The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 75 New Year



"Gita pulang." Gita berlari memeluk Nenek Ratih.


"Pulang bagaimana? Memangnya ini di rumah?" Gita terkekeh riang.


"Maaf saya agak terlambat," seru Julie. "


Tidak apa-apa. Ini kan sudah libur akhir tahun, pasti jalan macet. Kamu gak terkena banjir kan?"


"Gak kok Nek. Banjirnya gak tinggi," jawab Julie.


"Ya sudah. Yuk kita check in dulu." Nenek mengajak Julie ke meja resepsionis.


Setiap liburan akhir tahun, keluarga Nenek Ratih pasti akan nginap di B Hotel. Mereka juga selalu mengadakan pesta tahun baru yang hanya dihadiri oleh keluarga.


Tahun ini Julie diundang untuk acara ini. Dan disinilah dia, di lobi hotel menunggu check in.


"Julie," Anna berteriak. Julie menyambut Anna dengan pelukan hangat.


"Halo Gita," sapa Anna. "Daddy mana?" tanya Gita


. "Itu ada di sana," Anna menunjuk ke arah Alex.


"Daddy." Gita berlari ke arah Alex dengan riang. Alex langsung menggendong anak semata wayangnya itu.


"Gita kangen."


"Daddy juga kangen banget sama Gita." Alex mencium pipi Gita dengan gemas.


"Dasar anak-anak. Manja," seru Kevin menghampiri Anna.


"Nanti kalau kamu sudah punya anak, kamu juga pasti begitu." Nenek menegur Kevin.


"Harus tegas dong. Kalo terlalu dimanja juga gak bagus," balas Kevin.


"Nanti kita lihat saja," seru Nenek.


Hari ini sebagian besar tamu B Hotel adalah keluarga. Mereka memilih menginap agar tidak repot saat acara tahun baru nanti.


Gita meminya tidur bersama dengan Alex dan Julie. Tentu saja Julie menolak, tapi karena Gita bersikukuh akhirnya merek diberi connecting room.


"Padahal kalau sekamar juga tidak masalah," goda Nenek Ratih.


"Nenek. Apa kata keluarga yang lain nanti? Kami kan sama-sama belum menikah," balas Alex.


"Makanya cepat-cepatlah menikah lagi." Nenek memberi lampu hijau.


"Nek," tegur Alex. Anna hanya bisa terkekeh riang.


"Gak mau cari pacar baru?" tanya Anna menggandeng Julie.


"Sana deh, gandeng suamimu saja." Julie mendorong Anna menjauh.


Kelompok kecil ini berpisah begitu sampai di kamar masing-masing. Anna langsung melempar dirinya ke atas ranjang.


"Lelahnya," gerutu Anna.


"Kok sudah capek sih? Kita belum ngapa-ngapain loh." Kevin tersenyum simpul.


"Jangan macam-macam ya. Hari ini aku mau tidur," balas Anna.


"Kok gitu sih. Mumpung kita nginap di hotel loh, jadi gak bakal ada gangguan."


Kevin berbaring di sebelah Anna, menopang tubuhnya dengan sebelah tangan.


"Memang kalau di rumah ada yang ganggu?" tanya Anna.


"Setidaknya aku bisa dua puluh empat jam sama kamu. Gak perlu ngantor, kamu gak perlu masak dan gak perlu temani Gita atau Nenek. Kita bisa main seharian di dalam kamar."


Anna mendengkus mendengar Kevin.


"Memangnya kamu tidak ikut acara pergantian tahun besok?" tanya Anna.


"Acaranya kan malam beb."


"Kalau main denganmu seharian, bisa dipastikan aku tidak ikut acaranya."


"Kenapa?" tanya Kevin sok lugu.


"Karena badanku pasti akan sakit semua. Bahkan mungkin aku tidak bisa bangun dari tempat tidur." Anna bangun dan duduk.


"Aku janji akan pelan-pelan." Kevin mengikut Anna duduk.


"Gak," balas Anna.


"Ayolah," seru Kevin memelas.


Setelah berargumen beberapa menit akhirnya Anna mengalah.


"Satu ronde saja. Tidak lebih dari itu," serunya kesal.


"Masa cuma satu ronde," Kevin langsung protes.'


"Kalau tidak mau ya sudah." Anna bengkit dari ranjang.


"Oke. Satu ronde," Kevin ngegas.


"Kalau kamu sengaja main lebih dari itu. Aku pastikan kamu tidak akan dapat jatah selama sebulan."


*****


"Haruskah aku juga ikut acara ini?" tanya Julie kesal.


"Memangnya Nenekmu itu bisa diajak kompromi?" balas Julie. Anna terkekeh riang.


