The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 84 Bertemu Clarence



"Aku lagi ada di Bandung Cle. Aku juga belum dihubungi sama Anna. Kalau dia ada hubungi aku, pasti kuberitahu. Ok bye." Clarence mematikan sambungan telpon dari Cleo.


"Ini Mbak cafe yang dimaksud?" tanya asisten Clarence. Clarence melihat keluar jendela mobil.


"Iya benar ini cafenya. Nanti kalau sudah selesai aku telpon ya."


Clarence memakai kacamata hitamnya dan turun dari mobil. Sebelum masuk ke dalam cafe, Clarence membaca ulang nama cafenya.


"K.E Cafe. Aneh banget sih namanya," gumamnya lirih.


Hari masih cukup pagi, cafe belum terlalu ramai. Begitu Clarence masuk, semua mata tertuju padanya.


"Mbak Clarence yang model itu ya?" Jeje bertanya antusias. Clarence memberikan senyum terbaiknya.


"Untuk berapa orang Mbak?" tanya Jeje antusias.


"Saya sendirian saja," jawab Clarence.


"Mau diatas saja mungkin? Diatas lebih kurang orang." Clarence mengangguk.


"Saya penggemar Mbak Clarence loh. Nanti boleh minta foto sama tanda tanga?" Jeje mengantar Clarence ke lantai dua dengan ceria.


"Boleh."


"Silahkan Mbak. Mau duduk di sebelah mana?" tanya Jeje. Clarence mengedarkan pandangan. Disaat yang sama pintu ruangan Anna terbuka.


"Anna?" panggil Clarence dengan ekspresi terkejut. Anna menoleh ke arah Clarence.


"Ren? Kok bisa disini?"


Clarence berjalan mendekati Anna, langsung memeluknya.


"Astaga Anna kamu ke mana saja?" Anna membalas pelukannya dengan senyuman.


Clarence melepas pelukannya, kemudian memperhatikan Anna. Clarence mengernyitkan dahi saat menyadari baby bump Anna.


"Kamu hamil?" Anna membalas dengan senyuman.


"Gimana kalau kita bicara di ruanganku saja?" tanya Anna.


Jeje menyajikan minuman untuk Anna dan Clarence. Dia tidak menyangka kalau bosnya kenal dengan selebriti.


"Aku suka pintu kamuflase ruanganmu," puji Clarence.


"Sama aku juga suka."


Anna masih tersenyum manis.


"Udah berapa minggu?" tanya Clarence.


"Enam belas minggu," jawab Anna singkat.


"Kevin sudah tahu?" Anna menggelengkan kepala untuk menjawab Clarence. "Kenapa?"


Anna menarik nafas sebelum menjawab.


"Aku belum bisa bilang."


"Kamu masih marah?" tanya Clarence.


"Gak. Aku gak marah Ren."


"Terus?"


"Gimana ya jelasinnya?" Anna berpikir sejenak.


"Aku gak bisa marah, karena aku tahu Kevin dijebak. Cuma waktu aku lihat foto itu, hatiku sakit banget."


Anna menatap Ren cukup lama.


"Aku tahu Kevin gak mungkin kayak gitu kalau gak dijebak, tapi biar gimanapun gak ada seorang istri yang gak marah lihat suaminya seperti itu. Walaupun fotonya mungkin hasil editan."


"Kamu benar. Andaikata aku yang ada di posisi kamu, Kevin sudah masuk rumah sakit karena kutendang selangkangannya." Anna tertawa mendengar Clarence.


"Beberapa hari lalu aku ditelpon sama Vanessa," Anna mulai bicara lagi.


"Dia cari gara-gara lagi?" tanya Clarence.


"Katanya dia hamil anak Kevin." Clarence mendengkus kasar mendengar Anna.


"Aku berani taruhan. Kalaupun dia benaran hamil. Itu bukan anaknya Kevin. Ini bukan aku hibur kamu ya Na, tapi aku yakin banget."


"Ren gak kerja hari ini?" Anna mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini sama besok jadwalku kosong. Kamu sendiri sekarang gimana?"


"Seperti yang Ren lihat, aku udah punya usaha sendiri."


"Jangan bilang kamu juga tinggal di gedung ini," balas Clarence.


"Gak. Aku tinggal sama Julie di apartemennya."


"Julie kerja juga kan?" tanya Clarence. Anna mengangguk.


"Jadi kamu sendirian dong di rumah?"


