The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 44 First Kiss



Ponsel Kevin berdering.


"Cepat angkat, siapa tahu itu pesanan makanannyw." Anna terlihat sangat antusias.


"Sabar."


Kevin mengangkat telpon.


"Oh, ok. Tunggu Pak ya."


"Nih, pesananmu sudah datang." Kevin segera keluar dari kamar diikuti dengan Anna.


"Makasih ya Pak." Kevin mengambil orderan makanannya. Sementara itu, Anna sudah menunggu Kevin di ruang makan.


Karena sudah jam sepuluh malam, keadaan rumah sudah sepi. Semua penghuninya sudah berada di dalam kamar masing-masing


"Cepetan dikit dong Ken. Aku lapar nih."


"Katanya smoothie aja cukup. Ini katanya cuma tambahan," ejek Kevin. Anna tertawa cengengesan.


Kevin pergi mengambil sendok garpu, sementara Anna mebuka bungkusan makanan.


"Makasih," seru Anna saat Kevin memberikan sendok garpu.


Anna menggaduk saladnya dengan antusias. Kevin hanya memperhatikan Anna.


"Box salad yang itu diaduk juga dong," pinta Anna.


Kevin membuka box salad satunya lagi dan mengaduknya.


"Selamat makan," seru Anna. Kevin tersenyum melihat Anna.


Setelah mengaduk salad, Kevin menyandarkan dagu pada salah satu tangannya. Dia hanya memperhatikan Anna makan dengan lahap.


"Ken gak makan?" tanya Anna sambil mengunyah.


"Aku kan sudah makanmalam," jawab Kevin.


"Katanya mau temani aku makan."


"Aku tadi bilang, kalau kamu gak habis baru aku bantu habisin. Tapi ngeliat cara kamu makan, pasti habis kok."


"Kamu ngehina aku. Ia aku juga tahu aku makannya banyak. Makanya gendut." Anna memajukan bibirnya.


"Kamu gak gendut kok. Kamu itu sudah sempurna dimataku," puji Kevin.


"Apaan sih." Anna tersipu malu.


Kevin masih saja menatap Anna.


"Kamu ngapain liatin aku terus? Katanya tadi gak mau makan."


"Emang gak mau makan, karena liatin kamu aja udah bikin kenyang."


"Apaan sih? Kok tiba-tiba gombal?" tanya Anna.


"Masa sih? Biasa ajatuh," jawab Kevin asal. Anna kembali makan dengan lahap sambil menggeleng.


"Na,= bentar deh." Kevin menjulurkan tangannya menjangkau Anna. Kevin melap pinggiran bibir Anna yang belepotan dengan jempolnya.


"Kalau makan santai aja. Kok belepotan kayak anak kecil." Anna diam tak berkutik, membiarkan jari Kevin menelusuri pinggir bibirnya.


Kevin tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya dan menatap Anna dengan lembut. Tangan Kevin masih menempel di pinggir bibir Anna.


Bibir Anna yang sedikit terbuka terlihat benar-benar menggoda bagi Kevin. Jemari Kevin menyapu bibir Anna dengan lembut. Anna diam tak bergerak. Dia hanya membalas tatapan Kevin dengan mata sedikit sayu.


Pelan tapi pasti Kevin mencium Anna. Anna pun terbawa oleh suasana dan tidak menolak ciuman dari Kevin.


Ciuman itu terasa begitu lembut bagi Anna. Begitu menggairahkan bagi Kevin. Kevin bahkan menggunakan lidahnya.


"Hoahm... Hausnya." Bi Asih berjalan ke arah dapur, melewati ruang makan hendak mengambil air.


"Loh Pak Kevin. Mbak Anna, ngapain di sini?"


Kevin dan Anna duduk saling memunggungi. Bi Asih jadi heran melihat mereka berdua duduk dengan posisi seperti itu.


"Aku balik duluan ke kamar." Anna bergegas pergi dengan tangan menutupi mulutnya dan wajah yang memerah.


"Oh, lagi makan tengah malam. Ini sudah selesai? Bibi bereskan ya." Kevin tidak menggubris Bi Asih.


Kevin hanya duduk sambil memegang bibirnya.


"Aku tadi ngapain?" batin Kevin.


Anna membungkus dirinya dengan selimut.


"Itu tadi apaan?" batinnya.


"Aku tadi dicium?" Wajah Anna terasa semakin panas.


"Kyaa.. Gimana ini?" Anna berguling dalam selimut.


