
"Halo, langsung masuk aja Li. Aku masih makan di dalam," seru anna mengangkat telpon. Tidak lama kemudian
muncul lah sosok Julie.
Anna melambaikan tangan agar Julie bisa melihatnya. Dengan terburu-buru Julie menghampiri meja Anna.
"Sejak kapan kamu punya pacar." Julie duduk di depan Anna.
"Sejak hari ini." sahutnya
"Maksudnya?" tanya julie bingung
"Ingat gak kejadian waktu aku mabuk bulan lalu? Dia cowok yang difoto itu."
"Masa sih?" Julie mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa foto yang dimaksud.
"Wah, lebih ganteng aslinya dong. Terus sejak kapan kalian pacaran?" Anna kemudian menceritakan semuanya kepada Julie.
"Gila. Hidupmu udah benaran kayak drama korea saja ya Na." ucap Julie setengah tak percaya
"Tapi omong-omong aku tuh kayak pernah dengar namanya dia di mana gitu. Emang siapa nama panjangnya?" lanjut Julie
"Kevin Bramantara." jawab cepat Anna
"Eh, ia Na namanya familier," jawab Julie.
Julie berpikir sebentar,
"Bentar. Dia bukan orang yang aku pikirkan kan?"
"Siapa?" tanya Anna.
"Namanya Kevin Bramantara kan?" Anna mengangguk sebagai jawaban.
"Itu bukannya yang punya B Hotel?" ucap Julie
"What?" kaget Anna
Kevin Bramantara, penerus utama keluarga Bramantara dan direktur utama jaringan hotel terbesar di Indonesia B Hotel.
Jaringan B Hotel Lite miliknya merupakan salah satu dari sedikit hotel bintang lima terbaik diIndonesia. Jaringan hotel ini juga memiliki hotel dengan harga yang lebih terjangkau yaitu, B Hotel Traveler. Selain hotel Kevin Bramantara juga sudah melebarkan sayap ke bisnis kuliner, dengan membuka cabang B Cafe hampir di seluruh Indonesia.
Kevin Bramantara sendiri termasuk dalam daftar lima belas orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan yang tercatat pada tahun lalu melebihi angka dua puluh lima triliun rupiah.
Dia menduduki peringkat ke dua.belas, lima peringkat di bawah neneknya sendiri Ratih Bramantara. Selain itu, keluarga Bramantara juga merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di Indonesia. Total kekayaan keluarga Bramantara secara keseluruhan di perkirakan mencapai seratus triliun rupiah.
Kira-kira seperti itu profil Kevin Bramantara yang ditulis di internet.
Anna masih saja melongo dengan mulut terbuka setelah membaca sebagian dari artikel yang ada di internet.
"Gila sis, pacarmu itu konglomerat." ujar Julie
"Pacar kepalamu. Orang cuman settingan" Anna melambaikan tangan memanggil pelayan dan mengisyaratkan permintaan bill.
"Maaf mbak, tagihan yang pertama sudah dibayar. Jadi, mbak tinggal bayar pesanan terakhir saja" ucap Waiters tersebut
"Pacar idaman memang ya." puji Julie
"Panjang umur banyak dosa. Ini orangnya chat." Anna melihat layar ponselnya.
"Dia. ngomong apa?" tanya Julie
"Katanya dia udah kasih tau manager hotel tempat kita nginap soal kita mau pindah ke B Hotel Lite. Terus nanti jam enam lewat dia mau jemput aku buat makan malam?" jelas Anna
"Wow, untung aja kamu putus sama Andi. Dapat ikan kakap. Jadiin pacar beneran saja." ucap Julie
"Eh, Li kamu kayak gak tau aja sih. Konglomerat kayak gini gak bakal mau sama orang miskin kayak aku.Walaupun Kevinnya mau, keluarganya belum tentu mau. Paling nanti kayak di drama korea gitu." lanjut Anna
"Aku akan berikan uang ini untukmu, tapi tinggalkan anakku. Gitu kali ya," canda Julie.
"Mending kalau cuma gitu. Kalo disiramin air sama yang ngaku- ngaku tunangannya gimana?" tambah Anna
"Paling basah." jawab Julie
Mereke tertawa bersama-sama...
Sebelum pindah hotel, Anna dan Julie menyempatkan diri untuk shopping sampai jam empat. Julie mati-matian menyuruh Anna beli dress baru yang cocok dipakai nanti malam. Akhirnya Anna membeli satu dress sederhana.
Tepat jam enam malam ponsel Anna berdering.
"Halo," jawab Anna
"Sebelumnya saya minta maaf. Rapat saya lebih lama dari seharusnya dan mungkin saya akan sedikit terlambat," Kevin meminta maaf.
