
"Rian," seru Anna.
"Halo Na, ngomong sama siapa?"
"Bentar ya," seru Anna pada Rian.
"Bentar aku telpon lagi ya Li. Bye."
"Ngapain di sini?" tanya Anna.
"Saya kan kerja di sini." Rian duduk di depan Anna
. "Astaga, kok saya bisa lupa."
"Mbak Anna lagi kunjungan? Udah lama?"
"Gak, aku cuma mau duduk dalam mall aja. Baru juga. Sibuk?"
"Tadi agak sibuk, makanya baru nyamperin."
"Ini saya minum ya."
"Silahkan."
"Kamu ada masalah?" tanya Rian. Anna memasang wajah bingung.
"Sorry saya tadi gak sengaja dengar dikit."
"Aduh, tadi aku ada singgung kawin kontrak gak ya?" batin Anna panik. Anna tersenyum kecut.
"Kalau gak mau cerita gak apa-apa kok. Saya gak maksa."
"Cuma lagi ada sedikit masalah," kata Anna.
"Berantem sama suami?" Anna mengangguk dengan lesu.
"Biasa lah," gumam Anna.
"Emang sering berantem?"
"Em, gimana ya. Kita dari dulu emang suka berantem, tapi gak pernah serius. Baru kali ini berantem benaran."
"Gimana sih kamu bisa sampai nikah dengan Kevin Bramantra yang terkenal itu?"
"Aku juga gak tahu." Anna tersenyum
"Kok bisa gak tahu?" tanya Rian.
"Gimana yah jelasinnya. Mungkin karena Neneknya Kevin kali ya."
"Kalian dijodohin?"
"Gak," jawab Anna.
"Terus?"
"Kita pacaran, terus Neneknya Kevin pengen kita cepat nikah. Ya udah nikah."
"Gitu aja?" Anna mengangguk.
"Emang mau gimana lagi?" tanya Anna.
"Gak saya pikir ada cerita romantis dibalik pernikahan kalian gitu. Soalnya kata-kata anak di kantor kalian romantis banget."
"Romantis apaan? Kevin gak romantis, manja dia."
"Oh, ya? Saya gak bisa bayangin Pak Kevin manja."
"Saya juga gak nyangka. Waktu pertama kali ketemu saya pikir dia jutek," kata Anna.
"Sejutek apa?"
"Pokoknya jutek banget." Rian mengangguk.
"Eh, ini saya gak terlalu banyak tanya kan?"
"Gak kok," jawab Anna.
"Siapa tahu saya dibilangin kepo," celetuk Rian.
"Eh, siapa nih." Vanessa muncul entah dari mana.
"Kenapa juga harus ketemu nih lampir sekarang?" Anna menghela nafas.
"Sama siapa? Selingkuhan?" tanya Vanessa.
Anna menatapnya tajam. Rian langsung berdiri dan meluruskan kesalah pahaman Vanessa.
"Perkenalkan Bu, saya Adrian manager toko di sini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selingkuhnya sama manager toko? Selevel ya sama kamu," cibir Vanessa.
"Vanessa, mungkin saya perlu ingatkan kamu. Saya yang memimpin B Cafe secara keseluruhan. Oh, tapi sepertinya kamu belum tahu Kevin mempercayakan cafe dia sama saya."
"Aku gak tanya soal kerjaan kamu. Aku cuma mau tau apa Kevin tahu kamu lagi selingkuh?"
Anna tersenyum sinis.
"Saya gak tahu kamu agak bego."
"Maksud kamu apaan?" tanya Vanesaa marah.
"Ini cafe saya dan orang ini manager di sini. Saya datang ke sini buat kerja. Jadi kamu tolong berhenti gangguin orang lagi kerja."
"Alasan. Kamu pikir aku bakal percaya sama kamu gitu?" Gak bakal. Aku akan laporin kamu ke Kak Kevin."
"Silahkan. Laporin saja, saya gak takut. Kevin juga tahu saya ke sini buat kerja."
Anna langsung duduk lagi.
"Rian duduk. Kita lanjutin lagi pembahasan tadi," perintah Anna tegas. Rian langsung duduk, tapi masih menatap
Vanessa.
Vanessa memukul meja yang ditempati Anna dan Rian.
"Eh, aku belum selesai bicara. Berani amat duduk lagi."
Anna menatap Vanessa dengan tajam dan dingin.
"Saya lagi bad mood dan sedang tidak berniat meladeni kamu. Jadi tolong kamu pergi sebelum saya panggil
security mall."
Vanessa merasa terintimidasi dengan tatapan Anna.
"Dasar sombong. Baru urus cafe saja udah bangga," seru Vanessa berusaha menutupi kegugupannya.
"Awas ya kamu. Lain kali bakal aku habisin," sambung Vanessa. Setelah mengatakan itu Vanessa segera pergi.
Anna segera meminum green tea lattenya sampai hampir habis.
