
Alex memilih pergi makan siang lebih awal sekalian menjemput Gita.
"Aku mau jemput Gita sekalian makan siang." lapor Alex pada Kevin.
"Jadi aku makan siang berdua saja sama Anna?" tanya Kevin.
"Kamu mau suruh Anna makan sendiri?"
"Gak juga sih."
"Dinda sudah pesanin tempat kok. Aku pinjam mobil kantor ya." Alex berlalu pergi.
Anna kembali ke ruangan Kevin tidak lama setelah Alex pergi.
"Kamu udah lapar belum?" tanya Kevin.
"Emang kenapa?" Anna bertanya balik.
"Mau makan siang di luar?"
"Boleh banget," jawab Anna ceria.
"Karena Alex lagi jemput Gita, jadi kita bedua saja. Gak apa-apa kan?" Anna mengangguk.
Kali ini Kevin sendiri yang menyetir ke tempan makan siang. Ini kali pertama seorang Kevin Bramantara menyupiri perempuan. Hal ini membuat gosip yang beredar di kantor makin menjadi liar. Makan siang kali ini tidak ada yang spesial dan selesai dengan cepat. Setelah makan siang Anna langsung di antar pulang. Dan Kevin melanjutkan lagi aktivitasnya.
"Harusnya perwakilan dari tabloid bisnis TOP akan segera datang," Alex mengingatkan.
"Oh, iya. Aku lupa hari ini ada wawancara. Padahal aku sudah berharap bisa pulang cepat."
"Mana bisa seorang Kevin Bramantara pulang cepat," sindir Alex.
Telpon si meja Kevin berdering dan dia segeran mengangkatnya.
"Pak Kevin perwakilan dari tabloid bisnis TOP sudah datang." Suara Dinda terdengar dari telpon.
"Suruh mereka masuk," perintah Kevin.
"Selamat sore Pak Kevin." Seorang wanita dan seorang pria masuk ke dalam ruangan.
Yang wanita mengulurkan tangan dengan senyum percaya diri untuk memperkenalkan diri,
"Perkenalkan nama saya Casie. Saya reporter dari tabloid bisnis TOP."
"Kevin." Kevin menyambut uluran tangan Casie.
"Ini teman saya Dion. Dia akan mengambil foto anda hari ini," Casie memperkenalkan temannya.
Kevin dan Dion saling berjabat tangan.
"Dan ini pasti sekretaris anda yang handal itu." Casie melirik Alex.
"Alex." Alex menjabat tangan Casie dan Dion.
"Silahkan duduk" kata Kevin.
"Teh atau kopi?" tanya Kevin.
"Teh untuk saya dan kopi untuk Dion," jawab Casie masih dengan senyum yang sama.
Kevin melirik Dinda yang masih berdiri di ambang pintu. Tanpa perlu diperintah Dinda langsung mengerti.
"Sementara teman saya bersiap dengan kameranya, saya boleh mulai duluan?" tanya Casie.
"Silahkan," jawab Kevin.
Entah kenapa Kevin tidak suka dengan senyum wanita ini. Tapi, Kevin tidak bisa mengusirnya dengan alasan itu.
Casie menyalakan alat perekam pada ponselnya dan mulai bertanya. Alex juga melakukan hal yang sama untuk kepintingan kantor. Pada awalnya pertanyaan hanya berpusat pada bisnis yang dijalankan Kevin. Tapi pertanyaan mulai berubah setelah Dinda datang membawakan minuman.
Dinda meletakkan cangkir teh dan kopi di depan kru tabloid bisnis TOP. Dua gelas yang lebih tinggi di letakkan di depan Kevin dan Alex. Alex langsung tersenyum melihat segelas ice americano yang ada di hadapannya. Kevin awalnya hanya terdiam kemudian tersenyum tipis.
"Pak Kevin suka minum latte?" tanya Casie.
Dion sudah mulai sibuk memotret.
"Cappucino," jawab Kevin.
"Ice cappucino?" tanya Casie lagi.
"Dua- duanya," jawab singkat Kevin. Cassie hanya mengangguk.
"Saya dengar belakangan ini Bramantara grup membeli saham TC Bank sedikit demi sedikit. Apakah itu benar?" tanya Casie.
