The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 73 Bucin



"Ada apaan ini?" Anna muncul di belakang Vanessa, diikuti Rian dengan nampannya.


"Biasa Na. Ada anak kampungan salah masuk cafe," ejek Clarence.


Vanessa melirik Anna kemudian Clarence dan Cleo.


"Sejak kapan kalian jadi akrab?" tanya Vanessa. Anna tidak memperdulikan Vanessa dan meminta Rian menata minuman.


Anna duduk di depan Clarence dan Cleo. Entah ada angin apa, Vanessa langsung duduk di sebelah Anna.


"Makasih ya. Padahal aku belum pesan apa-apa. Aku lebih suka americano sih." Vanessa mengambil gelas yang belum diklaim.


Anna segera menepuk kasar tangan Vanessa.


"Ini bukan minumanmu. Ini punya suamiku," sahut Anna.


Disaat bersamaan ponsel Anna berdering.


"Aku ada di meja pojok." Anna melambaikan tangan begitu melihat Kevin.


Kevin mengernyit melihat Vanessa duduk di sebelah Anna.


"Sejak kapan mereka akur?" gumam Kevin heran. Kevin menghela nafas.


Vanessa dengan tidak tahu dirinya pergi menghampiri Kevin. Niatnya ingin menggandeng dan menggoda Kevin. Untungnya Kevin cukup lincah menghindari Vanessa.


Kevin mengambil alih tempat duduk Vanessa.


"Lama menunggu?" tanya Kevin. Belum sempat Anna menjawab, Kevin menghujaninya dengan kecupan.


Bibir Kevin mendarat di kening, kedua pipi, bahkan bibir Anna. Tentu saja Anna terkejut, bahkan Cleo dan Vanessa juga terkejut.


"Ken," tegur Anna malu. Karena kehadiran Clarence, banyak yang melirik ke arah meja mereka.


"Katanya gak suka PDA," ejek Clarence.


"Siapa yang pernah bilang gitu?" tanya Kevin.


"Istrimu," jawab Clarence.


"Omong-omong kenapa ada tamu tidak diundang?" tanya Kevin lagi.


"Jelangkung kali. Datang tak diundang pulang tak diantar," ejek Clarence. Vanessa merasa kesal, tapi dia tetap berniat menggoda Kevin.


"Aku kangen sama Kak Kevin." Vanessa duduk di sebelah Kevin. Dengan sengaja Vanessa menggandeng lengan Kevin dan menempelkannya di dada.


Kevin mengangkat sebelah alis. Anna melotot dengan kesal.


"Maaf. Landasan pesawatmu itu bikin lenganku sakit," ejek Kevin sambil menepis Vanessa dengan kasar. Clarence tersedak minumannya mendengar itu. Kevin menggeser duduknya, menempel pada Anna.


Vanessa merasa sangat kesal. Padahal asetnya itu tidak termasuk kecil. Hanya saja memang punya Anna lebih besar.


Rian datang lagi membawa pesanan makanan. Vanessa yang mengenali Rian, langsung mengalihkan pembicaraan.


"Ini yang tempo hari aku lihat kan? Ngapain di sini? Kamu ngajakin selingkuhanmu ke sini ya Anna?" tanya Vanessa setelah Rian pergi.


"Buta ya? Dilihat dari seragamnya saja udah tahu pegawai sini," ejek Clarence.


"Buta dan bego. Iya kali selingkuh di depan sepupu Kevin," sambung Cleo.


Merasa kalah Vanessa pergi dari sana dan bergabung dengan teman-temannya. Tentu saja disertai hentakan kaki dan tatapan kesal.


"Benar-benar deh kelakuan anak itu," seru Anna kesal.


"Kenapa? Cemburu karena dia nempel-nempel?" goda Kevin.


"Apaan sih." Anna tersipu malu.


"Aku ngerasa jadi obat nyamuk," seru Cleo dengan ekspresi aneh.


"Tenang ada aku yang temanin kok," sahut Clarence.


"Makanya cepat cari pacar jangan kelamaan jomlo," saran Kevin.


"Itu urusanku," balas Cleo.


"Kamu pesanin aku apa?" tanya Kevin.


"Aglio olio dan ice cappucino." Anna menyodorkan menu makanan yang dimaksud. Kevin langsung menyeruput kopinya.


"Kamu yang buat?" tanya Kevin. Anna mengangguk sebagai jawaban.


"Emang kamu bisa bedakan?" tanya Clarence.


"Rasanya kan beda," jawab Kevin.


"Dia sepertinya sudah bucin parah," gumam Cleo.


"Bukan parah lagi. Sudah kronis," sambung Clarence.


Rian datang lagi membawa pesanan Anna.


"Fish and chip lagi?" tanya Kevin.


