
"Tapi tentu saja kita harus kenalan dulu dengan orang tua Anna. Siapa nama orang tuanya Anna?" lanjut nenek.
"Eh, nek mungkin soal ini... " Kevin berhenti saat Anna menyentuh tangannya. Anna tersenyum kepada Kevin.
"Kedua orang tua kandung saya sudah meninggal nek," jawab Anna.
"Nenek minta maaf sudah menyinggung ini." nenek merasa tak enak
"Tidak apa- apa kok nek lagipula ini sudah lama berlalu." ujar Anna
"Kalau begitu apa saya juga boleh bertanya?" Kali ini tante Sandra yang berbicara.
"Silahkan tante."
"Tadi kamu sempat bilang orang tua kandung. Kedengarannya seperti kamu punya orang tua lain. Sorry sebelumnya."
"Saya memang punya ibu tiri dan saudara tiri. Tapi hubungan kami tidak begitu baik." Tante Sandra mengangguk.
"Lalu soal menikah. Saya dan Kevin belum lama ini berpacaran. Saya juga bukan orang yang suka terburu-buru, jadi untuk saat ini belum ada pikiran untuk menikah," Anna berbicara dengan lancar.
"Saya mohon maaf untuk ketidaknyamananya."
"Kenapa minta maaf? Memangnya kamu bikin salah apa?" Tanpa terduga tante Sandra berbicara.
Anna hanya bisa tersenyum.
Pertemuan keluarga kali ini berakhir dengan baik. Nenek juga sudah meminta nomor telpon Anna. Semuanya pulang secara bersamaan. Tante Sandra duluan keluar. Sebelum naik mobil Cleo sempat menatap Anna. Anna pun balas menatapnya dan berakhir ketika Cleo naik mobil.
"Anna pamit pulang ya nek." ucap Anna
"Hati-hati di jalan ya. Nanti nenek bakal sering-sering chat kamu." ucap nenek
"Nenek, nanti Anna bakal terganggu kerjanya loh," protes Kevin.
"Orangnya saja tidak protes, kenapa kamu yang protes." ketus nenek
Anna hanya tersenyum saja mendengarnya.
"Tapi saya gak janji bisa balas semua chatnya ya nek," kata Anna.
"Ia nenek tau."
"Anna pulang ya nek."
Begitu mobil Kevin keluar dari pintu gerbang rumah, Anna dan Kevin langsung menghela nafas panjang.
"Tuh, kan. Apa aku bilang, aku gak mau lagi bohong-bohong. Sekarang kita disuruh nikah," protes Anna.
"Tenang saja, nanti kalo kita sudah putus pasti nenek mundur."
"Kalo gak?"
"Akan aku usahakan ini semua berakhir paling lama tiga bulan."
Anna melipat tangan di dada.
"Gak bisa berakhir minggu depan aja begitu? Aku benar-benar gak bisa lagi Ken."
"Akan kucoba meyakinkan nenek secepat mungkin."
Anna diam sebentar dan mengangguk.
"Wow, kamu selangkah lagi jadi mantu konglomerat," Suara Julie terdengar ceria dari headset Anna.
"Yang jadi masalah di sini, aku tebebani Li. Kamu gak liat sih sebaiknya nenek Ratih."
"Mau gimana lagi Na? Sudah terlanjur basah juga. Makanya aku saranin, cobalah pacaran benaran dengan Kevin."
"Gimana mau pacaran kalau gak cinta."
"Cinta itu tumbuh karena terbiasa say."
"Belajar gombal dari mana sih, basi banget."
#########
Diluar dugaan, nenek Ratih benar-benar suka dengan Anna. Anna mendapatkan cukup banyak chat dari nenek. Anna pernah dikirimkan makanan, pernah diajak pergi arisan dan shopping juga. Bahkan pada saat jam makan atau jam pulang kantor, nenek kadang-kadang video call. Tujuannya untuk memerkan pacar cucu kesayangannya pada semua orang. Seperti sekarang ini.
"Anna sayang, sudah pulang?" tanya nenek
"Masih di kantor nek, saya baru mau beres-beres." jawab Anna
"Aduh, nenek jadi menghambat kamu pulang."
"Gak juga kok nek, rumahnya dekat juga dari kantor."
