The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 52 Terpikat 2



"Kalau bicara secara realistis, ya. Aku mau sama kamu," Julie menjawab dengan mantap.


"Serius?" tanya Alex.


"Ya saya serius," jawab Julie.


"Bisa dijelaskan lebih detail?" Alex dengan tersenyum manis.


"Cewek mana sih yang gak suka cowok ganteng?" tanya Julie.


"Kamu terlalu jujur atau terlalu polos?" Alex masih memasang ekspresi yang sama.


"Saya serius." Julie tertawa ringan.


"Lalu?" Alex masih mau mendengar Julie.


"Soal sifat baik dan tanggung jawab itu sudah jelas ya. Gak perlu dong saya jelaskan ulang."


"Tapi saya mau dengar penjelasannya," balas Alex. Julie menghela nafas mendengarnya.


"Gak ada cewek yang mau punya pasangan kriminal. Cewek tentunya juga mau cowok yang bisa bertanggung jawab atas hidupnya. Bukan cewek yang menanggung cowok. Apalagi cewek yang dihamili pacarnya terus ditinggalin."


Alex mengangguk, sementara Julie meminum minumannya. "Kalau soal mapan, kebetuhan cewek itu banyak. Wajar kan mau cari pasangan yang mapan."


"Itu bisa diartikan matre dong," seru Alex.


"Oh, gak gitu dong. Cewek matre dan cewek yang cari cowok mapan itu beda."


"Bedanya di mana?" tanya Alex.


"Kamu itu pura-pura bego atau benaran bego sih?" tanya Julie.


"Aku mau tahu pendapatmu," jawab Alex.


"Cewek matre itu bakal kuras habis semua hartamu. Dia cuma cinta uangmu. Kalau cewek yang cari cowok mapan, kita itu cari cowok yang nantinya ketika nikah bisa membiayai kita. Setidaknya sanggup buat biaya sehari-hari."


Alex mengangguk setuju.


"Lalu kenapa kamu kerja kalau mau cari cowok mapan?" tanya Alex.


"Buat tambah uang jajan. Seperti yang aku bilang tadi, cewek itu banyak kebutuhannya. Lagian kalau nanti punya istri yang juga kerja, bukannya keluarga kamu bisa jadi lebih mapan lagi."


Alex makin terkesan dengan setiap perkataan Julie. Dia bahkan tidak melepaskan tatapannya dari Julie. Bahkan di setiap kata Julie, senyum Alex semakin merekah.


"Kamu suka anak-anak? Kulihat kamu sangat dekat dengan Gita," Alex kembali menguji Julie.


"Saya suka banget anak-anak. Walaupun mereka kadang nyebelin, tapi mereka tetap kelihatan imut."


"Julie bisa masak?"


"Tahu sih, tapi gak sejago Anna. Emang kenapa?"


"Gak aku cuma mau tanya aja," Alex tersenyum.


"Aneh banget sih kamu," gumam Julie.


"Kalau menurut Julie, tipe cowok idaman itu gimana?" Julie bingung, karena dia merasa Alex makin aneh.


"Ya itu tadi. Baik, bertanggung jawab, mapan, setia, gak merokok, gak minum, pengertian dan gak suka mukul." Alex mengangguk sambil tersenyum


"Boleh gak lain kali aku ajakin kamu keluar lagi? Kalau kamu ada waktu dan kalau lagi ada di Jakarta," kata Alex.


Julie menaikkan sebelah alisnya.


"Ini orang lagi modus atau apa?" batin Julie.


"Yah, aku gak maksa sih. Kalau gak mau juga gak apa-apa."


"Aku sih gak masalah. Cuma kok kayaknya kamu lagi modus," seru Julie.


"Modus apa?" Alex pura-pura bego.


"Masa ia aku harus ngomong? Terus sejak kapan jadi aku kamu?" batin Julie. Julie menghela nafas.


"Modus buat dekatin aku," akhirnya Julie bersuara.


Alex menyunggingakan senyum yang luar biasa memikat.


"Kalau ia memangnya kenapa?"


*****


"Anna sampai kapan kita mau putar-putar di sini?" protes Kevin.


"Aku masih mau cari baju Ken." jawab Anna cuek.


"Kamu udah keluar masuk berapa bayak toko baju? Sekian banyak toko baju, tapi kamu baru beli satu?"


