
Andi dengan marah langsung mencengkram kerah baju Kevin.
"Kamu di sini enak-enakan dengan perempuan, dan kamu biarkan Anna yang lagi hamil ke dokter sendirian?"
Deg...
"Tadi dia bilang apa? Anna hamil?" batin Kevin.
"Maksud kamu apa?" Jantung Kevin berdetak lebih kencang.
Alex mendekat, berusaha menjauhkan Andi. "Hei, kamu apa-apaan sih?" Alex memberi kode pada Dinda untuk membawa kliennya pergi.
Dinda segera membawa klien yang dimaksud keluar ruangan. Tak lupa juga Dinda menutup pintu.
"Jangan pura-pura bego. Kamu apaiin Anna sampai dia nangis gitu? Kamu biarin dia pergi periksa kandungan naik taksi online, cuma ditemani sama anak kecil yang gak jelas."
"Aku bertanya apa maksudmu sialan?" Kevin berteriak marah, berhasil melepaskan cengkraman tangan Andi.
"Gak usah pura-pura gak tahu," protes Andi. Giliran Kevin yang menarik kerah Andi.
"Dari tadi kamu ngomong apa sih? Siapa yang kamu bilang hamil?" teriak Kevin.
Andi mengernyit memandang Kevin bingung. Alex juga terlihat bingung. "Kamu gak tahu?" tanya Andi.
"Kevin. Udah lepas." Alex menarik lengan Kevin.
"Kita bicarakan baik-baik. Oke," pinta Alex. Kevin melepas genggamannya dari kerah Andi.
"Bisa tolong jelaskan?" tanya Alex pada Andi.
"Aku gak sengaja ketemu Anna di toko roti sama anak kecil. Aku tadi antar mereka ke rumah sakit. Katanya Anna cek kandungan di sana."
"Cek kandungan?" tanya Alex.
"Anna lagi hamil. Katanya sudah jalan enam bulan." Bibir Alex membuka lebar.
"Di mana?" tanya Kevin.
"Maaf?"
"Kamu antar dia ke rumah sakit mana?" Kevin berteriak.
"Rumah sakit Bunda."
Kevin segera melangkah dengan terburu-buru. "Kevin," panggil Alex. Alex berbalik ke arah Andi.
"Terima kasih atas infonya, tapi tolong jangan campuri urusan rumah tangga orang lain." Alex segera pergi mengejar Kevin.
"Sialan," rutuk Andi sambil menendang sofa.
*****
Anna memperhatikan sekitaran ruang tunggu. Semua orang datang bersama suami, sementara Anna datang bersama Nico.
Anna menghela nafas panjang.
"Tante Anna kenapa?"
"Gak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum.
"Menyedihkan anak sekecil Nico saja mengerti kekhwatiranku," Anna membatin. Anna melihat sekeliling lagi.
"Aku memang terlihat menyedihkan. Andai Kevin ada di sini, aku pasti sebahagia orang-orang itu. Aku tanpa dirimu terasa hampa," kata Anna dalam hati.
"Ibu Anna." Seorang perawat memanggil Anna, menyadarkannya dari lamunan.
"Nico tinggal di sini saja?"
"Nico mau ikut lihat dedek." Anna tersenyum.
Beberapa waktu kemudian. Kevin yang sempat terjebak macet akhirnya sampai di rumah sakit. Kevin bergehas menuju meja administrasi.
"Maaf suster, apa hari ini ada pasien atas nama Anna yang datang kontrol?" tanya Kevin.
"Dokter siapa yang dikunjungi?"
"Saya kurang tahu sih, tapi saya suaminya."
"Anna Bramantara?"
"Betul," jawab Kevin antusias.
"Sepertinya sudah pulang Pak. Beliau baru sekitar sepuluh menit lalu menyelesaikan pembayaran."
"Alamat yang diidaftarkan alamat yang mana ya?" tanya Kevin.
"Pondok indah Pak." Ekspresi Kevin terlihat sangat kecewa.
"Makasih ya."
Dengan hati berat Kevin pulang ke rumah. Baru juga menapakkan kaki ke dalam rumah, Nenek sudah berteriak histeris.
"Kevin." Nenek datang mendekat.
"Ada apa lagi sih Nek?"
Surat keterangan kehamilan dengan nama Vanessa tertera di sana. "Lalu kenapa dengan ini?" tanya Kevin.
"Vanessa hamil Vin. Keluarga mereka tadi datang minta pertanggung jawaban."