"Ya, kami memang membelinya."
"Apa yang membuat anda membeli saham tersebut?"
"Saya melihat prospek." Kevin selalu menjawab singkat.
"Apakah Ibu Ratih tahu akan hal ini?"
"Tentu saja Nenek tahu."
"Boleh saya mengajukan pertanyaan pada Pak Alex?" Kevin dan Alex saling berpandangan.
"Silahkan," jawab Kevin
"Anda terkenal sebagai sekeretaris terbaik dan tangan kanan Kevin Bramantara. Bagaimana pendapat anda?"
"Biasa saja."
"Anda berdua irit bicara ya," ledek Casie.
"Beratkah menjadi sekretaris seorang Kevin Bramantara?" tanya Casie.
"Saya rasa semua pekerjaan punya beban masing-masing.'
"Apa anda berniat untuk tetap menjadi sekretaris saja?"
"Maksudnya? Apa anda tidak ingin posisi yang lebih dari sekretaris? Anda juga keluar Bramantara kan?" Ekspresi wajah Alex mengeras.
Kevin baru saja mau menyela ketika Alex mulai berbicara,
"Tidak."
Sebelum Casie sempat bertanya lagi, Alex menegaskan tidak akan menerima pertanyaan lagi.
"Saya rasa wawancaranya sudah cukup. Bukan begitu?" tanya Kevin.
"Kami dijanjkan waktu satu jam. Wawancara ini baru berlangsung sekitar tiga puluh lima menit. Selain itu kami juga masih punya pertanyaan," jawab Casie.
"Kalau begitu mari selesaikan dengan cepat," pinta Kevin.
"Baiklah. Mari kita lanjut saja kalau begitu." Dion sudah tidak lagi mengambil gambar dan duduk di sebelah Casie.
"Saya mendengar kabar, bahwa anda sudah bertunangan dengan anak satu- satunya Bapak Mahesa Pratama. Apakah itu benar?" tanya Casie.
"Maaf siapa?" tanya Kevin.
"Vanessa Pratama. Apakah benar anda bertunangan dengan Vanessa Pratama?"
Kevin terlihat sedikit kesal.
"Saya tidak tahu anda mendengar itu dari mana. Tapi, saya bisa memastikan bahwa itu tidak benar."
"Kalau begitu bagaimana tanggapan keluarga besar anda?" tanya Casie.
"Apakah ada pembicaraan ke arah itu?" lanjut Casie.
"Tidak ada."
"Lalu mengapa pihak Vanessa mengatakan hal sebaliknya?"
Kevin menjadi semakin kesal.
"Saya berpikir anda dari tabloid bisnis. Pertanyaan itu sepertinya tidak berhubungan dengan bisnis," protes Kevin.
"Setahu saya perusahaan anda dan perusahaan Pak Mahesa menjalin hubungan bisnis," balas Casie.
"Bukankah pernikahan bisnis biasa dilakukan?" tanya Casie.
Kevin memperbaiki duduknya dan menjawab,
"Saya menjamin tidak akan terjadi hal seperti itu di antara kami."
"Bagaimana anda bisa seyakin itu?"
"Karena saya sudahbertunangan, dengan orang lain" jawab Kevin yang membuat Alex kaget.
Casie sekalipun sedikit terkejut dengan pernyataan itu.
"Apakah ini berarti dengan berakhirnya hubunga anda dengan Vanessa Pratama, bisnis antar dua keluarga akan berakhir?" Pertanyaan Casie makin lama makin menjebak.
"Pada dasarnya hubungan kami memang hanya bisnis. Tidak lebih," jawab Kevin.
Casie tersenyum.
"Apakah keluarga anda sudah setuju dengan calon anda? Terutama Ibu Ratih, apa beliau sudah tahu?" tanya Casie.
"Tentu saja keluarga saya sudah tahu dan setuju."
"Apa itu berarti kami akan segera mendengar kabar baik dari anda?" pancing Casie.
"Tentu saja," jawab Kevin.
"Jadi, kapan anda akan menikah?" Senyum Casie semakin lebar.
Wajah Kevin berubah kaku.
"Sial," batin Kevin.
"Sedang dibicarakan," jawab Kevin akhirnya.
