
"Na, kenapa sih kamu segitu kesalnya sama Kevin?" tanya Julie. Anna hanya terdiam.
"Katanya cinta. Kalau emang cinta kenapa gak dibicarakan baik-baik?"
"Aku sebenarnya takut Li," Anna akhirnya bicara.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Julie.
"Aku takut banget kalau Kevin minta pisah." Julie terdiam mendengar Anna.
"Aku takut banget, gara-gara kontraknya dilanggar dia minta pisah."
"Syaratnya kan dari kamu Na, bukan dari Kevin."
"Tetap saja Li. Kevin itu pasti banyak yang naksir. Gimana kalau setelah tidur denganku sekali dia berpaling dari aku? Gimana kalau menurut dia aku ini membosankan?"
"Jadi sekarang kamu mau gimana?" tanya Julie.
"Aku mau tetap sama Kevin. Walaupun dia gak cinta sama aku, aku gak masalah."
Sebenarnya Julie mau membantah kata-kata Anna, tapi dia tidak tega melihat sahabatnya makin sedih.
"Kalau Kevin tetap sama kamu, tapi dia selingkuh dibelakangmu. Apa kamu masih mau?" Julie bertanya dalam hati.
"Udah deh. Aku gak tega ngomong yang jahat-jahat sama Anna," seru Julie pada dirinya.
"Daripada kamu bersusah hati kayak gitu, pesan makanan yang banyak. Makan bisa jadi obat galau," saran Julie.
"Kata siapa?" Anna tersenyum tipis.
"Kata Julie Fernandi," jawab Julie.
Ponsel Julie bergetar, menunjukkan nama Alex pada layar. Julie segera mengambil ponselnya dan mematikannya.
Julie segera menulis chat singkat untuk Alex.
'Nanti kutelpon.'
"Bukannya tadi ponselmu bergetar ya Li?" tanya Anna.
"Ia. Tadi masuk chat bertubi-tubi."
*****
"Kata Julie nanti dia yang telpon," kata Alex pada Kevin
. "Anna itu kenapa sih? Masa nomorku diblokir lagi," protes Kevin.
"Nomorku juga diblokir," sahut Alex.
"Sekarang gimana? Aku harus ngomong apa sama Nenek?" tanya Kevin.
"Bilang saja Anna tinggal merayakan ulang tahun Julie."
"Memangnya Nenek mau percaya?"
"Aku yakin Julie pasti mau kerja sama," jawab Alex percaya diri.
"Aku mau tidur," gumam Kevin sambil memegang dahinya.
"Kalau begitu ayo kita pulang," ajak Alex.
Selama perjalanan pulang, Kevin menutup mata menciba tidur. Saat sampai di rumah Nenek langsung memanggil Kevin.
"Kevin, ke sini sebentar," panggil Nenek. Alex dan Kevin saling berpandangan.
"Aku ke kamar ya," seru Alex.
Nenek menarik Kevin ke pinggir kolam renang.
"Ada apa sih Nek?" tanya Kevin.
"Kamu apain istri kamu?" Kevin menatap Nenek bingung.
"Tadi waktu Bi Asih bersihin kamar kamu, katanya kamarmu berantakan. Sudah itu katanya ada bercak darah di seprai. Kamu gak mukulin Anna kan?"
Kevin menggaruk pinggiran dahinya dengan canggung.
"Kenapa gak di jawab?" tanya Nenek lagi.
"Aku gak pernah pukul perempuan."
"Lalu kenapa ada darah?" tanya Nenek.
"Harus banget kita bahas ini?" Kevin balik bertanya.
"Kenapa kamu menghindar? Jangan-jangan kamu memang mukul Anna."
"Gak Nek. Demi Tuhan aku gak pukul siapa pun," jawab Kevin.
"Kalau begitu Nenek minta alasan." Kevin bingung mau berkata apa. Dia merasa canggung membahas masalah kehidupan ranjangnya.
"Kevin merasa tidak nyaman membahas urusan ranjang kami dengan Nenek." Kevin berbicara sedikit terbata.
Nenek langsung memberi ekspresi mengerti pada Kevin.
"Ngerti?" tanya Kevin.
"Kevin kamu ini harus memperlakuakan wanita dengan lebih lembut. Pelan-pelan saja gak usah buru-buru.
"Bisa kita selesaikan diskusi ini Nek?" tanya Kevin tidak sabar. Nenek tersenyum.
"Terus Anna ke mana?" tanya Nenek.
"Dia masih di Bandung. Julie ada bikin acara ultah kecil-kecilan.