"Sebentar ya, nenek bakal lama kok. Nenek cuma mau kenalin kamu ke teman-teman nenek."
"Ini loh pacarnya Kevin. Gimana cantik kan?" ucap nenek kepada teman-temannya
"Selamat sore semuanya," sapa Anna.
Anna meladeni nenek Ratih sekitar lima menit. Sebentar memang tapi sangat melelahkan bagi Anna. Anna bersandar ke pintu loker dan menghela nafas. Anna memutuskan berdiskusi dengan Kevin begitu pulang ke rumah.
"Ken aku benaran gak sanggup lagi. Aku akan bilang ke nenek semuanya," Anna berbicara begitu Kevin angkat telpon.
"Kamu kenapa?" bingung Kevin
"Aku sudah gak bisa lagi bohongin nenek. Aku gak bisa lagi bohongin orang baik kayak dia."
"Ok. Gini aja. Sepulangnya aku dari Jogja, aku langsung bicara sama nenek."
"Gak bisa sekarang?" nego Anna
"Sebentar lagi aku ada meeting Na."
"Kamu tau gak?" tanya Anna.
"Apa?"
"Nenek memperlakukan aku seperti cucunya sendiri. Dengan bangganya dia memperkenalkan aku sama semua orang. Ngajak aku jalan, beliin aku barang, makanan. Nenekmu terlalu baik untuk dibohongin Ken." jelas Anna
"Untuk sementara kamu sabar dulu. Aku janji pulang dari Jogja akan kuselesaikan semua."
"Kapan pulang?"
"Seminggu lagi. Kalau bisa akan kupercepat."
"Ok. Ini benar-benar yang terakhir kalinya."
Entah karena beban di hatinya atau apa pun itu, Anna jadi jarang meladeni telfon atau chat nenek Ratih. Kalaupun telfonnya diangkat, Anna hanya menjawab seadanya. Chat dibalas hanya sekali-sekali
.
"Kamu sakit Na? Kok suara kamu lemas begitu." Nenek Ratih menelpon lagi.
"Gak nek. Mungkin Na cuma capek saja."
"Ya sudah kalau gitu nenek gak akan kamu lagi. Kalau benaran sakit ijin saja pulang cepat."
"Ia nek."
"Masih berantem ya sama pacarnya?" Andi lagi-lagi datang mengganggu.
"Siapa yang ngikutin? Inikan tempat umum."
"Saya juga tahu ini tempat umum. Hanya orang bego saja yang gak tahu."
"Ya artinya hak saya dong mau ada di mana aja," Andi mengelak.
"Saya kasih tahu ya. Saya sedang menelfon dan sengaja minggir ke tempat sepi. Harusnya anda bisa baca situasi dan menjauh dari saya, bukan malah mendekat. Jangan-jangan anda belum move on ya?" Anna berkata tegas.
Andi terdiam saja mendengar Anna. Segera Anna pergi dari sana sebelum bertambah emosi.
#######
"Halo," Kevin mengangkat telfon tanpa melihat penelponnya.
"Kamu ngapain saja sih. Ini sudah tiga kali nenek telfon baru kamu angkat." kesal nenek
"Kevin lagi sibuk nek, ini juga lagi periksa berkas. Ada apa?"
"Kapan kamu balik ke Jakarta?" tanya nenek.
"Karena kerjaannya selesai lebih cepat, besok siang Kevin baru pulang."
"Begitu ya."
Kevin menghentikan aktivitasnya.
"Nenek sebenarnya kenapa sih?"
"Kamu berantem ya sama Anna?"
"Kenapa nenek tanya seperti itu?" bingun Kevin
"Belakangan ini kalau nenek telfon Anna, dia lesu banget. Chat nenek juga sudah gak selalu dibalas. Kalau bicaraiin kamu Anna makin lemas. Kalian sebenarnya kenapa?"
"Kita memang lagi berantem," jawab Kevin pelan.
"Kenapa bisa?"
"Kevin juga gak paham nek. Mungkin karena dari awal sebnarnya kita gak cocok."
"Jadi kamu mau minta putus dari Anna?"
"Sepertinya Anna yang bakal minta putus."
"Kok bisa?" heran nenek
"Dia sudah pernah singgung soal putus sebelumnya. Katanya sih karena Kevin terlalu sibuk."