"Doyan," jawab Anna singkat. Kevin ikut mencomot kentang goreng Anna. Anna juga meminta pasta Kevin.


"Rasanya aku mau langsung pergi cari cowok," gumam Clarence.


"Aku mau pulang saja bisa?" sambung Cleo.


"Apa?" tanya Kevin dan Anna bersamaan.


"Kompak benar," ejek Clarence.


"Ngomong-ngomong siapa tadi nama manajer toko sini?" tanya Clarence.


"Panggilin dong," pinta Clarence.


"Untuk apa?" tanya Kevin kesal.


"Daripada kita di sini jadi obat nyamuk kalian, mending kita juga main sama cowok. Yang lumayan di sini kan cuma manajer itu," seru Clarence menggoda.


"Yang benar aja. Aku gak mau ikutan," protes Cleo. Cleo hendak beranjak pergi, tapi ditahan Clarence.


"Jangan gitu dong beb. Kita kan belum shopping," kata Clarence.


Cleo menatap tajam ke arah Clarence.


"Panggilin dong," pinta Clarence. Dengan wajah tersenyum, Anna meminta seorang waiter memanggil Rian.


"Saya dipanggil?" tanya Rian.


"Duduk. Kita ngobrol dulu," pinta Clarence. Rian menatap Kevin dan Anna.


Kevin memberi isyarat agar Rian duduk di sebelah Cleo.


"Yakin?" tanya Rian. Cleo memutar matanya dengan kesal.


"Setidaknya kami berdua tidak jadi obat nyamuk kalau ada kamu," goda Clarence. Rian menatap Kevin dan Anna yang masih menempel rapat.


"Kalau begitu saya permisi," izin Rian.


"Sekarang coba cerita. Kamu ngapain di Bandung sama Cleo?" tanya Clarence.


"Sorry apa?" tanya Kevin.


"Kamu gimana sih Ken. Ini kan Rian yang nolongin Cleo tempo hari," jawab Anna.


"Tapi pertanyaan Clarence itu terlalu ambigu."


Rian melirik Anna sekilas.


"Apa lihat-lihat?" Kevin yang dari tadi memperhatikan Rian langsung menegur. Kevin merangkul pinggang ramping Anna dengan protektif.


"Gak ada kok Pak," jawab Rian terbata.


"Apaan sih Kevin. Gak usah seposesif itu kali. Anna gak akan lari ke mana," ejek Clarence.


"Gimana mau lari? Si Kevin udah melengket kayak lem," Cleo ikut mengejek.


"Itu kan urusanku. Buk..." Anna membungkam Kevin dengan sepotong kentang.


"Minta ikannya juga," pinta Kevin. Anna segera menyuapi Kevin.


"Astaga bisa kalian berhenti?" protes Cleo.


"Apaan?" tanya Kevin.


"Berhenti PDA gitu. Jijik tahu," seru Cleo.


"Bilang saja jealous," sindir Clarence.


"Cari pacar sana," sambung Anna.


"Sekalian cari sugar daddy saja," saran Clarence.


"Idih ini lagi. Emang aku itu kayak kamu?" Cleo mendorong jidat Clarence dengan telunjuknya.


"Benaran Ren? Kamu dipelihara om-om?" tanya Anna serius.


"Yang pelihara aku itu banyak tahu. Fans aku tuh mulai dari ABG labil sampai om-om," jawab Clarence santai.


"Kiraiin serius," balas Kevin


"Saya juga sempat pikir itu serius. Hampir saja saya patah hati," sambung Rian.


"Tuh, salah satu yang pelihara aku." Clarence menunjuk Rian.


"Bisa ngomongnya gak ambigu gitu?" tanya Cleo.


"Lah, emang kenyataan kok. Tanpa fans yang beli produk yang aku iklankan, atau beli majalah yang ada aku mana bisa aku hidup."


Cleo hanya menggelengkan kepala.


"Capek bicara sama orang gila," serunya.


"Mbak Clarence lucu kok," bela Rian.


"Ken pesankan fish and chip lagi dong." Anna bersandar manja pada bahu budang Kevin.


"Masih mau makan lagi?" tanya Kevin.


"Kan setengahnya kamu yang makan," protes Anna pada Kevin.


"Itu spaghettiku masih ada. Makan saja."


"Aku maunya fish and chip," kata Anna tegas. Tanpa basa-basi lagi Kevin segera memesan fish and chip lagi.


"Kamu lagi ngidam ya?" tanya Clarence curiga.


"Ngidam apaan? Aku emang suka fish and chip dari dulu," bantah Anna.


"Yakin?" tanya Clarence lagi.


"Yakin banget." Anna mengangguk.


next>>>


Terimakasih buat yang sudah baca novel ini.... jangan lupa like yaah...!