"Sial banget sih. Kenapa juga harus ketemu lampir satu itu," gumam Anna.
"Itu siapa?" tanya Rian hati-hati.
"Minta minum lagi dong," pinta Anna pada Rian.
"Bentar ya."
Rian membawakan air mineral dingin.
"Udah agak tenang?" tanya Rian.
"Sedikit."
"Kalau gak keberatan, boleh aku tahu siapa cewek yang tadi? Kelihatannya kalian ada masalah."
"Banyak banget masalahnya. Lebih tepatnya dia selalu cari masalah sama aku."
"Kok bisa?"
"Dia itu dulu kejar-kejar Kevin. Dia ditolak terus sama Kevin. Pas aku mulai pacaran sama Kevin, mulailah dia cari gara-gara sama aku. Sampai sekarang."
"Gila aja ya. Sampai sekarang masih dendam sama kamu. Segitu cintanya dia sama Pak Kevin?"
"Itu bukan cinta lagi namanya. Kerasukan."
Rian tertawa mendengar Anna.
"Emang ia. Dia ngejar-ngejar Kevin kayak orang kerasukan."
"Astaga. Padahal dia cantik loh, kenapa gak cari yang lain?"
"Tanya aja sendiri."
"Maaf ya. Aku jadi curhat ke kamu."
"Gak apa-apa kok," jawab Rian. Mereka diam sejenak.
"Ngomong-ngomong Mbak Anna sudah makan siang?" tanya Rian.
"Belum lah, orang aku sudah di sini dari pagi."
"Bagaimana kalau kita makan siang bareng?"
"Kamu traktir?" tanya Anna.
"Tentu saja."
"Cuma bercanda aja kali."
"Saya serius," seru Rian.
"Makasih atas tawarannya. Tapi aku gak bisa."
"Sudah ada janji lain," tanya Rian.
"Gak ada, tapi aku mau pulang istirahat. Capek. Aku juga jadi gak mood gara-gara Vanessa."
"Kalau gitu lain kali aja, gimana?"
"Akan kupertimbangkan," jawab Anna tegas. Rian hanya mengangguk.
"Em.. Kalau nomor telpon gimana?" tanya Rian lagi.
"Maksudnya kamu minta nomor saya kan?" Anna memastikan ulang. Rian mengangguk.
Anna mencari-cari dalam tasnya.
"Kamu boleh telpon ke nomor tertulis di sini." Anna memberikan kartu namanya pada Rian.
"Saya duluan ya." Anna bangkit berdiri dari kursinya.
"Hati-hati di jalan," seru Rian.
"Makasih green tea lattenya." Rian memperhatikan Anna sampai tidak terlihat lagi oleh matanya.
Rian memikirkan kembali percakapan Anna, yang tidak sengaja didengarnya.
"Aku anggap dia saudara dan sahabatku. Itu aja."
Kata-kata Anna yang didengar Rian, terus terngiang di kepalanya. Rian terus menatap kartu nama Anna.
"Kamu sudah ditolak secara halus Rian, menyerah aja. Dia juga sudah jadi istri orang," gumam Rian lirih.
Anna tidak langsung pulang ke rumah. Dia singgah ke restoran siap saji dulu untuk makan siang.
Setelah memesan paket dua ayam satu nasi, Anna mencari tempat duduk di pojokan. Anna
mengeluarkan headset bluetoothnya dan menelpon Julie.
"Sorry Li tadi aku tutup. Aku ketemu teman tadi." Anna bicara sambil mulai makan.
"Teman apa teman?"
"Lebih tepatnya manager toko cafe. Itu loh yang bantu kita nolongin Cleo."
"Oh, di B Cafe?" tanya Julie.
"Emangnya mau di mana lagi?"
"Siapa tahu aja kan. Kamu bukan pergi kerja, tapi pergi kencan."
"Wah, ini anak sudah mulai kayak Vanessa. Nyebelin tahu gak."
"Ngomong-ngomong lagi makan ya Na?" "Ia kok tahu."
"Kamu pasti nelpon pakai headset kan? Udah kayak dengar ASMR tahu."
"Kalau gitu coba tebak aku makan apa?"
"Ayam ya?"
"Wow, udah bisa jadi pakar ASMR," ledek Anna.
"Suaranya krispi panget tahu. Bikin laper aja." Anna tertawa.
"Tadi kamu ada bilang nama Vanessa kayaknya. Kenapa lagi dia?"
"Tadi aku ketemu sama dia pas di cafe."
"Terus?"
"Biasa. Mau cari masalah sama aku."
"Masih dendam aja si Vanessa sama kamu."
"Aku juga bingung liat dia. Udah ditolak Kevin berkali-kali, tapi masih kekeh."
"Omong-omong soal Kevin. Kamu masih marah sama dia?"
"Ia lah. Orangnya belum minta maaf juga."
"Jadi kalau dia minta maaf kamu maafin?"
"Pastinya," jawab Anna.
next>>>