"Kamu kan bisa kurangi pekerjaan kamu."
"Kalau itu agak susah nek. Kalau bukan Kevin siapa lagi yang bisa selesaikan?"
"Jadi kamu mau gimana dengan Anna?" tanya nenek lagi
"Sehabis dari Jogja, Kevin akan cari waktu untuk ngobrol sama Anna. Kevin akan selesaikan baik-baik."
"Ya sudah kalau begitu. Nenek percayakan sama kamu."
Walaupun nenek Ratih bilang akan percayakan semuanya pada Kevin, tapi beliau tetap gelisah. Akhirnya nenek memutuskan pergi menemui Anna di kantor.
########
Keesokan harinya pada jam pulang kantor.
"Bu Anna," pak Jono memanggil.
"Ya pak Jono ada apa?." Anna membuka kunci lokernya.
"Ada yang cariin ibu Anna. Ibu- ibu sudah tua, nunggunya di Lobi depan."
"Makasih pak ya," ucap Anna.
Setelah mengambil barang-barangnya, Anna bergegas ke Lobi.
"Nenek," panggil Anna terkejut.
Nenek Ratih tersenyum.
"Nenek tidak mengganggu kan?"
"Ini sudah jam pulang kerja kok nek."
"Syukurlah nenek datang tepat waktu. Nenek perlu banget bicara sama kamu"
"Soal apa nek?"
"Soal kamu dan Kevin." Senyum Anna menghilang.
"Mungkin sudah saatnya aku mengaku," batin Anna.
"Bagaimana kalau kita ngobrol di tempat lain saja?" usul Ann
Anna memilih restoran terdekat dengan private room. Terlalu cepat memang untuk makan malam tapi, ini dilakukan agar Anna bisa berbicara dengan leluasa tanpa khwatir tentang orang lain. Setelah memesan makanan untuk makanan nenek mulai berbicara.
"Jadi kamu kenapa?"
"Gimana ya nek. Anna gak tau mau ngomong dari mana." Anna menarik nafas gelisah.
"Kamu bisa kok cerita apa saja ke nenek. Nenek akan dengar semuanya." Anna berusaha mengatur nafas, agar bisa tenang menceritakan semuanya.
Sebelum Anna mulai berbicara, nenek Ratih meraih tangan Anna yang gelisah.
Digenggamnya tangan itu dengan penuh kasih sayang. Nenek memandang Anna pun dengan penuh kasih sayang.
"Nenek sebenarnya tidak tahu kamu dan Kevin kenapa."
"Tapi, satu hal yang perlu Anna tahu. Anna juga cucu nenek. Apalagi setelah ngobrol banyak sama kamu, nenek jadi tahu orang tua kamu pernah tolingin keluarga nenek. Setidaknya biarkan nenek membalas budi dengan menjaga kamu." ucap nenek
Mata Anna mulai berkaca-kaca.
"Karena itu masalah apa pun yang kamu hadapi, kamu bisa cerita ke nenek. Nenek pasti akan dengar," lanjut nenek Ratih.
"Kalau seandainya Kevin sama Anna gak berjodoh gimana nek." Anna balas menggenggam tangan nenek.
"Jodoh itu kan di tangan Tuhan. Kalau kalian berjodoh, nenek bersyukur sekali. Kalaupun kalian tidak berjodoh, ya mau di apa. Nenek gak bisa memaksakan kehendak nenek. Ngerti?" Anna mengangguk pelan.
"Mau kamu sama Kevin atau tidak, kamu tetap cucu nenek. Nenek sayang sama kamu, seperti nenek sayang cucu kandung nenek."
"Nenek cuma mau kamu hidup bahagia dengan pilihan hidupmu. Gak harus Kevin." Anna kembali mengangguk.
"Tapi jangan karena kamu sudah gak sama Kevin, kamu lupaiin nenek. Nenek tetap mau kau bersahabat
dengan Kevin, nenek mau tetap kamu berhubungan dengan keluarga besar Bramantara. Karena kamu juga keluarga nenek."
"Ia nek, makasih banyak karena sudah sayang sama Anna."
"Jadi sekarang gimana? Anna masih punya masalah yang mau diceritaiin?"
"Ada nek, justru karena kata- kata nenek Anna jadi berani ngomong sama nenek."
next>