The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 40 Tidak Sengaja



Akhirnya tetap Anna yang melap badan Kevin. Anna sudah siap dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil.


Anna menjulurkan tangan ingin membuka kancing baju Kevin.


"Eh, tunggu biar aku saja." Kevin menahan tangan Anna.


"Ya sudah." Anna membilas kainnya dan mematikan AC. Kevin membuka bajunya dengan ragu-ragu.


Anna menunggu dengan tidak sabar.


"Lama amat sih. Nanti airnya keburu dingin," protes Anna.


"Sabar dikit dong. ACnya juga udah dimatiin." Kevin membuka kancing kemejanya dengan pelan.


Kesabaran Anna sudah habis. Anna mengulurkan tangannya membantu Kevin membuka tiga


kancing terakhir.


"Eh, ngapain."


"Lama." Anna menarik kemeja Kevin keluar dari kedua tangannya.


"Wow, otot badannya bagus juga," batin Anna.


"Aku mulai ya," seru Anna.


Deg... Deg...


Baru juga mau mulai jantung Kevin sudah mau lompat. Belum pernah ada satu perempuan pun yang melihat Kevin telanjang dada, apalagi sampai menyentuhnya seperti yang Anna lakukan sekarang.


Anna mulai dari lengan Kevin.


"Otot bicepsnya bagus," batin Anna. Anna melanjutkan tugasnya sambil tersenyum.


"Dadanya bidang, punggungnya tegap. Otot perutnya juga sempurna. Aduh suamiku ini pahatan atau manusia sih," batin Anna sambil tersenyum.


Sementara Anna asik sendiri, Kevin juga sibuk sendiri dengan pikirannya.


"Aduh geli. Kenapa pelan banget sih si Anna," batin Kevin.


Kevin melirik ke arah Anna. Mereka sempat bertatapan sekian detik sebelum Kevin membuang muka.


"Aduh jantungku kenapa?"


Anna beralih ke bagian depan. Kevin terlihat sedikit gugup. Saat Anna menyentuh dada Kevin, Kevin menahan nafas.


Saat Anna sampai ke bagian perut, tiba-tiba Kevin menahan tangan Anna.


"Biar aku saja." Anna terlihat sedikit kaget.


"Ada apa sih. Bikin kaget saja."


"Bi.. Biar aku saja yang lanjutkan." Kevin tidak menatap Anna.


"Yakin?" tanya Anna.


"Yakin. Kan tinggal bagian depan." Kevin berusaha menutupi kegugupannya.


"Ok. Kalau gitu aku ambilin kamu air minum lagi."


Kevin mengagguk diam.


"Kalau sudah jangan lupa ganti baju. Pakaian dalamnya juga," seru Anna.


"Ok," jawab Kevin singkat.


Anna keluar kamar dengan senyum bahagia.


Begitu Anna keluar, Kevin menarik nafas lega.


"Astaga hampir saja. Kalau lebih lama dari ini, aku tidak akan bisa menahan diri lagi," seru Kevin lega.


"Kalau begini terus bukannya sembuh, aku bisa jadi makin sakit. Jantungku bisa meledak." Kevin memegang dadanya.


"Ken sudah?" Anna mengetok pintu kamar.


Tidak ada suara terdengar. Anna mengetuk pintu sekali lagi, masih tidak ada jawaban.


Bimbang


akhirnya Anna membuka pintu kamar. "Ken ganti bajunya sudah?"


Anna membeku melihat Kevin yang masih sementara berganti pakaian dalam. Kevin pun langsung membatu saat melihat Anna.


"Aaaaa....." teriak Kevin dan Anna bersamaan.


"Ngapain sih kamu?" Anna berbalik menutup matanya dengan kedua tangan.


"Kamu yang ngapain masuk gak ketuk pintu," Kevin balas berteriak.


"Aku sudah ketuk pintu dua kali, tapi gak ada jawaban."


"Gimana mau ada jawaban kalau kamarnya sound proof."


"Ya aku lupa." Mereka berdua saling berteriak histeris.


Kevin berusaha memakai pakaian secepat mungkin, tapi malah tersandung. Mendengar suara Kevin yang terjatuh, Anna jadi panik.


"Kevin kamu kenapa?"


"Jangan berbalik," teriak Kevin.


"Aku belum selesai," lanjutnya.


"Ok. Sudah, sudah selesai." Kevin sedikit kehabisan nafas.


"Yakin?" tanya Anna.


"Yakin."