"Itu kan ciuman pertama aku. Eh, gak waktu dengan Andi sepertinya pernah." Anna berpikir keras.


"Waktu dengan Andi cuma bibirnya aja yang nempel. Yang tadi kan sampai main lidah." Anna kembali berguling-guling di dalam selimut.


"Itu tadi ciuman benaran aku yang pertama," batin Anna


Kevin berdiri di depan pintu kamar dengan bimbang.


"Aku harus gimana nih? Kalau Anna marah lagi gimana?" batin Kevin.


"Tapi tadi Anna juga gak nolak kan? Apa artinya dia gak masalah? Tapi kenapa tadi langsung lari? Aduh aku harus bersikap gimana?" Kevin menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Tadi rasanya seperti dressing salad." Telinga Kevin memerah.


"Manis juga, terasa hangat. Itu tadi ciuman pertamaku" batin Kevin malu.


"Ah, stop berpikir yang aneh-aneh. Sekarang gimana aku harua menghadapi Anna." Kevin masih ragu untuk masuk ke dalam kamar.


"Ah, bodo amat. Aku juga kan mau tidur. Apapun reaksi Anna akan kuhadapi." Kevin membuka pintu kamar pelan.


Anna membeku mendengar pintu kamar terbuka.


"OMG. Kevin udah balik. Aku harus ngapain nih? Pura-pura tidur saja deh," batin Anna.


Kevin mendekat dan mengintip Anna.


"Sudah tidur belum ya?" Kevin masih berusaha mengintip Anna yang bersembunyi dalam selimut.


Kevin mencoba menarik selimut yang menutupi kepala Anna.


"Eh, loh. Selimutnya kok ditarik?" batin Anna panik.


"Pura-pura tidur," batin Anna lagi.


Kevin melambaikan tangannya di depan wajah Anna.


"Sudah tidur kayaknya." Kevin duduk di pinggir ranjang, masih memperhatikan Anna.


"Sudah Kevin. Mending kamu tidur saja." Kevin masuk ke dalam selimut.


Jantung Anna berdebar kencang, ketika meraskan Kevin masuk ke dalam selimut.


"Ya Tuhan. Ini jantung kenapa sih? Nanti Kevin bisa dengar."


"Ayo tidur Kevin. Tidur," batin Kevin memegang dadanya. Pada akhirnya mereke berdua kesulitan tidur.


Kevin duduk di meja makan dengan mata mengantuk.


"Kamu kenapa? Masih ngantuk?" tanya Alex.


"Kurang tidur," jawab Kevin singkat.


"Selamat pagi," sapa Anna. Anna terburu-buru menghampiri meja makan. Anna sempat berhenti saat melihat Kevin.


"Tumben telat bangun," tegur Nenek.


"Ia Nek, semalam telat tidur."


"Oh, gitu" seru Alex dengan nada mengejek. Nenek tersenyum senang sambil mengoles selai pada selembar roti. Kevin memperhatikan Anna dari sudut matanya.


"Boleh dibuatkan kopi susu, yang manis banget ya." Anna memberi tahu salah satu pelayan.


"Nih, buat kamu." Nenek memberikan roti pada Anna.


Anna berdiri untuk menerima piring roti yang disodorkan Nenek. Kevin segera mundur, agar tidak terlalu dekat dengan Anna.


"Makasih Nek."


Kevin mulai merasa grogi. Tangan Anna tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Kevin, saat mengambil pisau makan di sebelah kanannya.


"Sorry," seru Anna grogi.


"Gak apa-apa," jawab Kevin sama groginya. Alex yang memperhatikan itu hanya tersenyum mengejek.


"Kalian


berdua kenapa sih?" tanya Nenek bingung.


"Gak apa-apa kok," jawab Kevin dan Anna bersamaan.


Alex tersedak karena menahan tawa. Kevin langsung melotot pada Alex.


"Sorry," seru Alex masih tersenyum.


"Om Kevin udah baikan belum sama Tante Anna?"tanya Gita polos.


" Anak kecil gak usah banyak tanya," jawab Kevin.


"Kok gitu jawabnya? Anak kecil aja peduli loh," tegur Nenek. Anna hanya tersenyum.


"Gimana? Udah baikan belum?" tanya Nenek.


"Udah kok Nek," jawab Kevin terbata. Anna mengangguk setuju. Nenek hanya menaikkan alis.


"Mungkin udah lebih dari baikan," goda Alex.


"Eh, ngomong apaan sih?" tanya Kevin kesal. Alex mengangkat kedua bahunya.


 next>>>