"Gak capek emang? Kamu pasti turun tangan sendiri kan?"


Anna mengangguk sambil menyeruput ice chocolatenya.


"Lumayan capek sih, karena seperti yang kamu bilang aku harus urus semua sendiri."


"Kamu gak tertarik buat rekrut manager saja?" tanya Ren.


"Nanti aku yang gabut," protes Anna. Clarence terlihat berpikir serius.


"Aku punya kerjaan bagus buat kamu. Job desknya juga gak susah. Sebenarnya bukan kerjaan juga. Aku cuma mau minta tolong sama kamu."


"Coba aku dengar dulu masalahmu. Kalau bisa kubantu akan kubantu," jawab Anna.


"Aku mau minta tolong kamu untuk jagaiin anakku."


Anna langsung tersedak minumannya.


"Astaga Anna. Kamu kenapa sih? Hati-hati dong, kasihan nanti debay." Clarence mengambilkan air botol di meja Anna.


"Jagaiin anakmu?" tanya Anna.


"Iya. Minggu depan aku mau show di luar negri. Biasanya mama yang jagaiin, tapi mama lusa mau operasi kaki. Ada Mbak yang jaga, tapi aku gak mau ninggalin mereka tanpa pengawasan."


Anna berusaha memproses kata-kata Clarence dengan baik.


"Jadi kamu pengen aku bantuiin mengawasi anakmu?" Clarence mengangguk.


"Sorry boleh tanya?"


"Kamu kan sudah bertanya," jawab Clarence.


"Maksudku beberapa pertanyaan," seru Anna sedikit ragu.


"Biar kutebak. Kamu pasti bingung anak siapa yang kubicarakan," balas Clarence. Anna mengangguk pelan.


"Tentu saja anak kandungku Anna." Anna membulatkan matany karena kaget.


"Belum pernah dengar kan?" tanya Clarence. Anna mengangguk cepat.


"Nama Nicholas, dipanggil Nico. Umurnya tahun ini sepuluh tahun." Clarence memperlihatkan foto Nico dari ponselnya.


"Sepuluh tahun?" tanya Anna dengan kaget.


"Kamu gak perlu sekaget itu. Aku hamil diluar nikah waktu umur delapan belas. Melahirkan dua hari setelah berumur sembilan belas."


Anna sebenarnya masih banyak pertanyaan, tapi dia tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya. Anna takut kalau Clarence tersinggung.


"Kalau mau bertanya, tanya saja. Aku gak bakal gigit kamu kok." Clarence bisa membaca ekspresi Anna dengan baik.


"Maaf," seru Anna.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Clarence.


"Kamu pasti beranggapan aku kepo kan?"


"Gak kok. Wajar kalau kamu mau tahu. Aku gak keberatan kasih tahu kamu."


"Emang Ren gak takut?"


"Takut apa?"


"Aku bocorin rahasianya. Secara kamu sepertinya nutupin ini semua."


"Aku gak pernah nutupin masa laluku. Kalau aku nutupin, gak mungkin dong tadi aku kasih tahu kamu soal Nico."


"Kalau bukan nutupin apa dong?" tanya Anna.


"Aku cuma gak mau Nico ternotice sama wartawan. Aku gak mau dia terkontaminasi dunia selebriti."


"Kamu kan juga selebriti Ren."


"Makanya cukup aku saja yang tahu kejamnya duniaku. Aku gak mau Nico berurusan sama netizen, apalagi anti fansku."


"Aku gak masalah gak punya privasi, tapi aku gak mau anakku diuber-uber wartawan. Dicaci maki sama netizen. Aku pengen melindungi dia. Makanya aku mati-matian sembunyikan Nico. Aku pengen dia tumbuh seperti anak-anak seusianya."


"Bukannya kalau begitu kamu gak bisa tampil di depan umum sebagai mamanya?" tanya Anna.


"Memang itu konsekuensinya. Makanya aku selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk Nico. Yah walaupun hanya main di rumah."


"Apa pendapat Nico?"


"Dia gak pernah mengeluh sih. Nico anak yang penurut," jawab Clarence. Mereka terdiam sejenak.


"Apalagi yang mau kamu tanyakan? Tanyakan saja semuanya," seru Clarence.


"Yakin aku bisa tanya semua?" tanya Anna.


"Amat sangat yakin," jawab Clarence.


"Kalau aku tanya gimana kamu bisa hamil di luar nikah, apa kamu mau jawab?"


next>>>