"Gak masalah, janjian kita kan jam enam lewat."
"Saya sudah mengirim sekretaris saya ke sana, sebentar lagi mungkin sampai. Saya akan usahakan rapatnya selesai dalam lima menit lagi. Jadi kira-kira saya akan sampai di sana dalam dua puluh lima menit."
"Ok, gak masalah."
"Kenapa Na?" tanya Julie setelah telpon terputus
"Katanya rapatnya agak lama dua puluh lima menit lagi baru sampai." jawab Anna
"Lama amat, nanti bedakmu luntur semua."
"Gak bakal, kitakan di ruangan ber ac. Lagian katanya dia nyuruh sekretarisnya datang duluan."
"Buat apa?" Anna menjawab hanya dengan mengangkat bahu.
Lima menit kemudian terdengar bunyi bel kamar. Anna pergi membuka pintu dengan asumsi sekretaris Kevin sudah datang. Begitu membuka pintu Anna disuguhi pemandangan bunga mawar raksasa yang tentunya
mengejutkan.
"Emm, bunganya tidak mau diambil?" seru Alex
.
"Oh, sorry." Anna mengambil bunganya dari Alex.
"Dengan Anna?" tanya Alex
"Ya." jawab Anna
"Kenalin saya Alex, sekretaris pribadi Kevin. Oh, bunganya dari Kevin. Bukan dari saya." jelas Alex
"Makasih penjelasannya. Mau masuk dulu?" tawar Anna
"Tidak perlu, nanti bisa menimbulkan kesalah pahaman." tolak Alex
"Maksudnya?" tanya Anna yang tidak paham
"Vanessa itu stalker yang lumayan handal, nanti bisa saya digosipin ngapa-ngapain di kamar ini sama anda," bisik Alex.
"Ok."
"Saya panggil Anna saja gak apa-apa ya?" tanya Alex.
"Boleh."
"Jadi, Anna mau menunggu di mana?." tanya Alex
"Terserah sih, saya gak masalah." jawab Anna
"Kalau begitu kita nunggu direstoran saja ya." saran Alex
"Saya simpan ini dulu dan ambi tas."
"Li, sini kenalin," ajak Anna untuk berkenalan dengan Alex
.Anna berjalan masuk dan Julie keluar ke pintu.
"Halo, saya Julie temannya Anna." ucap Julie
"Alex,sekretarisnya Kevin." jawab Alex
Anna sudah muncul dengan tas selempang kecilnya.
"Aku duluan ya Li."
"Saya boleh ngomong sesuatu?" tanya Alex.
"Silahkan."
"Gak berencana jadi pacar benarannya Kevin?"
"Kenapa memangnya?" tanya Anna dengan wajah yang bingung
"Kevin gak suka sama Vanessa. Dalam banyak hal, salah satunya Vanessa suka jadi stalker. Dia sering mengikuti Kevin ke mana saja, bahkan saat dinas luar kayak gini. Dan itu bikin saya sakit kepala." jelas Alex
"Hubungannya?" bingung Anna
"Kalau ada Vanessa mood Kevin jelek. Saya sebagai sekretaris pasti kena getahnya. Selain itu, saya juga yang harus urusin Vanessa. Jadi saya berharap banget, kalau Kevin punya pacar Vanessa mungkin bisa mundur teratur."
"Kalau dia mau," timpal Anna
.
"ya Kalau dia mau." ucap Alex
"Gak tau sih, saya belum punya pikiran untuk pacaran lagi," Anna tersenyum.
"Ok, itu hakmu. Saya juga gak bisa maksa. Omong-omong kita sudah sampai." ucap Alex setelah sampai di restoran
"Selamat malam pak Alex, saya dengar pak Kevin mau makan malam di sini." Manager restoran langsung menghampiri begitu melihat Alex.
"Pak Kevin bakal agak telat. Untuk sementara tolong antar mbak ini ke meja yang diminta pak Kevin. Anna ada makanan yang mau di request." ucap Alex
"Yang penting bukan kepiting, saya alergi kepiting." jawab Anna
"Ok, Anna boleh ikut pak Yudha dulu ya dia manager di sini. Saya mau bicara dengan chefnya dulu."
"Mari bu." Pak Yudha memimpin.
Anna diantar ke meja dekat jendela. Suasananya bagus untuk makan malam romantis. Baru sebentar Anna menikmati suasana malam Bali,
Kevin sudah tiba.
"Maaf saya agak terlambat. "Kevin langsung duduk didepan Anna.
Ketika Kevin memperhatikan Anna dengan baik, dia merasa sedikit terkejut.
"Ada yang aneh?" Anna bertanya.
