The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 68 Cemburu



"Cabe jaman now percaya diri banget ya," sindir Windi sambil makan. Pada akhirnya mereka semua makan berdampingan di meja yang sudah disatukan.


"Mereka seperti itu karena kebutuhan hidup mewah," sahut Alex.


"Efek buruk teknologi tuh. Rata-rata mereka jual diri cuma demi ponsel mahal," sambung Sri.


Anna sudah mengenalkan teman-temannya pada Kevin dan Alex. Kevin sekarang duduk berhadapan dengan Andi. Kevin sedari tadi menatap Andi dengan kesal, sementara Andi bersikap cuek.


Melihat suaminya tidak makan, Anna mengambil sepotong kentang dan menyodorkannya pada Kevin. Kevin langsung saja mencomot kentang dari tangan Anna.


"Gak mau makan?" tanya Anna.


"Makan dong, tapi mau disuapi." Kevin berbalik ke Anna dengan senyum menggoda.


"Kalau gak mau makan sendiri gak jadi dikasih hadiah," seru Anna cuek.


"Jangan dong," protes Kevin. Kevin langsung mencomot chicken stripsnya.


"Kayak anak-anak saja sih," ejek Andi.


"Yang jelas hadiah dari Anna bukan hadiah untuk anak-anak. Apalagi untuk jomblo," Kevin balas mengejek.


Andi terlihat kesal dengan omongan Kevin. Andi sudah bisa menebak hadiah apa yang dijanjikan Anna.


"Memangnya hadiah apa?" pancing Andi. Sontak Anna menatap Andi dengan dingin.


"Apapun itu kamu gak perlu tahu," jawab Anna ketus.


"Bercanda juga gak perlu semarah itu," Andi mencoba meredakan amarah Anna. Tidak berhasil, Anna masih marah. Mereka semua pada akhirnya makan dalam diam.


Saat telah kembali ke kantor, Andi mencari celah untuk bicara berdua dengan Anna.


"Na bisa bicara berdua?" Andi menunggu Anna di depan kamar mandi wanita


Anna memiringkan kepalanya.


"Kenapa harus bicara berdua?" tanya Anna sinis.


"Please Na," pinta Andi.


"Memangnya sekarang kita bicara bertiga?" tanya Anna masih sinis.


"Maksudku di tempat yang lebih sepi." Anna berusaha menahan tawa.


"Kamu mengajak istri orang bicara di tempat sepi? Mau ngapain?"


"Aku cuma mau minta maaf," sahut Andi.


"Maka lakukan di sini." Anna menunggu, tapi Andi belum bicara juga.


"Waktu adalah uang. Saya masih ada kerjaan yang lain. Permisi." Anna berlalu melewati Andi.


"Anna tunggu." Andi menarik tangan Anna.


"Lepas atau saya teriak."


"Na, please."


"Lepas," suara Anna mulai meninggi.


Tangan kokoh Kevin mencengkram tangan Andi.


"Istriku bilang lepas," serunya. Andi langsung melepas tangan Anna.


"Ini peringatan pertama dan terakhir. Jauhi istriku," suara Kevin terdengar dingin.


"Maaf. Tadi aku hanya ingin minta maaf," sahut Andi.


"Minta maaf tidak perlu pakai kekerasan." Kevin merangkul bahu Anna.


"Maaf."


"Satu lagi bicaralah yang sopan pada istri atasanmu." Kevin segera mengajak Anna pergi.


Andi marah mendengar Kevin, tapi dia hanya diam saja. Andi tahu dia yang salah.


"Pokoknya aku gak mau lagi lihat kamu datang ke kantor ini." Kevin kini menarik lengan Anna dengan kesal.


Anna menarik tangan Kevin, mencoba menghentikan langkahnya.


"Mau aku ajak ke tempat yang seru?" tanya Anna.


"Ke mana?"


"Ikuti aku."


Anna membawa Kevin ke rooftop. Karyawan di kantor ini sangat membanggakan rooftop mereka yang indah. Kadang-kadang tempat ini malah digunakan sebagai tempat bbq.


"Aku baru tahu kalau disini ada rooftop," seru Kevin.


"Pemandangan dari sini cantik kan?" tanya Anna. Kevin mengangguk setuju.


"Jadi sudah tenang?" tanya Kevin.


"Belum," jawab Kevin kesal.


"Maaf ya seharusnya tadi kusuruh dia duduk di meja lain."


Kevin memandang Anna dengan lembut.


"Kenapa kamu yang minta maaf?"


Kevin membelai rambut Anna yang makin panjang.


