pintu. "Ren bangun." teriak Anna.
"Apa sudah berangkat ya?" gumam Anna.
Anna memutuskan masuk ke kamar Clarence. "Ren?" Anna terlonjak kaget melihat ada lelaki di kamar Clarence. Terlebih lelaki ini masih sementara pakai baju.
"Astaga." Anna segera berbalik memunggunginya.
"Anna," sahut Clarence panik.
"Maaf aku ganggu."
"Anna?" seru teman Clarence. Anna berbalik ke arah suara tadi.
"Gerald?" Anna makin terkejut. Anna melirik Clarence dan Gerald bergantian.
Di meja makan Anna terus-terusan menatap Clarence dan Gerald bergantian. "Ini kamu yang masak Na?" tanya Gerald.
"Kenapa memangnya?" Anna bertanya balik.
"Enak. Pantesan Kevin jadi sedikit berisi."
"Om Gerald, Nico nebeng ke sekolah ya." Gerald langsung mengangguk.
"Kalau Nico sudah selesai, ayo kita berangkat." Gerald mengajak Nico berangkat.
"Nico taruh piringnya di wastafel saja ya."
Nico pergi menaruh piringnya di wastafel. Setelah itu bergegas menyusul Gerald yang sudah berdiri di depan pintu.
"Gak niat nikah saja dengan Gerald?" tanya Anna.
"Gak tuh."
"Anak kamu saja sepertinya udah dekat sama Gerald. Kenapa gak sekalian jadiin bapaknya Nico?"
"Entah lah. Aku dari awal gak ada niatan nikah soalnya," jawab Clarence santai.
"Gak kasihan sama Nico? Dia juga butuh sosok seorang ayah."
"Anna, sebelum nasehatin orang mending kamu baikan dulu sama Kevin." Ekspresi Anna langsung jadi gelap.
"Gak bisa kan?" tanya Clarence.
"Sama seperti kamu, aku juga ada alasan untuk menikah." Clarence menatap Anna.
"Udah dong. Kok jadi kamu yang cemberut?" Clarence mencubit pipi Anna.
"Sakit tahu," protes Anna.
next>>>