The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 98 Sia-Sia Cemburu



"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Kevin pada Anna. Anna mengangguk.


"Mau baring saja?" Kali ini Anna menggeleng.


"Bentar ya." Kevin menelpon ke meja Kiki.


"Buatkan teh yang bisa menenangkan Anna."


"Yakin gak mau baring?" tanya Kevin lagi.


"Sofanya gak cukup luas Ken," jawab Anna.


"Oh, ya? Perasaan aku selalu tiduran di sofa ini."


"Emang kamu gak pernah merasa gak nyaman?"


"Emang sepertinya agak sempit, tapi nyaman kok. Kan kamu yang jadi bantalnya." Kevin tersenyum manis.


"Tapi aku kan gak terjatuh nanti. Nanti babynya kenapa-kenapa lagi." Kevin mengangguk setuju.


"Kalau gitu besok aku ganti sofanya."


"Gak usah Ken. Gak penting tahu."


"Penting dong. Kamu kan bisa istirahat kalau lelah. Atau perlu kubuatkan kamar tidur saja?"


"Mana ada tempat lagi buat kamar tidur di lantai ini? Kamu mau menggusur karyawanku?" protes Anna.


Terdengar ketukan di pintu. Kiki masuk setelah dipersilahkan, membawakan Anna teh.


"Di lantai sepuluh masih banyak tempat kosong. Aku bisa buat kamar tidur tepat disebelah ruanganku." Kevin tidak memperdulikan keberadaan Kiki.


"Gak perlu. Aku tahu kamu punya tujuan lain kan?" tuduh Anna.


"Gak kok. Itu murni buat kamu istirahat."


"Jangan alasan."


Kiki terlihat masih memoerhatikan bosnya. Kevin menyadari hal itu langsung menegurnya.


"Ada masalah?" tanya Kevin.


"Tidak Pak. Saya hanya senang melihat anda berdua bisa seperti ini lagi."


"Seperti apa?" tanya Anna penasaran.


"Sangat mesra mengarah ke bucin," seru Kiki sambil tersenyum.


"Bisa saja," seru Anna.


"Boleh minta tolong gak sama Pak Kevin dan Mbak Anna?" tanya Kiki ragu-ragu.


"Gak boleh," jawab Kevin ketus.


"Kamu kenapa sih Ken? Kiki bahkan belum bilang mau minta tolong apa," Anna memprotes.


"Kiki mau minta tolong apa?" tanya Anna.


"Salah satu teman saya penggemar berat anda berdua, katanya kalau boleh dia mau minta foto kalian."


"Boleh."


"Gak boleh." Kevin dan Anna menjawab bersamaan. Kiki melirik kedua bosanya sambil menahan tawa.


"Gak harus dari depan kok. Biar candid juga boleh," pinta Kiki. Anna tersenyum manis pada Kevin. Kevin menghela nafas dan mengangguk.


Melihat persetujuan Kevin, Kiki langsung memotret mereka dengan ponsel yang sedari tadi sudah siap ditangannya. Jadilah foto candid pertama.


"Sudah Pak. Mbak."


"Eh, sudah?" Anna berbalik ke arah Kiki.


"Kan saya pengen candid saja. Silahkan lanjutkan acaranya."


Kiki berjalan keluar dengan pelan. "Ada-ada saja anak itu." Anna bersandar di bahu Kevin. Dengan cekatan Kiki mengambil foto candid kedua.


Kiki segera menshare dua fotonya di grup karyawan. Sebagian besar karyawan sudah diberitahu proyek yang dinamakan 'love undercover'.


"Siapa yang memberikan nama menjijikkan ini?" gumam lirih Kiki.


Para karyawan senang melihat Anna kembali ke kantor. Dan seperti biasa gosip cepat menyebar di grup chat rahasia, bahkan kadang-kadang disertai foto.


Sudah banyak foto Anna dan Kevin kedapatan bermesraan di grup itu. Bukan hal yang susah memviralkannya.


Sementara itu Anna masih bersandar manja pada Kevin. Kevin kelihatan mulai sibuk dengan dokumen yang dibawa Alex.


Anna juga sebenarnya sudah ada kerjaan yang harus dilakukan, tapi dia melakukannya dengan malas. Anna sedang ingin manja.


Ponsel Kevin berdering, memperlihatkan nama Rian. Anna berinisiatif mengambilkan ponsel itu, karena Kevin tidak menggubrisnya.


"Biarkan saja," pinta Kevin.


"Tapi orang ini menelpon sudah dua kali, siapa tahu penting."


Dengan malas Kevin mengambil ponsel itu dari Anna. Anna sudah menggeser tombol hijau ke samping. Entah bagaimana, saat menerima ponsel jari Kevin tidak sengaja menekan tombol speaker.


"Darling kok lama banget angkat telponnya," seru manja seorang wanita. Anna mengerutkan dahinya mendengar kata darling.