Alex memegang kepalanya dengan frustasi.
"Terima kasih atas waktunya." Casie dan Dion berdiri.
Casie mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Kevin meraih tangan Casie dengan enggan.
"Akan saya kirimkan tabloidnya pada saat sudah terbit rabu depan." Setelah Casie dan temannya pergi, Kevin duduk sambil memijat pelipisnya.
Di pagi hari.
"Gita, kalau ikut Tante nanti telat ke sekolah."
"Gita gak mau ke sekolah kalau Gita gak bisa anterin Tante Anna ke kantor." rengek Gita
Anna akhirnya menyerah.
"Cuma antar sampai depan pintu saja ya."
Setibanya di kantor Anna.
"Dadah Tante...." teriak Gita mengeluarkan kepala dari jendela mobil.
Anna tersenyum dan melambaikan tangan.
Karyawan lain yang melihat Ana berbisik- bisik. Anna menghelas nafas dan segera masuk ke kantor.
Anna segera masuk ke ruangannya dan duduk di mejanya untuk siap-siap menerima nasabah.
"Anna dipanggil sama Ibu Riska," Windi berseru setelah menutup telpon.
"Kenapa lagi?" batin Anna.
"Kamu kenapa lagi sih? Kok dipanggil melulu," tegur Windi.
Anna mengangkat bahu.
"Kamu tau gak? Selama diskors banyak gosip soal kamu." Sri ikutan nimbrung sebelum Anna pergi.
"Gosip apa?" tanya Anna.
"Banyak. Udah kamu menghadap Ibu Riska aja dulu. Nanti kita ceritaiin," saran Windi.
Anna bergegas ke ruangan operasional managernya itu. Anna mengetuk pintu dan segera masuk begitu dipersilahkan. Di dalam selain ada Ibu Riska ada juga Ibu Sherly manager pemasaran.
"Ada apa ya Bu?" tanya Anna.
"Coba kamu duduk dulu," kata Ibu Riska.
Anna duduk di depan Ibu Riska dan di sebelah Ibu Sherly. Annajadi makin tegang.
"Kamu ada hubungan apa dengan Bramantara Grup?" Ibu Riska memulai pembicaraan.
"Hah? Maksudnya apa Bu?" tanya Anna bingung.
"Gini, ibu saya kebetulan kenal dengan Ibu Ratih. Katanya beliau ingin mengajukan kerja sama dengan kita," Ibu Sherly menjelaskan.
"Lalu?" tanya Anna.
"Beliau ingin kamu yang urus semuanya," jawab Ibu Sherly.
Anna kaget mendengar itu.
"Emang kamu ada hubungan apa dengan mereka?" tanya Ibu Riska.
"Menurut kamu apa coba?" Pak Bayu muncul di balik pintu.
Ibu Riska langsung menghela nafas. Pak Bayu masuk dan langsung menaruh tangannya di bahu Anna. Anna bersusah payah menahan marah.
"Tahu lah, orang kaya mau apa sama cewek biasa kayak Anna. Paling jadi mainan si sombong Kevin itu. Dari pada sama mereka mending sama yang sudah kenal lama." Pak Bayu mengelus bahu Anna.
Anna menghela nafas marah.
"Pak tolong jangan keterlaluan," protes Ibu Sherly.
"Keterlaluan apa?" Pak Bayu meremas bahu Anna.
"Yang berpengalaman jauh lebih baik," lanjut Pak Bayu.
Anna sudah tidak bisa menahan amarah.
Anna mencengkram tangan Pak Bayu dan menancapkan kuku panjangnya dengan sekuat tenaga.
"Aduh...." Pak Bayu melepas tangannya dari cengkraman Anna.
"Kamu apa-apaan sih?" protes Pak Bayu.
Ibu Sherly menarik Anna menjauh dari Pak Bayu.
"Pak, posisi Bapak mungkin lebih tinggi tapi gak boleh seenaknya," Ibu Riska ikut protes.
"Eh, kalian semua mau dipecat ya?" ancam Pak Bayu. Ibu Riska dan Sherly terdiam.
"Saya kan sudah pernah bilang. kalau Bapak mau pecat saya silahkan," jawab Anna.
"Kamu berani ya?" tanya Pak Bayu.