Kevin yang tidak siap mengedipkan mata dua kali. Dia cukup kaget dengan seranga mendadak Anna.


"Kamu gak takut nanti ada yang naik ke sini?" goda Kevin.


"Ini jam kerja kan? Gak bakal ada yang ke sini," jawab Anna santai.


"Yakin?" tanya Kevin. Anna mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu lagi dong." Kevin mencondongkan badan ke arah Anna.


Tanpa ragu Anna mendaratkan bibirnya pada bibir Kevin. Kevin segera menarik Anna dalam pelukannya.


Andi yang dari tadi sengaja mengikuti Anna, berdiri diam dibalik pintu. Andi mendengar dan menyaksikan kemesraan Kevin dan Anna sedari tadi.


"Sadarlah Andi, kamu sudah tidak ada harapan lagi. Anna sudah bahagia," batinnya. Walaupun otaknya berpikir dengan baik, tapi tidak dengan hatinya.


Andi merasa sangat kehilangan ketika putus dengan Anna. Sampai sekarang pun, Andi merasa tak ada yang sebaik Anna.


Terkadang memang kita tidak menyadari seseorang yang selalu berada di sisi kita, yang mencintai kita apa adanya. Setelah mereka pergi barulah kita merasa kehilangan.


*****


"Astaga Kevin, dari mana saja sih? Kamu udah ditungguin dari tadi." Alex langsung melayangkan protes saat melihat Kevin dan Anna.


Julie yang sedari tadi menemani Alex langsung nyeletuk,


"Kalian gak bikin yang anah-aneh di kantor kan?"


"Apaan sih Li," protes Anna.


"Soalnya tiba-tiba saja mood suamimu jadi bagus banget. Habis di servis apa?"


"Julie," seru Anna tersipu malu.


"Jadwal hari ini berantakan semua," protes Alex.


"Maaf ya. Gara-gara aku, pasti kamu jadi reschedule jadwal Ken."


"Gak apa-apa kok. Kevin juga biasanya suka menindasku."


"Sejak kapan aku menindasmu?" protes Kevin.


"Sejak dulu," jawab Alex.


"Wah, minta potong gaji ya Lex?"


"Sekalian saja suruh aku resign. Aku mau lihat apa ada yang tahan denganmu," ejek Alex santai. Kevin terdiam.


"Sudah jangan berantem. Katanya sudah ditungguin direksi kan. Lanjut meeting gih," saran Anna.


"Silahkan masuk Pak Kevin." Alex menunjuk pintu ruang meeting.


"Iya bawel."


Kevin mengecup ringan bibir Anna.


"Nanti aku jemput di kantor." Anna tersipu malu dan mengangguk setuju. Alex menghela nafas panjang.


Sebelum sempat mengeluhkan kelakuan Kevin, ponsel Alex berdering keras.


"Siapa sih nih."


"Makanya di silent dong," protes Kevin.


"Kamu masuk saja dulu. Aku terima ini dulu, dari sekolahnya Gita soalnya." Alexe memperlihatkan nama yang tertera di ponselnya.


"Kalau begitu jangan terlalu lama," seru Kevin. Alex mengangguk, kemudian menjawab sambungan telponnya.


"Halo Miss, ada apa ya menelpon."


"Maaf Pak Alex, saya mengganggu waktu kerjanya."


"Gak apa-apa kok Miss. Ada masalah disekolah?" tanya Alex.


"Ini Pak, seperti yang Pak Alex tahu hari ini kan Gita ada les tambahan."


"Ya saya tahu itu."


"Lesnya sudah selesai, tapi saya dapat info dari Bu Ratih kalau hari ini Gita telat dijemput."


"Lalu?" tanya Alex.


"Masalahnya Pak, diluar ada wanita tak dikenal datang menjemput Gita."


"Jangan bilang Miss Lia membiarkannya membawa Gita."


"Oh, gak kok Pak. Gita masih ada sama saya," jawab Miss Anna cepat.


"Jadi masalahnya apa?"


"Masalahnya Pak, wanita tadi masih menunggu di depan sekolah. Sudah saya usir, tapi dia gak mau pergi. Dia mengaku sebagai ibunya Gita, tapi saya gak kenali. Saya cuma kenal sama Mommy Julie."


"Mommy siapa?" tanya Alex.


"Mommy Julie Pak."


"Oh. Ia betul," seru Alex singkat.


"Menurut saya ada baiknyya kalau Gita segera dijemput Pak. Saya takut kalau wanita tadi berbuat yang macam-macam."


next>>>