Kevin menjauhkan telinganya dari ponsel. Kevin hendak mematikan speaker, tapi dihalangi oleh Anna.


"Biarkan tetap seperti itu," seru Anna.


"Darling? Kamu masih di sana?"


"Berhenti memanggilku seperti itu. Jijik tahu," balas Kevin terlihat santai. Anna menatap Kevin tidak percaya.


"Apa yang kalian lalui bersama?" tanya Anna kesal. Kevin terkejut dengan reaksi Anna yang tiba-tiba.


"Darling kamu sedang sama siapa? Lagi meeting?"


"Bukan siapa-siapa. Apa maumu?" suara Anna terdengar ketus.


"Aku mau bertemu dengan Kevin. Apa dia ada di kantor? Aku sudah ada di bawah."


"Naik saja ke lantai delapan, cari yang namanya Anna."


Setelah bicara seperti itu, Anna langsung menekan tombol berwarna merah. Kevin melirik Anna dengan heran.


"Ada apa denganmu?" tanya Kevin.


"Tidak ada apa-apa," jawab Anna ketus.


Sedetik kemudian telpon di ruangan Anna berdering. Kiki menelpon memberi tahu ada yang mencarinya di lantai bawah.


"Suruh langsung masuk kalau sudah diatas." Anna membanting telponnya.


"Sayang, kok tiba-tiba kamu marah-marah sih?" Kevin bertanya dengan bingung.


"Kamu tanya aku?" suara Anna mulai meninggi.


"Aku bertanya karena aku tidak tahu," seru Kevin polos.


"Itu tadi yang telpon siapa?"


"Rian," jawab Kevin.


"Rian? Gak salah? Jelas-jelas itu suara cewek."


"Kalau begitu Riana," balas Kevin. Anna mendengkus marah.


"Tunggu. Kamu cemburu?" tanya Kevin dengan senyuman.


"Menurutmu?" Kevin tertawa melihat tingkah Anna.


"Kok malah tertawa?"


"Karena lucu saja melihat kamu cemburu pada Rian."


"Riana maksudmu?" seru Anna ketus.


"Ya. Kamu ingin menyebutnya seperti apa terserah. Aku memanggilnya Rian."


Anna ingin meledak lagi, tapi terdengar ketukan di pintunya. "Masuk," seru Kevin masih tersenyum riang.


"Hello darling," sapa Rian saat melihat Kevin.


"Aku sudah katakan, berhenti memanggilku seperti itu." Kevin berdiri dan memberikan pelukan.


Anna mebelalakan mata melihat itu. "Perkenalkan Rian," sahut Kevin.


"Riana," wanita itu tinggi itu meralat.


"Ini istriku Anna," Kevin tidak menggubris Rian atau Riana.


Wanita di depan Anna sangat tinggi. Kira-kira hampir setinggi Kevin. Dikarenakan high heels yang dikenakan, dia terlihat lebih tinggi dari Kevin.


Dengan kesusahan Anna mendonggak melihat wajah Riana ini. "Kentara banget habis operasi plastik," batin Anna.


Anna mengamit tangan yang terulur dengan kasar. "Kamu manis sekali sayang," seru Rian.


"Loh? Anna Wijaya?" Seseorang di belakang Rian bersuara. Anna mengalihkan perhatian ke arah datangnya suara.


"Evan?" Anna terkejut melihat teman sekolahnya dulu.


"Apa kabar say." Anna mencium pipi kiri dan kanan Evan.


Kali ini giliran Kevin yang cemburu. "Tolong menjauh dari istriku." Kevin segera menarik mundur Anna.


"Kalian saling kenal?" tanya Riana.


"Kami satu sekolah waktu SMA," jawab Anna.


"Oh, sama dong kayak aku dan Kevin."


"Beda dong. Waktu SMA kamu kan masih jantan." Kevin membawa Anna menjauh dari Evan.


"Sorry apa?" tanya Anna.


"Aku ini transgender say," ucap Rian dengan percaya diri. Mulut Anna terbuka lebar.


"Wah, kalian berdua pasangan yang cocok." Anna menimpali setelah berhasil menekan rasa kagetnya.


"Maaf ya say. Aku ini gak suka yang kayak gini. Kevin saja aku gak doyan. Aku senang yang padat, berisi, berotot dan besar." Anna menaikkan kedua alisnya mendengar pernyataan itu.


"Kalau aku sih doyan yang seperti suamimu," timpal Evan. Kevin mengernyitkan dahinya.


"Maksudnya?"


"Aku lebih suka cowok daripada cewek," jawab Evan santai. Detik itu juga, Kevin langsung merapat ke arah Anna.


Anna tertawa melihat tingkah Kevin.


"Sia-sia aku cemburu tadi," bisik Kevin pada Anna.


"Aku juga," Anna balas berbisik.


next>>>