The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 14 Kesepakatan



Anna kaget mendengar pernyataan Kevin.


"Tunangannya Anna?" Rosa melirik mobil hitam yang terparkir di depan rumah Anna.


"Kayaknya orang kaya benaran nih. Mobilnya saja mahal banget," batin Rosa.


"Salam kenal saya Rosa. Seperti yang saya bilang tadi, saya ibu tirinya Anna. Ini anak pertama saya Sasha." Rosa tiba-tiba jadi kalem dan memperkenalkan diri.


Sasha juga langsung mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


"Sasha," serunya sok manis.


Kevin melihat uluran tangan itu dengan alis naik.


"Kevin," serunya mengabaikan uluran tangan Sasha.


Sasha dengan kesal menarik kembali tangannya.


"Kalau urusan dengan Anna sudah selesai, kami mau keluar. Permisi" Kevin menggenggam tangan Anna.


"Eh, tunggu." Rosa menahan Kevin.


"Saya masih mau bicara dengan Anna. Boleh kan kita masuk aja ke dalam? Gak enak bicara di sini," kata Rosa kalem.


Kevin melirik Anna. Anna menghela nafas panjang dan mengizinkan mereka masuk.


Rosa dan Sasha segera masuk mendahului Anna. Begitu melihat sofa mereka langsung saja duduk. Kevin dan Anna mengikuti. Belum juga Anna duduk, Sasha sudah memerintah.


"Anna, minta air dong. Panas nih, aku haus. Jus kalau ada." Anna dengan wajah kesal pergi mengambil dua gelas air putih dan segera kembali.


Kevin hanya menatap Rosa dan Sasha tajam.


"Jadi gini loh," Rosa memulai pembicaraan.


"Keluarga kami kan lagi ada masalah keuangan," sambung Rosa.


Anna menaikkan alisnya sebagai reaksi.


"Biasanya sih Anna yang bantuin. Tapi misalnya kalau Anna juga kesulitan, tunangannya juga bisa bantu kan?"


"Ibu. Ibu jangan kelewatan dong," protes Anna.


"Dia bisa kasih rumah buat kamu, masa duit sedikit gak bisa kasih kita," kata Rosa. Sasha mengangguk riang.


"Kan saya sudah bilang. Rumah ini... " Kevin mengangkat tangannya untuk menghentikan Ella.


"Saya boleh bicara sedikit?" tanya Kevin.


"Oh, silahkan," jawab Rosa.


Anna menyikut Kevin, tapi tidak digubris.


"Pertama saya meluruskan satu hal dulu. Rumah ini bukan punya saya, tapi punya teman Anna." Rosa dan Sasha mengangguk.


"Kedua, kalian butuh uang?" tanya Kevin.


"Butuh banget," jawab Sasha.


"Saya bisa kasih," sambung Kevin.


"Kevin." tegur Anna.


Sementara Rosa dan Sasha tersenyum riang.


"Tapi, ada syaratnya," lanjut Kevin.


"Apa syaratnya?" tanya Rosa pelan.


"Setelah menerima pembayaran dari saya, saya minta kalian sekeluarga berhenti mencari Anna."


"Deal." jawab Rosa


"Ok, saya ke mobil dulu sebentar," seru Kevin.


"Kalian ini benar-benar keterlaluan ya. Ngapain juga kalian palakin orang lain?" protes Anna.


"Itu kan tunangan kamu, bukan orang lain," jawab Sasha.


"Kita gak bakal minta banyak kok," sambung Rosa.


Kevin datang dengan membawa tas.


" Jadi bisa kita mulai sekarang?" tanya Kevin.


"Apanya yang dimulai?" tanya Sasha.


"Kita akan melakukan kesepakatan bukan. Tentu saja kita membutuhkan surat kontrak. Jadi anda berdua harus menulis surat kontrak." Kevin memberikan selembar kertas pada Rosa.


"Saya harus nulis apa?" tanya Rosa.


"Tulis kami yang bertanda tangan di bawah ini. Tulis nama lengkap, nomor ktp dan nomor telpon kalian. Menyatakan bla... blaa.. blaa... Masa tulis surat pernyataan gitu gak bisa," keluh Kevin.


Kevin memandu Rosa menulis. Anna melipat tangan dengan bibir manyun.


Rosa dan Sasha selesai menandatangani surat. Bahkan suratnya sudah dicap jari. Kevin mengeluarkan buke cek.