"Tidak. Saya hanya merasa anda sedikit berbeda dari tadi siang."
"Saya akan anggap itu pujian." Anna tersenyum.
Kevin menarik nafas,
"Sekali lagi saya minta maaf dikarenakan rapatnya lebih lama dari yang saya bayangkan, anda
terpaksa..." ucap Kevin
"Sebentar," Anna menyela.
"Bisa gak sih cara bicaranya santai dikit? Kamu terlalu kaku." lanjutnya
"Akan saya usahakan." jawab Kevin
"Saya dan anda itu juga tolong diganti jadi aku dan kamu." ucap Anna lagi
"Itu sepertinya agak susah." jawab Kevin
"Kita ini kan statusnya pacaran loh, aneh kalau bicaranya sekaku kamu.
Vanessa gak akan percaya kalau begitu." jelas Anna
"Akan... Kuusahakan," Kevin terbata.
"Aku gak menunggu lama kok," kata Anna.
Sementara itu Vanessa baru saja masuk ke restoran dan segera mencari Kevin. Begitu melihat Kevin, Vanessa langsung mengambil tempat tepat di belakang Anna. Kevin yang melihat itu segera meminta pelayan mengosongkan semua meja di sekitarnya.
Dengan marah Vanessa pindah ke meja yang lebih jauh, tiga meja disebelah kanan meja Kevin dan Anna
"Dia sebenarnya siapa sih? Gigih amat stalkerin kamu." tanya Anna
"Papanya dulu bersahabat dengan almarhum papa sa... Papaku." Kevin merasa kesulitan berbicara santai.
Anna hanya bisa tertawa melihatnya.
"Jadi aku harus panggil kamu apa? Mas Kevin, Kevin saja, kakak atau apa?" tanya Anna
"Terserah." jawab Kevin
"Tapi Kevin itu terlalu panjang sih. Gimana kalau Ken saja?" usul Anna
Kevin hampir tersedak salad yang dimakannya. Selama hidupnya hanya satu orang yang pernah panggil dia Ken.
"Boleh gak panggil Ken saja?" tanya Anna lagi
"Terserah," jawabnya lirih.
"Gak apa-apa ya aku gak panggil kakak. Kamu emang lebih tua sih, beda empat tahun dengan aku. Tapi aku lebih
suka panggilan yang singkat." jelas Anna
Kevin teringat lagi pada wanita yang memanggilnya seperti itu.
"Aku lebih suka panggil kamu Ken, karena lebih singkat." Kenang Kevin.
"Hello, kok malah melamun sih." Anna mengibaskan tangannya di depan wajah Kevin.
"Kenapa?" tanya Kevin
"Aku tanya gak apa-apa kan kalau aku gak panggil kakak? Karena kamu lebih tua empat tahun dari aku." Anna
merasa kesal.
"Kamu baru dua puluh lima tahun?" tanya Kevin sedikit terkejut.
"Ia kenapa?"
"Aku pikir kamu cuma beda satu atau dua tahun dengan Vanessa."
"Memangnya si Vanessa umur berapa?"
"Dua puluh tahun."
"Wow, aku awet muda dong. Tapi dia juga kelihatan tua sih. Aku pikir dia seumuran dengan aku loh. Malah aku pikir
dia lebih tua lagi." ucap Anna
"Pfft.. hahaha." Kevin tertawa.
"Loh, kok ketawa sih?" tanya Anna heran
"Aku gak bisa bayangkan kalau Vanessa sampai dengar omongan kamu. Dia paling ga suka dibilangin tua."jawab Alex
"Paling aku disiramin air atau dijambak mungkin. Eh, salah aku lihat dia pesan jus. Ralat ya. Disiramin jus atau dijambak." jelas Anna dan membuat Kevin tertawa lagi.
"Nanti biar aku ngajak ngobrol Vanessa ngobrol deh. Sekalian aku bisa bagi tips awet muda dan skin care yang lagi aku pakai," lanjut Anna.
Mendengar Anna, Kevin tertawa semakin keras lagi.
Alex yang masih berbicara dengan manager melihat Kevin tertawa dari jauh. Alex memperhatikan Kevin sebentar dan tersenyum melihat Kevin bisa tertawa seperti itu.
Sementara Vanessa makin marah melihat Anna dan Kevin yang terlihat amat sangat akrab.
"Apa-apaan sih kak Kevin. Kalau sama aku selalu jutek, giliran sama perempuan kayak gitu dia bisa ketawa?
Benar-benar menyebalkan. Awas saja ya, kalau nenek Ratih sampai tahu dia pasti gak tinggal diam." Vanessa mengepalkan tangannya dengan sangat keras..
next...!
maaf kalo masih ada kata kata yang kurang tepat atau typo....