"Kevin gak pernah ngapa-ngapain sama Vanessa. Anak ini bukan anak Kevin."
"Tapi kalau sampai orang lain tahu gimana?"
"Jadi Nenek mau Kevin gimana?" Kevin tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Nenek mau Kevin ninggalin Anna gitu? Bukan hanya Vanessa yang hamil Nek. Anna juga lagi hamil... Anakku."
Nenek tidak bisa berkata-kata lagi. Kevin juga segera pergi menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras.
Belum puas membanting pintu, Kevin membuka jasnya dengan kasar dan melemparnya. Kevin berusaha tenang dengan mengatur nafasnya.
Dipandanginya seluruh ruangan kamar. Diperhatikannya setiap jejak yang ditinggalkan Anna.
Kevin menelusuri setiap tempat yang sering ditempati Anna. Mulai dari ranjang, sofa, meja rias sampai walk in closet.
Kevin menyentuh beberapa pakaian yang masih tergantung di sana. Kevin mengambil satu dan menghirup sisa-sisa wangi Anna yang tertinggal.
"Aku gak sanggup Na. Aku gak sanggup melewati semua masalah tanpa kamu. Aku gak bisa tanpamu. Aku tanpamu terasa hidup tanpa oksigen."
Ponsel Kevin berdering keras. Tertera nama Alex pada layarnya. Kevin tidak memperdulikan panggilan itu.
*****
Alex menyerah menelpon Kevin. Kali ini dia menelpon Julie. "Kenapa kamu gak bilang kalau Anna hamil?" Alex langsung bertanya begitu Julie mengangkat telpon.
"Anna sudah bilang?" tanya Julie.
"Gak. Kami tahu dari Andi."
"Kenapa bisa Andi tahu?" Alex menceritakan kejadiaanya pada Julie.
"Dasar mantan gila," seru Julie kesal.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku?" Alex kembali bertanya.
"Anna yang suruh," jawab Julie singkat.
"Kevin berhak tahu loh. Dia kan ayah bayinya Anna."
"Terus aku bisa apa Lex?" Julie terdengar kesal.
"Anna janji sama aku bakal kasih tahu Kevin. Gak lama setelah itu ada kabar Vanessa hamil. Menurutmu gimana perasaan Anna?"
"Tapi kita semua kan tahu. Vanessa itu halu. Dia menjebak Kevin."
"Kalau gitu bawakan buktinya Lex. Dengan gitu masalahnya beres."
Mereka terdiam sesaat. "Kenapa juga Kevin gak pernah cari Anna?"
"Kevin bilang, Anna mungkin butuh waktu untuk menenangkan diri," jawab Alex.
"Selama apa memangnya Anna mau menenangkan diri? Kalau Kevin gak inisiatif masalahnya gak akan bisa selesai."
"Kevin juga sengsara Li. Kamu gak lihat seberapa kurusnya dia sekarang."
"Kamu pikir Anna gak sengsara? Kalau bukan karena hamil, mungkin dia gak akan mampu jaga diri sendiri."
"Aku juga sudah capek kayak gini Lex," lanjut Julie setelah jeda singkat.
"Maksud kamu?"
"Aku merasa bersalah banget sama Anna. Aku gak bisa terus-terusan bohongin dia," jawab Julie.
"Memangnya kamu bohongin dia soal apa? Kita hanya sekedar gak bilang. Sama kayak kamu gak bilang soal kehamilan Anna."
"Jadi sekarang kamu salahin aku?" tanya Julie.
"Maaf, aku gak berniat salahin kamu. Aku cuma kecewa sama keputusan Anna. Mereka saling cinta, kenapa harus berpisah? Kenapa gak dibicarakan baik-baik dulu?"
Alex bisa mendengar Julie menghela nafas frustasi. "Sekarang Anna di mana?" tanya Alex.
"Aku gak tahu. Dan kali ini aku benar-benar gak tahu."
"Kamu gak sama Anna?" tanya Alex.
"Aku masih di Bandung."
"Anna gak bilang dia mau ke mana?"
"Pokoknya yang aku tahu, Anna ke Jakarta nebeng dengan Clarence. Lebih dari itu aku gak tahu lagi."
"Clarence?"
"Iya, Clarence yang temanmu itu. Yang selebriti itu. Aku pikir, dia udah mau bilang soal kehamilannya langsung sama Kevin," balas Julie.
"Ya udah biar aku cari tahu dari Clarence." Alex mematikan sambungan telpon, kemudian mencoba menelpon Clarence.
next>>>