Saat ini mereka sedang berdiri di ballroom tempat acara pergantian tahun. Sementara Kevin dan Alex masih harus mengurusi masalah kerjaan yang mendesak.


"Anna." Clarence berjalan mendekat, Cleo mengekor dibelakangnya. Anna melambaikan tangan pada mereka berdua.


"Halo Gita," Clarence menyapa Gita yang masih saja menempel pada Julie. "Halo Tante," jawab Gita. Cleo menatap Julie dengan seksama.


"Pacarnya Alex?" tanya Clarence.


"Bukan. Cuma teman," jawab Julie cepat. Anna tertawa melihat gelagat sahabatnya itu.


"Kenalin ini Julie sahabat aku," Anna memperkenalkan Julie.


"Julie pasti udah kenal dua orang ini. Clarence dan Cleo."


"Julie." Julie menjabat tangan kedua orang itu.


"Kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Cleo.


"Mungkin. Saya sering melihat kamu waktu jalan dengan Anna," jawab Julie.


"Ini sahabatku yang aku bilang kerja di Bandung," sambung Anna.


"Oh, yang itu?" tanya Cleo. Anna mengangguk sebagai jawaban.


"Terima kasih bantuannya tempo hari," kata Cleo. Julie mengangkat sebelah alis, bingung.


"Ah, waktu kejadian yang di Bandung?" Julie akhirnya teringat.


Cleo mengangguk.


"Maaf merepotkan waktu itu," serunya. "Gak apa-apa kok. Saya juga tidak bantu banyak," balas Julie.


"Kalian gak mau beritahu aku? Dari tempo hari bilangnya kejadian Bandung melulu. Aku bingung tahu," protes Clarence.


"Kamu gak perlu tahu," jawab Cleo jutek.


"Ck, pelit amat sih," ejek Clarence.


"Kevin dan Alex mana?" tanya Cleo.


"Tadi tiba-tiba ada masalah kerjaan. Itu mereka baru nongol." Anna menunjuk ke pintu ballroom.


Kedua pria ganteng itu datang mendekat.


"Pas banget kalian datang. Tolong fotoiin kita dong." Clarence menyerahkan ponselnya pada Alex.


Tanpa protes Alex mengambil alih ponsel itu.


"Foto yang bagus ya Lex. Aku mau post di IG," seru Clarence.


Awalnya Julie tidak ingin ikut di foto, tapi Clarence menariknya dan Gita. Sesi foto oleh Clarence mengambil waktu cukup banyak.


Clarence bahkan memaksa Julie, Gita dan Alex foto bersama. Dia juga memotret Kevin dan Anna, dan banyak lagi.


Keceriaan malam itu sedikit pudar waktu Mike muncul menggandeng Vanessa. Terlebih lagi mereka mendekati grup Kevin dan Anna.


"Boleh gabung di sini?" tanya Mike. Semua orang memansang senyum terpaksa, kecuali Clarence. Bukan Clarence namanya kalau tidak mancing.


"Aku baru tahu kalau kamu suka anak-anak Mike." Clarence mulai acara memancingnya.


"Vanessa? Dia kan udah dua puluh satu tahun."


Vanessa hanya tersenyum.


"Ini anak kenapa sih? Tumben kalem," batin Clarence.


"Sudah move on ya?" tanya Clarence pada Vanessa.


"Sudah dong. Aku gak mungkin terus-terusan ngejar suami orang." Kevin mengernyitkan dahi mendengar Vanessa.


"Sudah sadar kah?" tanya Kevin dalam hati.


"Aku senang kalau kamu bisa sadar." Anna tersenyum tanpa menaruh curiga. Cleo mendengkus kesal.


"Anna terlalu baik," batin Cleo.


Ya, mungkin hanya Anna dan Julie saja yang tidak curiga pada Vanessa. Ah, tentu saja Gita juga tidak menaruh curiga.


"Boleh bicara berdua saja dengan Kevin?" Mike bertanya tanpa ragu.


"Berdua denganku?" tanya Kevin curiga.


"Tenang saja bro. Aku gak akan ngapa-ngapain kok. Cuma mau ngobrol sesama pria saja." Kevin menatap Mike selama sekian detik sebelum menganggukkan kepala.


"Kamu yakin?" Alex berbisik pada Kevin.


"Dia gak akan bisa apa-apa di tempat umum," Kevin balas berbisik.


Alex mengajak Juli dan Gita ke sudut lain ruangan ballroom. Cleo, Clarence dan Anna juga menjauh.


"Aku boleh ikut ngobrol sama kalian kan," seru Vanessa.


"Boleh sih," Anna terbata.


next>>>


Like nya jangan lupa ya guys...!