"Mau berapa?" tanya Kevin.


"Lima puluh juta," jawab Sasha cepat.


"Apaan sih," tegur Rosa.


"Kalau boleh di lebihkan sedikit lagi," lanjut Rosa.


Anna menaikkan alisnya.


"Yakin segitu saja?" tanya Kevin.


Anna langsung memukul Kevin.


"Ibu, gak kebanyakan?" tegur Anna.


"Yakin segitu?" tanya Kevin lagi.


"Kalau begitu tiga ratus juta boleh?" tanya Rosa.


Kevin mulai menulis ceknya.


"Kevin" Anna menarik lengan Kevin.


"Kamu gila ya," bisik Anna.


"Udah tenang saja," Kevin balas berbisik.


"Aku marah nih," balas Anna.


"Marah aja." Kevin melanjutkan menulis cek.


"Ini ceknya. Lima ratus juta," seru Kevin pelan.


Rosa dan Sasha segera menyambar ceknya. Anna ternganga lebar mendengar jumlahnya. Anna berusaha mengambil kembali cek itu.


"Balikin," seru Anna.


"Enak aja ini kan punya kita," tegur Sasha.


Anna melipat tangan dengan marah.


"Jadi, mulai hari ini kalian tidak boleh muncul lagi di hadapan Anna. Ingat surat pernyataannya sudah ada, kalian melanggar akan ada sanksi." Rosa dan Sasha tanpa di perintah segera berlari keluar rumah.


Begitu Rosa dan Sasha menghilang, Anna segera menyerang Kevin. Anna dengan marah memukili Kevin.


"Kamu tuh ya, dasar konglomerat gila." Anna terus memukul Kevin.


"Aduh.. Hei, stop. Sakit tahu." Kevin menangkap kedua tangan Anna.


"Kamu pikir aku bisa ganti uang sebanyak itu?"


"Aku kan gak minta diganti Na."


"Ini lebih gila lagi. Pulang kamu sekarang, pulang." Anna mendorong Kevin keluar.


"Hei, kok saya diusir. Kan kamu yang minta ketemuan."


"Sekarang aku mau kamu pulang."


"Ok. Saya minta maaf. Saya salah." Anna berhenti mendorong Kevin.


Anna masih menatap Kevin dengan kesal.


"Sebagai permintaan maaf aku traktir deh. Mau makan apa?" tanya Kevin.


Anna masih menatap Kevin dengan kesal.


"Mau makan pasta, steak, es krim, wine atau apa?"


"Pasta dan es krim" jawab Ella. Kevin tersenyum manis.


"Kalau gitu ayo."


Kevin mencari restoran italia yang punya private room, supaya bisa bicara dengan nyaman.


"Aku masih kepikiran nih sama lima ratus juta," seru Anna sambil mengunyah.


"Kamu mau juga?"


"Apaan sih bikin bad mood aja. Kamu pikir lima ratus juta itu uang sedikit gitu? Aku mau jual diri aja gak laku harga segitu." protes Anna


"Kok ngomong gitu sih."


"Ya, abis gimana caranya aku bisa ganti uang itu. Kamu suruh aku jual ginjal?"


"Aku kan udah bilang gak perlu diganti."


"Ya gak bisa gitu dong Itu tadi kan masalah aku. Eh, tiba-tiba kamu datang ngaku-ngaku tunanganku."


"Atau gini aja. Kamu bisa kerja di kantor aku," saran Kevin.


"Terus?"


"Ya itu cara kamu buat ganti uangnya. Aku tinggal potong dari gaji kamu."


"Setinggi apa pun gaji di kantor kamu, aku harus kerja puluhan tahun dulu baru bisa lunasin."


"Jadi kamu sebenarnya mau ngomong apa sampai ngajak ketemuan?" Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Ia juga ya. Anna berpikir sejenak.


"Ia juga bisa dengan cara itu mungkin," gumam Anna.


"Apa?" tanya Kevin.


Anna membenarkan posisi duduknya.


"Aku kan kemarin ada ngobrol dengan nenek."


"Lalu?" tanya Kevin.


"Andaikata. Misalnya saja yah, kalau saja nenek masih menyuruh kita nikah." Anna berhenti sebentar dan menelan ludah.


"Aku rasa, aku bisa melakukan itu. Itu cara untuk bayar utang lima ratus juta ke kamu." lanjutnya.


Kevin berkedip dan ternganga tidak percaya dengan ucapan Anna


next>