"Banyak toko yang gak diskon."


"Kenapa harus tunggu diskon? Kalau mau beli ya beli aja. Emang aku semiskin apa?" Kevin merasa kesal.


"Beli baju sama sekali gak berlebihan," suara Kevin mulai mengeras.


"Kevin bagimu mungkin tidak berlebihan, tapi bagiku sangat berlebihan."


"Kamu itu nyonya Kevin, kamu mau beli baju harga ratusan juta juga gak ada yang akan protes."


"Kevin gimana perusahaan kamu bisa maju kalau kamu sesombong dan seboros itu. Aku ngelakuin ini juga demi kamu."


"Oke. Aku kalah, tapi setidaknya kamu kasih aku makan. Ini udah jam makan siang," protes Kevin.


"Astaga ternyata sudah jam satu siang toh. Aduh maaf ya Ken, aku keasikan belanja." Anna nyengir, membuat Kevin makin kesal.


"Jadi bebeb Ken mau makan di mana?" Anna pura-pura manja.


"Apaan sih, jijik tau dengarnya." Bukannya suka, Kevin malah makin kesal.


"Dimana-mana tuh ya, cewek senang manja sama pasangannya."


"Kamu gak cocok kayak gitu. Malah bikin kamu jadi aneh," seru Kevin.


"Sekarang aku serius nih, mau makan di mana?" tanya Anna.


"Kalau ada fish and chips aku mau," jawab Kevin.


"Kalau gak salah sih ada fish & co di sini. Mau itu aja? Aku juga pengen itu sih." Kevin mengangguk.


"Saya mau fish and chip yang ini, terus spaghetti aglio olio yang pedas. Minumnya ice lemon tea, tapi esnya dikit aja ya. Ah, yang ini juga ya. Nanti side dishnya yang ini sama kentang." Anna duluan memesan makanan dengan menunjuk buku menu.


"Kamu makan tiga porsi?" tanya Kevin.


"Ia, kamu kan tahu aku makannya banyak." "Tapi gak sampai tiga porsi juga kali."


"Biarin. Ken pesan apa?" tanya Anna.


"Fish and chip ekstra kentang dan kerang. Minumnya iced lemon tea."


"Katanya gak suka yang berlebihan, tapi makannya berlebihan."


"Efek datang bulan. Porsi makan jadi dua kali lipat, kadang-kadang malah tiga kali lipat."


"Masa


sih?" tanya Kevin. Anna mengangguk. "Gak semua orang begitu sih, tapi


rata-rata seperti itu. Kan peningkatan hormon." "Gitu ya," gumam


Kevin.


"Pasti kamu tipe orang yang gak percaya kalau datang bulan itu menyakitkan," seru Anna.


"Aku gak begitu tahu sih, tapi gak mungkin kan sakit dibuat-buat. Apalagi kalau sampai mukanya pucat."


"Masuk akal juga sih, tapi banyak loh cowok yang gak percaya." "Artinya mereka yang bego.Masa muka pucat sampai keringat dingin gak bisa dibedakan dengan yang sehat."


"Bijak amat Pak Kevin ini," gumam Anna.


"Kamu kan selalu gitu," balas Kevin.


"Masa sih?" tanya Anna.


"Selama kita nikah, udah berapa bulan?"


"Kurang lebih tiga bulan," jawab Anna.


"Pokoknya selama kita nikah, kamu pernah gitu. Pucat, keringat dingin, terus pegangin perut terus. Pas aku tanya, kamu bilang datang bulan."


"Kamu perhatian amat sih," ejek Anna.


"Harus lah,kalau gak bagaana bisa urus perusahaan segede itu."


Anna memajukan bibirnya kedepan. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Anna makan dengan lahap.


"Makan pelan-pelan aja kali," tegur Kevin.


"Lapar."


"Cewek biasanya jaim, ini yang di depanku malah bar-bar."


"Bukannya malah bagus. Artinya aku gak munafik dong," balas Anna.


"Ia sih. Mungkin ini juga bisa jadi daya tarik kamu."


"Ha... ha... ha... Lucu banget," ejek Anna.


"Terserah kamu mau ngomong apa."


Anna lanjut makan dengan lahap. Kevin juga, tapi dia makan sambil menatap Anna.


next>>>