"Kalau saya yang dipecat Bapak yang malu. Menurut Bapak kalau saya gak kerja di sini lagi, Bramantara grup masih mau kerja sama?" Pak Bayu hanya terdiam saja.
"Saya permisi mau kerja," Anna pamit.
Anna melewatkan jam makan siang dengan menelpon Jullie dan menghindari Andi.
"Anna astaga kamu gak apa-apa?" tanya Julie.
"Ya gak apa-apa," jawab Anna.
"Kamu udah dengar gosip yang beredar?" tanya Julie.
"Udah. Windi dan Sri udah cerita."
"Aku baru dengar tadi. Kayaknya anak-anak sini gak mau cerita karena kita sahabatan."
"Udah gak apa-apa."
"Gila kali ya. Dari mana juga mereka dengar hal aneh-aneh. Simpanan orang kaya? Gila kali."
"Gosipnya bakal makin parah kayaknya."
"Kenapa?" tanya Julie.
Anna menceritakan yang baru dialaminya.
"Itu si botak udah gila ya? Dapat nasabah besar malah karyawannya di kasih surat teguran?" protes Julie.
"Aku juga bingung. SP dicabut tapi dikasih surat teguran."
"Udah, minggu depan aku cuti. Biar aku ke Jakarta temanin kamu."
"Aku udah pindah loh." "Ia juga ya," jawab Julie.
"Eh, Li udahan dulu deh," seru Anna begitu melihat Andi mendekat.
"Ada Andi,nanti aku telpon lagi." Anna segera pergi tapi berhasil di tahan Andi.
"Anna kok menghindar terus sih?"
"Ada masalah apa lagi sih?"
"Kata Julie kamu pindah? Pindah ke mana? Aku kemarin telpon kamu juga gak diangkat." tanya Andi.
"Saya pindah ke mana bukan urusan kamu."
"Ok. Aku gak bakal tanya lagi. Tapi kamu kenapa lagi? Kenapa dipanggil lagi?"
Anna tidak menggubrisnya dan segera pergi.
"Anna," Andi mengejar Anna.
"Bisa gak sih berhenti gangguin saya?" protes Anna.
"Ok. Tapi aku mau kasih tahu kamu, kalau aku percaya sama kamu. Apapun yang orang bilang aku percaya sama kamu." Setelah mengatakan itu Andi langsung pergi.
"Apaan sih?" bisik Anna.
Dikantor Kevin.
"Ok, saya rasa meetingnya sudah cukup. Saya harap ke depannya kita bisa lebih baik lagi." Kevin menutup rapat siang itu.
Para karyawan mulai berbenah. Hanya Kevin dan Alex yang masih terlihat berdiskusi.
Ting...
Drt....
Ponsel para karyawan berdering dan bergetar secara bersamaan. Kevin dan Alex bahkan sampai bingung.
"Permisi Pak." Salah satu karyawan pamit dengan buru-buru diikuti karyawan lainnya.
Mereka semua pergi sambil sibuk melihat ponsel.
"Sudah jam satu lewat, mau makan siang dulu atau gimana?" tanya Alex.
"Beliin burger saja deh, masih banyak kerjaan numpuk," jawab Kevin.
Mereka berdua berjalan ke ruangan Kevin.
"Permisi Pak ada kiriman dari tabloid bisnis TOP," Dinda menghadang Kevin.
"Kasih Alex saja," seru Kevin masuk ke ruangan.
"Udah terbit ya?" tanya Alex.
"Iya Pak cuman headlinenya agak mengejutkan," jawab Dinda.
Alex segera melihat tabloid yang di maksud. Alex kaget melihat judulnya dan segera masuk ke ruangan Kevin.
"Vin, coba baca ini." Alex memberikan tabloid ke Kevin.
Kevin membaca cover tabloid dengan ekspresi terkejut.
"Ini dijadikan headline?" tanya Kevin.
(Hati patah hati nasional, Kevin Bramantara akan segera menikah.)
Itu adalah headline yang ditulis dengan ukuran paling besar.
"Bisnis Mahesa Pratama dan Bramantara grup terancam bubar."
"Mengenal TC Bank bisnis yang diminatati Kevin Bramantara."
next>