Anna berbalik dengan pelan, masih menutup mata. Anna pelan-pelan membuka sebelah matanya. Setelah merasa aman, barulah kedua matanya dibuka.


Kevin sudah duduk di ujung tempat tidur, sementara Anna masih berdiri tak bergeming. Rasa canggung menyelimuti keduanya.


"Kamu tadi jatuh? Gak apa-apa?" tanya Anna sedikit terbata.


"Gak apa-apa." Kevin dan Anna kembali terdiam.


Keduanya masih belum bergerak, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Tadi Anna lihat gak ya?" batin Kevin.


"Aku gak lihat apa-apa. Aku gak lihat apa-apa. Aku gak lihat apa-apa." Anna berusaha meyakinkan dirinya, tapi tidak bisa.


Anna mulai merasa wajahnya menjadi panas dan merah.


"Aku mau tidur duluan," seru Anna.


"Silahkan," jawab Kevin.


Bimbang Anna berjalan ke arah ranjang dan berbaring di tempatnya biasa tertidur. Kevin dengan canggung ikutan berbaring. Mereka saling memunggungi satu sama lain.


"Astaga malu banget. Gimana nih? Aku harus gimana?" batin Anna. Wajah Anna semakin merah membara.


"Anna pasti lihat. Kenapa juga dia harus masuk saat aku lagi ganti cd. Besok aku harus bersikap gimana?" batin Kevin.


"Aduh malu banget," batin Anna.


"Memalukan," batin Kevin.


Kevin terbangun lebih cepat dari biasanya. Bahkan dia terbangun lebih cepat daripada Anna. Saat membuka mata, Kevin terkejut melihat wajah Anna yang tertidur pulas ada tepat di depannya.


"Astaga bikin kaget saja." Kevin duduk sambil melihat Anna yang masih tertidur lelap.


"Aduh kenapa teringat kejadian kemarin lagi," batin Kevin.


Kevin menghela nafas dan mengacak rambutnya.


"Berhenti berpikir yang aneh-aneh," gumamnya.


Kevin kembali memperhatikan Anna. Tangan Kevin refleks membelai rambut Anna dengan lembut. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Anna, agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Rambut Anna sudah jadi sepanjang ini ya. Padahal dulu rambutnya cuma sebahu," batin Kevin.


"Cantik," gumam pelab Kevin.


"Hmmm..." Anna bergumam lirih dan bergerak. Kevin kaget dan segera menjauhkan tangannya dari Anna.


Anna masih tertidur lelap.


"Kaget aku. Kupikir dia terbangun." Kevin masih memandangi Anna sebentar.


Bibir Anna sedikit terbuka, terlihat sedikit seksi. Kevin menelan ludah. Kevin kembali menjulurkan tangannya, kali ini menyentuh bibir Anna.


"Astaga, aku ini ngapain sih?" Kevin tiba-tiba tersadar.


"Sadar Kevin, Anna lagi tidur. Jangan sampai melanggar kontrak."Kevin berpaling melihat Anna sebentar, kemudian langsung bangun dari tempat tidur.


"Ok. Sepertinya aku sudah cukup sehat. Apa mungkin pergi lari pagi saja?" batin Kevin. Kevin melihat jam dinding.


"Sudah setengah jam lima pagi."


Kevin berpikir sebentar.


"Olahraga sedikit sepertinya gak masalah." Kevin mengganti piyama dengan pakaiana olahraga.


Anna mulai terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum duduk. Anna memandang ke sekeliling kamar, tapi tidak melihat Kevin.


"Loh, Ken mana?" Anna melihat jam dinding.


"Sudah lewat jam lima pagi. Apa Kevin lagi mandi ya?"


Anna pergi mengecek ke kamar mandi.


"Ken kamu lagi mandi?" Anna menegetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban.


Ragu-ragu Anna membuka pintu kamar mandi.


"Ken?" Karena tidak mau kejadian kemarin terulang, Anna masuk sambil menutup mata.


"Ken? Kamu ada di dalam?" Anna masih menutup mata.


"Tidak ada suara sama sekali," batin Anna.


Anna membuka mata pelan-pelan.


"Gak ada orang," gumam Anna melihat sekeliling. Anna menuju ke arah walk in closet mereka.


"Ken?" Anna mengetuk pintu beberapa kali. Kali ini Anna langsung membuka pintu. Anna menyusuri ruangan yang agak besar itu.


"Di sini juga gak ada. Masih sakit gitu dia ke mana sih?" Anna mulai merasa kesal.


next>>>