"Aku suruh Anna tinggal dulu beberapa hari di sana. Aku suruh istirahat di sana," jawab Kevin ngawur.
"Bukannya disuruh ke dokter, malah disuruh ke tempat Julie."
"Aku sudah suruh ke dokter, lagian ini untuk kebaikan Anna juga."
"Andaikata aku gak bisa menahan diri," sambung Kevin.
"Dasar anak muda," gumam Nenek.
"Kalau gitu Kevin mau istirahat saja ya." Kevin berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Nenek.
Kevin langsung membantimg diri ke atas tempat tidur. Dia melonggarkan dasinya dan mulai larut dalam pikirannya.
"Bagaimana kalau Anna tidak mau pulang? Atau dia malah mau minta cerai, gara-gara aku melanggar kontrak." Kevin berbicara dalam hati.
Kevin menutup wajahnya menggunakan lengan.
"Anna aku gak mau kehilangan kamu. Apapun akan kulakukan biar kamu tetap sama aku," batin Kevin.
Kevin terdiam masih dengan posisi yang sama.
"Aku kangen. Kangen banget," gumamnya pelan. Kevin tertidur begitu saja. Dia bahkan tidak mengganti pakaiannya
Setelah selesai mandi, Alex menemukan ponselnya berdering. Alex tersenyum melihat nama Julie tertulis di atasnya.
"Ya, cantik ada apa?" sapa Alex.
"Aku tuh gak mempan digombal," jawab Julie tegas.
"Gimana hadiahnya? Suka?" Alex mengalihkan pembicaraan.
"Makasih sudah repot-repot kiriman hadiah. Pasti mahal kan?," jawab Julie.
"Apa sih yang gak buat kamu," Alex terus menggombal.
"Lex, aku kan udah bilang. Aku gak mempan digombal."
"Tapi aku mau gombalin kamu terus," jawab Alex.
"Sudah lah, aku nelpon buat kasih kabarnya Anna."
"Oh, ia. Aku lupa."
"Dasar udah tua. Pikun," ejek Julie.
"Yang penting aku menua bersamamu."
"Bisa berhenti gak sih?" protes Julie.
"Oke, aku berhenti. Sekarang gimana Anna?"
"Insecure banget," jawab Julie.
"Maksudnya?" tanya Alex.
"Gimana ya ngomongnya. Yah, intinya itu Anna suka sama Kevin. Dia takut Kevin minta pisah gara-gara kejadian kemarin."
"Kok bisa?" tanya Alex lagi.
"Gak tahu. Anaknya lagi baper kayaknya. Itu saja yang bisa kubilang. Soalnya aku gak punya hak mengungkap isi hati orang."
"Kamu gak salah sih, tapi masalah ini harus selesai sebelum Nenek tahu."
"Mau gimana lagi Lex? Ini urusan rumah tangga orang, kita gak bisa asal ikut campur."
"Kamu ada benarnya juga sih Li. Paling kita cuma bisa bantu kasih masukan. Kalau terlalu banyak yang ikut campur malah tambah hancur."
"Kamu itu lagi curhat ya?" tanya Julie.
"Emang kamu mau dengar aku curhat?"
"Sama sekali tidak," jawab Julie tegas.
"Jahat amat sih," seru Alex.
"Aku udah capek dengar Anna curhat soalnya. Mana anaknya curhat pakai baper."
"Sama.Si Kevin juga baper banget. Hari ini sama sekali gak fokus kerja. Dia bahkan punya pikiran kalau Anna bakal minta cerai."
"Masa sih? Sama dong dengan Anna."
"Persis. Makanya kita makin gak boleh ikut campur. Memang yang ginian mereka selesaikan sendiri."
"Aku setuju banget sih. Eh, Lex udah dulu ya."
"Loh kok udahan? Aku masih mau dengar suaramu."
"Aku nelpon diam-diam. Ini aku lagi di teras, biar Anna gak dengar. Dia larang aku berhubungan dengan kalian berdua soalnya."
"Kenapa aku juga jadi ikut-ikutan kena batunya?" protes Alex.
"Namanya juga orang baper. Udah ya, nanti aku bakal kasih kabar lagi kok."
"Oke bye." Julie mematikan sambungan telpon.
"Dua orang ini ketakutan sendiri, tapi keras kepala juga. Pusing aku lihatnya," gumam Alex pelan.
Alex menghela nafas.
"Dari pada pusing mending tidur saja deh," gumamnya pelan.
next>>>